Keep Dream Alive

Published 13 April 2014 by Budi Setiawan

I have a dream, Indonesia becoming a big player in a global world as a producer of valuable products. Not just a market. Anak muda-lah engine dari pembaruan Indonesia. Mereka yang berani berbeda, tidak ikut-ikutan, dan bertindak dengan rasionalitas yang baik (Handry Satriago dalam buku #Sharing)

Jika saja saya tidak menulis apa yang ingin dilakukan dalam hidup, mungkin saya tidak akan berani mengambil keputusan ini. Saya masih ingat raut wajah kedua orang tua, rekan kerja, bahkan atasan yang tampak bingung, heran. Seperti sulit diterima secara logika mendengar keputusan saya untuk melanjutkan kuliah. Kenyamanan bekerja di perusahaan multinasional company dengan segala fasilitas yang diberikan, membayangkan barisan orang-orang yang antri untuk bisa bergabung di dalamnya tidak menyurutkan niat saya untuk menjaga agar mimpi itu tetap hidup.

Darwin Silalahi dalam bukunya Life Story not Job Title mengatakan, kisah orang-orang dengan kesuksesan “abadi” adalah sesuatu yang pada awalnya terlihat mustahil untuk bisa dicapai. Apa yang membuat orang sukses dan tetap sukses adalah kekeraskepalaan mereka untuk tetap berada pada jalur yang sesuai dengan purpose/ dream mereka. Ketetapan hati pada purpose itulah yang paling penting. Ketika kita dihadapkan pada kondisi yang sulit, kita akan berusaha mencari makna hidup atas kejadian tersebut. Tidak ada keputusan yang lebih pribadi daripada menemukan apa yang bermakna bagi kita atau selaras dengan purpose kita.

Sulit memang untuk menjelaskan kepada setiap orang yang bertanya tentang alasan saya mengambil keputusan ini, tapi mudah-mudahan tulisan ini bisa memberi gambaran yang lebih lengkap behind the reason dari keputusan itu.

Pertama: Saya ingin mimpi yang sudah ditulis harus diperjuangkan sedini mungkin. Keluar dari zona nyaman dan mengejar mimpi yang tertunda. Salah satunya adalah melanjutkan kuliah. Menurut saya harus ada trade-off dan game changing agar mimpi itu bisa diwujudkan.

Paul Arden dalam bukunya Whatever You Think, Think the Opposite mengatakan lebih baik menyesali apa yang telah anda lakukan daripada menyesali apa yang tidak anda lakukan. Banyak orang mencapai usia 40, hanya untuk menyadari bahwa mereka telah melewati banyak hal dalam hidup. Dalam banyak kasus, mereka mengalami segala hal, kecuali ketika tantangan dihadapkan pada mereka, mereka kehilangan keberanian untuk menyambutnya.

Saya tidak ingin menjadi orang-orang yang disebut oleh Paul sebagai manusia yang menyesali hidup karena tidak berani mengambil keputusan lantaran takut masuk ke dalam zona ketidakpastian. Lagian, kalau kita hanya melakukan apa yang orang normal lakukan, apa yang membedakan kita dengan kebanyakan orang.

Sederhananya saya berusaha untuk jujur pada diri sendiri tentang apa yang ingin saya capai dalam hidup. Sekaligus berjuang untuk mengikuti saran Pak Anies Baswedan tentang karir yaitu Intellectually Growing, Financially Good, Socially Influencial.”

Kedua : Current and future income

M. Sjamsul Arifin dalam prensentasinya di Markplus Confrence 2012 yang saya baca di majalah Marketers edisi February 2012 mengkorelasikan struktur penduduk Indonesia dengan annual income. Data menyebutkan sekitar 35% penduduk Indonesia masih hidup dengan penghasilan pertahun di bawah US$ 1500. Data selengkapnya dapat di lihat pada gambar di bawah:

 

Struktur Penduduk Indonesia based on Annual Income

Struktur Penduduk Indonesia based on Annual Income

Bekerja selama lebih dari 3 tahun di perusahaan ini, Alhamdulillah mengantarkan saya masuk ke dalam tier 2. Cukup lumayan. But I challenge my self to jump onto number 1. Insya Allah bisa. Aamiin.

Saya coba mengkalkulasi income yang akan saya terima di tahun 2030 dengan menggunakan pendekatan Net Present Value (NPV) dengan asumsi kenaikan gaji 10% per tahun. Misalnya income saya $7.200 per tahun, maka di tahun 2030 saya kira-kira menerima income per tahun $33.084. Secara nilai memang terlihat cukup besar, tapi tidak demikian jika kita kaitkan dengan inflasi, kenaikan harga barang, dan juga proyeksi bombastis tentang masa depan Indonesia.

