Optimalisasi pemberdayaan sumber daya yang terdapat di Indonesia untuk membangun peradaban bangsa Indonesia

laut

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Deklarasi Djoeanda (1957) yang berisikan konsepsi Negara Nusantara (Archipelagic State) yang diterima masyarakat dunia dan ditetapkan dalam Konvensi Hukum Laut PBB, United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982, maka wilayah laut Indonesia menjadi sangat luas, termasuk Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI), sekitar 5,8 juta kilometer persegi atau 75% dari total wilayah Indonesia. Sedangkan, luas wilayah daratan hanya 1,9 juta kilometer persegi. Wilayah laut tersebut diikuti lebih dari 17.500 pulau dan dikelilingi garis pantai sepanjang 81.000 kilometer yang merupakan terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Kondisi laut Indonesia yang luas itu banyak menyimpan potensi sumber daya alam yang memiliki nilai jual cukup tinggi.
Berdasarkan data Ditjen Perikanan Tangkap DKP RI 2005 nilai ekspor komoditas laut  Indonesia sekitar $1.976.999.000. Nilai ekspor ini meningkat seiring meningkatnya komoditas – komoditas hasil laut Indonesia, hal ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1.1
NILAI EKSPOR HASIL PERIKANAN UTAMA INDONESIA (USD 1000) TAHUN 2001 – 2005

Komoditas                                             2001          2002         2003           2004          2005
Udang                                                    934.986    836.563    850.22        887.127    955.960
Tuna/Cakalang                                      218.991    212.426    213.179       243.937   316.500
Rumput Laut                                          17.230      15.785      20.511        25.296      39.970
Mutiara                                                  25.257      11.471      17.128         5.866      19.980
Ikan Hias                                               14.603      15.054     15.809        15.809      20.440
Lainnya                                                 420.832    479.054    526.693      602.798   624.149
Jumlah                                               1.631.899    1.570.353    1.643.542    1.780.833    1.976.999

Sumber : Ditjen Perikanan Tangkap DKP RI
*) Angka Perkiraan

Data diatas menggambarkan bahwa peningkatan nilai ekspor komoditi laut Indonesia mengalami kenaikan sebesar $196.166.000 dari tahun 2004 sampai tahun 2005. Peningkatan nilai ekspor ini merupakan salah satu alat ukur untuk mengetahui perkembangan dalam memanfaatkan komoditi laut di suatu wilayah, artinya dengan pertumbuhan nilai komoditi laut maka kegiatan ekspor komoditi laut di wilayah tersebut juga meningkat. Terjadinya peningkatan kegiatan ekspor ini memberikan kesempatan lapangan pekerjaan sehingga menyebabkan pengangguran berkurang, meningkatkan pendapatan dan akhirnya dapat membangun peradaban suatu wilayah.
Meskipun nilai komoditi laut Indonesia mengalami peningkatan, yakni mencapai $1.976.999.000 pada tahun 2005 dampaknya masih tidak dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat, hal ini dikarenakan masih banyaknya potensi sumber daya laut yang belum termanfaatkan secara optimal. (Dahuri, 2005) Laut Indonesia memiliki potensi lestari sumber daya ikan sebesar 6,4 juta ton per tahun dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (total allowable catch) menurut Code of Conduct for Resposible Fisheries (FAO, 1995) adalah 80% dari potensi lestari atau sekitar 5,12 juta ton per tahun. Tapi, sampai saat ini, tingkat pemanfaatannya baru mencapai 4,4 juta ton. Karena itu, masih terdapat surplus stok sumber daya ikan laut Indonesia sebesar 720.000 ton per tahun.
Dengan adanya surplus potensi penangkapan, peluang menambah armada penangkapan (kapal ikan) dan peralatan penangkapan adalah besar, yaitu 6.169 kapal ikan berbagai ukuran dengan berbagai alat tangkap (fishing gears). Hal ini merupakan sebuah peluang investasi dan bisnis yang sangat menarik karena memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Potensi produksi sumber daya perikanan yang dapat dihasilkan dari usaha perikanan budidaya jauh lebih besar dari sektor perikanan tangkap, yaitu sekitar 57,7 juta ton per tahun, dan baru diproduksi 1,6 juta ton (0,3%). Saat ini, Indonesia merupakan produsen ikan terbesar keenam di dunia dengan volume produksi enam juta ton (FAO, 2003). Bila Indonesia mampu meningkatkan produksi perikanannya, terutama yang berasal dari usaha perikanan budidaya, menjadi 50 juta ton per tahun (77% dari total potensi), Indonesia akan menjadi produsen komoditas perikanan terbesar di dunia. Sebab, negara produsen ikan nomor satu saat ini adalah Republik Rakyat Cina (RRC) dengan total produksi 41 juta ton yang merupakan produksi puncak, tidak dapat ditingkatkan lagi.
Berdasarkan latar belakang diatas maka adapun judul yang ingin di bahas dalam makalah ini adalah ” Pemberdayaan Potensi Kebaharian Sebagai Landasan Masa Depan Pembangunan Peradaban Bangsa Indonesia”

Perumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah  bagaimanakah optimalisasi pemberdayaan sumber daya yang terdapat di Indonesia untuk membangun peradaban bangsa Indonesia?

III.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimanakah rencana strategis pengelolaan sumber daya bahari untuk membangun peradaban bangsa Indonesia.

IV.     Manfaat Penelitian
1.    Secara Umum
Makalah ini dapat dijadikan sebagai sumber bacaan dalam menambah literatur khazanah keilmuan bagi para mahasiswa, dosen dan masyarakat pada umumnya.

2.    Secara Khusus
Makalah ini dapat dijadikan saran kepada pemerintah ataupun semua pihak yang peduli terhadap pemberdayaan bahari Indonesia untuk lebih melihat potensi bahari Indonesia yang masih belum termanfaatkan secara optimal guna membantu pembangunan peradaban bangsa Indonesia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Sejak berdirinya Dewan Maritim Indonesia Departemen Kelautan dan Perikanan tahun 1999, geliat pembangunan kelautan mulai menunjukkan hasilnya. Dari perspektif geopolitik, hukum, dan perundangan di bidang kelautan telah disusun dan disempurnakan, seperti penyempurnaan UU No. 9/1985 tentang Perikanan yang telah diundangkan sejak 6 Oktober 2004 menjadi UU No. 31/2004 tentang perikanan, RUU Perhubungan Laut, RUU Pengelolaan Wilayah Pesisir, RUU Kelautan, PP No. 38/2002 tentang Pengelolaan Pulau-pulau Terluar dan Wilayah Perbatasan.
Inventarisasi jumlah, penamaan, penyusunan basis data, dan pembangunan pulau-pulau kecil pun mulai digiatkan sejak awal tahun 2000. Berkat kerja sama sinergis antar intansi terkait, antara lain Departemen Kelautan dan Perikanan, Bakosurtanal, Dishidros TNI AL, Departemen Dalam Negeri, dan Departemen Luar Negeri, kita pun telah berhasil mempublikasikan peta NKRI sejak 2 Mei 2003.
Dari perspektif geoekonomi, pembangunan ekonomi kelautan di sektor perikanan, perhubungan laut, pariwisata bahari, pertambangan, dan industri maritim pun terus mengalami perbaikan. Namun, perbaikan pembangunan ekonomi di berbagai sektor kelautan tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan potensinya. Oleh sebab itu, perlu di cari berbagai terobosan untuk mendayagunakan sumber daya kelautan secara optimal dan lestari sebagai keunggulan kompetitif bangsa. Keunggulan kompetitif suatu bangsa yang sejati adalah keunggulan kompetitif yang dibangun atas dasar keunggulan komparatif yang dimiliki bangsa tersebut melalui penerapan iptek dan manajemen propesional (Porter, 1998) serta aklak mulia.
Mengingat potensi pengadaan Indonesia dalam hal sumber daya dan jasa–jasa kelautan sangat besar serta permintaan terhadap sumber daya kelautan tersebut terus meningkat, maka kekayaan laut seharusnya dapat menjadi keunggulan kompetitif Indonesia, yang dapat mengantar menjadi bangsa yang maju, makmur, dan mandiri.
Potensi pembangunan yang terdapat di laut dapat dibagi dalam tiga kelompok (Mulyadi, 2005), yaitu:
Sumber daya dapat pulih ( renewable resources), terdiri atas hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun dan rumput laut, serta sumber daya perikanan laut. Hutan mangrove mempunyai fungsi ekologis dan fungsi ekonomis. Fungsi ekologis meliputi panahan abrasi, amukan angin topan dan tsunami, penyerap limbah, pencegah intrusi air laut, dan sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan. Sementara itu, fungsi ekonomis, antara lain penyedia kayu, daun-daunan sebagai bahan baku obat-obatan, bahan bangunan, alat penangkap ikan, dan pupuk pertanian. Seperti halnya hutan mangrove, terumbu karang juga mempunyai nilai ekologis dan nilai ekonomi. Fungsi ekologis terumbu karang yaitu sebagai penyedia nutrisi bagi biotik perairan, pelindung fisik bagi berbagai biota laut, sedangkan nilai ekonomi terumbu karang terdapat pada berbagai jenis ikan barang, alat penangkap ikan, dan kerang mutiara. Sedangkan padang lamun segar merupakan makanan bagi ikan duyung, penyu laut, bulu babi, dan beberapa jenis ikan.
Sumber daya tak dapat pulih (non-renewable resources), meliputi seluruh mineral dan geologi, misalnya mineral terdiri dari tiga kelas, yaitu kelas A (mineral strategis, misalnya minyak, gas, dan batu bara); kelas B (mineral vital meliputi emas, timah, nikel, bauksit, biji besi, dan kromit), dan kelas C (mineral industri termasuk bahan liat, dan pasir). Berbagai potensi sumber daya mineral wilayah laut di Indonesia merupakan penghasil devisa utama dalam beberapa dasawarsa terakhir.
Jasa-jasa lingkungan (environmental services), meliputi fungsi kawasan pesisir dan lautan sebagai tempat rekreasi dan pariwisata, media transportasi dan komunikasi, sumber energi, sarana pendidikan dan penelitian, pertahanan keamanan, penampungan limbah, pengatur iklim, kawasan perlindungan (konservasi dan preservasi), dan sistem penunjang kehidupan serta fungsi ekologis lainnya.
Secara keseluruhan nilai ekonomi dari produk bioteknologi perairan Indonesia diperkirakan mencapai 82 miliar dolar AS per tahun. Potensi ekonomi jasa perhubungan laut diperkirakan 11 miliar dolar AS per tahun. Ini berdasarkan pada perhitungan bahwa sejak 15 tahun terakhir Indonesia mengeluarkan devisa lebih dari 10 miliar dolar AS per tahun untuk membayar armada pelayaran asing yang selama ini mengangkut 95 persen dari total barang yang diekspor dan diimpor ke Indonesia, dan yang mengangkut 45 persen dari total barang yang dikapalkan antar pulau di wilayah Indonesia (Rohimin Dahuri, 2005).

BAB IV
PEMBAHASAN

Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (PPEM) Sebagai Sarana Pemberdayaan Sember Daya Laut
Program pemberdayaan ekonomi masyarakat merupakan program pemerintah yang melibatkan masyarakat pada setiap tahapan kegiatan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai pengawasan. Usaha yang didanai dan dikembangkan dalam program PPEM diprioritaskan pada jenis usaha yang dapat memanfaatkan sember daya pesisir dan laut serta usaha lainnya yang terkait. Jenis usaha tersebut antara lain adalah usaha penangkapan, budi daya, pengolahan hasil perikanan, pengadaan bahan dan alat perikanan, BBM, es, serta puput dan obat-obatan.
Model pengembangan usaha dan permodalan yang didasarkan untuk diaplikasikan pada program PPEM adalah model bagi hasil yang digabung dengan perguliran. Perguliran dilakukan setelah ada keuntungan dan usaha kelompok telah kuat dimana dana yang digulirkan bukan berasal dari modal pokok melainkan dari keuntungan yang telah diperoleh kelompok.
Dasar pemikiran model program pemberdayaan ekonomi masyarakat (Mulyadi, 2005) adalah sebagai berikut,
Sasaran yang dibangun adalah masyarakat pesisir dan wilayahnya (desanya)
Tidak semua orang miskin dapat dibantu melalui kegiatan ekonomi, seperti anak yatim dan orang jompo
Tidak semua masyarakat pesisir mempunyai minat untuk berusaha di bidang perikanan dan laut
Sember daya laut dan pesisir tidak akan mampu menampung seluruh masyarakat pesisir untuk melakukan aktivitas ekonomi laut
Orang atau kelompok yang sudah mendapatkan pinjaman program diharapkan tidak melepaskan diri setelah berhasil karena partisipasinya tetap diharapkan dalam membangun masyarakat dan wilayahnya melalui dana sosial dan dana pengembangan yang dihasilkan
Keberadaan kelompok atau anggota yang sedang menjalankan kegiatan PPEM diharapkan dapat memberikan manfaat kepada anggota atau kelompok masyarakat yang tidak atau belum memperoleh kesempatan mengikuti program PPEM
Modal selalu menjadi masalah pada pengembangan usaha masyarakat pesisir dan pembangunan infrastruktur di wilayahnya. Sementara itu keuangan pemerintah pusat terbatas maka model ekonomi yang dikembangkan harus dilakukan kegiatan pemupukan modal.
Dampak yang bersifat kualitatif dari program PPEM disamping meningkatkan budaya menabung adalah peningkatan budaya kelompok, kesadaran menjaga kualitas lingkungan dan sumber daya ikan berupa adanya kesepakatan untuk melarang kegiatan penangkapan yang merusak seperti penggunaan potassium dan bom.
Sebagai contoh adalah telah dilaksanakannya program PPEM yang menyebar pada 193 kabupaten/kota di tiga puluh provinsi sejak tahun 2000-2004. dalam kurun waktu tersebut dikucurkan dana PKPS-BBM pada tahun 2004 sebesar 133 miliar rupiah untuk 160 kabupaten/kota, tahun 2003 sebesar 116,4 miliar rupiah untuk 126 kabupaten/kota. Dana disalurkan ke daerah penerima program PPEM dengan system block grant (Dahuri, 2004). Dana ini dimanfaatkan sebagai Dana Ekonomi Produktif (DEP) yang disalurkan kepada Kelompok Masyarakat Pemanfaat (KMP) dengan system bergulir.

Co-Management dan CBCRM Sebagai Sarana Pemberdayaan Sumber Daya Laut.
Co-Management dapat dirumuskan sebagai pengaturan kemitraan kedinasan pemerintah, LSM, dan stakeholder lainnya (pedagang ikan, pemilik boat, para pengusaha dan lain sebagainya) berbagi tanggung jawab dan otoritas untuk melakukan manajemen dalam hal memanfaatkan potensi laut secara maksimal.
Co-management meliputi berbagai bentuk kemitraan dan tingkat pembagian kekuasaan dan keterpaduan lokal (informal, tradisional, adat istiadat) dengan sistem manajemen pemerintah terpusat ataupun otonomi daerah sebagai Community Based Coastral Resource Management (CBCRM) ialah sentral co-management sebagai proses dimana masyarakat disekitar laut diberikan peluang dan tanggung jawab mengatur sumber daya alam laut yang mendaftarkan sendiri kebutuhannya serta menentuan arah dan tujuan aspirasinya (Sajise 1995 dalam Darus, 2001).
CBCRM sebagai pendekatan yang menitikberatkan kemampuan masyarakat serta tanggung jawab mereka dalam mengelola sumber daya alam pantai. Pada dasarnya pendekatan tersebut ialah memberdayakan masyarakat, meningkatkan produktivitas sumber daya alam agar proses pembangunan dapat diwujudkan (Sajise, 1995).
Ferrel dan Nozawa, 1997 (dalam Darus, 2001) menyatakan bahwa CBCRM ialah berintikan insani, berorientasi kerakyatan, beralaskan sumber daya alam. Ia diawali dengan keyakinan bahwa mereka menghayati masalahnya sendiri dan mengembangkannya. Ia merangsang prakarsa masyarakat berbuat sejak perencanaan, implementasi dan evalusasi program manajemen sumber daya alam. CBCRM memberi peluang kepada setiap kelompok masyarakat untuk mengembangkan strategi manajemen yang memenuhi harapan mereka masing-masing sesuai dengan kondisi tertentu yang memungkinkan derajat kelenturan yang tinggi untuk memberikan ruangan modifikasi.
Tema sentral CBCRM adalah pemberdayaan masyarakat, khususnya pengawasan dan kemampuan mengelola sumber daya alam produktif untuk kepentingan keluarga masing-masing dan masyarakatnya. Ia menyentuh perinsip dasar pengawasan atas setiap perbuatan apa pun harus bersandar kepada masyarakat yang akan memikul akibatnya.
CBCRM dapat disorot dari berbagai sudut pandang. Ia dapat dianggap sebagai proses, strategi, pendekatan, sasaran ataupun alat. Sebagai proses, rakyat diberikan peluang bertanggung jawab mengurus sumber daya alamnya sendiri, mendaftarkan kebutuhannya, sasaran aspirasinya, dan mengambil keputusan untuk menentukan masa depannya sendiri baik sosiokultural, ekonomi, politik dan lingkungan. Sebagai strategi untuk menggagas pembangunan berintikan insani. CBCRM memiliki fokus agar pengambilan keputusan pemanfaatan sumber daya alam berkelanjutan di kawasan tertentu harus tergantung atas sikap rakyat di wilayah itu sendiri. CBCRM sebagai alat karena memudahkan pembangunan Multivel Skill Management sumber daya alam. CBCRM juga menolong memberdayakan rakyat meraih pemerataan dan manajemen sumber daya alam berkelanjutan. Kuncinya ialah masyarakat, sumber daya alam, akses dan pengawasannya serta ketangguhan teknologi tepat guna.
Ada sedikit perbedaan antara CBCRM dan co-management. Pertama, perbedaan dalam fokus setiap strategi. CBCRM berfokus kepada manusia (community based) sedangkan co-management tidak hanya terpusat pada manusia tetapi juga terhadap kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat setempat dan para pengguna sumber daya alam itu pada umumnya.
Terdapat juga perbedaan dalam cara proses manajemen sumber daya alam, dimana co-management memilki lingkungan yang lebih luas dibandingkan CBCRM. Co-management sebaliknya, menampilkan peranan aktif pemerintah. Pemerintah melakukan serangkaian fungsi dalam membuat kebijaksanaan yang mendukung seperti desentralisasi kekuasaan dan otoritas serta memelihara partisipasi rakyat dan dialok bahwa pemerintah mengakui hak masyarakat pantai dan menyelesaikan segala urusan yang berbeda di luar kemampuan masyarakat itu sendiri.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Masing-masing strategi pengembangan sumber daya alam laut baik Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (PPEM) maupun co-management dan CBCRM mempunyai keunggulan tersendiri apabila diterapkan. PPEM misalnya, masyarakat dapat mengembangkan budaya pemupukan modal agar masyarakat pesisir mampu menyisihkan sebagian hasil usahanya untuk pengembangan usaha sehingga dapat meningkatkan pendapatan mereka. Selain itu dampak yang bersifat kualitatif dari program ini adalah peningkatan budaya kelompok, kesadaran menjaga kualitas lingkungan dan sumber daya alam laut berupa adanya kesepakan untuk melarang penangkapan yang merusak seperti penggunaan potassium dan bom.
Kedua, yaitu pemberdayaan sumber daya laut melalui strategi co-management dan community based coastral resourse management (CBCRM) mampu memberdayakan masyarakat karena berintikan insani, berorientasi kerakyatan dan beralaskan sumber daya alam serta dapat meningkatkan produktivitas sumber daya alam agar proses pembangunan peradaban masyarakat dapat diwujudkan.
Namun, dibalik kelebihan kedua strategi tersebut masih mempunyai kelemahan-kelemahan dalam pelaksanaanya. PPEM misalnya, masyarakat yang sudah pernah mendapatkan pinjaman terkadang melepaskan diri setelah berhasil dan kurangnya infrastruktur penunjang kegiatan serta terbatasnya modal pemerintah pusat. Sedangkan co-management dan CBCRM sendiri sangat rentan terhadap monopoli individu atau kelompok masyarakat karena dalam hal ini masyarakat diberikan hak dan tanggung jawab yang seluas-luasnya untuk merencanakan, mengimplementasikan dan mengevaluasi kegiataan dalam mengelola sumber daya laut yang ada.
Pengoptimalan pengembangan program PPEM dapat dilakukan dengan cara bagi hasil yang digabung dengan perguliran. Perguliran dilakukan setelah ada keuntungan dan usaha kelompok yang telah kuat. Dana yang digulirkan bukan berasal dari modal pokok melainkan dari keuntungan yang telah diperoleh kelompok serta partisipasi dari kelompok yang sudah mendapatkan pinjaman dan berhasil dalam menerapkan program PPEM untuk membantu masyarakat yang belum memperoleh kesempatan mengikuti program PPEM. Tetapi yang paling penting adalah kesadaran masyarakat untuk mengoptimalkan potensi laut karena pemanfaatannya dapat dirasakan secara langsung agar dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan menyerap pengangguran, masyarakat pada akhirnya mempunyai pendapatan dan dapat membantu kegiatan perekonomian pemerintah. Sama halnya dengan
Program PPEM, co-management dan CBCRM ini mengharapkan kesadaran dan bukti komitmen masyarakat untuk mengoptimalkan potensi laut yang ada di Indonesia.
Jadi, baik program PPEM maupun co-management dan CBCRM dapat digunakan dalam mambangun peradaban bangsa apabila sumber daya laut dikelola secara optimal dan semuanya bermuara pada satu titik yaitu kesadaran dan komitmen masyarakat serta peran pemerintah untuk memanfaatkan sumber daya laut sebagai alternatif untuk membangun peradaban bangsa Indonesia.

