Will Stocks Market Collapse in 2014?

Published 25 Juli 2014 by Budi Setiawan

And any time that valuation stands at more than 100% of the total goods and services in the economy means it is time to be wary about common stocks. (Warren Buffett)

Saat tulisan ini dibuat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam kondisi bearish, terkoreksi 0.9% berada di level Rp.4.947. Perdagangan juga relatif sepi, baru menyentuh 2,5 triliun. Kontradiktif dengan Wall Street yang ditutup menguat, indeks S & P ke level 1.920 naik 0.54 persen, Dow Jones dan Nasdaq naik masing-masing 0.39 dan 0.54 persen.

Berita dari laman lain, moneynews.com memuat berita mengejutkan tentang Warning: Stocks Will Collapse by 50% in 2014. Beberapa analis mempredikasi akan terjadi koreksi pasar saham di tahun 2014. Penyebabnya antara lain kebijakan suku bunga rendah di beberapa negara dan total ratio kapitalisasi pasar dibandingkan gross domestic produk (GDP) sudah lebih dari 100%.

Kita lupakan sejenak pergerakan indeks harian, coba kita lihat secara lebih luas membandingkan total bisnis di sector keuangan dengan melihat kapitalisasi pasar dan sector rill dilihat dari gross domestic product (GDP). Tabel di bawah menunjukkan total kapitalisasi pasar dan GDP di negera 20 ekonomi terbesar di dunia yang tergabung dalam G 20. Data di olah dari berbagai sumber.

Kapitalisasi Saham vs GDP

Dilihat dari data tersebut, total kapitalisasi pasar saham global hingga akhir tahun 2012 mencapai US$ 54 triliun dengan valuasi 76% dibandingkan dengan gross world product (GWR). Kapitalisasi pasar Amerika menjadi kontributor terbesar yaitu US$ 18,6 triliun dengan tingkat valuasi 115% artinya uang yang beredar di sector keuangan lebih besar dibandingkan sector riil. Warren Buffett, investor kawakan sekaligus pendiri Berkshire Hathaway menyebutkan And any time that valuation stands at more than 100% of the total goods and services in the economy means it is time to be wary about common stock.

Bagaimana dengan Indonesia?

Kapitalisasi pasar saham Indonesia per akhir 2012 mencapai US$ 397 dengan GDP US$ 875. Artinya valuasinya hanya 45 persen. Lebih kecil dibandingkan valuasi pasar total Negara G 20 dan Global yang sudah di angka 76 persen.

Melihat data di atas, pasar modal Indonesia memiliki opportunity sangat besar. Laman detik.finance.commenyebutkan dari sekitar 143 juta penduduk kelas menengah Indonesia hanya 500 ribu atau 0.3 persen yang sudah investasi di pasar modal. Padahal keberadaan pasar modal ini sangat penting guna menunjang pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan, dan stabilitas ekonomi nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat melalui peran strategisnya sebagai salah satu sumber pembiayaan bagi dunia usaha, termasuk usaha kecil dan menengah, serta di sisi lain sebagai sarana investasi bagi masyarakat, termasuk pemodal kecil dan menengah (Budi Harsono).

 

BNI Securities Palembang

June, 6 2014.

 

Sumber:

1. http://www.quandl.com/economics/stock-market-capitalization-by-country

2. WFE 2012 Market Highlights

3. http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_GDP_(nominal)

4. Harsono, Budi Efektif Bermain Saham. Ales Media Komputindo, 2013.

5. http://en.wikipedia.org/wiki/Gross_world_product

6. http://finance.detik.com/read/2014/04/30/150455/2569961/6/masyarakat-indonesia-lebih-suka-menabung-daripada-investasi

Investasi

Published 19 Juni 2014 by Budi Setiawan

don’t put your eggs in one basket

Kata investasi berasal dari bahasa Inggris “to invest” artinya menanamkan uang atau modal. Menurut wikipedia, investasi adalah suatu istilah yang berhubungan dengan keuangan dan ekonomi. Istilah tersebut berkaitan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapat keuntungan di masa yang akan datang. Misalnya kita membeli rumah, emas, saham, atau jenis investasi lainya sekarang dengan harapan harga akan naik di masa yang akan datang.