Ketiga : Insting dan proyeksi masa depan Indonesia

McKinsey Global Institute pada September 2012 merilis laporan berjudul The archipelago economy: Unleashing Indonesia’s Potential membuat proyeksi tentang Indonesia hingga tahun 2030. Tidak lama lagi, hanya 16 tahun dari hari ini. Perusahaan konsultan bisnis asal Amerika itu memprediksi Indonesia akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi nomor 7 di dunia (sekarang no 15, based on Purchasing Power Parity) -bersama Chine, US, India, Japan, Brazil, dan Rusia. Mengalahkan dua negara yang pernah menjajah Indonesia, Portugis dan Belanda- dengan member of consuming class 135 juta .

Keempat: Supply and demand – Talent Shortage

The Boston Consulting Group meliris laporan tentang Southeast Asean Challengers “The Companies Piloting a Soaring Region” yang menyebutkan bahwa talent is a top concern of chief executives everywhere, but this is especially so in Southeast Asia. Many of the regions’s top students study abroad and never return home. Talent shortages are especially acute in Vietnam and Indonesia. Rene Suhardono, seorang career coach sekaligus penulis buku Your Job not Your Career dalam satu wawancaranya di TV menjelasakan bahwa saat ini telah terjadi gap sekitar 20 persen antara supply and demand di level middle management dalam suatu organisasi. Kebutuhan (demand) perusahaan untuk talent yang mampu menduduki posisi middle lebih besar daripada supply yang ada. Jika kondisi ini tidak disikapi, maka tahun 2020 gap ini akan melebar menjadi 60 persen. Mimpi untuk menjadi bagian dari 20 persen orang itulah yang menguatkan niat saya untuk melanjutkan kuliah lagi.

Saya belum bisa membuktikannya tapi insya Allah keyakinan itu bertambah setelah menonton video Forum Debate Davos 2014 tentang Rethinking Technology and Employment saya percaya bahwa beberapa tahun mendatang perkembangan tehnologi akan menjadi alat penyeleksi manusia yang paling ampuh. Hal ini diperkuat dengan beberapa teman yang dengan mudahnya pindah ke perusahaan lain hanya dengan menekan tombol apply dari gadget yang mereka bawa setiap hari. Tidak membutuhkan waktu lebih dari 5 menit untuk mencari dan melamar pekerjaan sekarang ini. Perihal diterima atau tidak, itu related dengan skill, pengalaman, pendidikan si pelamar dan juga kebutuhan perusahaan.

Kelima: Asean Economic Community

Akhir 2015, dua tahun dari hari ini. Indonesia dan beberapa negara di asia tenggara lainnya akan membentuk suatu wadah yaitu Masyarakat Ekonomi Asean. Ini akan menjadi ajang kompetisi yang menarik. Kita yang tidak mampu bersaing dengan sumber daya manusia dari negara lain akan menjadi penonton di negeri sendiri. Saya membayangkan di tahun 2015 nanti, siapapun bisa melamar pekerjaan di perusahaan luar negeri hanya dengan menekan “apply” dari layar monitor handphone. Lalu tidak selang berapa lama, kita melakukan teleconfrence untuk melakukan wawancara kerja, setelah kedua belah pihak sepakat, maka tiket sudah dikirim via email dan kita siap bekerja di negara tujuan. Berapa lama proses dari mulai melamar, wawancara, hingga terbang ke negara tempat kita bekerja. Saya rasa tidak lebih dari satu hari.

Proses dari melamar, wawancara, dan bekerja memang tidak lama tapi proses untuk mempersiapkan diri agar bisa bersaing dengan competitor dari luar negeri, itu yang membutuhkan waktu. Kata kuncinya satu, belajar atau tertinggal.

Saya ingin mengakhiri artikel ini dengan mengutip tulisan Paul Arden dalam bukunya Whatever You Think, Think the Opposite tentang Rumah Impian. Kenapa Anda tidak mampu membeli rumah impian. Itulah kenapa disebut sebagai rumah impian Anda. Jadi temukanlah cara untuk mendapatkannya (anda akan mendapatkannya), atau puaskan diri anda dengan ketidakpuasan.

Palembang: April 8, 2014.

Test

Published 12 April 2014 by Budi Setiawan

Fenomena dimana takut mengambil keputusan menjadi bencana yang paling nyata.

Hari ini saya dan beberapa teman yang akan melanjutkan kuliah diharuskan untuk mengikuti ujian tahap dua –test potensi academic (TPA)- di lantai 3 gedung Megister Management Universitas Sriwijaya Palembang. Kami harus menyelesaikan 250 soal yang terbagi ke dalam 3 bagian dalam waktu 3 jam. Kalau melihat waktu yang diberikan -3 jam- bukanlah waktu yang pendek, bahkan tidur 3 jam rasanya cukup untuk mengobati rasa lelah setelah seharian bekerja. Tapi jika kita diharuskan untuk menjawab 250 soal yang “rumit”, maka 3 jam bukanlah waktu yang lama.

Setelah mengikitu test tadi pagi, saya menilai bahwa test ini tidak semata-mata untuk melihat potensi akademik dari peserta tapi juga untuk melihat proses problem solver dan daya tahan tubuh :) Menurut saya, keterbatasan waktu menjadikan soal yang benar-benar bisa dibaca tidak lebih dari setengah dari total 250 soal. Artinya 125 soal saya jawab dengan menebak. Menggunakan insting dan beberara pendekatan yang kebenarannya tidak saya yakini –A atau B, sampai E-.

Lokasi duduk antara satu peserta dan peserta test lainnya tidak berjauhan, berjarak sekitar 1 meter. Jadi secara samar-samar kami bisa melihat bentuk abstrak dari lingkaran kecil yang kami buat sebanyak 250 titik. Saya sulit menyimpulkan bentuk titik-titik dari seorang peserta test yang duduk di samping kiri depan saya, terlihat seperti transpesium yang berkaki panjang. Kaki panjang itu mungkin saja terbentuk karena peserta itu memutuskan pilihan jawaban pada satu huruf –katakanlah B-. Mungkin dia terpaksa melingkari semua jawaban dengan huruf B karena waktu yang diberikan tidak cukup untuk membaca semua soal. Waktu itu, Menebak jawaban adalah pilihan terbaik daripada tidak menjawab karena tidak ada pengurangan point dari jawaban yang salah. Disini saya menemui fenomena dimana takut mengambil keputusan menjadi bencana yang paling nyata.

Saya sendiri melakukan tebakan jawaban dengan mencoba meyakini bahwa pilihan jawaban yang paling panjang kalimatnya adalah yang paling benar. Setidaknya 125 dari 250 soal saya pilih dengan pendekatan seperti itu. Saya berasumsi bahwa semua manusia adalah pemalas, termasuk yang membuat soal test TPA ini. Karena kemalasannya, pembuat soal tidak akan memberikan alternatif jawaban dengan kalimat yang panjang, kecuali itu adalah jawaban yang benar.

Jadi ada dua bentuk pendekatan dalam menjawab soal yang pertanyaanya tidak sempat dibaca. Pertama -pendekatan probabilita- dengan memilih satu huruf sebagai jawaban dengan tingkat probabilitas 1/5 = 20 persen. Jika kita menjawab 125 soal dengan pendekatan probabilita ini, maka kemungkinan jawaban yang benar adalah 20% x 125 soal yaitu 25 soal. Kedua –pendekatan pribadi– dengan menganggap pada dasarnya semua manusia itu adalah pemalas, maka kemungkinan jawaban yang benar dengan menggunakan pendekatan ini adalah ketidakpastian.

Waktu 5 menit terakhir dari 3 jam yang diberikan saya gunakan untuk berfikir tentang apakah pendekatan yang saya gunakan itu benar atau salah. Tidak mau pusing berlarut-larut, saya tutup lembar soal setebal 25 halaman dan menyelipkan lembar jawaban di dalamnya. Mata saya berputar mengililingi ruangan dan berhenti sekian detik untuk fokus pada seorang peserta test lain yang usianya sekitar 40 tahun, sembari meyakinkan diri bahwa tidak ada pendekatan yang paling benar selain Al-qur’an dan Hadist- yang ada hanya sudut pandang dari masing-masing individu yang kita yakini kebenarannya.

Pendekatan yang benar baru bisa dibuktikan setelah hasil TPA di kirim ke alamat yang kami tulis di amplop, seminggu dari hari ini.

MM Unsri Palembang.

April 12, 2014.

Belajar Mengurai Benang Kusut di 14 Kabupaten (Bag 3 – Finish)

Published 10 April 2014 by Budi Setiawan

Before you are a leader, success is all about growing yourself. When you become a leader, success is all about growing others (Jack Welch, dalam buku #Sharing Pak Handry Satriago)

Saya memulai catatan ini di kota Lahat dan saya ingin mengakhiri tulisan ini di tanah kelahiran, Palembang. Tiga bulan yang saya janjikan telah berlalu. Saya bertanya tentang hasil dari proses belajar mengurai benang kusut yang terjadi di 14 kabupaten, melibatkan 3 distributor, sekaligus menagih misi pribadi yang sudah terucap 3 bulan lalu tentang usaha untuk merubah situasi dari minus growth menjadi positif growth.