5.2 Saran
Melihat beberapa hambatan yang ada pada kedua strategi pengembangan potensi laut diatas maka adapun saran yang dapat kami sampaikan, yaitu :
Pengembangan program dan kegiatan yang mengarah kepada peningkatan dan pemanfaatan secara optimal dan lestari sumber daya di wilayah laut untuk menciptakan sumber pendapatan masyarakat.
Peningkatan kemampuan peran serta masyarakat pesisir dan pemerintah dalam melestarikan lingkungan kelautan, sehingga tercipta kesinergisan dalam membangun peradaban bahari.
Meningkatkan pendidikan, latihan, riset dan pengembangan wilayah laut, sehingga masyarakat merasa perlu untuk menjaga dan dapat memanfaatkan potensi laut secara optimal.
Demikianlah saran-saran yang dapat kami ajukan, semoga dapat bermanfaat dalam penambahan khazanah keilmuan bagi semuanya. Wallahu’alam bishawab.

Daftar Pustaka

Dahuri, Rokhimin. 2004. ”Prospek Investaasi dan Bisnis di Sektor Kelautan”. Paper. BEI NEWS Edisi 25 tahun V, Maret-April 2005.

Direktorat Jendral Perikanan.

Mulyadi. 2005. Ekonomi Kelautan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada

Budi Wijaya Final Paper

uhhh, setelah kursus kurang lebih 4,5 tahun, akhirnya selesai juga..kira-kira paper inilah yang menjadi jalan gue untuk berpisah dengan BW. tapi bukan berarti gue stop untuk belajar Bahasa Ingris karena bagi gue ” mau tidak mau gue harus bisa chat dengan orang asing at least gunain bahasa ingris..

budi-juara

INTRODUCTION

Teacher plays a vital role in the classroom environment. Interaction between teacher and students is an essential part of teaching learning process. An educationist, learning system was designed to categorize the types , quantity of verbal interaction and direct and indirect influence of the teachers in the classroom and to plot the information on a matrix so that it could be analyzed and interpreted. The process consists of ten categories, namely, accepting feelings, praising or encouraging, using ideas of students, asking questions, lecturing, giving directions, criticizing or justifying student talk-response, student talk-initiation and silence or confusion.
Teaching elements can also be grouped into three general models of teaching. In the first model, the emphasis is on the transmission of knowledge. Use of advance organizers and direct teaching methods are its main features. The second model involves inquiry or discovery based teaching. It emphasizes the indirect method of open-ended questioning and building on student ideas. The focus of the third model is the quality of interpersonal relations. A positive classroom atmosphere is a central component of this model. Joyce emphasizes the need for a variety of teaching models. Instead of relying exclusively on any single model, he suggests synthesizing these models. Teachers thus need to practice the different skills involved (Norman and Richard, 1994). In this term Writer focus on term of learning process in teaching English.
As we know, the growth of  the use of English as the world’s primary language for international communication has obviously been continuing for several decades. Those realistic possibilities are highlighted in the study presented by David Graddol. His analysis should therefore end any complacency among those who may believe that the global position of English is so unassailable that the young generations of the world do not need additional language capabilities.
David Graddol concludes that many countries are introducing English into the primary curriculum. There is an extraordinary diversity in the ways in which English is taught and learned around the world, but some clear orthodoxies have arisen. ‘English as a Foreign Language’ has been a dominant one in the second half of the 20th century, but it seems to be giving way to a new orthodoxy, more suited to the realities of global English.
There is no single way of teaching English, no single way of learning it, no single motive for doing so, no single syllabus or textbook, no single way of assessing proficiency and, indeed, no single variety of English which provides the target of learning. It is tempting, but unhelpful, to say there are as many combinations of these as there are learners and teachers. The appropriateness of content clearly depends on such things as the age of the learner and whether English is to be used primarily as a language of international communication or for survival communication with native speakers, perhaps whilst on holiday in the UK or some other English-speaking country. Base on the information above, Writer study about learning process in teaching English.

OBJECTIVES
The objectives of the study are to explore models of the teachers in teaching learning process at any level in the subject of English, to know about positive and negative reinforcement in the class and analyze student participation level in the classes at any level using any learning process system. This study was significant because its findings and conclusions may stimulate English teachers to improve their teaching behaviour in order to maximize students learning process.

CONTENT
There are some ways, must be concerned by teacher and student to stress in English learning process. The way consists of reading, listening, speaking and assignments.
Readings.
The students generally found the required textbooks and supplementary readings very helpful; more specifically, they found the required textbooks representative of the course content, comprehensive, and reader-friendly, and students emphasized that one of the required textbooks, Doing Second Language Research (Brown and Rodgers), was especially useful, as shown in the following excerpt. Finally, it is mentioned that perhaps “there was too much” reading, but added “I understand why you included all of them, each would have something different and we are graduate students so it’s important to have different sources.
Listening
Listening is an active not a passive operation (Garvie). With this in mind Writer would like to emphasise two things:
The importance of understanding this concept of listening being an active engagement. That is, as a listener, the mind is actively searching for meaning.
The importance of what Krashen calls ‘comprehensible input’ (CI) or that ‘we acquire when we understand what people tell us or what we read, when we are absorbed in the message.’ Individual progress is dependent on the input containing aspects of the target language that ‘the acquirer has not yet acquired, but is developmentally ready to acquire.
It is important because if someone is giving you a message or opinion, then of course you have to be able to understand it in order to respond.’ (Brewster, Ellis, Girard). Finally, listening is an active process, as the mind actively engages in making meaning. It is therefore our duty as teachers to ensure that the materials we use are comprehensible to our young learners, as well as within the range of what they are developmentally ready for. Listening is also hard work! And can be stressful! So in order to maximize the potential for acquisition of language, we need to ensure that our young learners are not stressed about this process.
Speaking or Conversation
Chandra (1997) states that “a conversation is the informal exchange of ideas by spoken words. When we converse we engage ourselves in conversation about various subjects”(p.vii). This present writer would add to the basic definition of conversation by saying, a conversation is talking which takes place between two people.
From what has been discussed in this paper it may be suggested that teachers need to take into consideration many elements when designing a conversation English course, which would be in addition to the listening and speaking courses. Conversations are based on requests, which require very specific responses in English language. When you look at the topics selected by the Chinat students, itÕs clear what was important for them to learn.
There are many textbooks, which can be used in teaching conversational English. However, what I have discovered in teaching a basic approach to conversational English, is based more on encouraging the students to participate physically in the conversation with a dramatization of a specific situation where English is going to be used. A student can learn textbook lessons, but acting out the lesson in a mock situation using role-play, gives the student a better experience of speaking English in a specific situation. Acting out a specific situation with role-play is closer to the real world of conversational English, than just repeating phrases from a textbook or out of context where the actual English is going to be used.
How to get the students to remember their own specific conversation and feel confident when they are asking questions and offering their responses can be aided if the students have their own conversation cards. It’s a step by step process to achieve a conversation much unlike grammar, which requires a list of rules when using verbs, nouns, adjectives and a great deal more of unique parts of speech.
Grammar is implicit in the conversation. Grammar can be taught independently from conversational usage or partially emphasized when learning a specific conversation. The two facets of a conversation are being grammatically correct, and at the same time conveying the proper meaning. In a conversation the students want to be confident they are speaking English that’s appropriate for a specific situation. Once the student can produce specific conversational phrases proficiently then the grammar can be taught with the conversation. The goal of all basic English conversation courses is to provide the student with the skills to speak in a real life situation, using the appropriate words to convey a request, and understand the response. I have found that using “situation specific role-play cards” enables the students to learn conversational English more rapidly than conventional approaches, and develops the students self confidence when using spoken English. This technique is simple, effective, and learner friendly, and above all be fun.
Assignments
The students typically found all five assignments beneficial, but in varying degrees and for different reasons. According to Sanders (2001), small and frequent class assignments that are linked to a final project may reduce student anxiety in the research methods course, so it is not surprising that students generally found the assignments helpful. The few suggestions the students made for changes regarding the assignments are discussed under “Aspects of the course students would like to change” below.
Regarding the oral presentation assignment, students were unanimous in agreeing that preparing for the presentations and participating in the discussions kept the class sessions interesting and helped them to understand the concepts well. Thus, the oral presentation assignment also helped students achieve the learning outcome stating that students will be able to distinguish between different types of research typically used in linguistic study and explain the advantages and limitations of each. The students also pointed out that the presentations were beneficial because they themselves were motivated and worked hard in preparing them.
Learning English Model
There is an extraordinary diversity in he ways in which English is taught and earned around the world, but some clear orthodoxies have arisen. ‘English as a Foreign Language’ has been a dominant one in the second half of the 20th century, but it seems to be giving way to a new orthodoxy, more suited to the realities of global English.
There is no single way of teaching English, no single way of learning it, no single motive for doing so, no single syllabus or textbook, no single way of assessing proficiency and, indeed, no single variety of English which provides the target of learning. It is tempting, but unhelpful, to say there are as many combinations of these as there are learners and teachers.
This is why I have identified broad models which can be thought of as configurations of the factors listed in the box. There are many stakeholders involved in the teaching and learning process, each of whom may have a different view. Learners, their families, teachers, governments, employers, textbook publishers, examination providers – all now possess an interest in the English language business. There is, of course, a great deal of debate, often lively, about the best methods and approaches for teaching English. But much of this debate is cast within only two models: the teaching of English as a foreign language (EFL) and the teaching of English as a second language (ESL).

English as foreign language (EFL) tradition
EFL, as we know it today, is a largely 19thcentury creation, though drawing on centuries of experience in teaching the classical languages. EFL tends to highlight the importance of learning about the culture and society of native speakers; it stresses the centrality of methodology in discussions of effective learning; and emphasizes the importance of emulating native speaker language behaviour. EFL approaches, like all foreign languages teaching, positions the learner as an outsider, as a foreigner; one who struggles to attain acceptance by the target community.
English as a second language (ESL)
In contrast to EFL, one of the defining features of teaching English as a second language is that it recognizes the role of English in the society in which it is taught. Historically, there have been two major strands of development in ESL, both dating from the 19th century. The first kind of ESL arose from the needs of the British Empire to teach local people sufficient English to allow the administration of large areas of the world with a relatively small number of British civil servants and troops.
The imperial strategy typically involved the identification of an existing social elite who would be offered a curriculum designed to cultivate not just language skills but also a taste for British – and more generally western – culture and values. Literature became an important strand in such a curriculum and a literary canon was created which taught Christian values through English poetry and prose. Such an approach to ESL helped widen existing divisions within colonial society through the means of English. In postcolonial contexts today, the use of English is still often surrounded by complex cultural politics and it is proving surprisingly difficult to broaden the social base of English speaking even where English is used as the language of the educated middle classes. For many decades, no more than 5% of Indonesians, for example, were estimated to speak English, even though it plays an important role in Indonesian society.
In colonial times there was no strong need to impose a metropolitan spoken standard and many local varieties of English emerged – the so-called ‘New Englishes’ – from contact with local languages. Many new Englishes have since flourished, and have eveloped literatures and even grammar books and dictionaries. In ESL countries, children usually learn some English informally before they enter school, so that the role of the classroom is often to extend their knowledge of the language. Where there exists a local, vernacular variety of English, a major role of the classroom is teaching learners a more formal and standard variety.
The ecology of English in such countries is a multilingual one where English is associated with particular domains, functions and social elites. A related characteristic of
ESL societies is code-switching: speakers will often switch between English and other languages, even within a single sentence. Knowledge of code-switching norms is an essential part of communicative competence in such societies.
ESL in such contexts must also address issues of identity and bilingualism. Some learners – even in the USA and the UK – will not be quite as immersed in an English speaking world as might be imagined. Many live in ethnic communities in which many of the necessities of daily life can be conducted within the community language. Furthermore, in most such communities standard English is only one of the varieties of English which learners need to command. Often, there exist local as well as ethnic varieties of English – such as Indonesian English in London. In such communities, the communicative competence required by an ESL learner includes a knowledge of the community norms of code-switching. The learning of English for ESL students is often a family matter, with different generations speaking with different levels of competence – even different varieties of English – and acting as interpreters as necessary for less-skilled family and community members.
Translation and interpreting are important skills for ESL users, though not always well recognized by education providers. Where ESL is taught to immigrants entering English-speaking countries it is not surprising that a key component in the curriculum is often ‘citizenship’: ensuring that learners are aware of the rights and obligations as permanent residents in English speaking countries. Citizenship rarely figured in the traditional EFL curriculum.
Global English Brings New Approaches
EFL and ESL represent the twin traditions in ELT, both with roots in the 19th  century. It seems to me that in the last few years pedagogic practices have rapidly evolved to meet the needs of the rather different world in which global English is learned
and used.
English as a lingua franca (ELF)
Teaching and learning English as a lingua franca (ELF) is probably the most radical and controversial approach to emerge in recent years. It squarely addresses some of the issues which global English raises. An inexorable trend in the use of global English is that fewer interactions now involve a native-speaker. Proponents of teaching English as a lingua franca (ELF) suggest that the way English is taught and assessed should reflect the needs and aspirations of the ever-growing number of non-native speakers who use English to communicate with other non-natives. Understanding how non-native speakers
use English among themselves has now become a serious research area. The Vienna- oxford International Corpus of English (VOICE) project, led by Barbara Seidlhofer, is creating a computer corpus of lingua franca interactions, which is intended to help linguists understand ELF better, and also provide support for the recognition of ELF users in the way English is taught. Proponents of ELF have already given some indications of how they think conventional approaches to EFL should be changed. Jenkins (2000), for example, argues for different priorities in teaching English pronunciation. Within ELF, intelligibility is of primary importance, rather than native-like accuracy.
Teaching certain pronunciation features, such as the articulation of something, appears to be a waste of time whereas other common pronunciation problems (such as simplifying consonant clusters) contribute to problems of understanding. Such an approach is allowing researchers to identify a ‘Lingua Franca Core’ (LFC) which provides guiding principles in creating syllabuses and assessment materials. Unlike traditional EFL, ELF focuses also on pragmatic strategies required in intercultural communication. The target model of English, within the ELF framework, is not a native speaker but a fluent bilingual speaker, who retains a national identity in terms of accent, and who also has the special skills required to negotiate understanding with another non-native speaker.
Research is also beginning to show how bad some native speakers are at using English for international communication. It may be that elements of an ELF syllabus could usefully be taught within a mother tongue curriculum. ELF suggests a radical reappraisal of the way English is taught, and even if few adopt ELF in its entirety, some of its ideas are likely to influence mainstream teaching and assessment practices in the future.

CONCLUSION
In conclusion, learning process can be grouped into three general models of teaching. In the first model, the emphasis is on the transmission of knowledge. Use of advance organizers and direct teaching methods are its main features. The second model involves inquiry or discovery based teaching. It emphasizes the indirect method of open-ended questioning and building on student ideas. The focus of the third model is the quality of interpersonal relations. But all of the processes above must be supported by other elements, such as model. For example, put English into the primary curriculum.
David Graddol concludes that there is an extraordinary diversity in the ways in which English is taught and learned around the world, but some clear orthodoxies have arisen. ‘English as a Foreign Language’ has been a dominant one in the second half of the 20th century, but it seems to be giving way to a new orthodoxy, more suited to the realities of global English.
There is no single way of learning English which provides the target of learning. It is tempting, but unhelpful, to say there are as many combinations of these as there are learners and teachers. The appropriateness of content clearly depends on such things as the age of the learner and whether English is to be used primarily as a language of international communication or for survival communication with native speakers, perhaps whilst on holiday in the UK or some other English-speaking country. We hope English can support our life in globalization era.

