Krisis dan Teori Keseimbangan

Heider dalam teori keseimbangan menyebutkan bahwa keadaan yang tidak seimbang menimbulkan ketegangan dan membangkitkan tekanan untuk memulihkan keseimbangan. Lebih lanjut psikolog asal Austria ini menjelaskan konsep keadaan seimbang menunjukkan sebuah situasi yang di dalamnya unit-unit yang ada hidup berdampingan tanpa tekanan.

Mengulang kalimat terakhir dari teori keseimbangan Heider, unit-unit yang ada hidup berdampingan tanpa tekanan. Pertannyaanya adalah apakah mungkin sistem (ekonomi) bisa berjalan seimbang jika komponen di dalamnya dalam keadaan timpang atau berat sebelah?

Jika melihat perkembangan akhir-akhir ini dimana ekonomi dunia melambat, sejak 2010 tumbuh di angka 5.38 persen dan sekarang hanya di 2.8 persen. Ekonomi China tahun 2010 grow 10,4 persen dan kwartal 1 2015 hanya 7 persen. Pertumbuhan ekonomi Indonesia kwartal 1 tahun ini hanya mencapai angka 4,7 persen, jauh di bawah target pemerintah 5,7 persen, bahkan di bawah target konsensus analis di angka 4,9 persen.

Sumber: Yahoo Finance (Data diolah)

Sumber: Yahoo Finance (Data diolah)

Pelemahan ini tentu disebabkan oleh banyak faktor seperti penurunan harga komoditas, fluktuasi nilai tukar, masalah politik dunia, dan juga beberapa negara yang biasanya menjadi penopang pertumbuhan ekonomi dunia seperti Amerika, China, India, Rusia dan beberapa negara lain juga mengalami kelesuan ekonomi. Pelemahan ekonomi, khususnya yang dihadapi oleh China- negara tujuan ekspor utama Indonesia- memberi dampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Saat ini sepertinya hanya US yang menunjukkan tren positif. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi tahun 2010 sebesar 2.53 persen dan kwartal pertama tahun 2015 lebih dari 3 persen.

Meskipun ekonomi US mengalami perbaikan tapi Stephen King, Chief Economist HSBC Bank plc dalam HSBC global research tentang The World Economy’s Titanic Problem menyebutkan “10 years treasury yields are at rock bottom, still lower than were in the immediate aftermath of the collapse of Lehman Brother in 2008. The Federal budget deficit has dramatically improved but the fiscal position is nothing like as healthy as it typically has been through previous economic cycles. Apakah ekonomi US sudah benar-benar pulih?

Perlambatan ekonomi sepertinya sudah menjalar ke sektor akar rumput. Beberapa hari lalu sempat sharing dengan teman yang kerja di industri multifinance, menurut pengamatannya banyak perusahaan yang menurunkan target pertumbuhan bahkan ada juga perusahaan leasing di Palembang yang sudah tidak melayani pembiayaan/ pencairan dana karena mereka harus fokus di penagihan untuk memperbaiki portofolio yang dibayangi non performing loan tinggi. Lebih lanjut beliau menjelaskan pelemahan ini kemungkinan besar disebabkan oleh harga komoditi, khususnya karet dan kelapa sawit yang tak kunjung rebound.

Sore kemarin, sempat menghadiri meeting di kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumsel bersama pelaku industri lembaga keuangan non bank. Pada satu sesi sharing, hampir semua industri keuangan non bank sedang mengalami penurunan kecuali pegadaian yang masih tumbuh karena ditopang oleh harga emas dalam tren bullish dan juga “mungkin” karena masih menjadi pemain tunggal di industri tersebut, belum lagi sepertinya industri pegadaian mempunyai korelasi negatif dengan kondisi ekonomi. Logika sederhana bahwa semakin sulit ekonomi, semakin banyak orang yang akan menggadai.

Menurut Reinhart dan Rogoff yang saya kutip dari buku The Crisis: Qur’anomic Series karya M. Luthfi Hamidi menerangkan bahwa jatuhnya harga komoditi (commodity price collapses) dan goncangan suku bunga (interest rate shocks) seringkali menjadi pemicu krisis. Jika penelitian dua professor dari University of Maryland dan Harvard University yang menggunakan data 66 negara dalam rentang waktu penelitian selama delapan abad ini benar, maka bisa jadi penurunan harga komoditas saat ini yang tak kunjung memberi tanda-tanda perbaikan dan juga rencana The Fed menaikan tingkat suku bunga acuan, bukan tidak mungkin akan menjadi trigger krisis selanjutnya. Mengutip kata-kata Chief Economist HSBC Bank plc, Stephen King if history of crisis is any guide, we are probably now closer to the next one?

*

Di sektor riil, perlambatan ekonomi sudah mulai terasa. Bagaimana dengan sektor keuangan, khususnya pasar saham?

Hhhmm insha Allah nanti dilanjutin lagi ya,,istri ngajak makan malam dan habis itu lanjut nonton film korea katanya hhhaaa, happy weekend :)

Kalidoni Palembang

June 6, 2015

In Memoriam John F. Nash

RIP and Thanks John Nash

RIP and Thanks John Nash. Sumber: http://www.awesomestories.com/images/user.jpg

Tanpa John Forbes Nash mungkin kita tidak akan mengenal Games Theory atau paling tidak mata kuliah ekonomi kuantitatif akan kehilangan satu subject penting yang bisa membuka jalan untuk mempelajari faktor-faktor yang mengatur kemungkinan dan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Games teori juga merupakan suatu model matematis yang menggambarkan suatu interaksi beberapa pelaku untuk memaksimumkan keuntungannya masing-masing. Setiap pelaku permainan harus berfikir strategis untuk mengalahkan pesaing karena pesaing juga melakukan hal yang sama.

Saya masih ingat, saat ujian semester kedua di kelas megister manajemen dua minggu lalu, kami diminta memecahkan kasus persaingan antara dua maskapai internasional yaitu pesawat Boeing dan Airbus dari data berikut:

Strategi yang dapat digunakan oleh pesawat Boeing (B) dan pesawat Airbus (A) dalam merebut pasar adalah menggunakan media iklan TV atau radio. Hasil permainan yang akan diperoleh oleh dua perusahaan tersebut adalah

Strategi Perusahaan Boeing

B1 (TV)

B2 (Radio)

Strategi Perusahaan Airbus A1 (TV)

150

20

A2 (Radio)

120

190

Hasil permainan yang akan diperoleh oleh dua perusahaan tersebut adalah:

  • Jika Airbus menggunakan TV dan Boeing juga menggunakan TV, maka Airbus akan memperoleh keuntungan 150 dan Boeing mengalami kerugian 150
  • Jika Airbus menggunakan TV dan Boeing juga menggunakan TV, maka Airbus akan memperoleh keuntungan 20 dan Boeing mengalami kerugian 20
  • Jika Airbus menggunakan Radio dan Boeing juga menggunakan TV, maka Airbus akan memperoleh keuntungan 120 dan Boeing mengalami kerugian 120
  • Jika Airbus menggunakan Radio dan Boeing juga menggunakan Radio, maka Boeing akan memperoleh keuntungan 190 dan Boeing mengalami kerugian 190

Secara grafis penylesaian persoalan di atas dapat dilihat pada grafik di bawah ini:

Dari sisi pesawat Airbus:

Picture1

Dalam bentuk persamaan dapat ditulis sebagai berikut:

150p + 120(1-p) = 20p + 190(1-p)

200p = 70

p = 0,35 dan (1-p) = 0,65.

Artinya, pesawat Airbus akan menggunakan strategi A1 sebanyak 0,35 dari sumberdaya yang dimiliki dan memakai strategi A2 sebayak 0,65 dari sumber daya yang dimilikinya. Dengan demikian value of the games adalah 0,35(150) + 0,65(120) = 130,50.

 

Dari sisi pesawat Boeing:

Picture2

Dalam bentuk persamaan dapat ditulis sebagai berikut:

150q + 20(1-q) = 120q + 190(1-q)

200q = 170

q = 0,85 dan (1-q) = 0,15.

Artinya, pesawat Boeing akan menggunakan strategi B1 sebanyak 0,85 dari sumber daya yang dimilikinya dan strategi B2 sebayak 0,15 dari sumber daya yang dimilikinya. Dengan demikian value of the games adalah 0,85(150) + 0,15(20) = 130,50.

RIP and thanks Mr Nash atas kontribusinya.

Kalidoni Palembang; May 25, 2015

The Era of Stablility is (Probably) Gone

It sounds pessimistic but the fact that we see in the last decade starting from subprime mortgage 2008, 9/11 twin towers attack, and the latest issue of Rohingnya Moslem show us an improbable event with three principal characteristics: It is unpredictable; it carries a massive impact; and, after the fact, we concoct an explanation that makes it appear less random, and more predictable, than it was (Nassim S Taleb).

We still remember about terrorists attacked the twin towers in New York. Most of us seem implausible an accident can be happen in the country that has the most vigorous national defense in the world.

