The Intelligent Investor

Risk is measurable uncertainty. Uncertainty is unmeasurable risk. Uncertainty is impossible to be completely remove (Poler). But risk is inextricably linked to an investor’s time horizon (Buffett).

Warren Buffett pertama kali membaca The Intelligent Investor karya Benjamin Graham tahun 1950, saat usianya 19 tahun. Ia menilai buku ini sebagai tulisan investasi terbaik.  Hari ini, melalui kendaraan Berkshire Hathaway, Buffett mampu mengembangkan keuntungan rata-rata 30,4% per tahun (periode 1957 -1969) dan menjadi orang terkaya no 2 di dunia setelah Bill Gates.
Semoga kita bisa belajar dari Buffett, mungkin bukan untuk menjadi orang kaya tapi paling tidak kita bisa mempersiapkan biaya pendidikan terbaik untuk anak kita nanti. Aamiin

Wajah Baru Pemerintah

Tidak mudah menjadi pemimpin, mereka harus paham sejarah agar tidak masuk ke lubang kesalahan masa lalu tapi disisi lain seorang pemimpin juga harus bisa berfikir paling tidak selangkah lebih maju dari follower-nya. Mereka harus bisa mengantisipasi setiap kemungkinan yang akan terjadi apalagi jika kondisi itu bisa mengganggu tujuan yang ingin dicapai. Sanggup menerima amanah sebagai pemimpin berarti mampu membagi waktunya untuk kepentingan yang lebih luas, bahkan seorang pemimpin harus bisa berdamai saat kebersamaannnya dengan keluarga harus diganti dengan menemani rakyat, ia harus ikhlas dan yang paling penting tanpa tendensi pribadi, apalagi kelompok tertentu selain menjalankan amanahnya sebagai seorang pemimpin sesuai aturan.

Hari ini pemimpin dituntut menjadi seorang pembelajar sejati (constant learner) karena saat ini kita  hidup di dunia yang semakin menggelobal. Teknologi dan kemajuan transportasi mempuat dunia semakin mengecil, bahkan ada anekdot yang menyebutkan bahwa crossing oceans is only a mouse click away.

Rubijanto Siswosoemarto dalam bukunya Inteligen Ekonomi menggambarkan pola penguatan sebuah negara tidak lagi bertumpu pada kekuatan militer tetapi pada cara negara itu mempertahankan kondisi pertumbuhan ekonominya tetap optimal.  Kita tentu masih ingat dengan fenomena harga minyak dunia yang terus menurun, per 24 Januari 2015 harga minyak WTI berada di level $45.59 per barel, terendah semenjak tahun 2009. Apa dampak dari penurunan harga minyak dunia?

Kita ambil contoh Rusia, sebagai salah satu negara yang fondasi ekonominya ditopang oleh minyak, dengan terus menurunnya harga minyak dunia, Rusia harus mengambil kebijakan moneter yang ekstrim. Negeri beruang putih itu harus meningkatkan suku bunga secara signifikan dari 10,5 menjadi 17 persen untuk menahan mata uang Rubel agar tidak terus terdepresiasi. Tentu kita tahu apa akbiat yang akan terjadi jika suku bunga sangat tinggi, dampak yang paling nyata adalah terganggunya bisnis setor riil yang sebagian sumber modalnya berasal dari hutang. Bloomberg menyebutkan 20 orang kaya di Rusia kehilangan $10 milyar dalam dua hari akibat melemahnya nilai Rubel terhadap US Dollar.

Pelemahan nilai tukar yang terjadi di Rusia sudah dijelaskan oleh ekonom di masa lampau. John Maynard Keynes mengutip pernyataan Lanin yang saya kutip dari buku Lords of Finance: The Bankers Who Broke the World karya Liaquat Ahamed menyebutkan “Lanin memang benar. Tidak ada cara yang lebih halus, lebih pasti untuk meruntuhkan dasar masyarakat yang ada selain dengan merusak mata uangnya”.

Tak hanya Rusia, zona Euro yang sedang mengalami pelemahan ekonomi juga butuh suntikan dana segar untuk menjaga stabilitas negara. Minggu lalu mereka sepakat untuk menggelontorkan stimulus £ 1 triliun (satu triliun euro). Tahu apa yang terjadi setelah paket stimulus itu digelontorkan?