Banyaknya jenis-jenis investasi saat ini tentunya membuat investor harus hati-hati dalam mengatur dana yang diinvestasikan. Kita masih ingat dengan pesan moral terkait investasi “don’t put your eggs in one basket”. Diversifikasi investasi penting dilakukan guna meminimalisir risiko di kemudian hari. Mitigasi risiko bisa dilakukan dengan cara merancang manajemen investasi secara baik.

Apa itu manajemen investasi?

Gordon J. Alexander, dkk dalam bukunya yang berjudul Invesment menyebutkan manajemen investasi, atau yang sering juga disebut sebagai manajemen portofolio adalah proses dimana uang dikelola.

Guru besar Keuangan di University of Minnesota membagi fungsi manajemen investasi ke dalam 5 langkah, antara lain:

  1. Menentukan kebijakan investasi . seorang manajer investasi harus mampu mengidentifikasi tujuan investasi klien, terutama siakpnya terhadap trade-off antara ekspektasi return dan risiko.
  2. Melaksanakan analisa sekuritas yaitu meneliti sekuritas individual atau kelompok untuk mengidentifikasi sekuritas yang misprise (harga yang tidak wajar).
  3. Membentuk portofolio yaitu mengidentifikasikan sekuritas tertentu (yang akan di investasikan) besarta proporsi modal yang akan di investasikan untuk tiap sekuritas
  4. Merevisi portofolio yaitu menentukan portofolio sekuritas saat ini, sekuritas mana yang akan di jual dan sekuritas mana yang akan dibeli sebagai pengganti
  5. Mengevaluasi kinerja portofolio yaitu menentukan kinerja portofolio, baik return maupun risiko dengan membandingkannya dengan tujuan investasi dan kinerja sekuritas di industri sejenis.

Kesimpulannya investasi ini penting dilakukan guna mencapai keuntungan sekaligus mempersiapkan kebutuhan keuangan di masa depan yang terus meningkat (baca: inflasi). Salah satunya caranya dengan melakukan diversifikasi atas dana yang kita investasikan. Selamat berinvestasi.

MM Unsri Palembang; June 19, 2014.

Menjadi Price Maker

Published 21 Mei 2014 by Budi Setiawan

Ibu adalah satu diantara ratusan pedagang di pasar traditional. Pagi ini sekitar jam 5 lebih 45 menit, saya membantu membuka kios, menyusun barang yang akan dijual hari itu, sebelum berangkat ke kantor untuk mengamati pergerakan harga saham.

Berkat pengalaman puluhan tahun berdagang, Ibu sudah mengenal banyak suplier dan seringkali mendapat harga lebih murah dibanding penjual lain.

Selain membantu beliau, saya juga mengamati aktivitas di pasar tersebut dan secara karakteristik pasar ini cenderung masuk ke dalam pasar persaingan sempurna. Terdapat penjual dan pembeli di satu area yang sama dengan menjual beberapa produk yang sejenis. Hari itu, saya juga berjalan mengelilingi setiap sudut pasar, mencoba menghitung berapa banyak penjual mangga yang ada di pasar tersebut. Ada sekitar 15 pedagang mangga. Di tempat ini, kekuatan demand dan supply sangat kental terasa.

Pedagang yang bisa menjual lebih murah mempunyai probabilitas lebih laku dibandingkan dengan pedagang yang menjual dengan harga yang lebih mahal.

Dengan pendekatan harga, seharusnya ibu mempunyai peluang yang sangat besar menjadi price maker untuk mengundang pembeli lebih banyak.

Kalau memang bisnis ini tak mengenal kawan dan saudara, tidak terlalu sulit untuk merusak harga di pasar itu. Tapi saya percaya bahwa bukan itu tujuan utama Tuhan memberi kami kesempatan untuk belajar tentang demand and supply.

Pasar Kuto, Palembang.

May 20, 2014.