REFERENCES

1. Harmer, J. (1998). How to Teach English. England: Addison Wesley Longman. Retrieved July 17, 2006, from http://en.wikipedia.org/wiki/Role_playing_game
2. Carver, T.K., Fotinos, S.D. (1998) A Conversation Book 1: English in Everyday Life. New York: Prentice Hall Regents. Retrieved July 15, 2006, from http://www.linguistics-journal.com/June2006-pc.php
3. Cinton, K.M. (1999). Karin’s ESL Partyland: Teaching Conversation. Retrieved July 15, 2006, from http://www.eslpartyland.com/teachers/nov/conv.htm
4. Pereira, J. (2004). EFL Japan: Pragmatics and American Conversational Usage. Retrieved July 20, 2006, from http://web.kyoto-inet.or.jp/people/sampachi/efl/pragma1. html
5. Stocker, G., Stocker,D. (2000). English Language Teaching Articles: ESL Roleplay. Retrieved July 19, 2006, from http://www.eslbase.com/articles/roleplay.asp
6. www.English.co.uk

Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI)

isei

Bagi teman-teman yang ngakunya sarjana ekonomi, harusnya tahu tentang organisasi yang satu ini, salah satu organisasi khusus untuk para alumni ekonomi dari seluruh Indonesia. mereka berkumpul, berbagi dan sharing mengenai ekonomi, dan itu bisa terjadi di forum ISEI..

mau tahu lebih detail tentang ISEI, baca ini ya…
ISEI adalah Organisasi Profesi yang berdasarkan pada ke-Sarjanaan dan tidak mengikatkan diri pada partai politik dan organisasi politik manapun
Bahwa kami Sarjana Ekonomi Indonesia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia, maka dari itu berkewajiban untuk mengambil peran yang positif untuk kemajuan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia.
Bahwa kami Sarjana Ekonomi Indonesia dengan penuh rasa tanggungjawab kepada Tuhan Yang Maha Esa, mengembangkan ilmu ekonomi untuk dibaktikan kepada Nusa, Bangsa dan Negara.
Bahwa kami Sarjana Ekonomi menghargai pemikiran-pemikiran dalam bidang ekonomi yang tidak bertentangan dengan falsafah Pancasila.
(Dikutip dari Mukadimah Anggaran Dasar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia)

Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dibentuk dan didirikan pada tanggal 14 Januari 1955 di Jakarta, yang sekaligus merupakan tempat kedudukan pengurus pusat.

Program kerja ISEI selaku organisasi profesi yang hidup ditengah-tengah masyarakat dilaksanakan secara aktif oleh para anggotanya yang menjadi pemikir, perancang dan pelaksana pembangunan, baik di bidang swasta maupun pemerintahan. Dengan demikian Sarjana-sarjana Ekonomi tidak hanya bertindak sebagai pengamat ataupun pemikir yang pasif mengenai permasalahan ekonomi serta masyarakat ekonomi pada umumnya, tetapi juga turut berperan aktif dalam proses pembangunan Bangsa dan Negara melalui ISEI.

Disamping mengadakan Program Pembinaan Kesarjanaan/Profesi, ISEI secara regular mengadakan Kongres tiga tahun sekali serta Sidang Pleno yang diadakan tiap tahun diantara dua Kongres. Sampai dengan periode kepengurusan ISEI 2006-2009 telah dilakukan Kongres sebanyak 16 kali. Kongres ini disamping membahas masalah-masalah Ekonomi Internasional, ASEAN, Perekonomian Nasional, Pembangunan Daerah juga mengenai perkembangan teori di bidang umum, ekonomi perusahaan, dan akuntansi. Kongres ISEI ke-16 pada tahun 2006 diadakan di Manado, sedangkan Kongres ISEI ke-17 rencananya akan diadakan di Padang pada tahun 2009. Sementara itu, Sidang Pleno dilaksanakan dengan menitikberatkan kegiatannya kepada peninjauan, pengkajian, penelitian, penghimpunan dan pembuatan proyeksi serta saran-saran mengenai beberapa aspek perekonomian nasional yang aktual. Untuk masa bakti kepengurusan ISEI periode 2006-2009, telah dilaksanakan Sidang Pleno ke-12 pada tahun 2007 di Balikpapan, sedangkan Sidang Pleno ke-13 rencananya akan diadakan di Mataram pada tahun 2008.
Dalam sektor regional, ISEI merupakan sponsor pembentukan Himpunan Organisasi Ekonomi ASEAN yang selanjutnya disebut Federation of ASEAN Economic Association (FAEA), yaitu pada tanggal 27 Oktober 1976 di Prapat Danau Toba (Medan). Sidang FAEA terakhir yaitu yang ke-32 dilaksanakan di Bangkok pada bulan Desember tahun 2007 lalu dengan tema “Politics and Economic Development of ASEAN”, sedangkan Sidang FAEA ke-33 rencananya akan diadakan pada minggu pertama atau ketiga bulan November 2008 di Hanoi – Vietnam, dengan mengambil tema “Agricultural and Rural Development in ASEAN”.

jadi tunggu apalagi, untuk sarjana ekonomi, silahkan gabung di ISEI..

join us on www.isei.or.id

Do’a Cinta pada-Nya

pix2-150x1502

Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engaku mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-MU, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengna limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

Aminn amiin ya rabbal alamin.

13 Sifat Perempuan Yang Tidak Disukai Laki-Laki

Oleh: Ulis Tofa, Lc

muslimah3

Sehingga tidak ada pertanyaan lagi oleh para istri mulai saat ini, tentang sebab mengapa para suami mereka lari dari rumah. Karena salah satu Pusat Kajian di Eropa telah mengadakan survai seputar 20 sifat perempuan yang paling tidak disukai laki-laki. Survai ini diikuti oleh dua ribu (2000) peserta laki-laki dari beragam umur, beragam wawasan dan beragam tingkat pendidikan.

Survai itu menguatkan bahwa ada 13 sifat atau tipe perempuan yang tidak disukai laki-laki:

Pertama, perempuan yang kelaki-lakian, “mustarjalah”

Perempuan tipe ini menempati urutan pertama dari sifat yang paling tidak disukai laki-laki. Padahal banyak perempuan terpandang berkeyakinan bahwa laki-laki mencintai perempuan “yang memiliki sifat perkasa”. Namun survai itu justru sebaliknya, bahwa para peserta survai dari kalangan laki-laki menguatkan bahwa perempuan seperti ini telah hilang sifat kewanitannya secara fitrah. Mereka menilai bahwa perangai itu tidak asli milik perempuan. Seperti sifat penunjukan diri lebih kuat secara fisik, sebagaimana mereka menyaingi laki-laki dalam berbagai bidang kerja, terutama bidang yang semestinya hanya untuk laki-laki… Mereka bersuara lantang menuntut haknya dalam dunia kepemimpinan dan jabatan tinggi! Sebagian besar pemuda yang ikut serta dalam survai ini mengaku tidak suka berhubungan dengan tipe perempuan seperti ini.

Kedua, perempuan yang tidak bisa menahan lisannya “Tsartsarah”

Tipe perempuan ini menempati urutan kedua dari sifat yang tidak disukai laki-laki, karena perempuan yang banyak omong dan tidak memberi kesempatan orang lain untuk berbicara, menyampaikan pendapatnya, umumnya lebih banyak memaksa dan egois. Karena itu kehidupan rumah tangga terancam tidak bisa bertahan lebih lama, bahkan berubah menjadi “neraka”.

Ketiga, perempuan materialistis “Maaddiyah”

Adalah tipe perempuan yang orientasi hidupnya hanya kebendaan dan materi. Segala sesuatu dinilai dengan harga dan uang. Tidak suka ada pengganti selain materi, meskipun ia lebih kaya dari suaminya.

Keempat, perempuan pemalas “muhmalah”

Tipe perempuan ini menempati urutan keempat dari sifat perempuan yang tidak disukai laki-laki.

Kelima, perempuan bodoh “ghobiyyah”

Yaitu tipe perempuan yang tidak memiliki pendapat, tidak punya ide dan hanya bersikap pasif.

Keenam, perempuan pembohong “kadzibah”

Tipe perempuan yang tidak bisa dipercaya, suka berbohong, tidak berkata sebenarnya, baik menyangkut masalah serius, besar atau masalah sepele dan remah. Tipe perempuan ini sangat ditakuti laki-laki, karena tidak ada yang bisa dipercaya lagi dari segala sisinya, dan umumnya berkhianat terhadap suaminya.

Ketujuh, perempuan yang mengaku serba hebat “mutabahiyah”

Tipe perempuan ini selalu menyangka dirinya paling pintar, ia lebih hebat dibandingkan dengan lainnya, dibandingkan suaminya, anaknya, di tempat kerjanya, dan kedudukan materi lainnya…

Kedelapan, perempuan sok jagoan, tidak mau kalah dengan suaminya

Tipe perempuan yang selalu menunjukkan kekuatan fisiknya setiap saat.

Kesembilan, perempuan yang iri dengan perempuan lainnya.

Adalah tipe perempuan yang selalu menjelekkan perempuan lain.

Kesepuluh, perempuan murahan “mubtadzilah”

Tipe perempuan pasaran yang mengumbar omongannya, perilakunya, menggadaikan kehormatan dan kepribadiannya di tengah-tengah masyarakat.

Kesebelas, perempuan yang perasa “syadidah hasasiyyah”

Tipe perempuan seperti ini banyak menangis yang mengakibatkan laki-laki terpukul dan terpengaruh semenjak awal. Suami menjadi masyghul dengan sikap cengengnya.

Keduabelas, perempuan pencemburu yang berlebihan “ghayyur gira zaidah”

Sehingga menyebabkan kehidupan suaminya terperangkap dalam perselisihan, persengketaan tak berkesudahan.

Ketigabelas, perempuan fanatis “mumillah”

Model perempuan yang tidak mau menerima perubahan, nasehat dan masukan meskipun itu benar dan ia membutuhkannya. Ia tidak mau menerima perubahan dari suaminya atau anak-anaknya, baik dalam urusan pribadi atau urusan rumah tangganya secara umum. Model seperti ini memiliki kemampuan untuk nerimo dengan satu kata, satu cara, setiap harinya selama tiga puluh tahun, tanpa ada rasa jenuh!

Ketika Laki-Laki Memilih

Dari hasil survai di Eropa itu, dikomparasikan dengan pendapat banyak kalangan dari para pemuda, para suami seputar hasil survai itu, maka bisa kita lihat pendapatnya sebagai berikut:

Sebut saja namanya Muhammad Yunus (36) tahun, menikah semenjak sebelas tahun, ia berkomentar:

“Saya sepakat dengan hasil survai itu. Terutama sifat “banyak omong dan malas”. Tidak ada sifat yang lebih jelek dari perilaku mengumbar omongan, tidak bisa menahan lisan, siang-malam dalam setiap perbincangan, baik berbincangan serius atau canda, menjadikan suaminya dalam kondisi sempit, dan marah, apalagi suaminya telah menjalankan pekerjaan berat di luar, di mana ia membutuhkan ketenangan dan kejernihan pikiran di rumah.

Saya baru mengetahui dari rekan saya yang memiliki istri model ini, tidak bisa menahan lisannya di setiap pembicaraan, setiap waktu dan dengan semua orang. Suaminya telah menasehatinya berulang kali, agar bisa menahan omongan, namun ia tidak menggubris nasehatnya sehingga berakhir dengan perceraian.

Pada umumnya model istri yang banyak omong, itu lebih pemalas di rumahnya. Bagaimana ia menggunakan waktu yang cukup untuk mengurus rumah tangga dan anak-anaknya, sedangkan ia sibuk ngobrol dengan para tetangga dan teman?!.

Jamil Abdul Hadi, sebut saja namanya begitu, insinyur berumur 34 tahun, menikah semenjak 9 tahun, ia berkomentar:

“Tidak ada yang lebih buruk dari model perempuan yang materialistis, selalu menuntut setiap saat, meskipun suaminya menuruti permintaannya, ia terus meminta dan menuntut!!

Tipe perempuan ini, sayangnya tidak mudah menerima perubahan menuju lebih baik, tidak gampang menyesuaikan diri dalam kehidupan apa adanya. Boleh jadi kondisi demikian berangkat dari asuhan semenjak kecilnya. Saya tidak diuji Allah dengan model perempuan seperti ini, namun justru saya diuji dengan istri perasa dan cengeng.

Dengan tertawa Mahmud as Sayyid menerima hasil survai ini, ia berkomentar:

“Demi Allah, sungguh menarik ada lembaga atau Pusat Study yang menggelar survai dengan pembahasan seputar ini. Survai ini meskipun memiki cara pandang dan penilaian yang berbeda-beda, namun terungkap bahwa cara pandang itu satu sama lain tidak saling bertentangan…”

Lain lagi dengan Mahmud, sebut saja begitu. Belum menikah, mahasiswa di universitas. Ia berujar tentang mimpinya, yaitu istri yang akan mendampinginya, ia mengharap:

“Pasti saya menginginkan tidak mendapatkan istri yang memiliki tipe sebagaimana hasil survai di atas. Tetapi mengingat tidak ada istri yang “sempurna”, karena itu saya masih mungkin menerima tipe perempuan di atas kecuali tipe perempuan pembohong. Istri pembohong akan lebih mudah mengkhianati, tidak menghormati hubungan suami-istri, tidak memelihara amanah, tidak bisa dipercaya. Setiap orang pada umumnya tidak menyenangi sifat bohong, baik laki-laki maupun perempuan itu sendiri. Karena akan berdampak negative pada anak-anaknya, karena anak-anak akan meniru dirinya!!.

Ketika ia ditanya tentang tipe perempuan “kelaki-lakian”. Perempuan yang menyerupai laki-laki dalam segala hal dan menyanginya dalam segala hal. Ia berkomentar:

“Tidak masalah berhubungan dengan istri tipe seperti ini, selagi sifat “kelaki-lakian” tidak mengalahkan dan mengibiri sifat aslinya. Selagi ia masih mengemban kerja dan tugas yang sesuai dengan tabiat perempuan, seperti nikah, mengandung, menyusui dan lainnya.”

“Perempuan “kuat” menurut saya akan mengetahui bagaimana ia mengurus kebutuhan dirinya, mengarahkan dan mengatur keluarga dan anak-anaknya. Akan tetapi segala sesuatu ada batasnya yang tidak boleh diterjangnya. Sebagaimana seorang perempuan tidak suka terhadap laki-laki yang “banci”, seperti berbicara dan berperilaku layaknya perempuan. Sebagaimana juga laki-laki tidak suka terhadap perempuan yang mengedepankan sifat kelaki-lakian… segala sesuatu ada batas ma’kulnya. Jika melampaui batas sewajarnya, yang terjadi adalah dampak negatif.

Tidak ada seorang istri yang “sempurna”. Dan memang ada berbedaan cara penilaian dan cara pandang antara laki-laki satu dengan laki-laki lain. Namun ada kaidah umum yang disepakati oleh samua. Yaitu menolak sikap bohong, penipu, sebagaimana yang disebutkan sebelumnya.”

Semoga tulisan ini menambah informasi dan pengalaman buat para istri dan calon istri. Dan tentunya bermanfaat bagi laki-laki, sehingga para suami mampu bermuasyarah atau berhubungan dengan istri-istrinya dengan cara makruf, sebagaimana yang digariskan dalam Al qur’an. Allah swt berfirman:

“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” Al Nisa’:19

Dan karena perempuan “syaqaiqur rijal” saudara kembar laki-laki, yang seharusnya saling mengisi dan menyempurnakan, untuk membangun “baiti jannati” sehingga keduanya mampu bersinergi untuk mewujudkan citanya itu dalam pengembaraan kehidupan ini. Allahu a’lam

13 Sifat Laki-laki Yang Tidak Disukai Perempuan

Oleh: DR. Amir Faishol Fath

gambar-sujud

Para istri atau kaum wanita adalah manusia yang juga mempunyai hak tidak suka kepada laki-laki karena beberapa sifa-sifatnya. Karena itu kaum lelaki tidak boleh egois, dan merasa benar. Melainkan juga harus memperhatikan dirinya, sehingga ia benar-benar bisa tampil sebagai seorang yang baik. Baik di mata Allah, pun baik di mata manusia, lebih-lebih baik di mata istri. Ingat bahwa istri adalah sahabat terdekat, tidak saja di dunia melainkan sampai di surga. Karena itulah perhatikan sifat-sifat berikut yang secara umum sangat tidak disukai oleh para istri atau kaum wanita. Semoga bermanfaat.

Pertama, Tidak Punya Visi

Setiap kaum wanita merindukan suami yang mempunyai visi hidup yang jelas. Bahwa hidup ini diciptakan bukan semata untuk hidup. Melainkan ada tujuan mulia. Dalam pembukaan surah An Nisa’:1 Allah swt. Berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. Dalam ayat ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa tujuan hidup berumah tangga adalah untuk bertakwa kepada Allah. Takwa dalam arti bersungguh mentaati-Nya. Apa yang Allah haramkan benar-benar dijauhi. Dan apa yang Allah perintahkan benar ditaati.

Namun yang banyak terjadi kini, adalah bahwa banyak kaum lelaki atau para suami yang menutup-nutupi kemaksiatan. Istri tidak dianggap penting. Dosa demi dosa diperbuat di luar rumah dengan tanpa merasa takut kepada Allah. Ingat bahwa setiap dosa pasti ada kompensasinya. Jika tidak di dunia pasti di akhirat. Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang hancur karena keberanian para suami berbuat dosa. Padahal dalam masalah pernikahan Nabi saw. bersabda: “Pernikahan adalah separuh agama, maka bertakwalah pada separuh yang tersisa.”

Kedua, Kasar

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Ini menunjukkan bahwa tabiat wanita tidak sama dengan tabiat laki-laki. Karena itu Nabi saw. menjelaskan bahwa kalau wanita dipaksa untuk menjadi seperti laki-laki tulung rusuk itu akan patah. Dan patahnya berarti talaknya. Dari sini nampak bahwa kaum wanita mempunyai sifat ingin selalui dilindungi. Bukan diperlakukan secara kasar. Karena itu Allah memerintahkan para suami secara khusus agar menyikapi para istri dengan lemah lembut: Wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf (Dan sikapilah para istri itu dengan perlakuan yang baik) An Nisa: 19. Perhatikan ayat ini menggambarkan bahwa sikap seorang suami yang baik bukan yang bersikap kasar, melainkan yang lembut dan melindungi istri.

