Budirich’s Weblog

live for praying

Amerika yang krisis, kenapa kita yang merugi…?

Krisis yng terjadi di Amerika ini bukanlah krisis yang pertama, melainkan krisis yang sudah terjadi kesekian kali. Apakah kita masih ingat dengan suatu peristiwa yang dikenal dengan istilah ”black Thursday” terjadi pada tanggal 24 oktober 1929. hanya dalam hitungan jam pasar modal amerika terempas, yang karena kerasnya hempasan tersebut lebih dari 40 miliar dolas aset AS tergerus, banyak orang kaya yang menjadi gelandangan, keluarga-keluarga kehilangan tabungan, rumah bahkan hidup mereka.

Efek domino dari black Thursday itu terus menjalar hampir ke semua penopang segi ekonomi amerika, resesi yang berawal dari wall street menuju perbankan, industri dan sektor pertanian. Tak heran akibat krisis ini, pada tahun 1930-1935 banyak petani Amerika yang kehilangan ladang mereka, dan bank sebagai lembaga yang banyak memberian bantuan kepada petani ikut terkena imbasnya dan puncaknya bank harus tutup karena takut terjadi kredit macet dan tidak menutup kemungkinan Rush bisa terjadi. Terpaksa Franklin Roosevelt, presiden Amerika pada saat itu mengumumkan ”bank holiday”.

Kita berharap jangan sampai black holiday yang terjadi di amerika terulang di indonesia,

Tetapi semua itu tidak menutup kemungkinan. Karena bursa efek indonesia merupakan satu-satunya bursa di asia yang terperosok, sementara bursa asia lainnya sudah menunjukakan rebound yang positiv. Hal ini dikarenakan para investor domistik yang cenderung mengikuti langkah investor asing. Menurut direktur utama PT Financorpindo Nusa, Edwin Sinaga, ada tiga hal yang menyebabkan IHSG tetap anjlok pada saat bursa regional asia berpesta pora.

Pertama, masih cukup banyak saham yang dijual paksa oleh perusahaan sekuritas, sekalipun harga saham sedang anjlok.kedua, menguatnya mata uang dolar AS terhadap rupiah yang sempat menembus Rp. 11.700 per dolar AS membuat investor lokal panik. Dalam keadaan seperti ini investor menjual saham-sahamnya untuk kemudian membeli dolar. Ketiga, kepercayaan investor lokal terhadap pasar modal indonesia cukup lemah, cenderung mengikuti investor asing. Tidak hanya itu, mengamat pasar modal, Robert JS Nayoan, menambahkan, sentimen negatif yang berkembang akibat krisis di AS dinilai sudah berlebihan dan tidak sebanding dengan dampak yang mungkin terjadi terhadap Indonesia ditinjau dari hitung-hitungan ekonomi.

29 Oktober 2008 - Ditulis oleh budirich | ekonomic view | | Belum Ada Tanggapan

Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar