Fracking Company: While Waiting Mang Oden

Pagi ini, di indonesia bagian timur kami sedang menunggu  di lobi, menanti kedatangan mang Oden yang akan mengajak kami keliling kota. Rasanya kami tidak sabar untuk merasakan momen bahagia ini bersama keluarga, menikmati suasana pantai, desa yang asri ini, dan tentu saja udara yang belum terkontaminasi.
Tapi di dunia bagian lain, fracking company sedang gusar karena harga minyak dunia yang sepertinya tak bertenaga menembus zona keekonomian.
David Wethe menulis di halaman Bloomberg hari ini tentang Half of U.S. Fracking Companies Will Be Dead or Sold This Year.
Dunia seperti terus mencari keseimbangannya sendiri setiap hari. Bahagia disini dan bisa jadi derita disana.
Negara kami sebagai net importir minyak tentu bisa merasakan dampak langsung  dari penurunan harga itu tapi bagi fracking company pelemahan harga minyak seperti obat bius yang bisa membunuh secara perlahan.
Bagaimana jika kondisinya dibalik. Harga minyak naik di atas $100 per barel?
Mungkin saja start up fracking company akan bermunculan kembali dan kami disini, yang sudah menetapkan fix subsidi atas harga minyak. Tentu akan merasakan dampaknya secara langsung. BBM akan naik, jika hari ini dengan harga minyak WTI $56 per barel kami harus membeli BBM Rp.6.800 per liter, maka jika harga minyak naik menjadi $110 per barel, maka kami harus merogoh kantong 2 kali lebih dalam untuk membeli bensin.
Kita tahu kekhawatiran kenaikan atau penurunan itu tak hanya berdampak pada daya beli tapi lebih pada multiplier effect yang diakibatkan dari kenaikan harga itu.
Mungkin kita sudah paham bahwa, segala sesuatu jika sudah naik cenderung sulit untuk turun. Kalau mau tes, tanya aja ke sopir angkot :)
Bali 23 April 2015

Let’s stop talking and start doing

I just watched this video about ASEAN CEO Summit which took place in Malaysia and presented by 4 great people from around Asean. I concerned about small medium enterprise (SME) in Indonesia which explained by Mr Gita and bright idea from Mr Supachai.

Mr Gita’s concern “55 Million SME (entrepreneur) in Indonesia, only 25 million of them have access to banking. We talk about 30 million SMEs who don’t have bank account. How can we talk about making sure that Indonesian can be proud member of G 20, proud member of Asean Economic Community when 30 million of entrepreneurs don’t have access to financing.

Mr Supachai’s idea “most of the SMEs (around 80 – 90 percent) in Asean are in the informal sector, if we think the SMEs as a formal sector and we use normal formal macroeconomic thing financial flows it wouldn’t be affective. We don’t need to turn SMEs from informal to formal sector but we have to find a solution going to informal sector in a way of informal sector.

Why Mr Yunus Should Come?

Mr Mohammad Yunus, founder of Grameen Bank can share their experience and expertise how to help informal sector to sustain and contribute to Bangladesh economy. So let’s stop talking and start doing :)

Kalidoni Palembang.

April 18, 2015

Kapitalisme Negara

Sebelum sholat magrib, saya bertanya pada istri tentang state capitalism atau kapitalisme negara. Ketika mendengar kata itu, apa yang ada di pikirannya pertama kali?

Oknum pemerintah yang menyebalkan. Straight answer dan berkonotasi agak negarif karena ada kata-kata menyebalkan. Bagaimana dengan Anda, apa asosiasi pikiran teman-teman saat mendengar state capitalism? Jangan terlalu serius mikirnya :)

Minggu lalu tanggal 24 Maret 2015, Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis laporan 10 perusahaan dengan kapitasisasi pasar terbesar periode Februari 2015. 5 dari 10 perusahaan tersebut adalah milik pemerintah (BUMN). Satu dekade lalu, kekhawatiran kita tentang kepemilikan swasta yang mendominasi saham perusahaan milik negara sepertinya tidak lama lagi akan terkikis atau mungkin menghilang. Bahkan, jika kita ikuti perkembangan berita ekonomi beberapa bulan terakhir, ada wacana perusahaan BUMN akan melakukan right issue (menerbitkan saham baru) dimana pemerintah akan ikut ambil peran melalaui Penyertaan Modal Negara (PMN). Kegiatan ini sepertinya akan menjembatani kepemilikan mayoritas saham perusahaan oleh pemerintah. Dominasi atau intervensi pemerintah ke dalam pasar akan menggeser sistem ekonomi ke arah kapitalisme negara. Apakah ini baik?