Banyak para suami yang menganggap istri sebagai sapi perahan. Ia dibantai dan disakiti seenaknya. Tanpa sedikitpun kenal belas kasihan. Mentang-mentang badannya lebih kuat lalu memukul istri seenaknya. Ingat bahwa istri juga manusia. Ciptaan Allah. Kepada binatang saja kita harus belas kasihan, apalagi kepada manusia. Nabi pernah menggambarkan seseorang yang masuk neraka karena menyikas seekor kucing, apa lagi menyiksa seorang manusia yang merdeka.

Ketiga, Sombong

Sombong adalah sifat setan. Allah melaknat Iblis adalah karena kesombongannya. Abaa wastakbara wakaana minal kaafiriin (Al Baqarah:34). Tidak ada seorang mahlukpun yang berhak sombong, karena kesombongan hanyalah hak priogatif Allah. Allah berfirman dalam hadits Qurdsi: “Kesombongan adalah selendangku, siapa yang menandingi aku, akan aku masukkan neraka.” Wanita adalah mahluk yang lembut. Kesombongan sangat bertentangan dengan kelembutan wanita. Karena itu para istri yang baik tidak suka mempunyai suami sombong.

Sayangnya dalam keseharian sering terjadi banyak suami merasa bisa segalanya. Sehingga ia tidak mau menganggap dan tidak mau mengingat jasa istri sama sekali. Bahkan ia tidak mau mendengarkan ucapan sang istri. Ingat bahwa sang anak lahir karena jasa kesebaran para istri. Sabar dalam mengandung selama sembilan bulan dan sabar dalam menyusui selama dua tahun. Sungguh banyak para istri yang menderita karena prilaku sombong seorang suami.

Keempat, Tertutup

Nabi saw. adalah contoh suami yang baik. Tidak ada dari sikap-sikapnya yang tidak diketahui istrinya. Nabi sangat terbuka kepada istri-istrinya. Bila hendak bepergian dengan salah seorang istrinya, nabi melakukan undian, agar tidak menimbulkan kecemburuan dari yang lain. Bila nabi ingin mendatangi salah seorang istrinya, ia izin terlebih dahulu kepada yang lain. Perhatikan betapa nabi sangat terbuka dalam menyikapi para istri. Tidak seorangpun dari mereka yang merasa didzalimi. Tidak ada seorang dari para istri yang merasa dikesampingkan.

Kini banyak kejadian para suami menutup-nutupi perbuatannya di luar rumah. Ia tidak mau berterus terang kepada istrinya. Bila ditanya selalu jawabannya ngambang. Entah ada rapat, atau pertemuan bisnis dan lain sebagainya. Padahal tidak demikian kejadiannya. Atau ia tidak mau berterus terang mengenai penghasilannya, atau tidak mau menjelaskan untuk apa saja pengeluaran uangnya. Sikap semacam ini sungguh sangat tidak disukai kaum wanita. Banyak para istri yang tersiksa karena sikap suami yang begitu tertutup ini.

Kelima, Plinplan

Setiap wanita sangat mendambakan seorang suami yang mempunyai pendirian. Bukan suami yang plinplan. Tetapi bukan diktator. Tegas dalam arti punya sikap dan alasan yang jelas dalam mengambil keputusan. Tetapi di saat yang sama ia bermusyawarah, lalu menentukan tindakan yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Inilah salah satu makna qawwam dalam firman Allah: arrijaalu qawwamuun alan nisaa’ (An Nisa’:34).

Keenam, Pembohong

Banyak kejadian para istri tersiksa karena sang suami suka berbohong. Tidak mau jujur atas perbuatannya. Ingat sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah. Kebohongan adalah sikap yang paling Allah benci. Bahkan Nabi menganggap kebohongan adalah sikap orang-orang yang tidak beriman. Dalam sebuah hadits Nabi pernah ditanya: hal yakdzibul mukmin (apakah ada seorang mukmin berdusta?) Nabi menjawab: Laa (tidak). Ini menunjukkan bahwa berbuat bohong adalah sikap yang bertentangan dengan iman itu sendiri.

Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang bubar karena kebohongan para suami. Ingat bahwa para istri tidak hanya butuh uang dan kemewahan dunia. Melainkan lenbih dari itu ia ingin dihargai. Kebohongan telah menghancurkan harga diri seorang istri. Karena banyak para istri yang siap dicerai karena tidak sanggup hidup dengan para sumai pembohong.

Ketujuh, Cengeng

Para istri ingin suami yang tegar, bukan suami yang cengeng. Benar Abu Bakar Ash Shiddiq adalah contoh suami yang selalu menangis. Tetapi ia menangis bukan karena cengeng melainkan karena sentuhan ayat-ayat Al Qur’an. Namun dalam sikap keseharian Abu Bakar jauh dari sikap cengeng. Abu Bakar sangat tegar dan penuh keberanian. Lihat sikapnya ketika menghadapi para pembangkang (murtaddin), Abu Bakar sangat tegar dan tidak sedikitpun gentar.

Suami yang cenging cendrung nampak di depan istri serba tidak meyakinkan. Para istri suka suami yang selalu gagah tetapi tidak sombong. Gagah dalam arti penuh semangat dan tidak kenal lelah. Lebih dari itu tabah dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.

Kedelapan, Pengecut

Dalam sebuah doa, Nabi saw. minta perlindungan dari sikap pengecut (a’uudzubika minal jubn), mengapa? Sebab sikap pengecut banyak menghalangi sumber-sumber kebaikan. Banyak para istri yang tertahan keinginannya karena sikap pengecut suaminya. Banyak para istri yang tersiksa karena suaminya tidak berani menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Nabi saw. terkenal pemberani. Setiap ada pertempuran Nabi selalu dibarisan paling depan. Katika terdengar suara yang menakutkan di kota Madinah, Nabi saw. adalah yang pertama kaluar dan mendatangi suara tersebut.

Para istri sangat tidak suka suami pengecut. Mereka suka pada suami yang pemberani. Sebab tantangan hidup sangat menuntut keberanian. Tetapi bukan nekad, melainkan berani dengan penuh pertimbangan yang matang.

Kesembilan, Pemalas

Di antara doa Nabi saw. adalah minta perlindingan kepada Allah dari sikap malas: allahumma inni a’uudzubika minal ‘ajizi wal kasal , kata kasal artinya malas. Malas telah membuat seseorang tidak produktif. Banyak sumber-sumber rejeki yang tertutup karena kemalasan seorang suami. Malas sering kali membuat rumah tangga menjadi sempit dan terjepit. Para istri sangat tidak suka kepada seorang suami pemalas. Sebab keberadaanya di rumah bukan memecahkan masalah melainkan menambah permasalah. Seringkali sebuah rumah tangga diwarnai kericuhan karena malasnya seorang suami.

Kesepuluh, Cuek Pada Anak

Mendidik anak tidak saja tanggung jawab seorang istri melainkan lebih dari itu tanggung jawab seorang suami. Perhatikan surat Luqman, di sana kita menemukan pesan seorang ayah bernama Luqman, kepada anaknya. Ini menunjukkan bahwa seorang ayah harus menentukan kompas jalan hidup sang anak. Nabi saw. Adalah contoh seorang ayah sejati. Perhatiannya kepada sang cucu Hasan Husain adalah contoh nyata, betapa beliau sangat sayang kepada anaknya. Bahkan pernah berlama-lama dalam sujudnya, karena sang cucu sedang bermain-main di atas punggungnya.

Kini banyak kita saksikan seorang ayah sangat cuek pada anak. Ia beranggapan bahwa mengurus anak adalah pekerjaan istri. Sikap seperti inilah yang sangat tidak disukai para wanita.

Kesebelas, Menang Sendiri

Setiap manusia mempunyai perasaan ingin dihargai pendapatnya. Begitu juga seorang istri. Banyak para istri tersiksa karena sikap suami yang selalu merasa benar sendiri. Karena itu Umar bin Khaththab lebih bersikap diam ketika sang istri berbicara. Ini adalah contoh yang patut ditiru. Umar beranggapan bahwa adalah hak istri mengungkapkan uneg-unegnya sang suami. Sebab hanya kepada suamilah ia menemukan tempat mencurahkan isi hatinya. Karena itu seorang suami hendaklah selalu lapang dadanya. Tidak ada artinya merasa menang di depan istri. Karena itu sebaik-baik sikap adalah mengalah dan bersikap perhatian dengan penuh kebapakan. Sebab ketika sang istri ngomel ia sangat membutuhkan sikap kebapakan seorang suami. Ada pepetah mengatakan: jadilah air ketika salah satunya menjadi api.

Keduabelas, Jarang Komunikasi

Banyak para istri merasa kesepian ketika sang suami pergi atau di luar rumah. Sebaik-baik suami adalah yang selalu mengontak sang istri. Entah denga cara mengirim sms atau menelponnya. Ingat bahwa banyak masalah kecil menjadi besar hanya karena miskomunikasi. Karena itu sering berkomukasi adalah sangat menentukan dalam kebahagiaan rumah tangga.

Banyak para istri yang merasa jengkel karena tidak pernah dikontak oleh suaminya ketika di luar rumah. Sehingga ia merasa disepelekan atau tidak dibutuhkan. Para istri sangat suka kepada para suami yang selalu mengontak sekalipun hanya sekedar menanyakan apa kabarnya.

Ketigabelas, Tidak Rapi dan Tidak Harum

Para istri sangat suka ketika suaminya selalu berpenampilan rapi. Nabi adalah contoh suami yang selalu rapi dan harum. Karena itu para istrinya selalu suka dan bangga dengan Nabi. Ingat bahwa Allah Maha indah dan sangat menyukai keindahan. Maka kerapian bagian dari keimanan. Ketika seorang suami rapi istri bangga karena orang-orang pasti akan berkesan bahwa sang istri mengurusnya. Sebaliknya ketika sang suami tidak rapi dan tidak harum, orang-orang akan berkesan bahwa ia tidak diurus oleh istrinya. Karena itu bagi para istri kerapian dan kaharuman adalah cermin pribadi istri. Sungguh sangat tersinggung dan tersiksa seorang istri, ketika melihat suaminya sembarangan dalam penampilannya dan menyebarkan bahu yang tidak enak. Allahu a’lam

Surat lamaran kerja bahasa inggris

Palembang, July 04, 2008

Attention to :
HRD of Conoco Philips

Dear Sir/ Madam,
I am students in financial management at Sriwijaya University, and I will be awardes an S.E degree in March 2009. I would like to apply in Business Apprentice Program (BA) at your company.
As a student from Sriwijaya University, specializing in financial management, I am someone who possess strong academic background and having organizational experience, creativity, communication skill, and leadership abilities also I am be able to use English both oral and written, computer literate, able to use MS Office package such as MS Exel,
MS Word, MS PowerPoint, and Internet. I have good motivation for progress and growing, eager to learn, and can work with a team (team work). I possess will prove invaluable to Conoco Philips.
With my qualifications, I confident that I will be able to contribute effectively to your company. Herewith I enclose my :
1. Copy of Bachelor Degree (S-1) Certificate and Academic Transcript.
2. Curriculum Vitae.
3. Copy of Job Training Certificate.
4. Recent photograph with size of 4×6

I hope you will grant me an interview and the opportunity to give you more details about my self.

Yours faithfully,

Budi Setiawan

Peraturan Tata Tertib Panitia dalam mengadakan Kegiatan

TATIB PANITIA
Rela berkorban baik waktu, tenaga, pikiran dan materi dalam melaksanakan OPDIK
Mematuhi peraturan :
o    Panitia datang 10 menit sebelum acara di mulai
o    Berpakaian rapi, bawahan dasar (tidak berjenis Jeans) & mesti  memakai SEPATU
o    Panitia mengetahui jalannya kegiatan/ acara OPDIK tidak hanya terpaku pada sie.acara
o    Bersedia menerima & melaksanakan tugas yg telah diberikan
o    Bersedia bila ditunjuk menjadi petugas saat OPDIK
Panitia yang berhalangan hadir wajib memberitahu ketupel,komdis atau panitia lainnya
Panitia berhak mengajukan keberatan bila ditunjuk menjadi petugas dengan syarat alasan yang bisa diterima
Seluruh panitia harus saling bekerja sama dan kompak
Tidak membicarakan sesuatu yang bersifat intern di depan peserta
Tidak bertengkar di depan peserta dalam hal apapun apalagi hal sepele
Seluruh panitia melaksanakan 5 S ( senyum, sapa, salam, sopan, santun)
Seluruh panitia memberikan pelayanan yang terbaik untuk peserta
Segala sesuatu yang terjadi di lapangan harap dilaporkan pada KorLap atau Ketupel
Memperhatikan tata krama selama acara berlangsung
Memakai almamater kec.alasan tertentu
Memakai pakaian sopan, tidak ketat dan tipis
Memakai tanda panitia
Mengisi absensi panitia selama OPDIK berlangsung
Menjaga ketertiban, kebersihan dan keamanan selama acara
Tidak memakai perhiasan dan bermake-up berlebihan
Panitia yang memiliki penyakit tertentu atau meresa kurang sehat saat acara berlangsung segera melapor
Hal2 yg belum diatur akan diatur selanjutnya

TATIB PESERTA
Mematuhi segala peraturan :
a.    Berlaku sopan santun baik dalam bicara maupun tindakan kepada siapa saja
b.    Disiplin waktu (datang tepat waktu) min 5 menit sebelum acara dimulai
c.    Selalu memakai atribut saat acara/ kegiatan berlangsung kec.diperlukan untuk melepaskan
d.    Selama OPDIK berlangsung sealalu membawa almamater
e.    Menjaga segala atribut jangan sampai hilang/lupa & barang2 pribadi (Hp, uang) dgn hati-hati
f.    Berpakaian rapi, sopan & memakai sepatu ( kostum sesuai aturan yg telah ditentukan berdasarkan hari)
g.    Hp digetarkan/ non aktifkan saat acara/kegiatan berlangsung
h.    Tidak ribut/mengobrol yg tidak penting sehingga tidak  menggangu suasana saat acara berlangsung
Mengerjakan semua tugas yang telah ditentukan oleh panitia dengan sebaik-baiknya, tepat pada waktunya
Meminta izin atau memberitahu komdis ataupun panitia lainnya bila berhalangan hadir
Bila selama 3 hari atau lebih berturut-turut tidak hadir tanpa berita yang jelas, dianggap tidak lulus dalam mengikuti keg.OPDIK maka peserta tsb mesti mengikuti OPDIK tahun depan
Memanfaatkan waktu istirahat dengan sebaik-baiknya/semaksimal mungkin sehingga tidak mengganggu acara berikutnya
Menjaga kebersihan di mana pun berada ( tidak membuang sampah sembarangan terutama dit4 keg.OPDIK)
Menjaga kesehatan baik fisik maupun mental selama keg.OPDIK berlangsung
Ex : sarapan (klo perlu bawa air minum)
Mengenal baik teman se-Prodi, se-Kelompok ataupun lain Prodi/kelompok & PJ Prodi/kelompok
Tidak menggunakan make-up berlebihan
Membawa alat sholat (mhs putri yg beragama islam) agar tidak antri u/sholat
Menerima sanksi yang ditentukan Komdis ( komisi disiplin) bila terbukti melanggar aturan

HARI KAMIS TANGGAL 31 AGUSTUS 2006

WAKTU    KEGIATAN    PENGISI    TEMPAT    Ket    Tekhnis
08.30 – 09.00

09.00 – 10.00

10.00 – 12.00

Pembukaan
Pengarahan

Pembagian kelompok

Acara kelompok

Penutup    Mc
Panitia Acara

Pj kelompok

Pj kelompok    Lapangan

Ruangan

Ruangan    Baris perProdi
Pj Prodi mengecek registrasi

Sekalian ditutup setelah diberi penjelasan2    Kumpul u/ persiapan pembagian kelompok
Pembacaan TaTib peserta
Perlengkapan menyediakan ruangan kuliah, baju kaos dll dalam ruangan tersebut
Peseerta dipanggil sesuai kelompoknya selanjutnya langsung menuju ruang kelas
-29    Perkenalan sesama anggota & Pj
-30    Pembagian kaos OPDIK dll
-31    Penjelasan tugas, tatib & teknis acara OPDIK secara garis besar
-32    Pj Kelompok membimbing & memberi gambaran kpd peserta mengenai Republik Madani

Pemberitahuan(ditekankan) kembali u/ acara
(4-8 sept)OPDIK,tugas dll

INFO OPDIK

KETENTUAN PAKAIAN

PAKAIAN
PUTRA    PUTRI
SENIN
4 SEPTEMBER 06    Kemeja lengan panjang warna putih
Celana panjang dasar warna hitam    Kemeja lengan panjang warna putih
Rok panjang dasar warna hitam
Bagi yg berjilbab : Jilbab Putih
SELASA
5 SEPETEMBER 06    Kemeja lengan pendek warna terserah (tidak terlalu mencolok)
Celana panjang dasar warna hitam    Kemeja lengan panjang warna terserah (tidak terlalu mencolok)
Rok panjang dasar warna hitam
Bagi yg berjilbab : Jilbab Putih
RABU
6 SEPETEMBER 06    Kaos OPDIK
Celana panjang warna hitam    Kaos OPDIK
Rok panjang warna hitam
Bagi yg berjilbab : Jilbab Putih
KAMIS
7 SEPTEMBER 06    Kemeja lengan panjang warna putih
Celana panjang dasar warna hitam    Kemeja lengan panjang warna putih
Rok panjang dasar warna hitam
Bagi yg berjilbab : Jilbab Putih

Pakaian Muslim ( baju koko )
Celana panjang dasar warna hitam    Pakaian Muslimah
Pakai Jilbab
( warna terserah )
BAGI YANG BERAGAMA SELAIN ISLAM (NON ISLAM)
PAKAIAN DISAMAKAN DENGAN HARI SENIN/KAMIS
SELAMA OPDIK    :    – MEMBAWA ALMAMATER
- MEMAKAI SEPATU
- MENGIKUTI KEG.OPDIK SECARA KESELURUHAN
TUGAS

1.    NAME TAG
Tujuan    : Pengenalan Pribadi
Bahan    : Kardus dilapisi karton/ kertas putih ukuran 20 x 30 cm
Isi    :
o    Nama lengkap
o    Nama panggilan
o    Program Studi
o    Asal Sekolah
Gantungan/ tali        : Pakai pita (dasar)
Warna biru
2.    Keluarga (kelompok)
Tujuan        : Saling mengenal antar Prodi membentuk tali silaturahim
Layaknya sebuah keluarga
Akan dibentuk kelompok
Tugas Kelompok /keluarga :
- Buat yel-yel  ( untuk ditampilkan pas republik Madani)
- Pilih Kepala/ ketua keluarga / kelompok
- Mengenal anggota keluarganya