Flash back sedikit tentang kondisi ketika saya datang pertama kali ke tempat tersebut sebagai seorang care taker, menggantikan dua rekan kerja yang sudah lebih awal meninggalkan perusahaan. Surat resmi perpindahan saya baru keluar per tanggal 1 January 2014. Mulai tanggal 1 January dan berakhir di bulan 31 Maret 2014, genap 3 bulan.

Kondisi waktu itu cukup challenging, distributor di Prabumulih report year on year menunjukkan minus 31 persen, distributor di Lahat juga minus 15 persen. Hanya distributor di Baturaja yang tumbuh, tapi tetap saja belum bisa mendongkrak performa secara total area Pralaba (Prabumulih, Lahat, dan Baturaja) yang masih minus 4 persen secara report year on year 2013. Di bawah performance area Palembang yang tumbuh 1 persen dan region Sumatera tumbuh 9 persen. Minus growth adalah neraka bagi perusahaan.

How to turn around business from minus to positive growth?

Pertanyaan sama yang saya tulis 3 bulan lalu, kini sudah ada jawabannya. Saya ingin mulai dari distributor di Baturaja.

Saya menilai, dari 3 distributor di area Pralaba, distributor ini mempunyai performance yang relatif stabil dibandingkan yang lain. Tahun 2013 lalu, distributor ini membantu performance secara total area Pralaba.

Pertumbuhan di area ini erat kaitannya dengan produk RTD (ready to drink), kontribusi produk RTD mencapai 60 persen dari total bisnis. Tugas saya memastikan agar produk tersebut selalu available, baik di level distributor maupun toko dan membuat proposal aktivitas untuk mengcounter infiltrasi yang masuk dari Palembang dan Lampung. Selain itu, kami juga menjaga top 50 customer agar tetap tumbuh karena 50 toko dengan penyumbang sales terbesar mempunyai kontribusi lebih dari 63 persen total bisnis distributor.

Performace Q1, 2014 semakin membaik, distributor mengalami pertumbuhan penjualan sebesar 100 persen dibandingkan tahun lalu. Pertumbuhan fantastis tersebut membawa distributor di Baturaja menjadi juara pertama dengan pertumbuhan terbesar se region sumatera. Mengalahkan sekitar 48 distributor lainnya.

Bagaimana dengan performance distributor Lahat dan Prabumulih yang minus 15 persen dan 31 persen tahun 2013 lalu.

Kita mulai dari distributor di Lahat. Kondisi Lahat berbeda dengan Baturaja. Kontributor produk terbesar di Lahat berasal dari susu bubuk dengan kontribusi 47 persen dari total bisnis. Faktanya, selama ini distributor tidak bisa menjual secara maksimal ke toko karena kalah bersaing harga dengan trader yang masuk dari Jakarta, Palembang, dan Lampung. Tapi positifnya, owner distributor di Lahat mempunyai hubungan baik dengan toko dan mau diajak turun ke lapangan.

Tugas saya disini adalah memastikan setiap promo berjalan on time, budget aktivitas tetap tersedia, dan juga membuat local activity agar bisa bersaing dengan para trader. Tugas terberatnya adalah mengambil alih pasar yang selama ini sudah dikuasi oleh trader.

Setelah berjuang bersama, pelan-pelan kami bisa mensupply barang ke toko lagi.

Alhamdulillh, performance Q1, 2014 distributor di Lahat membaik, sudah bisa keluar dari “neraka bisnis – minus 15 persen di tahun 2013” menjadi tumbuh 1 persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.

Bagaimana distributor di Prabumulih.

To be frank, dibandingkan dengan area lain, distributor ini yang paling sulit. Banyak yang harus diperbaiki. Ditambah lagi, Prabumulih menjadi salah satu distributor dengan minus growth yang cukup mengkhawatirkan di tahun 2013 lalu, minus 31 persen.

Saya dibuat khawatir oleh distributor ini. Performance di dua bulan pertama jauh panggang dari api dan bisa men-drag down area Pralaba secara keseluruan. Saya hampir putus asa karena sampai dengan tanggal 28 Maret 2014, sales baru mencapai 61 persen. Sementara dua distributor yang lain sudah melebihi timerate waktu itu. I almost get hopeless to chase my personal mission.