Kelas Inspirasi Palembang (Budi Setiawan)

Published 26 April 2014 by Budi Setiawan

Bismillahirrahmanirrahim

Tuhan, memang tidak ada jalan mudah untuk menggapai cita-cita. Butuh kerja keras ribuan hari agar bisa menghubungkan titik-titik itu menjadi kesuksesan. Kehadiran kami –relawan kelas inspirasi- hanya tinggal menjadi cerita. Biarlah kenangan itu kami simpan sembari kami titipkan cita-cita anak ini pada-Mu. Bantulah mereka agar bisa menggapai cita-citanya. Demi mengangkat harkat martabat keluarga mereka, mengharumkan nama sekolah dan guru-guru mereka, dan memberi sumbangsih terbesar bagi bangsa Indonesia dan dunia. Tuhan, tanpa-Mu kami bukan apa-apa.

*

Pagi itu, mata saya tertuju pada selembar kain berwarna merah putih yang berkibar di atas tiang. Matahari pagi menghangatkan ratusan siswa, guru, dan kami waktu itu. Lagu Indonesia raya yang dilantunkan oleh para murid, guru,dan relawan kelas inspirasi menusuk ke hati. Mengingatkan saya pada fenomena menakutkan tentang masa depan anak Indonesia. Anies Baswedan dalam artikelnya Bonus Demografi bisa jadi Bom Waktu menjelaskan setiap tahun ada 5,6 juta anak Indonesia masuk kelas 1 SD. Ini termasuk tinggi karena mencapai 94-95 persen. Sejajar dengan negara-negara maju seperti Korea, Jepang, dan lainnya. Akan tetapi, hanya 2,3 juta yang melanjutkan SMA, yang 3,3 juta “hilang”.

Bonus Demografi dan Kompetisi Global

Indonesia diperkirakan mencapai puncak bonus demografi pada tahun 2017 sampai 2019. Artinya komposisi jumlah penduduk dengan usia produktif 15-64 tahun mencapai titik maksimal, dibandingkan usia nonproduktif 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas. Pada puncak bonus demografi itu proporsi penduduk usia produktif mencapai 55,5 persen (Sumber: Menkokesra.go.id). Di saat yang sama, pada tahun 2019 nanti. Jika kita tidak turun tangan mengatasi masalah “hilang”nya anak-anak Indonesia. Negara yang kita cintai ini akan berada di puncak bonus demografi dengan potensi anak-anak yang “hilang” sebanyak 16,5 juta (3,3 juta x 5 tahun), ini masalah!.

Jumlah penduduk dengan usia produktif yang besar saja tidaklah cukup untuk membawa kemajuan bagi Indonesia. Negara ini butuh anak muda yang terdidik dalam jumlah besar agar bisa menjadi global player di masa depan. Ingat, pada masa lalu bentuk penjajah itu adalah kolonialisasi tapi sekarang dan masa depan bentuknya adalah pasar konsumsi.

Apa yang harus kita lakukan sebagai orang yang sudah menikmati buah pendidikan?

Kita sudah tahu masalahnya. Apa kita akan membiarkan saja dan berharap akan ada orang lain yang menyelesaikan semua masalah itu atau kita pilih turun tangan, menjadi bagian dari solusi untuk menyelesaikan masalah.

Kami Pilih Turun Tangan!

Relawan Kelas Inspirasi Palembang kelompok II

Relawan Kelas Inspirasi Palembang kelompok II

Banyak cara untuk terlibat, berkontribusi demi kemajuan bangsa, salah satunya ikut berpartisipasi mengajar sehari di Sekolah Dasar (SD) melalui kelas inspirasi. Kelas inspirasi bermula dari teman-teman Indonesia Mengajar dan beberapa professional yang ingin berkontribusi terhadap pendidikan Indonesia. Kelas Inspirasi menyediakan platform kepada para professional yang sudah bekerja minimal dua tahun untuk menjadi guru, mengajar anak-anak SD satu hari. Ya, hanya satu hari saja.

