Why should We worry about Uncertainty

Sitting on the same chair and table at one place (office) for long time is the easiest way to bring you nowhere. Wake up and make decision to follow your dreams may put you on the uncertain situation. So, which one do you choose?

It is not an easy option. But we all know that life is full of uncertainty. Some people said that the only thing certain in our life is the uncertainty. According to the experts, uncertainty is a situation which involves imperfect and/ or unknown information.

For sure, We have been through many circumstances within out life time. Happy, sadness, success, fail and so on. All those things happened because we had been tried something. We often succeed and also unsucceed. For me, trying something and unsucceed, it would be better rather than we do nothing.

Uncertainty in finance

For example, an investor came to stock analyst. She asked him why the stock price dropped whereas she had analyzed using some financial ratios. The analyst answered the stock price was not only defined by some financial variables such DER, ROI, etc but there were many variables which influence stock price like investor behavior, geopolitic, global economy and so forth. Prof. Manurung and his friends conducted a research. It focus on the determinant factors of Jakarta Composite Index (JCI). They used ten variables and they also claimed using the longest available monthly database for Indonesia data. But at the end of research, they suggest other researchers to do future research. By reading this, I just thinking. There is no one contant variable which influence another variable but it should many variables. It means that we can’t use all of variables in one research because we do not have enough resources (time, money, etc) to do it. So if there are several variabels that can not be covered only by single research, it shows there is a room for uncertainy.

Flash Back

I try to flash back when I decided to resign and focus on pursuing my dream. I risk everything  I have for something that I believe. Indeed, I am testing against my belief. I had made some decisions that carry me on to current situation. I moved from one company to another company. I resigned from multinational company and decided to continue master degree. The newest one, I stop working at investment company and trying to pursue another dream. Then I learn something obout uncertainty.

I learn something during those journeys. I may have plans and complete them with some alternatives, but I can’t guarantee all of the result as I expected. Now, I know my life is full of uncertainty but God has his own way for me. So why should we worry about uncertainty, if God has a plan for me. What I need, it just to learn deep enough and believe on Allah’s plan.

And whoever fears Allah, for him Allah brings forth a way out, and gives him provision (rizq) from where he does not even imagine (Surat At-Talaq: 2/3).

I do believe with Allah has plan for us, the choices we make as well as our deree of faith and hardwork. So I choose to pursue my dreams because I believe with God’s plan.

American English Course July 26, 2016.

Ekonomi Menyusut atau Mengempis?

BREXIT atau Britain Exit menjadi satu dari sekian banyak contoh tentang ketidakpastian global dewasa ini. Hari Jum’at 24 April 2016, warga negara inggris yang berusia di atas 18 tahun melakukan voting yang intinya memilih Inggris tetap menjadi bagian dari Uni Eropa atau keluar dari Uni Eropa. Hasilnya masyarakat yang memilih untuk “leave” lebih banyak daripada yang memilih “remain” di Uni Eropa. Artinya Inggris akan keluar dari komunitas tersebut setelah bergabung selama 43 tahun.

Cerita Brexit, tak jauh beda dengan cerita lain seperti devaluasi Yuan dan kenaikan suku bunga Amerika yang memiliki spillover effect bagi pasar keuangan global. Sebagian masyarakat awam mungkin tidak merasakan dampak langsung dari fenomena ini, tapi hal ini akan berbeda bagi mereka yang melakukan investasi di sektor keuangan. Di hari yang sama, saat referendum Brexit sudah diketahui hasilnya. Pasar keuangan global merespon dengan rasa panik. Akibatnya hampir seluruh pasar kuangan dunia rontok. Tidak hanya mata uang Inggris yang terdevaluasi terhadap sebagian besar mata uang dunia tapi Brexit juga membuat pasar saham dunia jatuh. Menurut theguardian.com akumulasi kerugian di pasar keuangan yang ditanggung dalam satu hari akibat referendum Brexit mencapai $2 triliun dimana $200 miliar diderita oleh 400 orang terkaya di dunia.

Kehilangan triliunan dolar di pasar keuangan sepertinya akan menjadi stimulus awal dan mungkin masih akan disusul oleh penyusutan-penyusutan lainya. Signal pertama sudah dimulai ketika lembaga rating internasioal, Moody’s dan Fitch mengubah outlook kredit inggris dari stabil menjadi negatif, dari AA+ ke AA. Belum lagi keputusan David Cameron mundur sebagai perdana menteri tentu akan memberi multiplier effect bagi investor global terkait masa depan Inggris.

Sama seperti krisis-krisis sebelumnya yang menghilangkan uang trilunan dolar tapi dimana muara uang triliun dolar yang hilang itu. Apakah ekonomi sedang menyusut atau justru ini merupakan salah satu cara pasar untuk “mengempiskan” kembali harga aset yang telah digelembungkan saat kondisi ekonomi sedang tumbuh?

 

Supply dan Demand Pelaku Kejahatan

Makan malam ini terganggu, meskipun lauknya sangat enak (udang pedas manis) karena pemberitaan di TV semakin hari sepertinya semakin di luar batas wajar manusia normal. Mulai dari meninggalnya mahasiswi universitas negeri di Jogya, Pembunuhan yang dilakukan mahasiswa terhadap dosen di Medan, Penyelundupan narkoba, operasi tangkap tangan (OTT) pejabat oleh KPK, hingga peristiwa yang paling tidak logis dilakukan oleh manusia, yaitu pemerkosaan terhadap siswi 14 tahun yang dilakukan oleh 14 remaja (kalau mereka masih layak disebut manusia) yang terjadi di Bengkulu menyebabkan korban meninggal. Belum hilang rasa marah kita terhadap pelaku pemerkosaan di Bengkulu, kita dikejutkan lagi dengan kejadian pemerkosaan dan pembunuhan dengan cara yang sangat kejam terjadi di Jatimulya kabupaten Tanggerang dengan korban gadis 18 tahun, Enno Fahira dan pelaku utamanya adalah pelajar SMP berusia 15 tahun. Pelajar SMP!

Siapa yang salah? (it’s not a good question, mari kita persempit ruang pertanyaan jenis ini dalam kamus hidup kita).

Mari kita ganti dengan, apa solusinya?

Bukannya pemerintah sudah memiliki payung hukum untuk semua tindak kejahatan yang terjadi. Lalu kenapa kejahatan yang menyebabkan korban kehilangan nyawa masih sering terjadi bahkan cara-cara yang dilakukan dalam tindak kejahatan tersebut seringkali melampaui imajinasi manusia. Apakah konsekuensi hukum saat ini belum memberi efek jera bagi para pelaku atau yang lebih menakutkan ketika konsekuensi hukum itu dipandang sebelah mata dan tidak membuat para pelaku kejahatan lain takut untuk mengulangi aksinya karena menilai dampak hukum yang diterima masih memberi mereka ruang untuk berbuat lagi. Misalnya, pemerkosaan di Bengkulu yang menyebabkan nyawa korban tidak bisa diselamatkan. Semua pelaku rata-rata remaja di bawah usia 20 tahun, anggap saja usia mereka 20 tahun dan karena perbuatannya tersebut mereka dihukum seumur hidup. Berarti mereka akan bebas di usia 40 tahun, setelah mereka dengan sadar melakukan pemerkosaan dan pembunuhan.

Pertanyaan berikutnya kenapa orang berani melakukan kejahatan secara sadar yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang?

Mungkin karena mereka dengan sadar dan logis dapat berhitung tentang konsekuensi hukum yang akan mereka terima. Mereka bisa menggunakan faktor pengkalian sederhana untuk menghitung masa tahanan yang akan mereka jalani ketika mereka melakukan kejahatan tersebut. Lihatnya aksi dan konsekuensi para koruptor selama ini.

Di negeri dongeng ini, seringkali politik dan ekonomi belum bisa berkolaborasi dengan baik. Politikus memiliki banyak argumen dan pertimbangan untuk meloloskan undang-undang yang kadangkala mengabaikan aspek insentif pada dunia nyata. Ekonom juga harus mafhun bahwa tidak semua fenomena bisa dibuat ke dalam modelisasi matematis. Memang kita sedang dan terus mencari keseimbangan, tapi untuk pelaku kejahatan yang berdampak sistemik saya lebih tertarik dengan pendekatan ekonomi. Misalnya kejahatan narkoba, pembunuhan dan koruptor.

Tentu kita masih ingat sidak langsung yang dilakukan oleh menteri hukum dan ham di acara Mata Najwa, hampir setiap rutan yang dikunjungi ditemukan narkoba. Ketidaklogisan berikutnya, bagaimana bisa tempat yang seharusnya dijadikan ruang untuk rehabilitasi (proses penyembuhan) pengguna obat-obat terlarang malah dijadikan tempat mengkonsumsi barang-barang tersebut. Kita juga tidak lupa dengan seorang narapidana kasus narkoba yang diketahui tetap mengendalikan bisnis haramnya dari dalam jeruji besi. How come?

Mungkin selama ini energi kita terlalu banyak tercurah pada pengedar dan pemberi suap, bukan pengguna narkoba dan penerima suap. Faktanya aparat memberi hukuman lebih berat kepada pengedar narkoba, artinya kita telah menutup atau menghambat supply dan bisa menyebabkan kelangkaan atas barang tersebut. Dengan kata lain supply barang berkurang. Jika supply barang berkurang sedangkan permintaan atas barang tersebut tetap, maka harga akan naik, dan ini justru menarik bagi para pengedar baru untuk masuk ke dalam pasar tersebut dengan bayangan insentif yang lebih besar. Jika kita memang ingin mengurangi jumlah pengedar, mungkin kita harus menghukum orang-orang yang menciptakan permintaan (pengguna narkoba) dengan hukuman yang bisa memberi efek jera. Karena jika supply terhadap barang tetap, sementara demand atas barang tersebut berkurang, maka harga akan turun. Harga turun akan mengurangi insentif yang diterima olah para pengedar, dan akhirnya akan menurunkan pendapatan mereka. Pendapatan menurun menyebabkan bisnis ini jadi tidak menarik lagi. Sehingga satu persatu pengedar mungkin akan beralih ke profesi-profesi yang lebih menguntungkan.

Sama halnya dengan kasus Yuyun di Bengkulu dan Enno Fahira di Jatimulya. Aparat harus berani memberi hukuman yang adil bagi para pelaku. Hal ini penting untuk memberi efek jera bahkan rasa takut bagi siapa saja yang terfikir untuk melakukan kejahatan. Kalau tidak, kita seperti sedang menunggu berita serupa di lain waktu.

May 17, 2016 at Unsri

Sahabat Inspirasi Hidup

Tiap orang pasti punya mimpi. Sebagian orang telah sukses menggapai mimpinya. Lalu mereka menciptakan mimpi-mimpi baru untuk dicapai. Sebagian lagi belum berhasil mencapai mimpi-mimpinya. Seringkali kegagalan itu disebabkan bukan karena impiannya terlalu sulit untuk dicapai melainkan karena melemahkan usaha terlalu dini dan menganggap kekurangan sebagai batu penghalang bukan sebagai sebuah tantangan untuk dilewati.
setiap hari adalah hari yang baik untuk belajar dan melakukan evaluasi atas semua mimpi-mimpi yang telah kita buat di tahun sebelumnya. Mengukur berapa persen mimpi yang telah kita capai. Lalu jika perlu mengevaluasi mimpi-mimpi sebelumya menjadi sebuah mimpi baru yang lebih baik lagi.

Belajar dari kejadian tahun 2013, saya mencoba merangkum beberapa impian dari sahabat yang saya tulis disini. Alhamdulillah 3 tahun sudah berlalu, sebagian impian itu sudah kami capai dan sebagian lagi masih harus kami perjuangkan. Semoga berhasil. Aamiin.

Hari ini, saat menulis. Ira ada disamping saya. Btw sebelum menulis impian kami selanjutnya, berikut impian saya terkait dengan dia yang saya tulis tahun 2013 lalu:)

“Teman berikutnya adalah Ira. Nama lengkapnya Ira Pratiwi Arachman. Teman yang baru saya kenal sekitar satu tahun lalu. Dia adalah gadis manis yang datang dari orbit berbeda. Kami dari orbit manajemen dan Ira berasal dari orbit akuntansi. Meskipun beda orbit, saya merasa ada banyak kesamaan diantara kami. mungkin alasan itulah yang mengilhami kami untuk sehati hari ini, dan insya Allah sampai nanti. Melihat Ira, seperti melihat Ibu di masa muda. Ira adalah replika Ibu bagi saya. She is the sweetest girl in this world. By the way tanggal 7 Januari 2013 ira akan mengikuti training kerja di Jakarta. Saya berdo’a semoga dia bisa melewati setiap proses training dengan baik, mengabdikan setiap ilmu yang dia pelajari untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat dan setelah itu saya berdo’a semoga ira mau menemani setiap langkah di sisa hidupnya untuk berada disamping saya dalam menggapai mimpi kita bersama. Aamiin.”

Kini saya dan Ira sudah berkominten untuk hidup bersama, dan kami juga telah membuat mimpi berdua untuk fokus mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar diberi kempatan melanjutkan pendidikan ke eropa. Mimpi ini memang berat, tapi kami percaya dengan kata-kata Man Jadda Wa Jadda (Who Serious Will Success).