Pada prinsipnya sama, no body perfect. Dan jika ditanya tentang sistem ekonomi apa yang paling baik, tentu kita akan mengembalikannya pada keyakinan dan prisip-prinsip yang kita percaya.

Ian Bremmer lewat bukunya The End Of The Free Market, mengajak kita untuk membayangkan sebuah pertandingan sepakbola. Kapitalisme negara adalah sistem pertandingan dengan pemerintah mengendalikan sebagaian besar wasit dan cukup banyak pemain untuk memuluskan peluangnya dalam menentukan hasil pertandingan. Para penonton mendapat keuntungan dari kompetisi sejati yang meskipun sedikit dan terbatas namun tetap ada, tetapi negara mengatur pertandingan dalam banyak hal guna memastikan agar para pemain yang diunggulkan mendapatkan yang mereka butuhkan untuk meraih skor paling besar demi kepentinggannya.

Sekilas ini akan berakhir di ekonomi tapi kalau kita cermati arahnya, maka sebagian besar akan menjurus ke politik. Motif utamanya adalah memaksimalkan kekuasaan negara dan memberi peluang para pemimpinnya untuk tetap berkuasa, melalui janji pertumbuhan ekonomi berserta turunannya.

Jum’at minggu lalu, di kelas keuangan internasional. Kami belajar tentang analysing country risk (ACR). Secara umum ada dua faktor yang menjadi pertimbangan investor sebelum membuat keputusan investasi yiatu political risk factor terkait birokrasi, korupsi, and witholding tax; dan economic risk factor menyangkut suku bunga, nilai tukar, dan inflasi.

Tentu kita berharap, wacana dominasi kepemilikan pemerintah atas perusahaan BUMN akan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, bukan sebagai jempatan untuk mencapai kepentingan politik.

Entah kenapa, tiba-tiba saya kepikiran dengan oknum parpol yang menjadi dewan komisaris di beberapa perusahaan BUMN?

Semoga mereka profesional yang kompeten dan jawaban istri tentang state capitalism keliru :)

Kalidoni Palembang

March 29, 2015

 

Minyak

Saat menunggu pesanan datang dan istri yang lagi sholat, ada pengunjung yang duduk di samping membahas kenaikan harga BBM.
Tadi malam, saat kita tidur nyenyak jam 12 dini hari. Banyak petugas pom bensin kerja lembur unk setting harga baru BBM. Per 28 Maret 2015 BBM naik menjadi 7.300 per liter.
Menurut Transparency International report (2001) dua pertiga dari total warga miskin dunia tinggal di negara-negara kaya minyak.
Mungkin kita menjadi bagian dari dua pertiga dalam survey tersebut. Laporan tentang kekayaan sumber daya yg kita miliki hari ini, sepertinya baru bisa dirasakan di atas kertas tapi belum menyentuh realitas.
Apakah impian untuk menciptakan kemandirian energi akan tetap menjadi mimpi?
Pertanyaan itu disampaikan dalam buku “Mengapa Perusahaan Minyak Dibenci” karangan John Hofmeister, mantan dirut Shell Oil Company.
Itulah mengapa kita selalu mendengar tentang “kelangkaan energi” bukan “kekurangan energi” karena kita tidak pernah kehabisan energi.
Kita tidak akan pernah kehabisan energi kecuali kita memilih kebijakan yang salah atau tidak tepat dalam membuat kibijakan (John Hofmeiser).
Selama Pak Slamet masih menggunakan minyak untuk menggoreng bebek, dan kita rela antri untuk makan disana. Maka kebutuhan akan minyak akan tetap ada :)

RM Bebek Slamet Palembang
March 28, 2015

Nanosecond: Dream to West Europe

Nanosecond menjadi kata terakhir pada paragraf pertama pengantar (foreword) buku The Stock Market Barometer karya William Peter Hamilton. Buku ini pertama kali terbit tahun 1922 dan dicetak ulang tahun 1998. Ada informasi menarik saat saya mengisi kartu peminjam buku, di kartu tersebut ada catatan siapa saja yang pernah meminjam buku ini, berikut tanggal dan tahunnya. Dari catatan yang ada di kartu peminjam, saya mendapat informasi bahwa buku ini dibaca oleh 2 orang. Pertama tahun 2002 dan kedua tahun 2005. Hari ini 20 Maret 2015, saya menjadi orang ke-3 yang meminjam buku ini dalam rentang waktu 13 tahun.