3.    BUKU TUGAS
Tujuan        : Adanya resume perMateri
Kenang2an dari OPDIK
Ketentuan    : – Buku tulis tipis
- Disampul dengan kertas
manggis
- Warna biru tua untuk putra
- Warna biru muda ( langit )
untuk putri
Cover Depan    :
o    Ada logo Unsri ( Gambar/tempel dll)
o    Tulis    : FKIP MADANI
o    Nama lengkap
o    Nama panggilan
o    Program Studi
Ditulis dikiri buku

Isi        :
- Resume (ringkasan materi) selama OPDIK
- Tentang Panitia ( min 5 orang )
- nama lengkap + panggilan
- program Studi
- Sie (seksi/ bidang kepanitian PMB)
- Pesan/kesan
- Tanda tangan
- Tentang Anggota keluarga (kelompok)
Min 10 orang
- Nama lengkap + panggilan
- asal sekolah
- Program Studi
- Nomor Hp / telp
- tanda tangan

4.    Impian 5 tahun kedepan
Tujuan        : Kerja besar dimulai dari mimpi2 besar
Ketentuan    :
-33    Tuliskan secara detail, impianmu, cita-cita, & harapan untuk
Waktu 5 tahun ke depan
(Bayangkan diri kalian 5 tahun ker depan)
-34    Tuliskan usaha2 + langkah2 u/ mencapai impian tersebut
(buat target jangka pendek & jangka panjang sbg usaha
pencapaian impian tersebut)
-35    Diketik kertas kuarto ( ketentuan : terserah )
Tulis tangan : kertas double folio
-36    Tulis nama/ Program studi / Nim di kiri atas kertas

5.    Paper
Tujuan        : Sebagai bahan yg akan didiskusikan pada Republik Madani
& Membuka pemikiran ttg dunia pendidikan Saat ini
Tentang DUNIA PENDIDIKAN
Tema        : ” Dunia Pendidikan saat ini di mataku ”
Ketentuan    :
- Uraikan pendapat kalian ttg dunia pendidikan saat ini, Bisa dilihat dari berbgai segi baik positif & negatif
- Bila mengutip, masukkan referensinya                  ( Daftar Pustaka ) Baik dari buku, koran , majalah, internet
- Diketik New Roman, 12 pt ,
kertas kuarto , spasi : 1,5
- minimal 5 lembar

PJ PRODI
Prodi        :         B. Ind     : Suci            B.Ing     : Dian
PPKn    : Anik            BK    : Yani
PEA    : Nani            Sejarah    :
Penjas    : Gunawan        TM    :
Fisika    : Leny            Kimia    : Wulan
Mat    : Baiti            Biologi  : Yulita

PJ KELOMPOK
TUGAS

TUGAS
PJ PRODI    PJ KELOMPOK
KAMIS
31 AGUST 06
08.30- 10.00

10.00-12.00    Mengatur barisan peserta perPRODI
Mengkondisikan, mengecek /registrasi

Bersama panitia perlengkapan mencari ruangan & menyiapkan segala sesuatu u/ dibagikan pada peserta
Perkenalan sekalian bagi baju OPDIK dll
Membimbing, memberi arahan mengenai tugas, ketentuan pakaian dll terutama mengenai teknis Republik Madani
Melayani pertanyaan2 peserta mengenai acara OPDIK
SENIN
4 SEPT 06    08.30 –

Penomoran dalam Surat

PENDAHULUAN

‘Sesungguhnya Allah  mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang tersusun rapi, seakan-akan mereka merupakan bangunan yang tersusun kokoh.”
(QS. Ash-Shaff : 4)

Pengertian Kesekretariatan

Kesekretariatan berasal dari kata sekretariat. Sekretariat artinya bagian dari organisasi yang menangani pekerjaan dan urusan-urusan yang menjadi tugas sekretaris, kepaniteraan (tulis-menulis dan surat-menyurat). Kesekretariatan merupakan bagian pekerjaan yang banyak berhubungan dengan surat-menyurat, pengagendaan, pengetikan, dan kearsipan. Dalam kenyataannya, bidang kerja kesekretariatan sangat banyak, baik yang bersifat rutin dikerjakan setiap hari maupun pekerjaan yang bersifat insidental.

Tugas Pokok Kesekretariatan

Apapun nama dan bentuknya,  kesekretariatan merupakan elemen yang harus ada untuk membangun dan menjaga kesinambungan suatu organisasi. Tanggung jawab umum (tugas pokok) kesekretariatan adalah:
Pengelolaan sistem administrasi organisasi termasuk di antaranya adalah pengelolaan surat masuk dan pembuatan surat keluar baik internal maupun eksternal organisasi.
Pengelolaan sistem pengarsipan data dan informasi, baik intern maupun ekstern organisasi. Data dan informasi merupakan aset penting yang harus disimpan untuk kebutuhan di kemudian hari.
Pengelolaan fisik sekretariat. Sekretariat merupakan tempat kerja dan bersilaturahmi para pengurus. Semakin nyaman tempatnya, akan semakin betah pula pengurus untuk bekerja dan berkumpul di dalamnya. Sehingga soliditas pengurus dan kinerja organisasi bisa lebih meningkat demi kepentingan dakwah.

DESKRIPSI KERJA
DAN PIKET

Deskripsi Kerja

Administrasi
Menginventaris dan mendokumentasi surat-surat
Membuat surat-surat keluar
Catatan :
Untuk surat keluar di buatan oleh depart  maling-masing
Mendokumentasikan arsip-arsip dari dalam dan luar BEM-FE Mendokumentasikan arsip-arsip keorganisasian
Susunan pengurus
Biodata
Struktur
AD/ART dan
Arsip–arsip penting lainnya
Mendokumentasikan contact person
Mendokumentasikan laporan setiap keputusan aksi atau kegiatan  BEM-FE dari sekretaris biro/departemen/LSO minimal setiap minggu

Kerumahtanggaan
Bertanggung jawab masalah piket kesekretariatan
Mengatur jadwal pemakaian ruangan
Membantu memfasilitasi setiap rapat
Mengatur jadwal acara/konfirmasi Ketua Umum dan SJ
Mendaftar tamu
Mengumpulkan dan mensosialisasikan informasi atau perkembangan terbaru BEM-FE yang mendesak, khususnya informasi kesekretariatan

Perlengkapan
Membeli barang-barang kebutuhan kesekretariatan
Menginventaris barang-barang milik kesekretariatan
Memantau kelengkapan dan keberadaan barang-barang tersebut
Memantau kebutuhan kesekretariatan

Piket
Memasukkan surat yang datang ke buku surat masuk
Mengarsipkan ke pos dokumen
Menerima telepon
Menerima tamu
Memfasilitasi rapat
Menulis surat yang diperlukan segera
Memantau kebersihan dan ketertiban kesekretariatan
Mencatat dan memberitahukan agenda Ketua Umum dan SJ
Mengirim surat-surat via pos, faksimile, atau e-mail

Sarat pengajuan pembuatan Surat keputusan
Mengajukan surat permohonan pembuatan SK (surat keputasan)
melampirkan surat ketetapan Musyawarah Unsri
melampirkan lembar kepengurusan BEM-FE Unsri

SURAT MENYURAT

Kepala Surat
Nomor    :                   Tanggal
Lampiran    :
Hal        :

Yang kami hormati
………………………….
………………………….

Salam Pembuka,
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Salam Penutup,
Tanda tangan

Nama Jelas
Nama Jabatan

Tembusan
…………….
…………….
Inisial

Tanggal Surat

Nomor Surat

Surat yang dikeluarkan Departemen:
Nomor    : 000/Jenis Surat/Nama Departemen/ BEM-FE/Bulan(Romawi)/2007
Contoh:
Nomor: 010/U/IO/BEM-FE/I/2007

Surat yang dikeluarkan kepanitiaan pada Departemen:
Nomor    : 000/Jenis Surat/Nama Departemen/Nama Kegiatan/ BEM-FE/Bulan(Romawi)/2007
Contoh:
Nomor: 010/PH/HM/BAKSOS/ BEM-FE/VII/2007

Surat yang dikeluarkan Kepanitiaan Bersama (Non Departemen)
Nomor    : 000/Jenis Surat/Nama Kegiatan/KD-e/ BEM-FE/Bulan(Romawi)/2007
Contoh:
Nomor: 010/U/MILAD IX/KD-e/BEM-FE/III/2007
Catatan:
à Bila tidak ada lampiran, kata Lampiran tidak usah dituliskan

Pihak pengeluar surat di BEM-FE Daerah ditulis dengan kode:

NO    PIHAK PENGELUAR SURAT    KODE
01    Gubernur     GM
02    Sekretaris Umum    SU
03    Bendahara Umum    BU
04    Biro Kesekretariatan dan Rumah Tangga    KRT
05    Biro Wirausaha    WR
06    Departemen Internal Organisasi    DK
07    Departemen Kajian Ekonomi    HM
08    Departemen Humas Dan Media    MB
09    Departemen Minat dan Bakat    DHM
Berikut ini kode-kode surat yang dibakukan:

NO    JENIS SURAT    KODE SURAT
1    Permohonan (peminjaman, tempat, ruangan, barang, dll)    PH
2    Undangan (Rapat, audiensi, hearing, dll)    U
3    Pemberitahuan (kunjungan, dll)    B
4    Pengumuman    P
5    Mandat    M
6    Rekomendasi    REK
7    Keterangan    RET
8    Penugasan    T
9    Ucapan    UP
10    Memo    MO
11    Nota    NT
12    Pernyataan    PN
13    Kerjasama    KS
14    Balasan    SB
15     Surat Keputusan    SK    SK
16     Internal    A
17     Eksternal    B

4. Perihal
Perihal    : Permohonan peminjaman tempat
Hal    : Pemberitahuan kegiatan

5. Lampiran
Lampiran: Lima berkas
Lamp.       : Satu lembar

6. Alamat

Contoh alamat (dalam) yang benar:
Ykh. Ir. Latif
Jalan Pulo Asem Utara 7 No. 12
Jakarta Timur 13210

Atau

Yang kami hormati
Bapak Budiman
Jalan Teuku Umar No. 24
Jakarta Pusat

Atau

Ykh. Pimpinan Bank Dagang Negara
Jalan H.M. Thamrin
Jakarta Pusat

7. Salam Pembuka
Assalamu’alaikum warahmatullahi  wabarakaatuh,
Salam Pramuka,

8. Isi Surat
- . Pembuka Surat

Dalam rangka perapihan administrasi kesekretariatan BEM FE UNSRI, kami akan menerbitkan buku panduan kesekretariatan …
Sehubungan dengan surat Saudara tanggal 5 Januari 2001 No. 007/SB/Kes-i/BEM-FE/I/2001 tentang persyaratan menjadi anggota BEM-FE, dengan ini kami beritahukan bahwa …

-. Isi Surat
Terserah Anda dong

-. Penutup

1.    Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.
2.    Atas perhatian dan kerjasama Saudara selama ini, kami ucapkan terima kasih.
3.    Mudah-mudahan jawaban kami bermanfaat bagi Saudara.
Salam Penutup
Salam takzim,
Salam kami,
Hormat kami,
Wasalam,
Tanda Tangan dan Nama Jelas Jabatan
Contoh:

Yuli Widy Astono,SP
Ketua Umum

Fedriyansyah, PS
Sekertaris Jenderal

Tembusan

Tembusan:
Ketua Umum
Sekretaris jendral
Kepala Biro Kesekretariatan
Sdr. Suryani, S.Si

ATURAN PENANDATANGAN

Surat yang dikeluarkan oleh BEM-FE
Dikeluarkan oleh Ketua Daerah
stempel (BEM memiliki stempel
Sendiri)

Gubernur Mahasiswa                Sekretaris Umum

Dikeluarkan oleh Departemen
stempel

Gubernur Mahasiswa                       Ka. Departemen

atau:

Ka. Departemen                     Sekretaris Departemen

Mengetahui,
stempel

Gubernur Mahasiswa

Catatan:
stempel harus terkena Tanda tangan

Dikeluarkan mengatas namakan
stempel di kanan TTD Ketum

REKAPITULASI SURAT KELUAR

No    Tgl Surat    Nomor Surat    Perihal/
Berita    Tujuan    Ket

AGENDA SURAT MASUK

No    Tgl Masuk    Tgl Surat    Nomor Surat    Dari Siapa    Perihal/Berita    Ditujukan Kepada    Ket

Gunakan kop surat yang baku dan terbaru (Alamat, Telp, dan E-mail)
Surat yang dikeluarkan oleh masing-masing dept/biro memiliki nomor masing-masing, tidak bersifat central. Jadi semua dept/biro memulai penomoran surat dari No. 001

Formulir Penerimaan Telepon

Formulir Penerimaan Tamu

PERHATIAN

Bentuk  buku inventaris perlengkapan BEM-FE

No    No. Inv.    Nama Barang    Jmlh    Spesifikasi    Keterangan
1.     01.02/DK/ 93    Telepon

1

Metode Arsipasi

No    Bentuk laporan (periode……….)
1.    Pernyataan Sikap
2.     Surat keluar
3.    Surat masuk
4    Notulensi

Bentuk kartu pinjam

KARTU PINJAM ARSIP
Biro Kesekretariatan BEM FE
Nama peminjam    Tanggal pinjam    Tanggal Kembali    Perihal     Tanda Tangan Peminjam    Tanda tangan pengembaliaan

PROPOSAL DAN LAPORAN KEGIATAN

Proposal adalah usulan. Suatu kegiatan beranjak dari suatu pemikiran (gagasan) yang dituangkan dalam suatu perencanaan kegiatan. Untuk merealisasikan gagasan tersebut perlu dibuat rancangan kegiatan atau lazimnya disebut Proposal Kegiatan
Banyak jenis proposal kegiatan, tergantung pada jenis kegiatan yang akan dilakukan. Dalam penjelasan bagian-bagain proposal berikut merupakan gabungan dari berbagai jenis proposal kegiatan, tinggal memilih mana yang lebih relewan dengan kegiatan.
Dalam penyusunan proposal kegiatan, ada hal-hal yang perlu dibuat, antara lain:
Pendahuluan
Berisi latar belakang kegiatan, gambaran umum dan arti penting diadakannya kegiatan tersebut.
Dasar Pemikiran
Dengan mengutip peraturan-peraturan, undang-undang, dsb. Jika itu kegiatan keislaman, maka yang dikutip adalah ayat-ayuat Al-Qur’an dan hadits-hadits yang relevan dengan jenis kegiatan.
Landasan Operasional
Berupa surat tugas panitia, surat keputusan, program kerja, surat keputusan menteri, Uud, dll.
Tujuan atau maksud Kegiatan
Berisi beberapa tujuan (hasil) yang ingin dicapai melalui kegiatan yang diadakan.
Manfaat kegiatan
Membuat target manfaat yang diharapkan setelah diadakannya kegiatan tersebut.
Nama/tema dan Bentuk Kegiatan/Jenis Usaha
Berisi nama kegiatan atau temanya disertai penjelasan singkat bentuk kegiatan tersebut, misalnya: ceramah, diskusi, games, nasyid, pemutaran film, muhasabah, dll.
Waktu dan Tempat Kegiatan
Mengenai rencana waktu dan tempat, berupa hari dan tanggal, waktu pelaksanaan, dan tempat pelaksanaan.
Peserta (Anggota/Sasaran)
Menentukan peserta (sasaran) kegiatan, disesuaikan dengan tema dan jenis kegiatan.
Panitia (Pengurus)
Menyebutkan siapa yang menjadi panitia penyelenggara kegiatan atau pengurus kegiatan. Biasanya oleh suatu lembaga/badan/organisasi/yayasan, dll.
Penceramah/Pembicara/Instruktur
Menyebutkan satu atau beberapa alternatif penceramah/pembicara/instruktur yang akan mengisi kegiatan tersebut.
Materi atau Topik-topik Pembahasan
Menentukan materi atau topik yang menjadi bahan pembicaraan atau pembahasan untuk masing-masing pembicara bila pembicara lebih dari satu orang.
Sumber dana (Pemodalan)
Bebrapa alternatif renacna sumber dana, antara lain biasanya berasal dari saldo kas, donatur, dana pemerintah atau swasta, dan infak serta sponsor yang tidak mengikat dan halal.
Pemasaran
Membuat rencana pemasaran, baik menyangkut sistem, jangka waktu, sarana dan segmentasi pasar (pengelompokan),
Pembagian Keuntungan
Menentukan sistem pembagian keuntungan (bagi hasil dari saldo kegiatan yang telah dilaksanakan. Misal: 60% bagi pengusaha dan 40% bagi pemasok dana (penggalang dana)
Pengembangan Usaha
Membuat prediksi awal untuk pengembangan usaha lebih lanjut untuk masa selanjutnya setelah melihat perkembangan usaha yang dilakukan. Misal: dengan menambah jenis produk, memperluas jaringan pemasaran, melibatkan lebih banyak donatur,dsb.
Anggaran Biaya
Memperkirakan total jumlah anggaran biaya uang yang dibutuhkan dalam melaksanakan suatu kegiatan, hal ini diketahui setelah membuat anggaran biaya (dibuat oleh bendahara).
Penutup
Dalam penutup ini biasanya berisi harapan-harapan dari panitia, kalimat penetralisir apabila ada sesuatu yang belum diatrur dalam proposal kegiatan. Juga ucapan terima kasih pada semua pihak yang berhubungan atau terkait.
Setelah penutup, di bagian akhir dibuat tempat dan tanggal dibuatnya proposal dan ditandatangani oleh panitia pelaksana (biasanya ditandatangani oleh ketua dan sekretaris) dan diikuti tanda tangan pihak-pihak berwenang (diketahui oleh pihak berwenang sebagai keabsahan proposal).
Pada bagian akhir proposal dibuat lampiran-lampiran yang diperlukan, seperti:
Susulan kepanitiaan (penasehat, pembina, tim pengarah/SC, panitia pelaksanaan/OC)
Anggaran biaya, ditandatangani oleh bendahara
susunan acara
Jika acara belum dapat dipastikan, dibuat catatan bahwa sewaktu-waktu acara mengalami perubahan.
Selain proposal yang perlu menjadi perhatian adalah pembuatan laporan setelah terlaksananya suatu kegiatan.

Laporan Kegiatan

Laporan ini dibuat bagian-bagiannya dengan berpedoman pada proposal kegiatan. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu;
Tidak semua bagian yang ada dalam proposal dituliskan kembali, contoh: susunan panitia. Namun hal ini juga tergantung kebutuhannya.
Menggambarkan kondisi objektif kegiatan yang didukung oleh lampiran. Kondisi objektif ini menceritakan jalannya kegiatan dari perencanaan sampai hari pelaksanaan. Contoh: respon peserta terhadap kegiatan, masalah pencarian dana dan dukungan masyarakat terhadap kegiatan.
Evaluasi kegiatan, sehingga kekurangan/kendala dapat diantisipasi pada kegiatan serupa.
Rekomendasi yaitu rekomendasi bagi pelaksana kegiatan selanjutnya.

