Happy Birthday Honey

Semoga diberi keberkahan umur, rizki yang halal dan cukup, serta keturunan yang sholeh dan sholehah. Aamiin

image

Dan di tanggal 27 Agustus tahun depan semoga kita bisa merayakan hari ini di suatu tempat yang sangat ingin kita kunjungi. Mari kita berencana, berusaha, dan berdo’a bersama. Insha Allah agustus tahun depan kita bisa kesana bersama. Aamiin Ya Robbal ‘Alamin.

Contagion Effect, WTI, dan Mike Zaman

Pagi ini cukup hectic. Mulai dari target mengumpul proposal tesis, shock melihat indeks saham di Amerika rata-rata turun lebih dari 3 persen, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menyentuh level terendah sejak krisis 2008 yaitu $40.45 per barel hingga Mike Zaman bersedia mengundang saya menjadi temannya di jejaring Linkedin.

Pertama. Proposal Tesis: target hari ini insha Allah kumpul proposal tesis dengan judul Pengaruh Indeks Global terhadap Indeks Pasar Modal 5 Negara ASEAN pada Kondisi: Sebelum Krisis Subprime Mortgage 2008? Saat Krisis (2008-2009)? Dan Setelah Krisis (2009-2014)?

Gambar ini menarik minat saya untuk meneliti tentang indeks global dan kaitannya dengan indeks pasar modal ASEAN.

Sumber: yahoo.finance.com (diolah)

Sumber: yahoo.finance.com (diolah)

Kedua. Bursa Amerika terkoreksi lebih dari 3 persen sehari. Selama saya bekerja di perusahaan sekuritas, baru hari ini melihat ketiga indeks saham di Amerika kompak turun lebih dari 3 persen (Indeks S&P 500 turun 3.3%; Indeks Dow Jones turun 3.2%; dan Indeks Nasdaq turun 3.6%). Hari ini sepertinya kita akan disuguhkan bukti tentang contagion effect theory (teori efek domino). Menurut Widiyanti fenomena perubahan berantai berdasarkan prinsip geo-strategis. Pola perubahan dianalogikan seperti domino China (mahyong) yang berdiri tegak, apabila domino paling awal dijatuhkan, ia akan menimpa domino terdekat, dan proses ini akan berlanjut hingga ke keping domino terakhir. Menurut para ahli, efek domino terjadi karena adanya teori pasar kuat mempengaruhi pasar yang lebih lemah.

Kita tahu bahwa Amerika adalah Negara dengan kapitalasi pasar saham terbesar di dunia. Sebagai gambaran, total kapitalisasi pasar modal Indonesia sampai Jum’at 21 Agustus 2015 Rp.4.490 triliun atau sekitar $320 miliar, lebih rendah dibandingkan kapitalisasi pasar satu perusahaan besar Amerika seperti Microsoft $344.5 miliar, Google $419.9 miliar bahkan total market kapitalisiasi Indonesia hanya 54% dari market kapitalisasi Aplle yang mencapai $603 miliar.

Ketiga. Harga minya dunia menyentuh level terendah, bahkan lebih rendah dari waktu krisis 2008.  Kondisi ini kurang bagus untuk ekonomi kita.

Terakhir, berita yang mengejutkan saya adalah ketika melihat notifikasi Linkedin dan melihat bahwa Mike Z mengundang saya untuk menjadi temannya di jejaring professional Linkedin. Mungkin beliau salah orang  tapi yang jelas saya ingin banyak belajar dari beliau yang sudah malang melintang sebagai konsultan keuangan dunia dan analis saham internasional. Thanks a lot Mike.

Apapun kondisi hari ini, mari kita mulai aktivitas dengan membaca Basmallah :)

Palembang 24 Agustus 2015.

Krisis dan Keseimbangan

Di sektor riil, perlambatan ekonomi sudah mulai terasa. Bagaimana dengan sektor keuangan, khususnya pasar saham?

Melanjutkan tulisan tentang Krisis dan Teori keseimbangan, jadi penasaran untuk melihat kondisi pasar keuangan, khususnya saham di tengah perlambatan ekonomi dunia.

Sektor riil sudah menunjukkan penurunan kinerja yang tercermin dari lemahnya pertumbuhan ekonomi di beberapa negara. Di sektor keuangan sepertinya sedang terjadi anomali, indeks harga saham gabungan di US (Dow Jones), China (Hangseng) dan Indonesia (IHSG) terus mengalami penguatan yang semakin menciptakan ketidakseimbangan antara sektor riil dan sektor keuangan. Setidaknya hal ini terjadi sampai April 2015 kondisi financial market masih berada di teritori positif.

