Research Never Ending and Always Change

Setidaknya judul dari tulisan ini cukup releven untuk menggambarkan kondisiku saat ini. Perjalanan panjang yang harus aku lewati tatkala aku harus menyelesaikan skripsi untuk memenuhi sebagian syarat agar aku bisa mendapatkan gelar S1. semua ini membuatku harus bekerja keras.
Ini salah satu contoh kerja keras itu. Pada tanggal 19 November 2008, itu adalah kali ketiga aku menghadap dosen pembimbing skripsi pertama (PS 1) sebelum beliau menyetujui proposal itu dan memintaku untuk melanjutkannya sampai Bab 3. Tapi apa daya, Allah berkehendak lain, ketika proposal yang sudah di setujui oleh PS 1 ternyata belum disetujui oleh PS 2 dan beliau memintaku untuk memperbaiki proposal skripsi. Yang lebih parahnya lagi, alasan PS 2 memintaku untuk memperbaiki itu cukup jelas dan bisa diterima akal. Dengan senang hati aku harus mengikuti saran PS 2. jadi tugasku sekarang bukan menyelesaikan Bab 3 melainkan memperbaiki proposal, yang berarti aku harus mencari data baru. Ehhhhmm.
Walaubagaimanapun aku harus bersyukur, dan aku harus sadar bahwa setiap goresan pena dari pembimbing skripsi, itu membuatku untuk selalu belajar. Untuk menenangkan dan mengalihkan rasa khawatirku tentang skripsi ini, aku mencoba mengenang perjuangan para dosen, sebelum mereka mendapatkan gelar sarjana. Mereka selalu membandingkan sarjana lulusan diatas tahun 1990an yang menurut mereka kurang berkompeten.
Bayangin saja, jika dulu mereka harus kuliah sekitar 7 sampai 10 tahun baru bisa selesai kuliah, belum lagi mereka harus membuat skripsi menggunakan mesin ketik dan diperparah dengan tidak adanya internet sebagai sumber untuk mencari data..
Bahkan karena waktu kuliah yang terlalu lama, tak jarang mereka kuliah sambil kerja dan sudah menikah..wow..amazing.
Aku yang hanya kuliah saja, sering pusing tatkala tugas atau skripsiku dicoret oleh dosen pembimbing. Bagaimana beliau yang harus memikirkan kuliah, keluarga dan pekerjaan kantor. Sungguh terlatih mental mereka. Bukan isapan jempol jika kaum tua (sarjana lulusan dibawah tahun 1990) menilai sarjana zaman dulu lebih baik dengan sarjana zaman sekarang. Karena sekarang hampir semuanya instan, tidak hanya mie yang instan tetapi data skripsi bisa juga didapat secara instan.
Aku berharap, kita sebagai generasi muda tidak mudah menyerah dan bermalas-malasan tetapi kita harus lebih unggul dari kaum tua karena estapet perjuangan akan berada di tangan kita. Mau dibawa kemana negara Indonesia 10 tahun lagi, jawaban itu ada pada kondisi pemuda saat ini.
Generasi muda adalah generasi cerdas, yang selalu suka tantangan, memliki jiwa sosial yang tinggi dan selalu merasa gelisah ketika ada kesenjangan sosial di masyarakat. Karena ketika kita hanya diam dengan semua itu, maka tak ada bedanya kita dengan orang tua yang lumpuh.
Majulah pemuda karena hidup yang selalu bahagia adalah hidup yang tidak memiliki sejarah (happy is the people without history).
Walaubagaimanapun juga aku tetap sadah bahwa research never ending and always change.
Belum ada komentar.