Beberapa poin tambahan yang sebaiknya dicantumkan sebagai lampiran pada laporan kegiatan kegiatan, seperti :
Daftar kehadiran (absensi) sebagai penunjuk jumlah peserta (anggota) yang hadir pada kegiatan tersbut.
Rekapitulasi pengeluaran dan pemasukkan dan untuk kegiatan beserta tanda bukti transaksi  yang dilakukan.
Rekapitulasi surat menyurat, baik yang dikeluarkan oleh panitia maupun yang masuk ke panitia.
Dokumentasi, dapat berupa foto-foto kegiatan.
Jika ada pengurus yang mengikuti suatu kegiatan atas nama lembaga (dalam hal ini BEM-FE) baik itu kegiatan yang bersifat lokal maupun nasional maka kepada yang bersangkutan harus membuat laporan kegiatan/laporan perjalanan dengan format yang serupa.

PEKERJAAN KECIL YANG TERLUPA

Terkadang ada beberapa pekerjaan kecil yang luput dari amatan kesekretariatan. Namun sebenarnya hal-hal tersebut penting dalam menunjang profesionalitas organisasi. Beberapa hal tersebut adalah:

Amplop Surat
Dalam pengetikan amplop, nomor surat diketik di sudut kiri atas, sedangkan alamat tujuan surat pengetikannya dimulai dari tengah-tengah amplop.
Contoh:

Amplop surat resmi dicetak berkop seperti halnya kertas surat. Untuk amplop surat yang dicetak berkop (kepala surat), penulisan nomor surat di bawah kop surat. Sedangkan untuk amplop surat tanpa kop diberi cap organisasi di sudut kiri atas.

Tanda Bukti
Tanda bukti diperlukan bila kita memasukkan suatu surat yang ditujukan kepada lembaga formal (khususnya ekstern). Blanko ini digunakan untuk bukti pengecekan ulang (konfirmasi)
Contohnya:

Formulir Pendaftaran
Formulir atau biodata dibuat untuk dipergunakan sebagai alat menjaring data yang dibutuhkan dari calon anggota atau peserta. Bila biodata lebih dari satu lembar, sebaiknya diisi oleh yang bersangkutan di rumah, atau menyediakan waktu khusus yang cukup. Hal ini dimaksudkan agar data yang diperoleh akurat dan onyektif.

Lain-lain yang Cukup Mendukung
a.    Format Absensi Rapat
Dalam format ini setidaknya dibuat nama rapat, waktu dan tempat, pemimpin rapat, nomor urut, nama, utusan, jabatan, tanda tangan.
b.    Format Hasil Rapat (Lembar Notulen)
Dalam format ini dituliskan agenda rapat dan hasil atau kesimpulan yang diperoleh dari pertemuan/rapat pengurus organisasi atau panitia pelaksana kegiatan.
c.    Format Absensi Peserta (Anggota) Kegiatan
Dalam format ini dicantumkan nama kegiatan, waktu pelaksanaan, tempat, nomor urut, nama, utusan, dan tanda tangan.
d.    Kartu (Name Tag) Peserta dan Panitia atau Kartu Anggota
Kartu merupakan sarana identitas yang bersangkutan, untuk itu harus memuat data yang bersangkutan (minimal nama dan utusan).
e.    Kwitansi
Setiap pengeluaran yang dilakukan oleh organisasi (dalam hal ini wewenang Bendahara atas izin pimpinan/ketua) harus menggunakan tanda bukti pembayaran. Tanda bukti ini digunakan sebagai bukti pemasukan atau pengeluaran yang bersumber dari keuangan intern organisasi.
f.    Piagam Penghargaan
Piagam yang akan diberikan kepada peserta dan panitia akan lebih baijk bila diberikan langsung setelah kegiatan selesai pada saat itu juga. Piagam memiliki nilai kredibilitas jika ditandatangani oleh yang berwenang, selain panitia/pengurus.
g.    Format Riwayat Hidup
Jika organisasi menyelenggarakan suatu kegiatan berupa ceramah atau seminar dan sejenisnya, perlu disiapkan format baku Daftar Riwayat Hidup yang ditujukan kepada pembicara. Biasanya selain data pribadi yang bersangkutan, juga dibuat riwayat pendidikan formal atau non formal, pengalaman organisasi, dan pengalaman kerja. Daftar Riwayat Hidup ini pun dapat ditujukan bagi pengurus atau kepanitiaan.
h.    Lain-lain yang dianggap pelru, seperti: daftar petugas piket; daftar kegiatan harian yang dilakukan oleh organisasi; format rekapitulasi peserta rapat harian; dan lain-lain.

Adafted From: Kesda BEM-FE SUMSEL KDSS ’06-’08

Proposal Global

PEMBUKAAN

Bangsa dan negara ini sedang dalam kondisi yang memprihatinkan, krisis ekonomi belum terselesaikan, krisis kepercayaan terhadap pemerintah semakin meluas, korupsi semakin merajalela, gerbong reformasi yang diusung mahasiswa hanya menjadi slogan semata sedangkan dampaknya rakyat kecil semakin terhimpit kesusahan, menderita dengan segala keadaan yang ada.
Pilar-pilar bangsa yang semakin rapuh telah menuntut dan memaksa kita anak bangsa yang masih punya tanggung jawab untuk melakukan sebuah perubahan di setiap sisi gelap negeri ini.
Pemuda sebagai penerus estafet kepemimpinan bangsa ini kedepan  seharusnya dapat memberikan kiprah yang berarti untuk perbaikan bangsa dan Negara, para pemuda harus mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, memanfaatkan dengan ikhlas ilmu pengetahuan yang mereka miliki sehingga dapat membuat perubahan bangsa ini kearah yang lebih baik.
Mahasiswa sebagai kaum intelektual muda, agent of change, sosial control dan iron stock bangsa dituntut untuk menjadi pelopor dalam memperbaiki kondisi bangsa ditengah demoralisasi, hedonisme, dan fragmatisme dengan selalu menjunjung sebuah idealisme   di setiap   gerakan   yang   dilakukan   dan   dalam   kondisi
apapun, jangan sampai mahasiswa terjebak pada sebuah kepentingan fragmatisme sesaat.
Menyinggung sosok yang namanya mahasiswa, selalu terkait dengan dimensi-dimensi tertentu untuk berekspresi atas fenomena social yang terjadi. Kehadiran mahasiswa menjadi sosial control, agens of change and Iron stock bangsa senangtiasa ditunggu masyarakat untuk menjadi analisator kenyataan yang ada, innovator dan motor penggerak perubahan dan perkembangan masyarakat. Peran seperti itu tentunya mengharuskan sikap independent dalam setiap situasi dan kondisi system yang berlaku.
Keberpihakan mahasiswa hanya dan hanya pada nilai-nilai sebuah kebenaran dan keadilan. Ketika kebenaran dan keadilan sudah tidak lagi ditegakkan maka tidak ada kata yang harus diucapkan oleh sebuah  pengusung perubahan kecuali  lawan dan hancurkan…!!! Dengan kondisi apapun kita harus percaya bahwa ketika sebuah harapan yang jauh kedepan, yakinkan bahwa kita bias menciptakan era baru yang lebih baik di masa depan. Karena yang dibutuhkan negri ini adalah manusia dengan segala kemanusiaannya biasanya menghargai masa depan dan bukan meminta masa depan menghargai dirinya, masa depan akan selalu memberi penghargaan kepada siapa saja yang menghargai masa depannya.

AZAS DAN SIFAT

Badan Eksekuitf Mahasiswa Universitas Sriwijaya berazaskan ketuhanan, kemanusiaan, persatuan , demokrasi dan keadilan.    Sifat BEM UNSRI adalah independent, otonom, demokratis dan keilmuan yang berbasis nilai kebenaran dan keadilan serta tidak berafiliasi dengan organisasi politik aktif.

STATUS DAN PERAN

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sriwijaya merupakan organisasi intra kampus yang menaungi seluruh kegiatan mahasiswa. Peran BEM UNSRI sebagai lembaga penyeimbang terhadap pihak pengelola perguruan tinggi dan pihak pemerintah.

VISI KEPENGURUSAN

Menjadi lembaga independen yang profesional, kritis, ilmiah dan mandiri dalam rangka mewujudkan UNSRI sebagai institusi pendidikan yang berkualitas demi Indonesia yang lebih mapan.
MISI KEPENGURUSAN

Membangun budaya diskusi sebagai wujud organisasi yang lebih aspiratif
Mewujudkan tradisi ilmiah dan mahasiswa UNSRI
Berjuang mewujudkan keadilan, demokrasi dan kesejahteraan mahasiswa

BUDAYA ORGANISASI

Sebagai wujud solidaritas dan rasa kepemilikan terhadap organisasi maka BEM UNSRI memiliki budaya organisasi yang disingkat dengan “CEGUAR”, yaitu :

Ciptakan    :  jangan menunggu, ciptakan dan lakukan
Empati    :  berusaha mengerti sebelum dimengerti
Genapkan    :  selalu menjadi penyempurna dalam lingkungan
Ukur    :  menyeimbangkan tanggung jawab dengan kapasitas
Akui    :  menyadari kelemahan dan kekuatan diri
Ridho    : senantiasa optimal dalam proses dan bertawakal dalam hasil

SLOGAN BEM UNSRI

“BEM UNSRI Berjuang bersama mahasiswa”
ASK (Aspiratif, Solutif dan Kritis)

SUMBER PENDANAAN

Dana-dana  BEM UNSRI bersumber dari :
Dana Kemahasiswaan
Usaha-usaha yang baik dan halal serta tidak mengikat yang diselenggarakan oleh departemen Kemitraan dan Kewirausahaan
Donatur-donatur yang tidak mengikat yang mendukung dan atau simpati terhadap kerja-kerja BEM UNSRI.

SUSUNAN PENGURUS

Struktur Pengurus
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sriwijaya
Periode 2005-2006

PEMBAGIAN KERJA

PRESIDEN MAHASISWA
Sebagai pemegang kebijakan umum tertinggi BEM Universitas Sriwijaya
Penanggung jawab seluruh kegiatan BEM Universitas Sriwijaya
Memimpin seluruh gerak dan kinerja BEM UNSRI

SEKRETARIS JENDERAL
Wewenang dan Tanggung Jawab
Sebagai pemegang kebijakan di bidang administrasi dan kesekretariatan BEM UNSRI
Bertanggung jawab dalam mengkoordinir biro-biro dibawahnya
Bertanggung jawab atas kesekretariatan dan kerumah-tanggaan BEM UNSRI
Bertanggung jawab kepada Presiden Mahasiswa dalam merumuskan kebijakan dan menjalankan kegiatan.
Tugas
Mengkonsolidasi kerja biro-biro dibawahnya
Menformulasikan dan menetapkan mekanisme kerja administrasi kesekretariatan dan kerumah-tanggaan
Membantu presiden dalam membangun kinerja umum tiap departemen agar lebih sinergis dan dinamis
Mengingatkan dan mengatur agenda-agenda kerja Presma dalam setiap harinya
BENDAHARA UMUM
Wewenang dan Tanggung Jawab
Merumuskan dan menentukan mekanisme keuangan
Mengatur distribusi dana kemahasiswaan kepada Departemen  dengan efektif dan efesien
Bertanggung jawab atas hal-hal yang berkenaan dengan keuangan BEM UNSRI
Bertanggung jawab kepada Presiden Mahasiswa dalam mengambil kebijakan dan pelaksanaan kegiatan
Tugas
Membuat laporan rutin terhadap perkembangan keuangan baik internal BEM UNSRI, DPMU, maupun UKM
Merekapitulasi asset dana BEM UNSRI

DEPARTEMEN RUMAH TANGGA
Wewenang dan Tanggung Jawab
Mengelola kesekretariatan dan kerumah-tanggaan BEM UNSRI
Mengatur mekanisme kesekretariatan dan kerumah-tanggaan
Mengelola inventaris-inventaris BEM UNSRI
Bertanggung jawab atas tempat kesekretariatan dan kerumahtanggaan
Bertanggung jawab kepada Sekretaris Umum dalam melakukan kerja-kerjanya

Tugas
Menangani hal-hal yang berkaitan dengan surat-menyurat
Melakukan pendataan dan pengarsipan laporan kegiatan serta surat masuk dan surat keluar
Mengatur jadwal piket sekretariat
Mencatat dan menjadwal agenda-agenda BEM UNSRI
Menfasilitasi keperluan bidang lain dalam hal kesekretariatan
Mendata dan mengarsipkan inventaris-inventaris BEM UNSRI
Mengusahakan pemenuhan barang-barang yang diperlukan BEM UNSRI
Memelihara dan membuat suasana kesekretariatan sebagai tempat yang nyaman bagi para Bem’ers
Mengumpulkan laporan kerja masing-masing departemen  setiap bulannya

DEPARTEMEN KEMAHASISWAAN
Wewenang dan Tanggung Jawab
Membangun hubungan dengan lembaga intern kampus dalam upaya penguatan eksistensi BEM
Menggalang kesatuan gerak lembaga intern kampus
Meningkatkan pelayanan mahasiswa
Meningkatkan kesejahteraan mahasiswa
Menjadi wadah advokasi mahasiswa
Bertanggung jawab kepada Presiden Mahasiswa dalam mengambil dan melaksanakan kebijakan
Tugas
Mendata seluruh lembaga internal kampus
Membangun hubungan antar lembaga internal kampus
Membangun upaya penguatan eksistensi BEM di mata mahasiswa
Menjadwalkan pertemuan rutin dengan KM UNSRI
Melakukan upaya penekanan pada rektorat dalam upaya perbaikan infrastuktur kampus.
Mengupayakan perbaikan pengelolaan beasiswa
Mengusahakan atas pemenuhan hak-hak mahasiswa
Mengumpulkan dan menampung aspirasi mahasiswa

DEPARTEMEN SOSIAL POLITIK
Wewenang dan Tanggung jawab
Bertanggung jawab atas permasalahan social politik dan kebijakan public BEM UNSRI dalam tataran internal kampus, regional dan nasional
Membangun hubungan dengan lembaga eksternal kampus baik antar lembaga kampus, LSM, ORMAS, OKP, dan Pemerintah
Bertanggung jawab kepada Presiden Mahasiswa dalam mengambil kebijakan dan pelaksanaan kegiatan
Tugas
Menganalisis dan merumuskan kebijakan social politik BEM UNSRI permasalahan internal kampus, regional dan nasional
Melakukan upaya pencerdasan politik dan pendidikan politik mahasiswa
Membangun wacana dan penguatan isu mengenai kebijakan social politik BEM UNSRI di tingkatan mahasiswa dan masyarakat dengan penyebaran isu dan wacana ataupun mimbar bebas.

DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMASI
Wewenang dan Tanggung Jawab
Melakukan pendataan terhadap setiap kegiatan yang dilakukan oleh Departemen
Menginformasikan dan mempublikasikan setiap kegiatan yang dilakukan oleh BEM UNSRI
Bertanggung jawab kepada Sekretaris Umum
Tugas
Melakukan upaya-upaya publikasi dan sosialisasi setiap kegiatan BEM UNSRI baik internal maupun eksternal kampus
Membuat dan mengelola Website BEM UNSRI
Membangun hubungan dengan alumni UNSRI
Bertanggung jawab kepada Sekretaris Umum
Mencari data alumni UNSRI
Melakukan upaya-upaya hubungan dengan alumni
Membuat mailing list atau sejenisnya dalam upaya membuat informasi bursa kerja

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Wewenang dan Tanggung jawab
Melakukan pengembangan tradisi ilmiah kehidupan kampus
Melakukan pengembangan dan peningkatan potensi sumber daya manusia
Bertanggung jawab kepada Presiden Mahasiswa dalam mengambil kebijakan dan pelaksanaan kegiatan
Tugas
Membangun iklim kampus yang akademis, intelektual dan kritis
Mengembangkan serta mengkomunikasikan wacana dan studi keilmuan melalui berbagai kegiatan dan media
Melakukan pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan skill keorganisasian

DEPARTEMEN PENGABDIAN MASYARAKAT
Wewenang dan Tanggung Jawab
Membangun jaringan dengan lembaga lain yang intens terhadap permasalahan kondisi sosial masyarakat
Bertanggung jawab atas upaya penguatan eksistensi BEM UNSRI di masyarakat
Meningkatkan rasa empati mahasiswa terhadap kondisi real masyarakat
Bertanggung jawab kepada Presiden Mahasiswa dalam mengambil dan melaksanakan kegiatan
Tugas
Merespon permasalahan social kemasyarakatan yang berkembang dalam tatanan regional dan nasional
Berperan aktif dalam proses pemberdayaan masyarakat dengan tetap berpijak pada identitas mahasiswa sebagai agen social control, agen perubah, dan moral force

DEPARTEMEN KEMITRAAN DAN KEWIRAUSAHAAN
Wewenang dan Tanggung Jawab
Melakukan upaya-upaya yang menjembatani profesionalisme mahasiswa dalam pengembangan skill dan keilmuannya
Menfasilitasi mahasiswa untuk bersentuhan dengan dunia kerja
Menangani hal-hal yang berkaitan pendanaan bagi setiap kegiatan BEM
Bertanggung jawab kepada Presiden Mahasiswa dalam mengambil kebijakan dan pelaksanaan kegiatan
Tugas
Membangun jaringan ke berbagai lembaga/ badan usaha atau perusahaan yang mendukung karir mahasiswa
Melakukan upaya-upaya yang berkenaan pembangunan jaringan dengan pihak-pihak yang dianggap dapat menjadi sumber dana bagi kegiatan BEM
Mengadakan kegiatan yang menghasilkan profit

POLA GERAKAN DAN KEBIJAKAN
Pola gerakan yang diterapkan oleh BEM UNSRI menyentuh dua wilayah pergerakan  :
1.    Gerakan Politik (Struktural) yang berbasiskan moralitas
Pada tataran pergerakan ini, BEM UNSRI harus mampu menjadi gerakan moral dalam memposisikan dirinya pada level politik strategis, dimana gerakan yang dilakukan menciptakan serta menjadi pelaku dalam momentum sejarah yag tepat. Ia mampu menjadi penyeimbang pemerintah dalam merumuskan kebijakan-kebijakannya untuk rakyat. Ia akan selalu menjadi elemen yang senantiasa bergerak digarda terdepan terhadap elemen kekuasaan agar tidak korup dan tiran sehingga perwujudan cita-cita kemerdekaan sebagai amanah rakyat menjadikan Negara yag adil dan makmur terwujud.
2.    Gerakan sosial kebudayaan (sosial kultur)
Sebagai kaum intelektual yang terpelajar, BEM UNSRI harus mampu memberikan pencerahan kepada masyarakatnya, baik pada tataran mahasiswanya sendiri maupun pada masyarta secara keseluruhan. Dalam hal ini BEM UNSRI harus terlibat dalam problem-prolem dasar yang dihadapi masyarakat. Ia harus mampu mempercepat tingkat kecerdasan masyarakat dalam segala bidang sehingga menjadi masyarakat yang mandiri yang mampu memperjuangkan dirinya sendiri. Sehingga rakyat telah menjadi cerdas, tidak ada lagi pembodohan-pembodohan yang dilakukan oleh penguasa, karena pada tahap ini masyarakat telah sadar akan hak, fungsi dan kewajibannya.

