Investor Unsri gagal Invest di Muara enim

Jum’at tanggal 5 Desember 2008. Empat orang calon investor sukses mencoba survey muara enim, tanpa modal, tanpa strategi bisnis tapi dengan keinginan yang kuat untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses.
impian itulah yang menguatkan kami untuk tetap datang ke muara enim untuk meninjau lokasi yang jika tidak ada halangan nantinya akan kami buka toko baju. tapi apa daya, muara enim kabupaten tanah abang belum bisa kami jadikan tempat investasi untuk saat ini. setidaknya ada beberapa alasan yang membuat kami belum mau invest disana :
1. 90% penghasilan masyarakat adalah karet dan sekarang harga karet sedang turun drastis.
2. lokasi yang akan kami jadikan tempat tidak strategis, karena sudah ada orang jual baju dan penduduknya rata-rata pedagang.
3. masyarakat tanah abang lebih suka kredit dari cash.
4. infrastuktur yang belum baik karena mobil kami sempat jeblok untuk masuk kesana.
inilah beberapa hal yang membuat kami belum bisa invest di tanah abang.
kami tidak kecewa karena survey yang kami lakukan belum berhasil dan untuk menggantikan semua itu, kami lalu jalan-jalan mengelilingi muara enim, tanjung enim dan prabumulih yang berakhir di sungai bedegung yang sedang dilanda hujan pada saat itu.
tidak hanya hujan di air terjun bedegung yang membuat kami prihatin tapi banyak pengalaman-pengalaman yang jarang terjadi. mungkin teman-teman belum pernah melihat ada biawak jalan dipingir jalan raya, buaya yang ada di pulau dangkal tetapi ada orang desa yang ikut mandi di dekat buaya tersebut, sapi, anjing, kucing , ayam dan bebek yang fashion show seperti pragawati sedang jalan di catwalk atau teman-teman mau lihat nenek-nenek perkasa yang selalu mengelilingi desa tanah abang untuk berjualan.
tidak hanya itu keanehan yang bisa saya lihat tapi kepedihan juga kami rasakan. hal ini terjadi karena kami telat pulang dan hari sudah menunjukkan sekitar jam 8 malam, maka kami takut pulang karena jalan yang akan kami lewati cukup buruk, tapi tidak langsung menyerah tapi kami mencoba dulu untuk melewati jalan tanah merah yang sudah lembut karena terguyur hujan. bukan sampai rumah yang kami dpapatkan, tapi kami harus turun mobil dan mendorongnya karena mobil kami terperosok, dan akhirnya dengan perasaan cemas kami putuskan untuk mencari pom bensin dan bermalam di sana. malam itu akan menjadi malam pertamaku tidur di pom bensin..hehehe
hujan dintik-rintik, uhhh ngeri banget tapi alhamdulillah gue tetap bisa tidur..hehehe
pengalaman yang sulit dilupakan, semoga aja proses ini bisa membuat kami jadi investor yang sukses..Aamin.
mau tau para investor itu??? lihat foto-foto calon orang sukses ini…

Thanks to : Ibu wulan yang udah mau nyetir dari palembang-muara enim-tanjung enim-prabumulih-pom bensin-palembang..hoho
Ibu yuyun sudah ngasih kami makan di rumah wak nya,, makasih ya wak dedek, nenek dan kakek..maaf kue nya kami habisin.
Kiki yang sudah tidur -tidur ayam di pom bensin, maaf ki aku paling ga bisa begadang..
Budi yang selalu nyusahin orang..HEHEHE
Research Never Ending and Always Change

Setidaknya judul dari tulisan ini cukup releven untuk menggambarkan kondisiku saat ini. Perjalanan panjang yang harus aku lewati tatkala aku harus menyelesaikan skripsi untuk memenuhi sebagian syarat agar aku bisa mendapatkan gelar S1. semua ini membuatku harus bekerja keras.
Ini salah satu contoh kerja keras itu. Pada tanggal 19 November 2008, itu adalah kali ketiga aku menghadap dosen pembimbing skripsi pertama (PS 1) sebelum beliau menyetujui proposal itu dan memintaku untuk melanjutkannya sampai Bab 3. Tapi apa daya, Allah berkehendak lain, ketika proposal yang sudah di setujui oleh PS 1 ternyata belum disetujui oleh PS 2 dan beliau memintaku untuk memperbaiki proposal skripsi. Yang lebih parahnya lagi, alasan PS 2 memintaku untuk memperbaiki itu cukup jelas dan bisa diterima akal. Dengan senang hati aku harus mengikuti saran PS 2. jadi tugasku sekarang bukan menyelesaikan Bab 3 melainkan memperbaiki proposal, yang berarti aku harus mencari data baru. Ehhhhmm.
Walaubagaimanapun aku harus bersyukur, dan aku harus sadar bahwa setiap goresan pena dari pembimbing skripsi, itu membuatku untuk selalu belajar. Untuk menenangkan dan mengalihkan rasa khawatirku tentang skripsi ini, aku mencoba mengenang perjuangan para dosen, sebelum mereka mendapatkan gelar sarjana. Mereka selalu membandingkan sarjana lulusan diatas tahun 1990an yang menurut mereka kurang berkompeten.
Bayangin saja, jika dulu mereka harus kuliah sekitar 7 sampai 10 tahun baru bisa selesai kuliah, belum lagi mereka harus membuat skripsi menggunakan mesin ketik dan diperparah dengan tidak adanya internet sebagai sumber untuk mencari data..
Bahkan karena waktu kuliah yang terlalu lama, tak jarang mereka kuliah sambil kerja dan sudah menikah..wow..amazing.
Aku yang hanya kuliah saja, sering pusing tatkala tugas atau skripsiku dicoret oleh dosen pembimbing. Bagaimana beliau yang harus memikirkan kuliah, keluarga dan pekerjaan kantor. Sungguh terlatih mental mereka. Bukan isapan jempol jika kaum tua (sarjana lulusan dibawah tahun 1990) menilai sarjana zaman dulu lebih baik dengan sarjana zaman sekarang. Karena sekarang hampir semuanya instan, tidak hanya mie yang instan tetapi data skripsi bisa juga didapat secara instan.
Aku berharap, kita sebagai generasi muda tidak mudah menyerah dan bermalas-malasan tetapi kita harus lebih unggul dari kaum tua karena estapet perjuangan akan berada di tangan kita. Mau dibawa kemana negara Indonesia 10 tahun lagi, jawaban itu ada pada kondisi pemuda saat ini.
Generasi muda adalah generasi cerdas, yang selalu suka tantangan, memliki jiwa sosial yang tinggi dan selalu merasa gelisah ketika ada kesenjangan sosial di masyarakat. Karena ketika kita hanya diam dengan semua itu, maka tak ada bedanya kita dengan orang tua yang lumpuh.
Majulah pemuda karena hidup yang selalu bahagia adalah hidup yang tidak memiliki sejarah (happy is the people without history).
Walaubagaimanapun juga aku tetap sadah bahwa research never ending and always change.