Later, since the global financial crisis in 2008, which most of the global financial market analyst failed to predict if the US and the world will face another recession after black Monday in 1930. The US economy condition today can not surpass the US economy before crisis. It means when the crisis outbreak a country, it could damage the system that has been built for a long time.

Before further let’s go back to 1918 and look for a connecting point on current issue. Keynes remain about what Lenin said, there is no subtler, no surer means of overturning the existing basis of society than to debauch the currency. The process engages all the hidden forces of economic law on the side of destruction, and does it in a manner which not one man in a million is able to diagnose. We see the current phenomena about currency debauch happen in Rusia, when Ruble depreciated 30 pecrent within four and half month, compare to US dollar. We realized that such a “hidden war” between two countries that cannot be seen by the eyes of ordinary people. Although we often hear ruble depreciated as the impact of oil prices, as the backbone of the economy has decreased.

What can we learn from twin towers attack, subprime mortgage, and ruble depreciation. The crisis gives us a lesson that we live in a world where everything’s is connected, it’s difficult to control all activities around the world, and news available seems to have exceeded the capacity of our brain memory.

So what should we do in instability?

Frankly, trying to answer a question like that as severe as answering investor questions about what’s the most profitable stocks or what percentage of profit that I received per year if we buy X stock? On my mind, rather than giving false hopes better I ask them to look at the monitor and get them know information about the history of the stock prices in the last 5 or 10 years, calculate the average return per year then make projection to define probability return in the next year.

Answering today or future questions by looking for history data, according to Taleb (outhor of Black Swan), people concentrate on things we already know (history data) and time and time again fail to take into consideration what we don’t know. Today’s fact show us, what we were never imagine more common than what we have previously imagined.

Since the uncertainty become a new normal and the era of stable economy is (probably) gone. Better for us to deal with “surprise”, insist us to keep learning, constant trying, hard working, and continue praying. The rest, let’s God carry out His duties properly, including answer questions on circumstance that will occur in the future J

Palembang, 25 Mei 2015

Waiting

when I had no idea to write but has an obligation to write, I typed about this :)

Semalam membaca berita di laman businessinsider.co.id tentang OPEC declare war on the US gas shale industry, jika berita ini benar berarti multiplier efek mungkin akan sampai dalam waktu dekat. Pertanyaan berikutnya adalah kenapa OPEC mau meningkatkan produksi, padahal harga minyak dunia masih di teritori bawah. Bahkan beberapa analyst memprediksi jika harga minyak tidak keluar dari $60 per barel hingga akhir tahun ini, banyak perusahaan shale oil di US akan gulung tikar, dan tentu saja efek domina yang lain dari peristiwa ini akan menciptakan fenomena ekonomi yang mungkin saja tidak disukai banyak orang.

BEP shale-oil-price

Mau mulai dari mana?

Bingung…..!

Mari kita mulai dari Rusia. Negara beruang putih yang menjadi pengekspor energi terbesar di dunia mengalami resesi, produk domestik bruto (PDB) mengalami kontraksi, alias minus 1,9 persen secara tahunan. Dibandingkan kwartal tahun lalu, PDB Rusia masih tumbuh 0,4 persen. Cadangan devisa tergerus untuk menghalau depresiasi nilai rubel terhadap US Dollar yang jatuh 30 persen hanya dalam kurun waktu 52 minggu.

Dari Rusia mari kita ke China dan US

Setelah mengetahui realisasi PDB China yang tumbuh di bawah ekspektasi, negeri tirai bambu hanya mencatat pertumbuhan ekonomi di angka 7 persen dan pemerintah sepakat hanya mentargetkan pertumbuhan ekonomi 7 persen tahun ini, target tersebut terendah dalam 11 tahun terakhir. Pelemahan ekonomi di China, tentu akan memberi dampak terhadap negara partner dagang, termasuk Indonesia yang selama ini menjadikan negeri tirai bambu menjadi tujuan dagang terbesar, diikuti Amerika dan Jepang.

Bagaimana US?

Sebenarnya dunia “berharap” ekonomi US akan segera membaik pasca krisis 2008 dan menjadi penyeimbang ekonomi negara lain seperti China, Jepang, Rusia, dan negara-negara lain yang sedang dilanda kelesuan ekonomi, bahkan sedang sakit seperti Yunani. Ada analyst berhipotesa bahwa US akan segera menaikkan suku bunga acuan sebagai salah satu wujud nyata katalis positif ekonomi paman sam, tapi sampai hari ini berita itu masih belum terealisasi.