Saat kita sudah bekerja keras, maka pertolongan Tuhan pasti akan datang. Waktu itu, di hari terakhir penutupan kwartal 1, 2014. Tanggal 29 Maret 2014, manager operational distributor menelpon dan meminta tambahan budget promosi karena ada pesanan khusus dari PT Pertamina yang berencana membuka lokasi pengeboran baru. Saya yang waktu itu dalam perjalanan pulang dari Lahat menuju Palembang harus stop beberapa kali untuk membalas email dan memastikan semua berjalan sesuai rencana. Saya tiba di Palembang sekitar jam 9 malam, melanjutkan membuka email dan finally saya mendapat konfirmasi dari owner distributor bahwa target bulan Maret 2014 bisa terdeliver 100 persen setelah di hari terakhir bisa jualan lebih dari 700 juta.

Alhamdulillah, distributor yang tahun 2013 lalu minus 31 persen, kini bisa turn around – tumbuh 3 persen dibandingkan penjualan di kwartal 1 tahun 2013.

Berikut performance area Pralaba, Palembang, dan Sumatera tahun 2013 dan Q1, 2014

Sales Performance 2013

Sales Performance 2013

Sales Performance Q1, 2014

Sales Performance Q1, 2014

Secara total area Pralaba tumbuh 23 persen. Lebih tinggi dari target growth nasional sebesar 20 persen, area Palembang -3 persen dan region sumareta tumbuh 14 persen. Mission Complete!

 

Misi pribadi complete, what next?

Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti di gerbong berikutnya. Kembali ke rumah, mengambil tas yang terakhir kali saya pakai sewaktu wisuda 4 tahun lalu. Tas itu insya Allah akan menemani saya kembali untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang lain, menimba ilmu sembari mempersiapkan diri untuk menyelesaikan misi pribadi berikutnya, tentunya yang lebih menantang.

Note: Thanks a lot to the team. Prabumulih, Lahat, dan Baturaja.

Palembang: April 2014.

Kelas Inspirasi: Sehari Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi

Published 2 April 2014 by Budi Setiawan

Edisi Ke -1 : Kelas Inspirasi Pekanbaru (20 February 2013)

Mengajar untuk belajar..

Mengajar untuk belajar..

KIII

Indonesian young future guarantee :)

 

Halo, Budi Setiawan.

Terima kasih sudah menyatakan diri bersedia menjadi guru-sehari. Kesediaan Anda sesungguhnya menyatakan bahwa Anda siap dengan segala kerepotan dan pengorbanan yang mengiringinya. Anda telah bersedia untuk menjadi guru sehari pada tanggal 20 Februari 2013. Anda juga dengan rela harus mengorbankan waktu untuk hadir dalam persiapan dan briefing pada 9 Februari 2013 jam 19.00 di Balai Adat Melayu Riau, Jalan Diponegoro (seberang hotel Arya Duta), serta pertemuan refleksi pengalaman mengajar yang diselenggarakan pada 23 Februari 2013 yang akan ditentukan kemudian. Terima kasih untuk semua pengorbanan ini.

Melalui email ini, atas berbagai pertimbangan maka dengan ini kami sampaikan bahwa Anda terpilih untuk menjadi guru-sehari Kelas Inspirasi pada tanggal 20 Februari 2013. Kami ikut merasa bangga bahwa kita bisa saling menemukan dan saling bertautan demi sebuah misi sederhana ini. Republik ini ternyata masih dipenuhi oleh mereka yang mau berkorban dan ikut iuran demi kemajuan bangsanya. Semoga Kelas Inspirasi bisa menjadi sebuah pintu yang mengawali keterlibatan Anda dalam gerakan pendidikan di Indonesia yang aktivitasnya bisa jadi sangat dekat dengan kita, dan bisa jadi sangat banyak perwujudannya.

Selamat merayakan pengorbanan dan pengabdian Anda ini. Selamat menikmati setiap momen, getir dan bahagia yang mengiringinya. Mari selalu kita tanamkan di benak kita bahwa hal sederhana yang kita lakukan ini bukan demi diri kita tetapi demi jutaan anak Indonesia yang akan mengisi lapis generasi masa datang.

Email ini merupakan undangan untuk menghadiri briefing dan mohon konfirmasi kehadiran untuk mengajar dengan membalas email ini. Terima kasih.

Jabat erat: Tim Kelas Inspirasi PKU

Edisi Ke -2 : Kelas Inspirasi Palembang (insya Allah 23 April 2014)

Budi Setiawan

Semoga surat ini menemui Bapak dalam keadaan sehat dan selalu bersemangat.