Kebijakan Umum , Struktur dan pola kerja
Kebijakan umum yang diambil dalam merealisasikan amanah kongres mahasiswa III terkait dengan Garis-garis Besar Haluan Program Kerja Organisasi (GBHPKO), Pola Dasar Haluan Program Kerja , Beberapa hal yang menjadi target dan bidikan dalam wilayah kerja BEM UNSRI. Secara umum meliputi  :
3.    Wilayah Internal (Dalam Kampus)
Pada wilayah ini, sasaram kerja BEM UNSRI tertuju kepada :
Elemen mahasiswa UNSRI
Pada wilayah ini program kerja yang dilakukan adalah bagaimana memperjuangkan hak-hak mahasiswa yang harus dipenuhi oleh pihak rektorat (fungsi pelayanan) dan penumbuhan  lingkungan ilmiah di kampus serta memberika penyadaran tentang fungsi dan tugasnya sebagai mahasiswa. Dalam hal ini juga menyangkut bagaimana menguatkan eksistensi BEM UNSRI danmenyatukan gerak mahasiswa serta emeberikan pencerahan pemikiran terutama pada  term-term fungsi dan tugas mahasiswa sebagai control social,agent perubah dan sebagai generasi penerus bangsa.
Elemen rektorat UNSRI
Pda wilayah ini BEM UNSRI memiliki tugas memperjuangkan aspirasi yang berasal dari mahasiswa. Hal yang paling penting adalah bagaimana membangun komunikasi yang baik sebagai penghubung antara mahasiswa dan pihak rektorat. Selain itu  BEM UNSRI harus mampu menjadi penyeimbang dalam perumusan kebijakan yang diberikan pihak rektorat.
Elemen lain
Sebagai elemen di atas, BEM UNSRI harus mampu memberikan perubahan pada unsur-unsur elemen civitas akademika. Pada wilayah ini misalnya permasalahan supir bus UNSRI yang selama ini terabaikan sebagai salah satu elemen kampus ataupun pegawai UNSRI secara umum. Beberapa hal yang harus dilakukan adalah bagaimana membangun hubungan baik  kepada mereka serta memperjuangkan nasib mereka.
2.   Wilayah Eksternal (Luar Kampus)
Pada wilayah ini, kerja BEM UNSRI ,meliputi  :
Wilayah hubungan dengan kampus lain
Pada tataran ini, BEM UNSRI, harus mampu membangun jaringan antar kampus di Indonesia terutama di wilayah sekiar Palembang dan Sumatera Selatan. Hal ini sangat penting sekali ketika BEM UNSRI memiliki agenda bersifat regional dan nasional dengan terbentuknya jaringan ini, agenda-agenda yang akan diusung agar mampu diperjuangkan bersama. Hal yang paling penting adalah bagaimana mebangun komitmen moral untuk sama-sama memperjuangkan nasib rakyat.
Wilayah Hubungan dengan LSM dan Tokoh masyarakat
Pada wilayah ini, BEM UNSRI harus mampu membangun hubungan baik, mengingta elemen ini merupakan elemen yang dapat menjadi sandaran atau pijakan tataran regional dan nasional. Membangun hubungan dalam rangka penguatan isu-isu dan informasi sangat diperlukan. Aliansi taktis dapat saja dilakukan ketika memang diperlukan.
Wilayah Pemerintah daerah
Beberapa hal yang menjadi fokus utama dalam wilayah ini adalah bagaimana mengawasi pemerintah daerah dalam menjalankan otonomi daerah. Hal terpenting adalah bagaimana menjadi penyeimbang dalam perumusan kebijakan daerah yang teruitama harus ditujukan pada rakyat kecil, menengah serta membangun tewujudnya pemerintahan yang bersih dan berwibawa. BEM memandang bahwa setiap upaya perbaikan dan pembangunan yang dilakukan dalam masyarakat, selama tidak bertentangan dengan azas dan manfaat serta logika gerakan mahasiswa adalah usaha positif yang akan didukug secara optimal dan proporsional. Dalam menjalankan fungsi control, BEM UNSRI akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari cara-cara yang tidak ilmiah dan bermoral serta tidak berwawasan etis.
Wilayah Nasional
Pada wilayah ini BEM UNSRI akan terus mengusung enam visi reformasi sebagai sebuah cek yang harus dijalankan oleh pemerintah dan amanah yang harus dijalankan, terutama dalam hal penegakan supremasi hukum , pemberantasan kolusi, korupsi dan nefotisme (KKN), otonomi daerah dan demokrasi yang egaliter.

PROFIL  DEPARTEMEN

Departemen Rumah Tangga
Sesuai dengan visinya yaitu “ BEM Ku Istanaku” maka biro ini berusaha menfasilitasi dan menjadikan sekret BEM sebagai rumah kedua bagi para BEM’ers. Disamping itu departemen ini membantu sekretaris umum dalam mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan surat-menyurat.

Departemen Kemahasiswaan (DEWA)
Merupakan departemen yang tugasnya mengoptimalkan fungsi dan peran BEM UNSRI dalam menjembatani aspirasi mahasiswa sebagai bagian dari civitas akademika dan memperkuat eksistensi BEM di Internal kampus UNSRI dalam membangun hubungan dengan lembaga lain, serta menjadi wadah advokasi mahasiswa. Terbagi menjadi dua biro yaitu biro Advokasi dan biro Hubungan Internal.

Departemen Sosial Politik (SOSPOL)
Bertanggung   jawab  atas   permasalahan  social   politik  dan
kebijakan public BEM UNSRI dalam tataran internal kampus, regional dan nasional dengan melakukan analisa serta merumuskan kebijakan. Terdiri dari dua divisi yaitu Divisi Kajian Strategis dan Divisi Aksi. Departemen ini dikhususkan untuk memperkuat eksistensi BEM UNSRI di tataran Eksternal kampus.

Departemen Komunikasi dan Informasi (MEKINFO)
Departemen ini utamanya bergerak dalam pembangunan wacana dan penguatan isu mengenai kebijakan BEM UNSRI serta melakukan riset dan pendataan atas isu-isu yang terjadi. Hal lainnya adalah menjembatani informasi baik eksternal maupun internal kampus. Terbagi menjadi dua divisi yaitu Divisi Riset & Data serta Divisi Humas dan Media.

Departemen Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan (P& I)
Melakukan pengembangan dan peningkatan potensi sumber daya manusia khususnya mahasiswa UNSRI dalam kaitannya dengan tradisi keilmiahan kehidupan kampus melalui pelatihan-pelatihan, serta studi keilmiahan sehingga dapat membangun iklim kampus yang akademis, intelektual dan kritis.

Departemen Pengabdian Masyarakat (PENGMAS)
Ruang lingkup kerjanya lebih intens terhadap permasalahan kondisi social masyarakat kemudian meresponnya melalui kegiatan yang bersifat social ataupun upaya advokasi sehingga dapat memperkuat eksistensi BEM UNSRI dan mahasiswa di masyarakat.
Departemen Kemitraan dan Kewirausahaan (KEMIRU)
Bergerak lebih eksternal kampus dalam memfasilitasi mahasiswa untuk bersentuhan dengan dunia kerja dengan jalan menjalin mitra ke berbagai lembaga/ badan usaha atau perusahaan yang mendukung karir mahasiswa. Diharapkan dengan adanya departemen ini dapat menjadi sumber dana bagi kegiatan BEM atau mahasiswa

TEMPAT DAN KEDUDUKAN

BEM UNSRI berkedudukan di gedung perpustakaan  Kampus UNSRI Inderalaya Ogan Ilir Suimatera Selatan 30662, Hp : 081367044671. Website : www.bemunsri.com

Rancangan Program Kerja Satu tahun dan Anggaran Rutin Tahunan BEM UNSRI
Periode 2005 – 2006
Kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sriwijaya Periode 2005 – 2006 terhitung mulai bulan Desember 2005 sampai berakhirnya kepengurusan pada bulan Desember 2006. Untuk itu kami telah menyusun rancangan program kerja unggulan selama satu tahun kepengurusan yang akan dilakukan oleh masing-masing departemen yang ada di dalam kabinet kepengurusan BEM UNSRI periode 2005 – 2006. Adapaun program – program kerja unggulan tersebut dan rincian lebih lanjut mengenai program kerja tersebut adalah sebagai berikut :

1. Seminar BHP
Waktu Pelaksanaan
Bulan Mei
Tempat Pelaksanaan
Auditorium Unsri Inderalaya
Ÿ    Panitia Pelaksana
Panitia utama Departemen Sosial dan   Politik dan seluruh   anggota BEM UNSRI
Sasaran
Seluruh Mahasiswa Universitas Sriwijaya
Ÿ    Tujuan Kegiatan
Untuk memberikan informasi kepada mahasiswa tentang Badan Hukum Pendidikan (BHP).
Prakiraan Anggaran
1. -  Jumlah peserta        : 1000 orang
-  Akomodasi peserta    : @ Rp. 2.000
-  Waktu pelaksanaan    : 2 hari
Total Anggaran 1    : 100 x Rp. 2.000 x 2  = Rp. 4.000.000,-
2. -  Jumlah panitia        : 30 orang
-  Akomodasi panitia    : @ Rp. 10.000
-  Waktu pelaksanaan    :  2 hari
Total Anggaran 2    : 30 x Rp. 10.000 x 2      = Rp. 600.000,-
3.  Biaya tak terduga
Rp. 460.000,00 (10% dari Total Anggaran 1 dan 2)
Total Anggaran
Total Anggaran 1 + Total Anggaran 2 +   Biaya tak terduga
Rp. 4.000.000,00 + Rp. 600.000,00 + Rp. 460.000,00
= Rp. 5.160.000,00

2. Latihan Dasar Kepemimpinana Mahasiswa (LDKM) Tingkat
Universitas
Waktu Pelaksanaan
Mei 2006
Tempat Pelaksanaan
Kampus Universitas sriwijaya Inderalaya
Ÿ    Panitia Pelaksana
Panitia utama Departemen Kemahasiswaan BEM UNSRI + seluruh          anggota BEM UNSRI
Sasaran
Perwakilan seluruh BEM Fakultas, UKM, BO, HMJ, di  Universitas Sriwijaya dan seluruh anggota BEM UNSRI
Tujuan Kegiatan
Untuk membekali para mahasiswa jiwa kepimimpinan dan organisatoris yang handal dan diharapkan dapat membentuk karakter mahasiswa yang tangguh sebagai generasi penerus bangsa.
Prakiraan Anggaran
1. -  Jumlah peserta        : 100 orang
-  Akomodasi peserta    : @ Rp. 50.000
-  Waktu pelaksanaan    : 3 hari
Total Anggaran 1    : 100 x Rp. 50.000 x 3  = Rp. 15.000.000,-
2. -  Jumlah panitia        : 30 orang
-  Akomodasi panitia    : @ Rp. 50.000
-  Waktu pelaksanaan    : 3 hari
Total Anggaran 2    : 30 x Rp. 50.000 x 3      = Rp. 4. 500.000,-
3.  Biaya tak terduga
Rp. 1. 950.000,00 (10% dari Total Anggaran 1 dan 2)
4.  Total Anggaran
Total Anggaran 1 + Total Anggaran 2 + Biaya tak terduga
Rp. 15.000.000,00 + Rp. 4.500.000,00 + Rp. 1.950.000,00
= Rp. 21. 450.000,00
3.  UNSRI EXPO
Waktu Pelaksanaan
Desember 2006
Tempat Pelaksanaan
Auditorium Unsri Indralaya
Panitia Pelaksana
Panitia utama Dep. Kemahasiswaan  +  seluruh  anggota BEMU
Sasaran
Seluruh civitas akademika Unsri
Tujuan Kegiatan
Memberikan Pelayanan yg Menyentuh pada Sisi Kemahasiswaan
Bentuk Kegiatan
Seminar, Pelatihan, Pelayanan Kesehatan dan Aksi Sosial Internal Kampus serta Bazaar.
Prakiraan Anggaran
1. -  Jumlah peserta        : 500 orang
-  Akomodasi peserta    : @ Rp. 30.000
-  Waktu pelaksanaan    : 5 hari
Total Anggaran 1    : 500 x Rp. 30.000 x 5   = Rp. 75.000.000,00
2. -  Jumlah panitia        : 50 orang
-  Akomodasi panitia    : @ Rp. 30.000
-  Waktu pelaksanaan    : 5 hari
Total Anggaran 2    : 50 x Rp. 30.000 x 5     = Rp. 7. 500.000,00
3. Biaya tak terduga        : (10% dari Total Anggaran 1 dan 2)
= Rp. 1. 650.000,00
4. Total Anggaran
Total Anggaran 1 + Total Anggaran 2 + Biaya tak terduga
=  Rp. 15.000.000,00 + Rp. 1.500.000,00 + Rp. 1.650.000,00
= Rp. 18. 150.000,00

4. Bakti Sosial BEM UNSRI
Gerakan Peduli Masyarakat Pinggiran
Waktu Pelaksanaan
Oktober
Tempat Pelaksanaan
Indralaya
Panitia Pelaksana
Panitia utama Departemen Pengabdian Masyarakat  BEM UNSRI  +  seluruh  anggota BEM UNSRI bekerja sama dengan Dinas Sosial Provinsi Sumatera Selatan dan pihak terkait lainnya.
Sasaran
Masyarakat pinggiran ( kaum dhuafa) di sekitar Ogan Ilir.
Tujuan Kegiatan
Untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat kota Palembang pada umumnya dan khususnya mahasiswa terhadap kondisi kehidupan masyarakat pinggiran di sekitar kota Palembang
Bentuk Kegiatan
Healty Care (pelayanan Kesehatan) gratis, penyuluhan kesehatan dan pembagian sembako murah.
Prakiraan Anggaran
1. -  Jumlah peserta        : 500 orang
-  Akomodasi peserta    : @ Rp. 50.000
-  Waktu pelaksanaan    : 1 hari
Total Anggaran 1    : 500 x Rp. 50.000 x 1   = Rp. 25.000.000,00
2. -  Jumlah panitia        : 50 orang
-  Akomodasi panitia    : @ Rp. 10.000
-  Waktu pelaksanaan    : 1 hari
Total Anggaran 2    : 50 x Rp. 10.000 x 1      = Rp. 500.000,00
3. Biaya tak terduga        : (10% dari Total Anggaran 1 dan 2)
= Rp. 2. 550.000,00
4. Total Anggaran
Total Anggaran 1 + Total Anggaran 2 + Biaya tak terduga
=  Rp. 25.000.000,00 + Rp. 500.000,00 + Rp. 2.550.000,00
=  Rp. 28. 050.000,00

5. BEM’S on Sport
Waktu Pelaksanaan
Start Bulan April, 1 minggu sekali
Tempat Pelaksanaan
Lapangan Gedung Rektorat
Panitia Pelaksana
Panitia utama Departemen Pengabdian Masyarakat BEM UNSRI  +  seluruh  anggota BEM UNSRI bekerja sama dengan pihak – pihak terkait lainnya
Sasaran
Seluruh civitas akademika Unsri beserta masyarakat umum
Tujuan Kegiatan
Mengaktifkan kembali kampus Unsri Indralaya pada hari-hari libur,
menjalankan gerakan hidup sehat, serta membangun keakraban
dan silaturrahim.
Bentuk Kegiatan
Senam bersama + doorprize
Prakiraan Anggaran
Rp. 3.200.000,00

6. AKARI (Ajang Kreasi Anak Negeri)
Waktu Pelaksanaan
Agustus
Tempat Pelaksanaan
Monumen Perjuangan Rakyat (MONPERA)
Panitia Pelaksana
Seluruh Departemen dan Biro yang ada  bekerja sama dengan pihak – pihak yang terkait
Sasaran
Mahasiswa, Pelajar (TK – SMU), anak jalanan dan pengamen jalanan, serta masyarakat umum.
Tujuan Kegiatan
Untuk menyemarakkan hari kemerdekaan Republik Indonesia dan menumbuhkan rasa persatuan & kesatuan di seluruh lapisan masyarakat
Bentuk Kegiatan
Sunatan massal, Ajang Seni dan Budaya, Lomba – lomba, Panggung Rakyat, Bazaar,  Pelayanan kesehatan,  Aksi Simpatik, dan Penggalangan dana untuk para pengungsi di daerah konflik di seluruh Indonesia.
Prakiraan Anggaran
1. -  Jumlah peserta        : 500 orang
-  Akomodasi peserta    : @ Rp. 20.000
-  Waktu pelaksanaan    : 1 hari
Total Anggaran 1    : 500 x Rp. 20.000 x 1   = Rp. 10.000.000,00
2. -  Jumlah panitia        : 50 orang
-  Akomodasi panitia    : @ Rp. 20.000
-  Waktu pelaksanaan    : 1 hari
Total Anggaran 2    : 50 x Rp. 20.000 x 1    = Rp. 1. 000.000,00
3. Biaya tak terduga        : (10% dari Total Anggaran 1 dan 2)
= Rp. 1. 100.000,00
4.  Total Anggaran
Total Anggaran 1 + Total Anggaran 2 + Biaya tak terduga
=  Rp. 10.000.000,00 + Rp. 1.000.000,00 + Rp. 1.100.000,00
= Rp. 12. 100.000,00