Secara bilangan, satu hari merupakan waktu yang sangat singkat tapi pada kenyataanya satu hari yang digunakan untuk mengajar anak-anak SD sangat menguras tenaga dan pikiran tapi sangat menyenangkan. Bahkan satu hari sebelum hari H, kami yang melakukan koordinasi via social media menceritakan ketegangan untuk mengajar keesokan harinya. Ada beberapa teman yang susah tidur, terus berfikir tentang apa yang akan dilakukan di depan kelas esok hari. Di saat bersamaan saya terfikir perjuangan guru yang terus mengabdi mencerdaskan anak-anak setiap saat. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Tidak mudah menjelaskan apa yang kami kerjakan kepada anak-anak. Tapi hal itu tidak membuat kami putus asa. Sebelum mengajar kami sudah melakukan pertemuan untuk membahas persiapan-persiapan agar pesan yang ingin disampaikan pada saat mengajar bisa dimengerti oleh para siswa Madrasah Ibtidaiyah Qur’aniah IV Palembang.

Siswa-siswa yang kami temui berbeda dengan anak-anak yang belajar di sekolah perkotaan pada umumnya. Mereka bukan anak-anak yang sudah familiar dengan laptop, tablet, atau teknologi lainnya. Tak heran jika para relawan sangat antusias dengan berbagai persiapan. Ibu Dian yang berprofesi atlit sepatu roda datang lengkap dengan peralatan perang, memakai training dan sepatu roda, seperti mau bertanding hari itu. Ibu Sri membawa celengan dan beberapa lembar uang untuk memperkenalkan profesinya sebagai seorang banker. Ibu Indah juga tak mau kalah dengan membawa helm, miniatur jembatan, dan rompi insinyur. Ibu Una lengkap dengan baju dokter, peralatan P3K, dan beberapa contoh obat khas seorang apoteker. Pak Hendi membawa helm, laptop, dan baju safety mencerminkan seorang senior operator. Tak kalah sibuk Om Dika yang memfasilitasi relawan, memastikan acara kelas inspirasi berjalan lancar, serta Bang Surya sebagai seorang photographer yang siap mengambil momen menarik selama acara berlangsung.

Saya sendiri bertugas untuk menjelaskan profesi sebagai seorang marketer. Dari rumah saya sudah mempersiapkan 5 lembar foto bergambar outlet/ toko. Mulai dari toko Hypermarket sampai gambar toko yang ada di pinggir jalan dengan harapan anak-anak akan lebih mudah memahami tugas seorang marketer.

Ternyata di lapangan kondisinya sangat berbeda. Pengalaman lebih dari tiga tahun manjadi marketer tidak lantas memudahkan saya untuk menjelaskan pada anak-anak. Saya pikir jauh lebih mudah melakukan deal bisnis kepada supplier, buyer, atau business owner dibandingkan menjelaskan tentang apa itu marketing kepada siswa. Sekali lagi, Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Di akhir sesi mengajar, kami meminta anak-anak untuk menuliskan cita-citanya. Saat mereka serius menulis. Saya merinding, teringat dengan mimpi-mimpi yang pernah saya tulis beberapa tahun lalu. Saya percaya bahwa kondisi saya hari ini –selain karena Allah- sebagian besar hasil dari apa yang sudah saya impikan sebelumnya.

Ya Allah, bantulah anak-anak ini untuk menggapai cita-citanya dan berkahi kami sebagai seorang pembelajar yang menjadikan kematian sebagai wisuda yang sesungguhnya.

Prabumulih: April 26, 2014.

Connecting Global CEO’s

Published 21 April 2014 by Budi Setiawan

Menurut saya jarak antara Chief Executive Officer (CEO) dan karyawan itu seperti bumi dan langit. Ini pengalaman pribadi, saya baru dua kali bicara dengan CEO selama bekerja hampir 5 tahun. Pertama terjadi watku masih bekerja di perusahaan finance nasional. Saat itu kami diskusi santai saat makan siang setelah beliau mengisi training. Kedua, saya mendapat kesempatan berbicara langsung dengan CEO saat mencoba menjawab pertanyaan dari CEO pada suatu meeting nasional yang dihardiri ratusan peserta. Jadi bisa dibilang saya tidak pernah diskusi bedua dengan CEO. Hhaaa

Twitter help me to chat with them

Budi Setiawan‏@budirich·Apr 20  Buku 3 CEO's. GE Indonesia, Zappos, Shell Indonesia. CC Pak @HandryGE @tonyhsieh @DarwinSilalahi. Nice books :) pic.twitter.com/Veg5wUMbDH

Budi Setiawan‏@budirich·Apr 20
Buku 3 CEO’s. GE Indonesia, Zappos, Shell Indonesia. CC Pak @HandryGE @tonyhsieh @DarwinSilalahi. Nice books :) pic.twitter.com/Veg5wUMbDH

Malam itu, tanpa disengaja saya menemukan 3 buku yang ditulis oleh 3 orang yang saat ini sedang menjabat sebagai CEO ada di meja tempat kumpul bersama keluarga. Iseng, saya membariskan tiga buku tersebut, memfoto, saya sharing di twitter dengan men-CC-kan ke penulisnya masing-masing. Dua dari tiga CEO’s merespon dengan cepat. awalnya Pak Handry (CEO GE Indonesia) membalas dengan senyuman, lalu diikuti oleh Pak Darwin (CEO Shell Indonesia) dengan ucapan terima kasih. Pak Handry membalas lagi dan ini balasan, challenge, atau cara saya ngomporin orang-orang hebat ini “Uda @HandryGE dan Pak @darwinsilalahi jika Shell dan GE Indonesia bisa kerjasama mungkin impact-nya akan luar biasa untuk Indonesia J

Semoga ada manfaatnya untuk Indonesia. Aamiin.

20 April 2014

Published 20 April 2014 by Budi Setiawan

Tiga tahun lalu. Waktu itu masih bekerja sebagai credit analyst di Manado, saya menunggu kedatangan hari ini. Hari dimana saya mempersiapkan satu agenda besar untuk melengkapi  apa yang saya sebut sebagai imbalance triangle waktu itu (baca: imbalance triangle on april 20).

Tapi hari ini, ketika tanggal 20 itu datang. Semua berjalan biasa saja. Ya sudahlah tidak ada yang perlu disesali secara berlebihan dalam hidup ini. Bukannya setiap hari kita selalu disuguhkan pada satu fenomena, keberhasilan dan kegagalan.

Jika hari ini saya gagal melengkapi segitiga itu, insya Allah saya bisa melengkapinya di lain waktu.

Itulah hidup. Penuh misteri. Manusia berencana, Allah yang menentukan.

Hidup bukan seperti dua sisi mata uang, gagal dan berhasil ataupun sedih dan bahagia. Tapi hidup lebih luas dari itu. Belajarlah melihat lebih jauh. Temukan makna dari setiap peristiwa.

Sudahlah, rayakan saja kegagalanmu dengan kebahagiaan. Walau hanya dengan segelas coklat dan satu porsi siomay ikan.

Toh ini juga hidupmu sendiri. Bahagia saja!

Palembang: 20 April 214

Terucap selamat ulang tahun untukmu Ibu. I love u so much. Saya akan bawa bebek slamet ke rumah malam ini, tunggu saja :)

Keep Dream Alive

Published 13 April 2014 by Budi Setiawan

I have a dream, Indonesia becoming a big player in a global world as a producer of valuable products. Not just a market. Anak muda-lah engine dari pembaruan Indonesia. Mereka yang berani berbeda, tidak ikut-ikutan, dan bertindak dengan rasionalitas yang baik (Handry Satriago dalam buku #Sharing)

Jika saja saya tidak menulis apa yang ingin dilakukan dalam hidup, mungkin saya tidak akan berani mengambil keputusan ini. Saya masih ingat raut wajah kedua orang tua, rekan kerja, bahkan atasan yang tampak bingung, heran. Seperti sulit diterima secara logika mendengar keputusan saya untuk melanjutkan kuliah. Kenyamanan bekerja di perusahaan multinasional company dengan segala fasilitas yang diberikan, membayangkan barisan orang-orang yang antri untuk bisa bergabung di dalamnya tidak menyurutkan niat saya untuk menjaga agar mimpi itu tetap hidup.