Hampir semua finacial market dunia merespon positif kebijakan tersebut, tak terkecuali indeks harga saham gabungan (IHSG) juga menguat lebih dari 1 persen, sekaligus mencatatkan rekor tertinggi baru sepanjang sejarah di level 5.323. Sekali lagi crossing oceans is only a mouse click away semakin nyata.

Jika pada waktu yang lalu penjajahan satu negara dalam bentuk pencaplokan dengan menggunakan senjata, kapal perang dan pesawat tempur. Tapi hari ini, semenjak dunia sudah bergeser dari kondisi bipolar (dua kubu AS dan Uni Soviet) menjadi multipolar, sehingga pola hubungan antarnegara menjadi borderless. Penjajahanpun sudah berubah menjadi semakin halus. Handry Satriago dalam bukunya Sharing dengan sub judul Anak Muda menyebutkan di masa lalu, bentuk “menjadi objek” adalah penjajahan/ kolonialisasi. Di masa sekarang dan masa depan, bentuknya adalah pasar konsumsi. Dari sisi SDM, di masa lalu “menajdi objek” adalah kerja dengan cambuk, di masa depan kerja dengan upah minimum.

John Perkins dalam bukunya Confessions of an Economic Hit Man membagi hasil pengamatannya selama ini, setiap proses perkembangan ekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, banyak sekali jebakannya, terutama jebakan hutang hingga Indonesia tidak mampu membayar pinjaman. Saat negara sudah tidak mampu membayar hutang, tentu ada konsekuensi yang harus di tanggung, misalnya sumber daya alam yang harus dikorbankan.

“In countries like Ecuador, Nigeria, and Indonesia, we dress like local schoolteachers and shop owners. In Washington and Paris, we look like government bureaucrats and bankers. We appear humble, normal. We visit project sites and stroll through impoverished villages. We profess altruism, talk with local papers about the wonderful humanitarian things we are doing. We cover the conference tables of government committees with our spreadsheets and financial projections, and we lecture at the Harvard Business School about the miracles of macroeconomics. We are on the record, in the open. Or so we portray ourselves, and so are we accepted. It is how the system works. We seldom resort to anything illegal because the system itself is built on subterfuge, and the system is by definition legitimate”.

Para penjajah akan berusaha keras untuk terus mengeruk sumber daya, bahkan tidak jarang mereka melibatkan orang-orang pintar (schoolteachers), pengusaha dan penguasa.

Merefleksi penangkapan wakil ketua KPK, Pak Bambang oleh oknum polri hari jum’at lalu seperti merefresh kembali penjajahan dalam bentuk lain. Masyarakat awam mungkin tidak pandai tentang hukum tapi masyarakat awamlah yang masih punya “rasionalitas sehat”, mereka belum terkontaminasi oleh kepentingan manapun, mereka juga bukan partisan partai politik yang akhir-akhir ini lebih sering mengajarkan teladan yang kurang baik. Misalnya, bagaimana anggora DPR bisa secara aklamasi (exclude partai Demokrat) menyetujui calon kapolri yang sudah ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK.

Mendengar berita itu hati kita menjadi sesak. Jangan sampai masyarakat awam yang selama ini cukup sabar akan bertindak di luar batas kewajaran. Tentu kita tidak ingin kejadian 1998 terulang kembali. Terlalu banyak yang harus dikorbankan.

Kita harus ingat, dunia semakin menggelobal. Kita tidak bisa memaksimalkan potensi tanpa bantuan orang lain. Jika pengaruh dari situasi global bisa berpengaruh terhadap Indonesia, maka kondisi yang tidak stabil dan lemahnya penegakan hukum, bukan tidak mungkin akan membuat Indonesia ditinggal pergi oleh investor. Saat media elektronik dipenuhi dengan berita penangkapan wakil ketua KPK, dua investor memutuskan untuk menjual semua saham dan memilih untuk memegang cash. It’s like overrated tapi siapa yang bisa memprediksi masa depan, apalagi ada trigger dalam negeri yang bisa mengganggu stabilitas. Oleh karena itu saya penasaran dengan kondisi pasar keuangan Indonesia hari senin nanti?

Sebagai penutup tulisan ini, saya mengutip Al-Qur’an surat Al- Isra ayat 16 “Jika Kami berkehendak menghancurkan suatu negeri, Kami jadikan para pemimpin yang diamanahi kekuasaan itu berbuat dzolim di negeri itu. Akibat perbuatan kezholiman pemimpin mereka, turunlah azab kepada mereka dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

Mari kita berdoa semoga Allah memberkahi kita semua, termasuk orang-orang yang sedang diberi amanah sebagai pemimpin di negeri yang kita cintai Indonesia. Aamiin.

 

Note: Judul tulisan dibuat atas pilihan istri tercinta :)

 

Kalidoni Palembang

January 25, 2015.

 

Perang Minyak dan Fragile Economy

Bursa Amerika ditutup melemah dua hari terakhir, hal ini tercermin dari indeks S&P 500, Nasdaq, dan Dow yang pada penutupan semalam masing-masing turun 0.24%; 0.07%; 0.15%. Pelemahan ini masih di dorong oleh menurunnya saham saham sektor energi yang ikut terseret bersama terjunnya harga minyak dunia. Pada perdagangan kemarin, harga minyak WTI ditutup di harga $44.89 per barel, terendah sejak Juli 2009.

Kapan harga minyak akan rebound?
Mencermati penyataaan raja Alwaleed bin Talal dari laman marketwatch.com sepertinya harga minyak belum akan rebound dalam waktu dekat. “If supply stays where it is, and demand remains weak, you better believe [the price of oil] is gonna go down more. But if some supply is taken off the market, and there’s some growth in demand, prices may go up. But I’m sure we’re never going to see $100 anymore,” said Prince Alwaleed bin Talal, the billionaire Saudi businessman”
Tak hanya itu, sang raja minyak ini juga sepertinya belum mau untuk mengurangi produksi, hal ini bisa kita cermati dari kalimat ini “’[H]ad Saudi Arabia cut its production by 1 or 2 million barrels, that 1 or 2 million would have been produced by others.’.
Prince Alwaleed percaya bahwa memangkas produksi tidak akan bisa menurunkan harga minyak dunia karena jika negara OPEC menurunkan produksi, maka akan ada negara lain yang memproduksinya, sehingga supply akan tetap sama.
Perang minyak sepertinya masih akan berlanjut tahun ini. Di satu sisi, OPEC tidak mau menurunkan produksi karena dibayangi ancaman market share yang akan tergerus. Di sisi lain, Amerika yang terus mencari alternatif agar bisa memanfaatkan perusahaan local untuk mengurangi dominasi OPEC. Hal ini bisa kita cermati dari gambar di bawah ini dimana produksi Shale Oil Amerika terus meningkat yang ditenggarai menjadi ancaman bagi market share OPEC.

Dengan strategi mempertahankan market share, bukan tidak mungkin OPEC tetap tidak akan memangkas produksi, sehingga jika harga minyak dunia tetap berada di teritori bawah (rata-rata $70 per barel) periode satu tahun, maka perusahaan Shale Oil Amerika yang selama ini menjadi menyangga kebutuhan minyak domestik akan banyak yang gulung tikar. Finallya OPEC tetap akan mempertahankan market share mereka dan tentu saja profit yang besar, konsekuensi dari peningkatan harga minyak dunia akibat dari supply Shale Oil Amerika yang menurun. Berikut gambar estimasi biaya break even point beberapa perusahaan minyak di Amerika.

Apa yang terjadi jika harga minyak terus turun?
Mengutip tulisan Michael Snyder dari laman theeconomiccollapseblog.com tentang Boom Goes the Dynamite: The crashing price of oil is going to rip the global economy to shreds, menjelaskan “And the longer the price of oil stays this low, the worse our problems are going to get. At a price of less than $50 a barrel, it is just a matter of time before we see a huge wave of energy company bankruptcies, massive job losses, a junk bond crash followed by a stock market crash, and a crisis in commodity derivatives unlike anything that we have ever seen before. So let’s hope that a very unlikely miracle happens and the price of oil rebounds substantially in the months ahead. Because if not, the price of oil is going to absolutely rip the global economy to shreds.”

