Budirich’s Weblog

live for praying

Life is unpredictable

Masih teringat jelas dalam pekiranku, ketika aku harus wisuda disaat warga sekitar kampungku harus berjalan ke pemakaman mengantar jenazah nenekku yang meninggal kemarin. Aku bingung pada saat itu, apakah aku harus hadir ke wisuda yang sudah aku tunggu-tunggu selama ini atau harus aku lupakan perjuanganku kurang lebih selama empat tahun  duduk menimba ilmu di bangku kuliah demi ke pemakaman beliau. Sungguh pilihan yang sangat berat bagiku dan keluarga. Setelah menimbang, aku putuskan untuk menghadiri wisuda. Hanya aku, ayah, ibu dan kedua adikku yang izin sekolah pada hari itu.

hidup itu ada yg ngatur budi

Jujur walaupun ragaku ada di kampus, tapi hatiku tak bisa berbohong. Aku selalu terpikir dengan pemakaman nenekku. Apalagi aku sempat mengangkat jenazahnya ketika beliau harus diangkat ke mobil jenazah. Selesai acara, sekitar pukul 12 siang, aku dan keluarga memutuskan untuk langsung pulang, tanpa ceremony yang berlebihan bahkan untuk sekedar foto wisuda sekalipun. Dan aku sangat mengerti dengan keadaan itu.

Hari ini sepertinya kejadian itu terulang lagi (djafu). Aku harus datang ke kantor pusat tempatku bekerja di daerah jakarta pusat. Aku harus bertemu dengan direktur pemasaran dan presiden komisaris. Tapi hari itu ada yang berbeda, handphone ku terus berbunyi dan pirasatku tertuju pada om bani yang sedang di rawat dirumah sakit karena serangan jantung.

Waktu break jam 10 tidak aku sia-siakan, aku langsung menelpon keluarga di rumah dan ternyata dugaanku benar,, om bani harus menghadap sang khalid. Aku sedih, terlebih aku tidak bisa menghadiri pemakaman beliau karena aku berada di luar kota dan bentar lagi harus presentasi di kantor sebagai ujian akhir dari trainingku 2 bulan terakhir.

Aku hanya bisa berdoa, semoga almarhum dan almarhumah mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT, dan semoga anak-anak yang mereka tinggalkan akan menjadi anak yang sholeh dan sholehah..

Aamin ya rabbal ‘alamin.

13 Juni 2009 - Ditulis oleh budirich | budi setiawan | | & Komentar

& Komentar »

  1. hidup dan mati, jodoh dan rizki. semua udah dalam genggaman allah. kita harus menerima. sebisanya…..

    Komentar oleh Wim Permana | 14 Juni 2009 | Balas

  2. hadapinlah hidupmu. mungkin beliau akan tersenyum dsana karena engkau telah mendoakannya mski kau jauh dan tdk dapat menhadirinya, ingat bud you’ll never walk alone , karena masih ada kami yang selalu mendukungmu menuju cita cita yang kau impikan

    Komentar oleh warto kaka | 15 Juni 2009 | Balas

  3. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un,
    “Semua berasal dari Allah, dan akan kembali kepada Allah Swt,”

    ………. pada waktu yang tiba-tiba, ……..!!!

    Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah Swt, Amiin.

    Turut berbelasungkawa,

    Komentar oleh engkaudanaku | 29 Juni 2009 | Balas


Tinggalkan komentar