
Indonesia general election yang akan dilakukan pada tanggal 9 April 2009 ternyata telah mengeluarkan riak-riak dari masing-masing partai politik. Tetapi dari sekian banyak parpol di Indonesia, baru dua partai yang riaknya sudah mulai terasa, yaitu riak partai Demokrat dan partai PDIP. Hal ini terjadi karena hingga saat ini, selain kedua partai tersebut belum ada parpol yang berani mengusung bakal calon presiden dari partainya. Semua parpol masih senang merahasiakan putra-putri terbaiknya. Bahkan parpol sekaliber Golkar yang notabene diklaim akan mendapat suara terbanyak pada pemilu tahun ini belum berani mengumumkan siapa yang akan diangkat menjadi cawapres. Dengan alasan mereka masih menunggu hasil pemilu legislatif berakhir agar bisa memprediksi berapa suara yang dimiliki oleh pertai berlambang pohon beringin tersebut.
Keadaan seperti ini membuat perseteruan SBY dan Mega begitu terasa. Diawali dari Putri Bung Karno yang menilai kebijakan SBY menurunkan harga BBM hingga tiga kali seperti permainan anak-anak yaitu yoyo tetapi belum memikirkan nasib rakyat. Tidak tanggung-tanggung pernyataan ini disampaikan di sela-sela rakernas PDIP.
Sentak, sebagai seorang presiden, SBY menanggapi kritik itu dengan cukup bijaksana, ketua umum partai demokrat ini menyampaikan pantun di sela-sela menghadiri undangan salah satu pesantren di Jawa yang intinya menegaskan bahwa tidak ada manusia yang sempurna.

Percikan-percikan api politik di negeri ini semakin menunjukkan rona demokrasi berpolitik di negeri kaya ini. Baru-baru ini, salah satu stasiun televisi swasta menghadirkan debat antara ketua DPP partai Demokrat sekaligus juru bicara presiden yaitu bapak Andi Mallarangeng, sedangkan dari pihak PDIP diwakilkan oleh bapak Firman Jaya Daeli sekaligus ketua DPP partai berlambang moncong banteng ini.
Perdebatan terjadi cukup menarik, ketat, dan semua utusan selalu membeberkan hasil-hasil terbaik yang telah dicapai oleh partai masing-masing, meskipun tak jarang kritikan atas kebijakan yang telah diambil tak tahan harus dilontarkan. Sebagai contoh, penurunan harga BBM yang sampai tiga kali pada masa pemerintahan SBY dianggap sebagai prestasi yang membanggakan oleh partai berlambang segitiga tersebut. Tetapi semua ini dibantah oleh Pak Firman, yang menilai penurunan harga BBM hingga tiga kali tersebut hanya sebagai efek alamiah dari penurunan harga minyak dunia.
Sayang debat yang bisa menguak rona berpolitik di Indonesia ini hanya berlangsung kurang dari 30 menit, sebelum harus ditutup oleh jabat tangan Pak Andi dan Pak Firman yang menandakan debat hari ini sudah berakhir.” Debat boleh berakhir tetapi yang harus diingat bahwa apa yang telah disampaikan akan ditagih oleh rakyat sebagai janji politik”.
Kita doakan saja semoga pemilu 2009 ini akan melahirkan pemimpin yang Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah.
Aamin ya rabbal ‘alamin.