Indonesia?

Indonesia akan tetap dengan caranya sendiri, mencari keseimbangan antara pelemahan harga minyak dunia. Di satu sisi, memberi dampak positif karena turunya biaya subsidi. Tapi di sisi lain, industri tambang yang selama ini menjadi penyumbang pendapatan terbesar negara, ikut lesu sebagai bentuk kompensasi atas lemahnya harga minya dunia. Efek domino dari melemahnya ekonomi China juga sudah terasa dan terefleksi dari angka pertumbuhan ekonomi kwartal pertama di angka 4,7 persen di bawah target pemerintah dan konsensus analis 5,7 persen dan 4,9 persen.

*

Sejak Nassim N Taleb dalam bukunya The Black Swan mengungkapkan bahwa logic makes what you don’t know far more relevant than what you do know sepertinya memberi ruang bagi kita yang tidak paham ekonomi untuk berani meramal pertumbuhan ekonomi. Hari ini, karena acaknya, unpredictable-nya pergerakan sesuatu yang sudah terkait satu sama lain – termasuk ekonomi- maka rasanya setiap orang bisa berdebat tentang apapun, kapanpun dan dimanapun, dengan kemungkinan benar dan salah sama besarnya antara orang yang paham dengan topik dan tak paham sama sekali :)

Kantor BPK Wilayah Palembang, edisi jaga stan :)

19 Mei 2015.

Fracking Company: While Waiting Mang Oden

Pagi ini, di indonesia bagian timur kami sedang menunggu  di lobi, menanti kedatangan mang Oden yang akan mengajak kami keliling kota. Rasanya kami tidak sabar untuk merasakan momen bahagia ini bersama keluarga, menikmati suasana pantai, desa yang asri ini, dan tentu saja udara yang belum terkontaminasi.
Tapi di dunia bagian lain, fracking company sedang gusar karena harga minyak dunia yang sepertinya tak bertenaga menembus zona keekonomian.
David Wethe menulis di halaman Bloomberg hari ini tentang Half of U.S. Fracking Companies Will Be Dead or Sold This Year.
Dunia seperti terus mencari keseimbangannya sendiri setiap hari. Bahagia disini dan bisa jadi derita disana.
Negara kami sebagai net importir minyak tentu bisa merasakan dampak langsung  dari penurunan harga itu tapi bagi fracking company pelemahan harga minyak seperti obat bius yang bisa membunuh secara perlahan.
Bagaimana jika kondisinya dibalik. Harga minyak naik di atas $100 per barel?
Mungkin saja start up fracking company akan bermunculan kembali dan kami disini, yang sudah menetapkan fix subsidi atas harga minyak. Tentu akan merasakan dampaknya secara langsung. BBM akan naik, jika hari ini dengan harga minyak WTI $56 per barel kami harus membeli BBM Rp.6.800 per liter, maka jika harga minyak naik menjadi $110 per barel, maka kami harus merogoh kantong 2 kali lebih dalam untuk membeli bensin.
Kita tahu kekhawatiran kenaikan atau penurunan itu tak hanya berdampak pada daya beli tapi lebih pada multiplier effect yang diakibatkan dari kenaikan harga itu.
Mungkin kita sudah paham bahwa, segala sesuatu jika sudah naik cenderung sulit untuk turun. Kalau mau tes, tanya aja ke sopir angkot :)
Bali 23 April 2015

Let’s stop talking and start doing

I just watched this video about ASEAN CEO Summit which took place in Malaysia and presented by 4 great people from around Asean. I concerned about small medium enterprise (SME) in Indonesia which explained by Mr Gita and bright idea from Mr Supachai.

Mr Gita’s concern “55 Million SME (entrepreneur) in Indonesia, only 25 million of them have access to banking. We talk about 30 million SMEs who don’t have bank account. How can we talk about making sure that Indonesian can be proud member of G 20, proud member of Asean Economic Community when 30 million of entrepreneurs don’t have access to financing.

Mr Supachai’s idea “most of the SMEs (around 80 – 90 percent) in Asean are in the informal sector, if we think the SMEs as a formal sector and we use normal formal macroeconomic thing financial flows it wouldn’t be affective. We don’t need to turn SMEs from informal to formal sector but we have to find a solution going to informal sector in a way of informal sector.

Why Mr Yunus Should Come?

Mr Mohammad Yunus, founder of Grameen Bank can share their experience and expertise how to help informal sector to sustain and contribute to Bangladesh economy. So let’s stop talking and start doing :)

Kalidoni Palembang.

April 18, 2015