7. Pekan Raya Mahasiswa (PRM)
Waktu Pelaksanaan
November 2006
Tempat Pelaksanaan
Auditorium Universitas Sriwijaya
Panitia Pelaksana
Panitia utama Departemen Kemiru BEM UNSRI  +  seluruh  anggota
BEM UNSRI bekerja sama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di Universitas Sriwijaya
Sasaran
Seluruh civitas akademika di Universitas Sriwijaya
Tujuan Kegiatan
Untuk mempererat tali silaturahmi antara seluruh civitas akademika di Universitas Sriwijaya dan menumbuhkan rasa kecintaan terhadap almamater.  Menambah Wawasan Mahasiswa, Sarana Penyaluran Minat dan Bakat, serta Sarana Hiburan yang Positif bagi Para mahasiswa.
Bentuk Kegiatan
Seminar, Perlombaan, Fun Competition,  Ajang Seni dan Budaya, Lomba – lomba, Bazaar,  dan lain-lain.
Prakiraan Anggaran
1. -  Jumlah peserta        : 500 orang
-  Akomodasi peserta    : @ Rp. 30.000
-  Waktu pelaksanaan    : 2 hari
Total Anggaran 1    : 500 x Rp. 30.000 x 2   = Rp. 30.000.000,00
2. -  Jumlah panitia        : 50 orang
-  Akomodasi panitia    : @ Rp. 30.000
-  Waktu pelaksanaan    : 2 hari
Total Anggaran 2    : 50 x Rp. 30.000 x  2     = Rp. 3. 000.000,00
3. Biaya tak terduga        : (10% dari Total Anggaran 1 dan 2)
= Rp. 3.300.000,00
4. Total Anggaran
Total Anggaran 1 + Total Anggaran 2 + Biaya tak terduga
=  Rp. 30.000.000,00 + Rp. 3.000.000,00 + Rp. 3.300.000,00
= Rp. 36. 300.000,00

8. Pengaktifan Lembaga Bahasa (LB) Unsri
Sasaran
Mahasiswa & Umum
Bentuk Kegiatan
Pembagian Quistioner, Loby pihak LB Unsri
Waktu
Maret
Tempat
LB Unsri Indralaya
Perkiraan Anggaran
Rp. 50.000,00

9.  Buka Puasa Bersama
w    Sasaran
Pengurus BEMU, Gakin
w    Mekanisme Kegiatan
Buka puasa pengurus BEMU bersama keluarga miskin sekaligus penutupan acara Bakti Sosial
w    Waktu
Oktober
w    Tempat
Masjid Al-Hijrah Indralaya
w    Perkiraan Anggaran
Rp. 3.000.000,00

10. Thanks Giving For Drivers
w    Sasaran
Supir Bus Pasar
w    Mekanisme Kegiatan
Pemilihan Bus Favorit, tersebar quistioner, lomba antar supir bus
w    Waktu
Desember
w    Tempat
Terminal Bus Unsri
w    Perkiraan Anggaranl
Rp. 1.000.000,00
w    Parameter Keberhasilan
Terpilih Bus Favorit, Terbina Hubungan Harmonis dengan supir bus

11. Hari Bersih Unsri
w    Sasaran
Civitas Akademika Unsri, Kantin
w    Mekanisme Kegiatan
Lomba Kebersihan Antar Fakultas
w    Waktu
Oktober
w    Tempat
Unsri Indralaya
w    Perkiraan Anggaran
Rp. 500.000,00
w    Parameter Keberhasilan
Tercipta Kampus Unsri yang Bersih dan Nyaman

12. BEMER’S GO TO SCHOOL
w    Sasaran
SMU di Indralaya
w    Mekanisme Kegiatan
Mengadakan Penyuluhan Narkoba dan Sex Education, Kerjasama dengan pihak kepolisian, dokter dan psikiater
w    Waktu
April
w    Tempat
Sekolah
w    Perkiraan Anggaran
Rp. 500.000,00

13. SEMINAR/BEDAH BUKU/PELATIHAN
w    Tujuan
Menambah dan Mengembangkan Wawasan Keilmuan Masyarakat, Khususnya Mahasiswa
w    Target
Eksistensi Lembaga, Terjalinnya Hubungan dengan Pihak Eksternal,
serta PROFIT ORIENTED
w    Sasaran
Mahasiswa dan Masyarakat Umum
w    Bentuk
Seminar, Bedah Buku, Pelatihan
w    Time Schedule
Insidental

14. CO (CAMPUS OUTLET)
Tujuan
Menciptakan Usaha Mandiri dalam Lingkup Internal Kampus
Target
Eksistensi Lembaga, Tersedianya Pemasukan Keuangan yang tetap, serta Sarana Aktualisasi bagi Para Mahasiswa dalam Bidang Kewirausahaan
Sasaran
Mahasiswa dan Seluruh Civitas Akademika
Bentuk
Usaha Mandiri yang Menyediakan Kebutuhan Mahasiswa
Time Schedule
Selama Pengurusan 2005 – 2006

15. PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN
Tujuan
Memberikan dan Menambah Wawasan Mahasiswa dalam       Bidang Kewirausahaan
Target
Menciptakan Mahasiswa yang Kokoh dan Mandiri secara Finansial, serta Membangun Jaringan Kemitrausahaan dengan Seluruh Organisasi Internal Kampus
Sasaran
Seluruh Organisasi Internal Kampus
Bentuk
Pelatihan
Time Schedule
April 2006

16. UNSRI BOOK FAIR
Tujuan
Memfasilitasi Mahasiswa dalam Memenuhi Kebutuhan terhadap Referensi Buku Bacaan.
Target
Eksistensi Lembaga serta Memberikan Pemasukan Keuangan
Sasaran
Mahasiswa UNSRI
Bentuk
Bazaar Buku
Time Schedule
Maret 2006

17. OPTIMALISASI PERAN ALUMNI UNSRI
Tujuan
Mengoptimalkan Peran Alumni dalam Membantu Kegiatan Kemahasiswaan
Target
Terbangunnya Silaturahim antara Mahasiswa dengan Para Alumni sehingga dapat Memberikan Bantuan Moril maupun Materil terhadap Kegiatan Kemahasiswaan
Sasaran
Alumni UNSRI
Bentuk
Silaturahmi antara Mahasiswa dengan Para Alumni atau Pengiriman Kartu Ucapan kepada Para Alumni
Time Schedule
Sesuai Kesepakatan

18. PAKU ALAM
Tujuan
Menjalin hubungan dengan Ormawa ditingkat fakultas. Sebagai sarana untuk dengar pendapat dari mahasiswa ditingkat fakultas.
Sasaran
Mahasiswa, Ormawa di tingkat fakultas
Tempat Kegiatan
Fakultas msing-masing
Waktu Pelaksanaan
Mulai Bulan Mei
Deskripsi Kegiatan
Sharing, Diskusi dan Tanya Jawab
Estimasi Dana
Rp. 1.000.000,- untuk 8 kali Kegiatan

19. Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB)
Tujuan
Membantu dan memfasilitasi mahasiswa baru. Sebagai sarana Informasi dan mahasiswa baru
Sasaran
Mahasiswa baru angkatan 2006
Tempat Kegiatan
Poliklinik dan Auditorium Unsri
Waktu Pelaksanaan
Juli, Agustus dan September 2006
Deskripsi Kegiatan :
Membuka posko pelayanan informasi dan pengaduan/advokasi. Membuat profil BEM UNSRI dan Tentang Kampus Unsri
Estimasi Dana
Rp. 10.000.000,00

20. DISKUSI KENAIKAN SPP
Tujuan
Untuk membahas dampak kenaikan SPP terhadap Mahasiswa dan solusinya
Sasaran
Seluruh Ormawa Kampus
Tempat Kegiatan
Sekretariat BEM  UNSRI
Waktu Pelaksanaan
Sesuai kebutuhan
Deskripsi Kegiatan
Membuat Kuisioner dan diskusi dgn ormawa

21. Desain dan pengaktifan Website BEM UNSRI
Tujuan
Sebagai sarana komunikasi online BEMU dengan masyarakat dan civitas akademika, Progress report kegiatan BEMU secara berkala dan up to date, Pencerdasan IT staff Kementrian Komunikasi dan Informasi pada khususnya, mahasiswa UNSRI pada umumnya
Targetan peserta
Staff Kementrian Komunikasi dan Informasi, BEM UNSRI
Sifat Kegiatan
Insidental
Dana:
Rp. 100.000,00

22. Up load dan Up date data web BEM UNSRI
Tujuan
Informasi, komunikasi, dan progress report yang up to date sesuai dengan kondisi yang sedang terjadi
Targetan peserta
Staff Kementrian Komunikasi dan Informasi BEM UNSRI
Sifat kegiatan
Rutinitas per minggu
Dana
@ Rp. 20.000,00 x 48  =  Rp. 960.000,00

23. Co card wartawan
Tujuan
Identitas staff Kementrian Komunikasi dan Informasi BEM UNSRI dalam mengumpulkan berita. Profesionalisme kerja
Targetan peserta
Staff Kementrian Komunikasi dan Informasi BEM UNSRI
Sifat kegiatan
Insidental
Dana
@ Rp. 20.000,00 x 10  = Rp. 200.000,00

24. Pengumpulan, penyimpanan data mahasiswa UNSRI
Tujuan
Memperoleh data mahasiswa se-UNSRI secara kuantitatif, Pusat data BEM UNSRI, Sebagai sarana politis dan bukti konkret  untuk mengkritisi pihak-pihak terkait
Targetan peserta
Staff Kementrian Komunikasi dan Informasi BEM UNSRI
Sifat kegiatan
Insidental
Dana
Rp.100.000,00

25. Seminar Informasi dan Teknologi
Tujuan
Pencerdasan mahasiswa pada umumnya terhadap perkembangan Informasi dan Teknologi dan Silaturahmi BEM se-Indonesia
Targetan peserta
Seluruh perwakilan BEM se-Indonesia (Nasional)
Sifat kegiatan
Kondisional
Dana:
Rp. 50.000.000,00

26. Pelatihan IT
Tujuan:
Pencerdasan mahasiswa pada umumnya di bidang Itdan Silaturahmi BEM se-Sumsel
Targetan peserta
Seluruh perwakilan BEM se-Sumsel
Sifat kegiatan
Kondisional
Dana:
Rp. 1.000.000,00

27. Kunjungan kerja ke  media
Tujuan
Pencerdasan staff BEM UNSRI terhadap perkembangan media elektronik dan IT
Targetan peserta
Staff BEM UNSRI
Sifat kegiatan
Kondisional
Dana
Rp. 200.000,00

28. Pembuatan Mading BEM UNSRI
Tujuan:
Informasi kegiatan BEM UNSRI selama jangka waktu tertentu dan Pencerdasan staff BEM UNSRI
Targetan peserta
Staff Kementrian Komunikasi dan Informasi BEM UNSRI
Jenis kegiatan
Kondisional
Dana:
Rp. 160.000,00

Anggaran Rutin Tahunan BEM UNSRI Periode 2005 – 2006

Dengan telah terbentuknya kepengurusan baru Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sriwijaya Periode 2005 – 2006 diharapkan dapat membawa perubahan yang semakin baik di lingkungan Universitas Sriwijaya. Untuk itu diperlukan dukungan penuh dari komponen – komponen organisasi ini agar roda organisasi dapat berjalan lancar dan sebagaimana mestinya. Salah satu komponen utama suatu organisasi adalah Kesekretariatan. Kesekretariatan merupakan dermaga atau rumah kedua bagi para anggota BEM yang mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan jalannya roda organisasi serta anggotanya.
Untuk itu kami Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sriwijaya Periode 2005 – 2006 dengan ini menganggarkan Anggaran Rutin Tahunan BEM Universitas Sriwijaya Periode 2005 – 2006.
Dari anggaran rutin tersebut diharapkan dapat membantu berjalannya roda organisasi dengan lancar untuk mencetak mahasiswa sebagai intelektual muda, agent of change, social control dan Iron stock bangsa yang dapat menjadi pelopor dalam memperbaiki kondisi bangsa.

ANGGARAN PERLENGKAPAN
BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PERIODE 2005 – 2006

No.    Alokasi Anggaran    Jumlah    Total anggaran
1.    Pembelian 1 unit scanner    Rp.    500.000,00
2.    Pembelian 1 unit komputer    Rp. 5.000.000,00
3.    Pembelian 1 buah dispenser    Rp.    200.000,00
4.    Pembelian 1 unit Printer    Rp.    500.000,00
5.    Pembelian 2 unit File Cabinet    Rp.    500.000,00
6.    Pembelian 1 unit Rak Buku    Rp.    100.000,00
7.    Pembelian 2 Buku Arsip Surat     Rp.     25.000,00
8.    Pembelian 1 Papan Triplek Time Schedule    Rp.     50.000,00
TOTAL ANGGARAN    Rp. 6.875.000,00

ANGGARAN BULANAN
BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PERIODE 2005 – 2006

No    Alokasi Anggaran    Jumlah    Total Anggaran
1.    Pengadaan ATK
·1    1Kotak Spidol White Board
·2    1 Kotak Pena
·3    2 Kotak Disket
·4    1 Rim Kertas HVS Folio
·5    1 Rim Kertas HVS Quarto
·6    1 Kotak Amplop
·7    1 Lakban Hitam
·8    1 Isolatif Besar
·9    1 Kotak isi stamples
·10    1 Buah Stamples
·11    2 Tinta Komputer
·12    5 Buah Map Plastik
SubTotal
Rp.   50.000,00
Rp.   25.000,00
Rp.   60.000,00
Rp.   25.000,00
Rp.   25.000,00
Rp.   15.000,00
Rp.     7.500,00
Rp.     5.000,00
Rp.     5.000,00
Rp.     7.500,00
Rp.     50.000,00
Rp.     25.000,00

Rp.    300.000,00
2.    Voucher Presma    Rp.  110.000,00    Rp.    110.000,00
3.    Langganan Koran (Kompas, Sumatra Ekspres, Sriwijaya Post)    Rp.  150.000,00    Rp.    150.000,00
4.    Cetak Buletin BEM    Rp.    50.000,00    Rp.      50.000,00
5.    Cetak Kop Surat & Amplop    Rp.    50.000,00    Rp.      50.000,00
Total Anggaran    Rp.    660.000,00

TOTAL ANGGARAN
PROGRAM KERJA SATU TAHUN
BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PERIODE 2005 – 2006

No.    Program Kerja    Jumlah Anggaran    Total anggaran
1.    Seminar BHP    Rp. 5.160.000,-
2.    Latihan Dasar Kepemimpinana Mahasiswa (LDKM) Tingkat Universitas    Rp. 21.450.000,-
3.     UNSRI EXPO    Rp. 18.150.000,-
4.    Baksos (Gerakan Peduli Masyarakat Pinggiran)    Rp. 28.050.000,-
5.    BEM’S on Sport    Rp. 3.200.000,-
6.    AKARI (Ajang Kreasi Anak Negeri)    Rp.  12.100.000,
7.    Pekan Raya Mahasiswa (PRM)    Rp. 36.300.000,-
8.    Pengaktifan Lembaga Bahasa (LB) UNSRI     Rp. 50.000,-
9.    Buka Puasa Bersama    Rp. 3.000.000,-
10.    Thaks Giving For Drivers    Rp. 1.000.000,-
11.    Hari Bersih UNSRI    Rp. 500.000,-
12.    BEM’ers Go To School    Rp. 500.000,-
13.    Seminar/Bedah Buku/ Pelatihan    Rp. 5.000.000,-
14.    CO (Campus Outlet)    Rp. 500.000,-
15.    Pelatihan Kewirausahaan    Rp. 5.000.000,-
16.    Optimalisasi Peran Alumni UNSRI    Rp. 500.000,-
17.    PAKU ALAM    Rp. 1.000.000,-
18.    Penerimaan Mahasiswa Baru    RP. 10.000.000,-
19.    Diskusi Kenaikan SPP    Rp. 500.000,-
20.    Desain dan Pengaktifan Website BEM UNSRI    Rp. 100.000,-
21.    Up Load dan Up Date Web BEM UNSRI    Rp. 960.000,-
22.    UNSRI BOOK FAIR    Rp. 500.000,-
23.    Co Card wartawan    Rp. 200.000,-
24.    Pengumpulan, Penyimpanan data mahasiswa    Rp. 100.000,-
25.    Seminar Informasi dan Teknologi    Rp. 50.000.000,-
26.    Pelatihan IT    Rp. 1.000.000,-
27.    Kunjungan kerja ke media    Rp. 200.000,-
28.    Pembuatan Mading BEM UNSRI    Rp.  160.000,
TOTAL ANGGARAN    Rp. 205.180.000,

TOTAL ANGGARAN
PROGRAM KERJA SATU TAHUN DAN ANGGARAN RUTIN TAHUNAN
BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PERIODE 2005 – 2006

No.    Program Kerja    Jumlah    Total anggaran
1.    PROGRAM KERJA SATU TAHUN    Rp. 205.180.000,-
2.    ANGGARAN RUTIN TAHUNAN    Rp.    6.875.000,-
3.    ANGGARAN RUTIN BULANAN ( x 10 Bulan)    Rp.    6.600.000,-
TOTAL ANGGARAN    Rp. 218.655.000,-

PENUTUP
Demikianlah Rencana Program Kerja Satu Tahun dan Anggaran Rutin Tahunan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sriwijaya Periode 2005 – 2006 kami rancang sebagai acuan langkah kerja kami selanjutnya dan demi kelancaran berjalannya roda organisasi.
Diharapkan melalui program – program kerja tersebut dapat dijadikan sebagai wadah pembinaan dan penyaluran potensi mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa di masa yang akan datang  yang dapat diandalkan untuk membawa bangsa ini pada bangsa yang berperadaban tinggi dengan sumber daya manusia yang berkualitas secara intelektual dan moral.
Namun semua harapan itu hanya akan menjadi sekedar wacana dan inpian saja jika kami Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sriwijaya Periode 2005 – 2006 tidak mendapat bantuan serta sokongan positif dari semua pihak.
Semoga apa yang telah kita programkan dan cita-citakan ini dapat menjadi amal ibadah kita semua, Amin.

Mengetahui,
Badan Eksekutif Mahasiswa
Universitas Sriwijaya

Sonny Kurniawan
NIM : 03023150002
KETENTUAN DONATUR

Sumbangan bersifat tidak mengikat
Sumbangan dapat diberikan kapanpun, tidak terikat oleh waktu.
Tidak menutup kemungkinan bagi Donatur untuk menyumbang dalam bentuk uang atau barang.
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi :
Phone :
Ø    081367044671/081373600735 (Sonny K)
Ø    081373413887 (Iqbal Dahsat)
Ø    081367393185 (Andi Antoro)
Ø    08153857850 (Marisa)
Website : www.bemunsri.com
Pengiriman uang dalam bentuk wesel pos dapat  dialamatkan kepada :
Atas Nama     :    BEM UNSRI
Alamat     : Gedung perpustakaan Lt. 1 Kampus UNSRI Inderalaya Km 32

LEMBAR PERSETUJUAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
1. Nama    :
2. Pekerjaan    :
3. Alamat    :
a. Rumah    :

b. Kantor    :
4. No.Telp/Hp    :

dengan ini menyatakan BERSEDIA menjadi donatur bagi Badan Eksekutif Mahasiswa periode 2005-2006.

Cara Pengiriman Bantuan Dana*)
Diambil
Dikirim melalui Wesel
Transfer Rekening

…………,…………………….
Donatur

(…………………………)
*)lingkari yang disetujui