Indeks

Euphoria kenaikan indeks tersebut sepertinya tidak berlangsung lama. Setelah wacana The Fed untuk menaikkan suku bunga mulai santer diberitakan dan kemungkinan gagal bayar Yunani yang membuat ekonomi dunia terganggu. Tepat tanggal 6 Juli 2015 lalu, hasil voting secara bulat, lebih dari 60 persen masyarakat Yunani menolak tawaran bantuan dari kreditor Eropa. Hal ini semakin membuat kondisi ekonomi global menjadi tak menentu. Bayangan gagal bayar (default) Yunani belum selesai, hal lain yang menurut saya sangat penting untuk dicermati adalah pelemahan bursa saham China, yang selama ini dinilai bergerak tidak linear dengan kondisi riil ekonomi, akhirnya mengalami fase down trend. Bayangkan saja, apa namanya kalau bukan irrational jika indeks Shanghai Stock Exchange (SSE) naik dari 2000an (Juli 2014) ke 5.000an di awal Juni 2015 lalu. Naik lebih dari 100 persen, di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi China.

Prof. Rhenald Kasali dalam kultwit tentang Fenomena Strong Dollar menyebutkan alam semesta ini selalu balance, maka akan ada masanya mencapai equilibrium.

Bayangkan, jika ekonomi Yunani yang hanya berkontribusi 0,33 persen terhadap PDB dunia mampu membuat pelaku pasar panik, bagaimana dengan China. Negeri Tirai Bambu adalah negara dengan ekonomi terbesar kedua dunia setelah Amerika, menurut data howmuch.net kontribusi PDB China adalah 13,9 persen terhadap PDB dunia. China juga merupakan salah mitra dagang utama Indonesia. Bisa kita bayangkan dampak apa yang terjadi seandainya koreksi ekonomi terjadi pada penduduk terbanyak di dunia tersebut.

Kejadian hari ini mungkin bisa memberi sedikit gambaran. Saat People Bank of China (PBoC) melonggarkan pergerakan Yuan 2 persen terhadap dollar US, hal ini diprediksi akan berdampak signifikan terhadap pelemahan rupiah terhadap dollar. Oleh karena itu, kebijakan moneter China langsung diantisipasi oleh pelaku pasar dengan menjual saham dan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 2,6 persen ke level 4.622 atau turun 16 persen dari level tertinggi bulan Maret 2015 di 5.520.

Saat ini mungkin sampai akhir tahun (pendapat pribadi), sepertinya sentimen negatif masih mendominasi perekonomian dunia. Mulai dari harga komoditi dalam fase down trend, rencana The Fed menaikkan suku bunga yang akan berdampak pada capital outflow. Bayangan gagal bayar Yunani membuat khawatir pelaku pasar, dan yang perlu diwaspadai adalah pelemahan ekonomi China yang mulai diikuti koreksi bursa saham, tentu akan menjadi trigger negatif baik bagi riil maupun pasar keuangan dunia. Last but not least, Canada yang memiliki kontribusi PDB lebih besar dari Yunani, yaitu 2.39 persen terhadap PDB dunia juga sedang memasuki masa resesi.

Kondisi saat ini mengingatkan saya dengan nasihat Bapak Michael T Tjoajadi, Direktur Schroder Investment Management Indonesia yang dimuat majalah invsestor, berikut kutipannya “setiap siklus ekonomi memiliki jenis investasi yang lebih favorit artinya kita bisa memiliki lebih banyak aset tertentu dibandingkan dengan jenis aset lain pada keadaan tertentu.

Pada saat diantisipasi akan terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi, maka disarankan lebih banyak bobot investasi di kas. Saat ekonomi mulai masuk siklus resesi maka kita harus memulai berinvestasi ke obligasi negara (obligasi yang likuid), karena pada saat tersebut suku bunga sudah naik dan yield obligasi juga ikut naik (harga obligasi turun).

Pada saat ekonomi terus memburuk menuju titik terbawah resesi, maka kita harus mulai meningkatkan bobot investasi kita di saham dengan jalan membeli sedikit demi sedikit dan terus mempertahankan bobot investasi saham selama pemulihan ekonomi dan sampai masa ekspansi ekonomi.

Menjelang titik puncak dari masa ekspansi ekonomi (hal ini harus diprediksi oleh kita), mulai menurunkan bobot investasi di saham dan mulai masuk ke sektor komoditas. Dan pada saat puncak ekspansi terjadi kembali, kita lebih banyak memiliki bobot investasi yang lebih banyak di kas. Jadi kas, tidak selalu menjadi raja, tetapi tergantung dari kondisi ekonomi.