Jika harga minyak terus menurun, dan berada di bawah $50 per barel, sepertinya kita sedang menunggu banyak perusahaan energy akan bangrut, dan tentu saja akan diikuti oleh multiplier effect lainnya.
Apa yang bisa negara lakukan?
Seharusnya jika kita sudah sepakat untuk menjadi masyarakat global dimana satu negara tidak bisa bertahan tanpa negara-negara lain, hendaknya sekat-sekat yang bisa saling menjatuhkan harus terus dikikis. Kata-kata yang ditulis oleh Ekonom Prancis Thomas Piketty dalam bukunya Capital in the Twenty-First Century yang saya kutip di laman kontan.com dari tulisan seorang pengamat perlu kita renungkan bahwa “”Ketimpangan tidak dihasilkan dari kekuatan alam atau pilihan individu, tetapi dari kurangnya intervensi pemerintah”. Termasuk intervensi pemerintah masing-masing negara untuk menjaga stabilitas ekonomi global. Ini penting karena kita sepertinya sedang berada di zona fragile economy yang membutuhkan level kerjasama internasional dengan tingkat integritas yang tinggi.
Apa yang masyarakat harapkan?
Penurunan kembali harga BBM secepatnya seiring dengan penurunan harga minyak dunia. Aamiin.
Apa yang bisa kita lakukan?
Menghindari instrumen investasi yang mempunyai hubungan positif dengan harga minyak dan mungkin kita bisa membeli saham-saham yang diuntungkan dengan penurunan harga minyak saat ini. Ayo tebak, saham apa saja? :)

PT. BNI Securities Palembang
January 14, 2015

Refleksi 2014 and Assalamu’alaikum 2015

Refleksi 2014 and Assalamu’alaikum 2015

“A person who risks nothing, does nothing, has nothing, and is nothing. He may avoid suffering and sorrow, but he can not learn, feel, change, grow, and love. Chained by his certitute, he is a slave; he has forfeited his freedom. Only the person who risks is truly free” kata-kata itu diungkapkan oleh pengarang Amerika Leo Buscaglia yang saya kutip dari buku Pak Rhenald Kasali, Self Driving.

Our life is coloring with full of uncertainty, hidup kita diwarnai dengan banyak ketidakpastian, maka apapun yang kita lakukan selalu mengandung risiko. Misal melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi pun belum tentu menjamin keberhasilan. Jika gagal kita mendapat pelajaran, apabila berhasil kita mendapat pengembangan, tapi apabila kita tidak melakukan apa-apa, sudah pasti kita tidak mendapatkan apapun.

*

Hari ini saya ke kampus untuk melihat apakah nilai semester pertama sudah keluar. Selama perjalanan dari rumah menuju kampus, saya melihat banyak orang jualan trompet, jagung, dan juga kembang api di pinggir jalan, hal ini berbeda dengan hari biasanya. Saya baru sadar jika hari ini adalah hari terakhir di tahun 2014. Seperti biasa, mungkin karena ingin memeriahkan pergantian tahun, banyak orang melaluinya dengan berbagai kegiatan. Mulai dari bakar jagung, main kembang api, meniup trompet, atau ada juga yang merenung sembari melakukan evaluasi atas apa yang sudah dilakukan beberapa tahun sebelumnya.

Sembari menulis catatan ini, saya teringat dengan dreams 5 tahun lalu. Saya menulis dreams tersebut saat merantau di Manado, tepatnya tanggal 20 Desember 2009. Beruntungnya semua dreams itu saya tulis di blog ini, sehingga setiap saat saya bisa membacanya. Impian itu secara garis besar terdiri dari 3 hal yaitu melanjutkan kuliah, bekerja di perusahaan multinasional company, dan menikah di usia 27 tahun.

Apakah semua impian itu sudah terwujud hari ini?

Jawabannya belum, dengan beberapa penjelasan antara lain; pertama saat ini saya masih dalam proses mewujudkan salah satu impian untuk kuliah lagi, alhamdulillah bulan May 2014 lalu saya mendaftar di Megister Manajemen Universitas Sriwijaya dan baru saja menyelesaikan semester pertama perkuliahan. Kedua, bulan April 2011 saya diterima di perusahaan yang masuk daftar 500 fortune company, ketiga alhamdulillah tanggal 27 September 2014 saya menikah dengan Ira Pratiwi, tepat saat usia saya 27 tahun.

Jika kita setia dan berusaha atas impian, Allah akan mewujudkannya.

Jika kita setia dan berusaha atas impian, Allah akan mewujudkannya.