Dari sini saya bisa menyimpulkan bahwa buku tentang stock market, apalagi dalam bahasa Inggris kurang menarik minat pembaca, khususnya mahasiswa di kampus ini. Indikasinya, dalam rentan waktu 13 tahun (2002 – 2015), buku ini hanya di baca oleh 3 orang. Buku ini paling tidak tertutup (tidak ada yang baca) selama 10 tahun, dan yang pasti tidak ada mahasiswa yang meminjamnya selama 10 tahun sejak 2005.

Nanosecond dalam buku ini menerangkan tentang dunia yang kita tinggali hari ini berubah dengan sangat cepat, Willam sudah menulis tentang perubahan supercepat ini tahun 1922, saat nenek moyang kita masih berjuang merebut kemerdekaan. Menurut saya, jika mengaitkan nanosecond dengan stock market dapat diartikan sebagai suatu pergerakan harga saham yang sangat cepat merespon setiap kejadian yang mempunyai korelasi baik langsung maupun tidak langsung terhadap emiten tersebut, yang pada akhirnya mempengaruhi nilai perusahaan yang tercermin dari harga saham.

Mari kita berasumsi, kembali ke tahun 2002. Seandarinya orang pertama yang meminjam buku ini mengaplikasikan apa yang ia baca dengan investasi di saham dua tahun kemudian. Sebut saja namanya Ira, ia meminjam buku The Stock Market Barometer tahun 2002, mengumpulkan uang selama 2 tahun Rp.3 juta dan menginvestasikan semua uangnya ke dalam instrumen saham, melakukan deversifikasi portofolio dengan cara membeli saham dari industri yang berbeda. Industri perbankan, ia pilih saham PT Bank BRI (BBRI), industri perkebunan, pilih PT Astra Agro Lestari (AALI), dan industri pertambangan, pilih PT Bukit Asam (PTBA). Akhir tahun 2014, karena ingin liburan keliling Eropa, Ira menjual semua sahamnya. Kira-kita tabel portofolio Ira dengan berinvestasi selama 11 tahun (Jan 2004 – Dec 2014) akan menjadi:

finance.yahoo.com

Moral Lesson:

  1. Iqro’ (Bacalah, bacalah)
  2. Knowingis not enough, you must applywilling is not enough,you must do (Bruce Lee)
  3. Kita hidup di sistem ekonomi yang semakin kompleks, tehnologi semakin canggih, dan internet seperti membuat jarak antar negara semakin dekat. Fluktuasi atas nilai yang kita investasikan sulit untuk dihindari, bahkan pergerakan nilainya supercepat (nanosecond) tapi secepat apapun perubahan itu, insha Allah akan dikalahkan oleh orang-orang yang sabar.
  4. Sebelum memulai investasi, berusahalah untuk mencari informasi dari sumbernya (seperti laporan keuangan yang sudah di audit) daripada membaca serpihan berita.
  5. Miliki tujuan investasi yang jelas dan berdamailah dengan fluktuasi harga yang hampir berubah setiap detik. Banyak orang menjadi takut investasi karena terlalu sering melihat monitor.
  6. Risk isinextricably linked to an investor’s time horizon (Risiko terkait erat dengan horizon waktu seorang investor) (Warren Buffett).

Personal Purpose:

Bulan lalu lihat paket liburan ke West Europe, harganya sekitar $2.500 atau Rp.32.500.000,-per orang (asumsi $1 Rp.13.000,-). Menimbang tingkat inflasi, kira-kira harga paket ke West Europe 5 tahun mendatang jadi Rp.50.000.000,- per orang. Insha Allah ingin ngajak Ira ke kesana 5 tahun lagi berarti mulai hari ini harus investasi. Aamiin.