Darwin Silalahi dalam bukunya Life Story not Job Title mengatakan, kisah orang-orang dengan kesuksesan “abadi” adalah sesuatu yang pada awalnya terlihat mustahil untuk bisa dicapai. Apa yang membuat orang sukses dan tetap sukses adalah kekeraskepalaan mereka untuk tetap berada pada jalur yang sesuai dengan purpose/ dream mereka. Ketetapan hati pada purpose itulah yang paling penting. Ketika kita dihadapkan pada kondisi yang sulit, kita akan berusaha mencari makna hidup atas kejadian tersebut. Tidak ada keputusan yang lebih pribadi daripada menemukan apa yang bermakna bagi kita atau selaras dengan purpose kita.

Sulit memang untuk menjelaskan kepada setiap orang yang bertanya tentang alasan saya mengambil keputusan ini, tapi mudah-mudahan tulisan ini bisa memberi gambaran yang lebih lengkap behind the reason dari keputusan itu.

Pertama: Saya ingin mimpi yang sudah ditulis harus diperjuangkan sedini mungkin. Keluar dari zona nyaman dan mengejar mimpi yang tertunda. Salah satunya adalah melanjutkan kuliah. Menurut saya harus ada trade-off dan game changing agar mimpi itu bisa diwujudkan.

Paul Arden dalam bukunya Whatever You Think, Think the Opposite mengatakan lebih baik menyesali apa yang telah anda lakukan daripada menyesali apa yang tidak anda lakukan. Banyak orang mencapai usia 40, hanya untuk menyadari bahwa mereka telah melewati banyak hal dalam hidup. Dalam banyak kasus, mereka mengalami segala hal, kecuali ketika tantangan dihadapkan pada mereka, mereka kehilangan keberanian untuk menyambutnya.

Saya tidak ingin menjadi orang-orang yang disebut oleh Paul sebagai manusia yang menyesali hidup karena tidak berani mengambil keputusan lantaran takut masuk ke dalam zona ketidakpastian. Lagian, kalau kita hanya melakukan apa yang orang normal lakukan, apa yang membedakan kita dengan kebanyakan orang.

Sederhananya saya berusaha untuk jujur pada diri sendiri tentang apa yang ingin saya capai dalam hidup. Sekaligus berjuang untuk mengikuti saran Pak Anies Baswedan tentang karir yaitu Intellectually Growing, Financially Good, Socially Influencial.”

Kedua : Current and future income

M. Sjamsul Arifin dalam prensentasinya di Markplus Confrence 2012 yang saya baca di majalah Marketers edisi February 2012 mengkorelasikan struktur penduduk Indonesia dengan annual income. Data menyebutkan sekitar 35% penduduk Indonesia masih hidup dengan penghasilan pertahun di bawah US$ 1500. Data selengkapnya dapat di lihat pada gambar di bawah:

 

Struktur Penduduk Indonesia based on Annual Income

Struktur Penduduk Indonesia based on Annual Income

Bekerja selama lebih dari 3 tahun di perusahaan ini, Alhamdulillah mengantarkan saya masuk ke dalam tier 2. Cukup lumayan. But I challenge my self to jump onto number 1. Insya Allah bisa. Aamiin.

Saya coba mengkalkulasi income yang akan saya terima di tahun 2030 dengan menggunakan pendekatan Net Present Value (NPV) dengan asumsi kenaikan gaji 10% per tahun. Misalnya income saya $7.200 per tahun, maka di tahun 2030 saya kira-kira menerima income per tahun $33.084. Secara nilai memang terlihat cukup besar, tapi tidak demikian jika kita kaitkan dengan inflasi, kenaikan harga barang, dan juga proyeksi bombastis tentang masa depan Indonesia.