Tentu proses dari membuat dreams sampai mewujdukannya tidak semudah membalik telapak tangan, bahkan banyak yang harus dikorbankan. Saya teringat ketika kami memutuskan untuk menikah dan tinggal bersama, bulan April 2014 saya putuskan berhenti bekerja di perusahaan yang saya impian sebelumnya. Saya yakin dengan nasehat CEO GE Indonesia, Pak Handry Satriago yang menyebutkan bahwa change needs a trade off atau perubahan itu butuh pengorbanan. Jika bentuk trade off dari change itu adalah berhenti bekerja, maka saya akan ambil itu sebagai suatu keputusan, tentunya setelah melewati pertimbangan dan diskusi bersama orang tua dan calon istri waktu itu.

Saya ingin sharing bahwa kita itu harus punya dreams. Mungkin saja dreams yang kita tulis hari ini sepertinya sulit, bahkan sangat sulit untuk dicapai dan tak jarang kita akan desepelekan oleh orang-orang di sekitar. Keep move on dan saya percaya, insha Allah cepat atau lambat, jika kita setia dengan dreams yang kita buat, Allah akan memberikan jalan untuk mencapainya, dengan cara apapun. Karena bagi-Nya everthing is possible.

Finally, tahun 2014 hampir berlalu. Apa impian teman-teman tahun 2015 nanti?

Kalau saya bermimpi di tahun depan bisa dikarunia keturunan, menyusun thesis, aktif di organisasi Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), mendapatkan sertifikat Wakil Perantara Pedagang Efek (WPPE), dan meningkatkan penghasilkan. Semoga dreams kita semua di tahun depan bisa di ijabah oleh Allah SWT. Aamiin Ya Robbal ‘Alamin.

Note: Ditulis tanggal 31 Desember 2014 di kampus Megister Manajemen Universitas Sriwijaya Palembang, dengan harapan akan membaca lagi tulisan ini suatu hari nanti ketika saya dan istri sedang melanjutkan pendidikan di luar negeri, entah kapan dream itu akan terwujud, insha Allah saya percaya bahwa it’s just the matter of time, we’ll study abroad. Aamiin.

BBM Turun, Unless..

Semalam, sebelum tidur saya sempatkan membaca buku sembari berfikir apakah mungkin harga BBM bisa diturunkan. Selama berfikir tentang kemungkinan itu, saya teringat diskusi antara calon nasabah yang ingin membuka akun saham dengan rekan kerja di kantor. Mendengar dari diskusi tersebut, sepertinya ibu ini sudah familiar dengan investasi, selain memegang satu franchice minimarket nasional, beliau juga sudah aktif trading mata uang (forex).

Mendengar diskusi itu saya belajar satu hal dan mencoba mencari benang merah kenapa beliau membagi investasinya ke beberapa instrument yaitu sector riil (minimarket), forex, dan juga saham. Mungkin beliau ingin mitigasi risiko karena jika hanya investasi di forex maka beliau akan dihadapkan pada volatilitas yang tinggi dimana nilai valas bisa naik dan turun dengan cepat, artinya ada risiko yang sulit diukur atau dengan kata lain tidak ada kepastian.

Apa hubungan antara kepastian dengan kemungkinan penurunan harga BBM?

Sebelum kita berimajinasi tentang penurunan harga BBM, mari kita flash back ke beberapa peristiwa ketika pemerintah berencana menaikkan harga BBM. Respon masyarakat sangat beragam, tentunya ada yang pro dan tak sedikit pula yang kontra. Dahlan Iskan dalam bukunya Kentut Model Ekonomi menerangkan harga BBM sarat dengan isu politik dan stabilitas. Padahal, sudah terbukti stabilitaslah yang menjadi kunci kemajuan bangsa yang langgeng. Setiap kali ada kenaikan harga BBM, dampak yang terbesar bukan akibat selisih kenaikannya itu sendiri, tapi ekses ketidakstabilan.

Jika stabilitas itu bisa dijaga, setidaknya hari ini kita memiliki tiga peluru yang digunakan untuk menentukan harga wajar BBM. Harga wajar setidaknya merangkul dua kepentingan yaitu pemerintah dan masyarakat termasuk pelaku bisnis. Apa tiga peluru itu?

bbm Picture1

Pertama penurunan harga minyak dunia. Harga minyak dunia (WTI) kemarin ditutup di harga $57 per barel. Informasi yang saya baca dari laman voc.com, OPEC tidak merespon atas penurunan harga minyak ini karena mereka tidak mau kehilangan market share “As prices slid, many observers waited to see whether OPEC, the world’s largest oil cartel, would cut back on its production to prop prices up. (Many OPEC states, like Saudi Arabia and Iran, need high prices to balance their budgets.) But at its big meeting in November, OPEC did nothing. Saudi Arabia didn’t want to give up market share, and it hoped that lower prices would help throttle the US oil boom. That was a surprise. So oil went into free-fall”. Artinya ada kemungkinan harga minya masih akan mengalami penurunan.