Alhamdulillah, kami bersyukur bahwa proses rekrutmen telah selesai dan berjalan dengan baik. Tahapan seleksi kemarin merupakan pengalaman yang luar biasa bagi seluruh tim kelas inspirasi Palembang.  Bapak dan kawan-kawan calon Inspirator Kelas Inspirasi datang membawa nuansa baru dalam menyalakan harapan Indonesia.  Kehadiran Bapak meyakinkan kita untuk makin optimis dalam melihat masa depan republik ini. Kita semua bangga menyaksikan  para calon Inspirator Kelas Inspirasi Palembang yang rela meluangkan 1 hari dalam hidupnya untuk turun tangan bersama-sama membangun mimpi anak-anak Indonesia  kehadiran Bapak di depan kelas menebar inspirasi kepada anak – anak meyakinkan kita akan masa depan, wajah Indonesia kita. Indonesia yang lebih maju, lebih cerdas, lebih makmur, dan lebih adil.Kebanggaan dan kebahagian itu menandai betapa sulitnya tim seleksi membuat keputusan.Tim seleksi benar-benar harus kerja ekstra.

Melalui email ini kami ingin memberitahukan bahwa Bapak Budi Setiawan LOLOS  menjadi Calon Inspirator di Kelas Inspirasi Palembang.

Untuk konfirmasi kehadiran pada saat briefing tanggal 12 April 2014 dan pelaksanaan tangal 23 April 2014 silahkan segera membalas email ini atau bisa melalui sms di nomor  087887879834 (Yoga).Kami tunggu konfirmasi Bapak paling lambat tanggal 2 April 2014 Pukul 24.00 WIB.

Informasi selanjutnya mengenai Briefing, teknis pelaksanaan, akan diberitahukan kemudian.

 

Salam hangat,

Tim Kelas Inspirasi Palembang

 

 

 

Belajar dari Penjual Ikan

Published 19 Maret 2014 by Budi Setiawan

Hari Jum’at saya bersama manager operational distributor melakukan market visit ke area Belitang, sekitar 2 jam dari kota Baruraja. Tujuan utama kami adalah untuk menyelesaikan biaya sewa pajangan di toko sekaligus menyampaikan target penjualan tahun 2014. Toko-toko yang ikut peserta pajangan adalah toko pareto dengan penjualan teratas. 50 toko pareto mempunyai kontribusi 63 persen dari total bisnis. Jadi kalau bisnis distributor adalah Rp.18 Milyar per tahun, maka kontribusi 50 toko pareto Rp.11,3 Milyar. Alasan itulah yang membuat kami harus focus ke toko pareto dan tentunya tetap memperluas cakupan distribusi ke toko medium, small, dan baru. Focus ke pareto juga sebenarnya tidak terlalu complecated. Kami hanya menyiapkan “makanan” dan memastikan mereka “bermain” dengan cara yang benar, maka pertumbuhan bisnis akan lebih mudah di raih. Oleh karena mudah meraih pertumbuhan itulah memunculkan para pesaing-pesaing baru. Pesaing yang secara modal lebih kuat, dikelola lebih professional, dan dibuat dengan system waralaba (franchise). Hal ini yang akan saya sharing, tentang “competition” serta beberapa hal lain yang saya pelajari ketika melakukan market visit ke Belitang.

Pelajaran ke-1: Kompetisi: Retail local vs retail modern

Ada gula ada semut. Jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 240 juta dengan pertumbuhan ekonomi di topang lebih dari 60 persen dari domestic consumption tentunya ini akan mengundang banyak “semut-semut” untuk hadir, tak terkecuali dengan bisnis retail.

Dalam perjalanan ke Belitang, saya melihat ada puluhan toko retail modern (Indomaret dan Alfamart) yang sudah tersebar hingga ke pelosok. Dan tentunya kehadiran mereka bisa menguntungkan dan juga merugikan bagi masyarakat. Menguntungkan karena toko retail modern menawarkan tempat yang lebih bersih dan nyaman, serta beberapa produk komoditi (Beras, Gula, Susu, dll) dengan harga terjangkau. Merugikan karena beberapa toko retail local merasa kehilangan pangsa pasar setelah kehadiran retail modern. Menurut saya pribadi, bukan pangsa pasar toko local yang diambil tapi lebih pada mental pemilik toko yang diganggu. Jika kita sempat perhatikan, di atas pintu masuk toko retail modern selalu ada spanduk promo dengan memasang label harga yang lebih murah, bahkan produk yang masuk di dalam promo seringkali lebih murah dibandingkan harga beli toko ke distributor atau supplier. Bagi kita yang hanya focus pada promo, langsung berasumsi bahwa toko retail modern menjual dengan harga lebih murah.