Apapun kondisi ekonomi Indonesia dan dunia saat ini, insha Allah selalu ada celah untuk memulai investasi.

Sebagai penutup sekaligus reminder, perlu kita renungkan kata-kata Reinhart dan Rogoff yang saya kutip dari buku The Crisis: Qur’anomic Series karya M. Luthfi Hamidi menerangkan bahwa jatuhnya harga komoditi (commodity price collapses) dan goncangan suku bunga (interest rate shocks) seringkali menjadi pemicu krisis.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) periode 11 Agustus 2015 ditutup pada level $43 per barel, hampir sama dengan harga minyak saat krisis 2008.

Saat ini pelaku pasar menanti kebijakan The Fed yang berencana menaikkan suku bunga, tentunya akan menjadi pemicu pergerakan suku bunga seluruh dunia, sebagai antisipasi untuk melindungi agar modal tidak pergi ke Amerika.

Palembang 13 Agustus 2015

BNI Securities Palembang

Datang untuk Kembali

Minal ‘Aidin wal Faizin ( من العائدين والفائزين ), Mohon Maaf Lahir Batin.

Lebaran pertama bersama istri :)

Lebaran pertama bersama istri :)

Lebaran telah usai. Saudara, teman, sahabat yang datang kini satu per satu mulai kembali untuk melanjutkan aktivitas seperti biasa. Hingga lebaran tahun depan tiba, insha Allah kita dipertemukan kembali. Aamiin.

Ada yang datang, ada yang kembali. Seperti siklus hidup, lahir dan kembali. Jika hari ini kita masih diberi hidup, mungkin kita diingatkan kembali lewat momen idul fitri bahwa suatu hari nanti kita pasti kembali, “Setiap yang bernyawa itu pasti akan mengalami kematian.”(QS. Ali ‘Imran: 185)”. Benar-benar kembali ke rumah Allah, sembari menanti imbal hasil atas jejak-jejak yang telah kita tinggalkan di bumi ini. Jejak baik berimbal hasil baik, dan sebaliknya.

Lewat momen yang fitri ini, mari kita merenung dan berkontemplasi tentang jejak hidup yang telah dan akan kita lalui. Semoga kita bisa mengisi hari-hari dengan tetap istiqamah di jalan Allah. Aamiin.

Rekaman Kehidupan

Saya membaca kalimat ini di buku How to Enjoy Your Life karya Ustad Yusuf Mansyur “Silahkan berbuat apa saja, yang penting diketahui bahwa segala sesuatu tercatat disisi-Nya dan akan diperlihatkan kembali kepada kita. Saat itulah, kita memperoleh “bunga” dari apa yang telah kita kerjakan”.

Membaca kata “bunga”, apalagi diberi penekanan dengan tanda petik dua di atasnya, mengasosiasikan pikiran saya ke industri perbankan konvensional, lalu tanpa direncanakan sebelumnya, tiba-tiba teringat dengan kinerja salah satu reksadana saham, yang sebagian besar portofolio diisi oleh saham-saham perbankan konvensional. Setidaknya data dari fund fact sheet menunjukkan 3 dari 5 saham yang menjadi porsi portofolio terbesar diinvestasikan di sektor perbankan konvensional.

Setelah diskusi dengan istri, kami berniat mulai merencanakan kembali untuk investasi kecil-kecilan di reksadana saham dengan sistem autodebet yaitu setiap bulan pihak manajemen investasi akan menarik sejumlah uang dari rekening pribadi untuk dibelikan reksadana. Awalnya kami sepakat memilih reksadana dengan satu pertimbangan yaitu historical return (imbal hasil) tertinggi. Tapi setelah membaca tulisan Ustad Yusuf Mansyur tentang rekaman kehidupan, kami insha Allah merubah alat investasi kami dari reksadana saham menjadi reksadana saham syariah. Meskipun kami harus menunggu satu bulan lagi untuk proses perubahan tersebut.

Saat ini, kami tidak hanya berharap return yang tinggi tapi kami lebih berharap saat rekaman kehidupan itu diputar kembali, kami bersyukur karena insha Allah telah membuat keputusan yang tepat hari ini.

Bismillahirrahmanirrahin

“ dan siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit…(QS. Thaahaa: 124).

Minal aidin walfaizin mohon maaf lahir dan batin :)

Palembang, 18 Juli 2015.