Peluru kedua, pemerintah membentuk Tim Pemberantasan Mafia Migas yang dikepalai oleh Faisal Basri seperti menjadi cahaya di kegelapan. Belum genap dua bulan dari enam bulan waktu yang diberikan pemerintah, tim ini sudah memberikan rekomendasi untuk menghentikan impor bensin RON 88, diganti dengan RON 92. Hal ini dilakukan untuk menghindari ketergantungan pada satu pemasok karena saat ini sudah jarang perusahaan yang memproduksi bensin jenis itu. Dari sini pemerintah mempunyai space lebih luas untuk membeli minyak dari produsen manapun yang bisa memberikan harga lebih kompetitif.

Peluru ketiga adalah bapak Dwi Soetjipto. Tentu kita tidak meragukan kehebatan lulusan doktor UI ini. Beliau menjadi salah satu tokoh penting transormasi PT Semen Indonesia. Langkah quick win yang bisa kita lihat adalah efisiensi dengan memangkah direksi perusahaan yang sebelumnya diisi oleh 9 orang. Selain itu Pertamina juga siap bekerja sama dengan KPK dan BPK untuk menciptakan Good Corporate Governance (GCG) dalam rangka transparansi di perusahaan yang masuk dalam 500 fortune company itu.

Dengan ketiga peluru itu, saya barasumsi harga BBM sangat mungkin bisa diturunkan di kwartal 1 tahun depan, unless (asalkan) saat pemerintah menarik pelatuk senjata, pelurunya tidak macet. Lho apa yang bisa menyebabkan senjata tidak bisa berfungsi?

Salah satunya dan yang paling sulit diprediksi adalah volatilitas harga minya dunia yang bisa naik dan turun setiap saat.

PT. BNI Securities Palembang

December 24, 2014

Ponzi di Palembang

sumeks

Berita utama Koran Sumatera Ekpres hari ini mengangkat judul “Istri Pejabat juga Ditipu”. Setelah saya baca ternyata motif penipuan pelaku awalnya dilakukan via jejaring social facebook lalu mengajak calon korban untuk bertemu. Pelaku menawarkan investasi dengan imbal hasil 25 – 100 persen. Sama seperti cerita-cerita serupa, awalnya korban menerima imbal hasil sesuai dengan yang dijanjikan. Tapi setelah itu, imbal hasil yang dijanjikan hanya tinggal janji. Pelaku kabur bersama uang yang kita titipkan ke orang tersebut.

Dalam dunia investasi skema penipuan seperti ini disebut sebagai Ponzi. Skema ponzi ini terkenal semenjak Charles Ponzi (1982 -1949) pada tahun 1920 melakukan penipuan dengan cara pelaku membayar imbal hasil yang di dapat dari dana yang ia terima dari korban/ nasabah baru, dan seterusnya.  Dengan skema Ponzi tahun itu, Charles mampu mengumpulkan dana sekitar $7 juta. Pada tahun 2008 dunia dikagetkan oleh terbongkarnya kasus Ponzi lain dengan pelaku utama Bernie Madoff yang mengumpulkan dana hingga $50 milyar.

Tak hanya di Negara lain, kasus Ponzi ini juga banyak kita temui di sekitar kita. Meskipun sudah banyak korban tapi kasus seperti ini masih saja sering terjadi.

Kenapa Ponzi masih ada?

Menurut saya selama masih ada orang yang berpikir tentang keuntungan instan dari sebuah instrument investasi, maka system Ponzi akan tetap ada. Padahal hal mendasar yang tidak boleh kita lupakan saat melakukan investasi adalah high risk high return.

Bagaimana untuk menghindari Ponzi?

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi di instrument manapun, sebaiknya kita mencari tahu legalitas lembaga atau perusahaan tersebut di website Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan yang tak kalah penting adalah kita juga perlu memahami risiko yang terkandung di dalam instrument investasi tersebut.

Selamat berinvestasi :)