Apakah memang seperti itu kenyataannya? Saya wajab tidak semuanya benar.

Kuncinya adalah si pemilik toko harus memperluas sudut pandang “extend viewpoint” dengan tidak hanya terfokus pada selembar poster yang bergantungan di atas pintu masuk toko retail modern tapi mereka harus masuk ke dalam toko dan cek harga dari semua produk yang mereka jual lalu bandingkan dengan harga dari supplier.

Melaui survey kecil saya mencoba membuktikannya. Retail modern cenderung menjual produk yang sudah menjadi komoditi di area tersebut dengan harga murah. Misalnya, retail modern menjadikan beras dan susu sebagai produk komoditi di area Belitang, maka harga beras dan susu di area tersebut seringkali lebih murah dibadingkan harga dari supplier. Toko retail modern melakukan subsidi silang antara produk komoditi dengan produk non komoditi. Hal ini dilakukan untuk membentuk persepsi konsumen. Padahal harga produk lain (non commodity product) mereka jual dengan harga yang relative lebih mahal (coba perhatikan harga kosmetik di toko retail modern).

Bagi pemilik toko yang tidak mau memperluas sudut pandang, maka kesimpulan terbaik adalah mengganti core bisnis dari retail ke bisnis lain. Hal ini terjadi di Muara Bungo, Jambi. Ketika saya masih bertugas disana, setidaknya ada 3 toko yang masuk dalam pareto 10 (toko dengan tingkat pengambilan teratas nomor 1 sd 10) tutup setelah Hypermart beroperasi. 1 menjadi tempat game online, dan 2 toko lainnya beralih ke bisnis fashion.

Tapi ada juga toko retail local yang bertahan dan tumbuh. Bahkan untuk produk yang kami jual, toko local ini bisa mengalahkan pembelian Hypermart (bagaimana approach yang dilakukan oleh toko local tersebut, insya Allah akan saya sharing di tulisan yang lain).

Dalam tulisan ini saya ingin menyimpulkan bahwa toko retail local tidak perlu takut dengan kehadiran toko retail modern. Kita tidak akan pernah bisa menghindar dari kompetisi tapi kita harus selalu one step ahead dibandingkan competitor. Semua itu bisa dilakukan dengan cara memperluas sudut pandang dan go detail. Insya Allah selalu ada peluang, tak terkecuali di bisnis retail yang semakin hari semakin tight persaingannya. Go local retail.

Pelajaran Ke-2: Risk, uncertainty and God’s hand. Pemancing dan penjala ikan di Bendungan

Dalam perjalanan menuju Belitang, kami melewati daerah Martapura. Di sana saya melihat ada beberapa orang sedang memancing dan menjala ikan di bendungan yang dibangun pada masa pemerintahan Pak Harto. Setelah menyelesaikan tugas utama kami di Belitang, pulangnya kami putuskan untuk turun dan melihat aktivitas disana. Saya berdiri di pinggir jalan selama hampir 15 menit untuk mengamati aktivitas di area tersebut. Saya terganggu oleh aksi Bapak-bapak yang ingin turun ke Bendungan. Mereka harus memanjat pagar pembatas agar bisa turun ke lokasi pemancingan. Bagi orang yang baru melihat aksi tersebut, apa yang dilakukan orang itu sangat berisiko. Memanjat bendungan dengan pusaran air di bawahnya. Tapi kenapa mereka mau melakukan itu. Padahal bisa turun, memancing atau menjala-pun belum tentu menggaransi mereka akan mendapat ikan. Tapi kenapa mereka mau mengambil risiko itu demi sesuatu yang belum pasti?

Pertanyaan itu mengganggu pikiran saya beberapa waktu. Sampai akhirnya saya melihat Ibu-Ibu yang tidak jauh dari lokasi Bendungan yang menjual ikan. Saya penasaran dan bertannya tentang darimana ibu mendapatkan ikan yang ibu jual. Beliau menjawab dengan simple “dari para pemancing dan penjala di Bendungan”. Saya masih penasaran dan melanjutkan pertanyaan. Sudah berapa lama ibu berjualan ikan di sini? Lebih dari 5 tahun. Wow..wow..amazing.

They touch me to dare to take a risk for uncertainty thing. They did it b'coz they believe God is gracious and merciful.

They touch me to dare to take a risk for uncertainty thing. They did it b’coz they believe God is gracious and merciful.

Sore itu saya diajari oleh para pemancing, penjala, dan penjual ikan bahwa jangan takut untuk mengambil keputusan yang berisiko, meskipun kita dihadapkan pada ketidakpastian, karena Tuhan tidak pernah tidur. Dia maha pengasih lagi maha penyayang. Engkau beri rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas), surat Ali-Imran ayat 27 :)

Baturaja: March 15, 2014.