Apalagi kemarin, saya kumpul bersama teman-teman kantornya. Saya mendapat motivasi dan informasi dari salah satu temannya yang kebetulan sedang mengambil study di Jerman. Ada juga teman yang lain, memutuskan untuk resign bekerja karena ingin fokus melanjutkan kuliah. Teman berikutnya, meskipun sedang hamil, tapi tetap semangat belajar untuk mengikuti ujian CFA. Mereka semua berani keluar dari comfort zone, terus belajar dan bergerak untuk memperjuangkan impian masing-masing. Tidak ada alasan kita untuk stuck di satu tempat, mari kita berlayar ke laut yang lebih bergelombang.

With you, Almais, Abii, Mellya, Nurma, Hafni, Rio, Devi Puspitarini and Ulva Widya at Pizza é Birra

Tentu kita semua sepakat, hari esok harus lebih baik dari hari ini. Namun ingat perubahan tidak akan terjadi apabila tidak ada yang mengupayakannya. Perubahan dalam hidup anda bergantung dari apa yang anda upayakan (Rhenald Kasali).

Kalimat terakhir adalah do’a. Ya Allah, apabila dengan impian ini Engkau semakin cinta kepada kami maka bantulah kami. Jika dengan ini keberadaan kami bisa lebih bermanfaat kepada banyak orang, maka bantulah kami. Akan tetapi apabila dengan cita-cita ini kami menjadi sombong dan menjauh dari-Mu serta impian kami akan membebani orang-orang yang berada disekitar, maka berilah kami petunjuk. Aamiin.

Jakarta: March 1, 2016.

Indonesia: Is it possible?

World Bank (WB) announched global economy growth 2,4 percent in 2015 or 0,6 percent below its projection on early 2015. According to WB on global economic prospects, global growth is projected to reach 2,9 percent in 2016.

What about Indonesia?

Gross Domestic Product (GDP) of Indonesia published last week. In the fourth quarter last year, goverment spending driven economy expanded more than 5 percent. For full year of 2015, Indonesia grew 4,7 percent or below 0,5 percent compare with the target, but it still becomes one of the largest roobust economy beside China and India. Indonesia was targetting GDP grow 5,3 percent this year. Is it possible?

Top leader from around the world gathered in Davos to attend World Economic Forum. In Economic terms, China and Commodities are some of the key themes for this year’ conference. Still fresh on our mind when China devalued its currency to address slowing growth. End of 2015, Central bank of China cut renmimbi by about 1,6 percent againts U.S dollar to help exports. Export has been major component supporting China economic growth. Based on WB data, export of goods and services contribute 22.6 percent of GDP in 2014, consistently decreased compared to last three year which 23.3 percent in 2013, 24.2 percent in 2012 and 25.5 percent  in 2011. Indeed, one of the quickest way to help chinese export by devaluating its currency to make their goods chaeper on the world market. In the other hand, it is going to be a new challenge for Chinese trading partners beside commodities prices and U.S. renormalization of a monetary policy.

Statista shows us the China gross rate from 2010 and make some forcasting until 2020.

Chart above shows us that China economy has been slowing down. In addition, the panic due to downtrend in real economy spread to Chinese financial market. Shanghai Composite Index dropped by more than 20 percent with twice stock trading suspensions as a result of stock price plunged more than 7 percent in a day trading during January to mid-February 2016.

The economy and financial market turnmoil in China extent almost to all over the world. As we know, since China become the world largest commodities consumer, most of commodity exporter countries (including Indonesia) will be relatively influenced by China.

Commodities will be another challange for global ecomony in Red Fire Monkey Year. Crude oil price tumbled below $28 per barrel today, reach 11-year lows. WB forcast for crude oil is $37 per barrel in 2016, down from $51 per barrel in its October projections.

Plunge in oil is having deflationary effects on the entire commodity sector. Coal price have fallen to below $50 per tonne for first time since before the global financial crisis 2008, palm oil traded at an average of $614 per ton in 2015, down 25 percent from an average $818 per ton in 2014, rubber price have dropped to an eight-year low of about Rs 100 per kg.

The decline in commodities prices and slowdown in China economy are frightening us, but we need to keep optimist. Just for an update and alert, latest commodity prices published by World Bank. In January 2016, energy prices slumped by 15,3 percent.

The wall street may has a credo “what ini January, as a year goes by” but I believe Indonesia can achieve the GDP target growth by 5.3 percent this year if government can push public capital spending by more than 30 percent in the first quarter. Last but not least, government need to focus on maintaining stability, preventing radicalism and forest fires. Accoding to World Bank quarterly report, forest fires was effected by an economic and environmentally losses estimated IDR 221 trillion (1.9 percent of GDP) or double the amount of  spent on recontruction after the 2004 tsunami in Aceh.

Kalidoni Palembang: February 10, 2016.