Ketiga : Insting dan proyeksi masa depan Indonesia

McKinsey Global Institute pada September 2012 merilis laporan berjudul The archipelago economy: Unleashing Indonesia’s Potential membuat proyeksi tentang Indonesia hingga tahun 2030. Tidak lama lagi, hanya 16 tahun dari hari ini. Perusahaan konsultan bisnis asal Amerika itu memprediksi Indonesia akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi nomor 7 di dunia (sekarang no 15, based on Purchasing Power Parity) -bersama Chine, US, India, Japan, Brazil, dan Rusia. Mengalahkan dua negara yang pernah menjajah Indonesia, Portugis dan Belanda- dengan member of consuming class 135 juta .

Keempat: Supply and demand – Talent Shortage

The Boston Consulting Group meliris laporan tentang Southeast Asean Challengers “The Companies Piloting a Soaring Region” yang menyebutkan bahwa talent is a top concern of chief executives everywhere, but this is especially so in Southeast Asia. Many of the regions’s top students study abroad and never return home. Talent shortages are especially acute in Vietnam and Indonesia. Rene Suhardono, seorang career coach sekaligus penulis buku Your Job not Your Career dalam satu wawancaranya di TV menjelasakan bahwa saat ini telah terjadi gap sekitar 20 persen antara supply and demand di level middle management dalam suatu organisasi. Kebutuhan (demand) perusahaan untuk talent yang mampu menduduki posisi middle lebih besar daripada supply yang ada. Jika kondisi ini tidak disikapi, maka tahun 2020 gap ini akan melebar menjadi 60 persen. Mimpi untuk menjadi bagian dari 20 persen orang itulah yang menguatkan niat saya untuk melanjutkan kuliah lagi.

Saya belum bisa membuktikannya tapi insya Allah keyakinan itu bertambah setelah menonton video Forum Debate Davos 2014 tentang Rethinking Technology and Employment saya percaya bahwa beberapa tahun mendatang perkembangan tehnologi akan menjadi alat penyeleksi manusia yang paling ampuh. Hal ini diperkuat dengan beberapa teman yang dengan mudahnya pindah ke perusahaan lain hanya dengan menekan tombol apply dari gadget yang mereka bawa setiap hari. Tidak membutuhkan waktu lebih dari 5 menit untuk mencari dan melamar pekerjaan sekarang ini. Perihal diterima atau tidak, itu related dengan skill, pengalaman, pendidikan si pelamar dan juga kebutuhan perusahaan.

Kelima: Asean Economic Community

Akhir 2015, dua tahun dari hari ini. Indonesia dan beberapa negara di asia tenggara lainnya akan membentuk suatu wadah yaitu Masyarakat Ekonomi Asean. Ini akan menjadi ajang kompetisi yang menarik. Kita yang tidak mampu bersaing dengan sumber daya manusia dari negara lain akan menjadi penonton di negeri sendiri. Saya membayangkan di tahun 2015 nanti, siapapun bisa melamar pekerjaan di perusahaan luar negeri hanya dengan menekan “apply” dari layar monitor handphone. Lalu tidak selang berapa lama, kita melakukan teleconfrence untuk melakukan wawancara kerja, setelah kedua belah pihak sepakat, maka tiket sudah dikirim via email dan kita siap bekerja di negara tujuan. Berapa lama proses dari mulai melamar, wawancara, hingga terbang ke negara tempat kita bekerja. Saya rasa tidak lebih dari satu hari.

Proses dari melamar, wawancara, dan bekerja memang tidak lama tapi proses untuk mempersiapkan diri agar bisa bersaing dengan competitor dari luar negeri, itu yang membutuhkan waktu. Kata kuncinya satu, belajar atau tertinggal.

Saya ingin mengakhiri artikel ini dengan mengutip tulisan Paul Arden dalam bukunya Whatever You Think, Think the Opposite tentang Rumah Impian. Kenapa Anda tidak mampu membeli rumah impian. Itulah kenapa disebut sebagai rumah impian Anda. Jadi temukanlah cara untuk mendapatkannya (anda akan mendapatkannya), atau puaskan diri anda dengan ketidakpuasan.

Palembang: April 8, 2014.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.