Meeting dan Imajiner

Published 13 Maret 2014 by Budi Setiawan

Kemarin siang, sekitar pukul 14.10 saya terlibat dalam meeting yang relatif besar dan serius. Besar karena kita akan membahas business plan 2014 dengan proyeksi angka lebih dari IDR 8 Bio sampai dengan semester 1, 2014. Serius karena meeting ini dihadari oleh 5 orang yaitu area sales manager, region controller, dan dua orang pemilik perusahaan. Jadi secara struktur internal perusahaan saya berada di level paling bawah di ruangan itu, mungkin oleh karena itulah saya yang menjadi “tumbal” untuk membawakan presentasi. Bukan melakukan presentasi yang membuat saya gugup, tapi apakah saya bisa meyakinkan dua orang pemilik perusahaan agar mereka setuju dengan proyeksi bisnis yang sudah kami buat karena ini terkait dengan uang yang akan mereka investasikan. It was a challenge!

Dalam perasaan gugup itu, saya mencoba mengingat kembali saat menghadiri sebuah meeting, menjadi peserta yang duduk mendengar tapi juga tetap dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Bagaimana perasaan dan psikologi saya waktu itu?

Paul Arden dalam bukunya Whatever You Think, Think the Opposite menyebutkan bahwa dalam meeting, anda tidak perlu mencemaskan mengenai bagaimana penampilan anda dalam pandangan peserta rapat yang lain, karena mereka sendiri sibuk mencemaskan bagaimana penampilan mereka dalam pandangan anda. Intinya kita sering terjebak pada rasa takut yang kita ciptakan sendiri yang seringkali tidak pernah terjadi :)

Siang itu, meeting sepertinya tidak akan berjalan sesuai rencana, ketika pemilik perusahaan menolak angka yang sudah kami tawarkan. Angkanya memang cukup optimis yaitu IDR 8 bio atau tumbuh 60 persen dibandingkan penjualan semester 1 tahun lalu. Awalnya, pemilik perusahaan tidak hanya menolak proyeksi sales yang kami tawarkan tapi juga meminta kami (pihak principle) untuk melikuidasi stock produk slow moving yang tinggi agar cash flow distributor menjadi sehat dan bisa memenuhi kewajiban mereka yang sempat tersendat beberapa bulan terakhir.

Jarum jam sudah mengarah pukul 16.39 atau sudah lebih dari dua jam kami berada di ruangan itu. Tiba saatnya masing-masing dari kami harus mengambil keputusan tentang hasil meeting. Saya melihat peserta meeting lain sangat serius. Area sales manager serius diskusi dengan region controller tentang bagaimana melikuidasi produk slow moving dan juga menghapus denda keterlambatan tagihan distributor. Sementara dua orang pemilik perusahaan itu juga serius karena mereka harus memberi keputusan dari angka proyeksi bisnis yang sudah kami tawarkan yaitu IDR 8 Bio. Lalu bagaimana dengan saya?

Hhhaa kali ini biarlah mereka yang serius berpikir, menghitung, dan membuat proyeksi bisnis karena saya sendiri sudah melakukan proyeksi ini bersama manager operational di awal tahun lalu. Angka yang kami diskusikan di ruang meeting dan angka yang saya bersama manager operational sepakati tidak jauh berbeda, hanya selisih 3 persen. Angka proyeksi bisnis saat meeting lebih besar sedikit dibandingkan proyeksi saya dengan manager operational. Saya semakin yakin, karena secara year on year cut off February 2014 sales sudah di angka IDR 3,1 Bio atau kurang sekitar IDR 5 Bio sampai dengan akhir semester 1, 2014. Kami juga sudah berfikir bagaimana agar stock slow moving distributor bisa di transfer ke distributor lain yang lebih bisa menjual produk tersebut.

Alasan itulah yang membuat saya yakin meeting hari ini akan menemui kata sepakat. Alih-alih ikut serius berfikir sore itu, pikiran saya malah terbang. Berimajinasi tentang orang terkasih datang dan ikut berpartisipasi dalam rapat sembari tersenyum melihat para peserta lain menyetujui proyeksi bisnis yang kami tawarkan. Senyum saya kemarin bukanlah karena angka yang saya tawarkan bisa diterima oleh peserta rapat tapi lebih pada melihat orang terkasih hadir dalam rapat itu, meskipun hanya di dunia imajiner :)

What i was thinking at that time

What i was thinking at that time

Palembang: March 11, 2014

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.