Minyak

Saat menunggu pesanan datang dan istri yang lagi sholat, ada pengunjung yang duduk di samping membahas kenaikan harga BBM.
Tadi malam, saat kita tidur nyenyak jam 12 dini hari. Banyak petugas pom bensin kerja lembur unk setting harga baru BBM. Per 28 Maret 2015 BBM naik menjadi 7.300 per liter.
Menurut Transparency International report (2001) dua pertiga dari total warga miskin dunia tinggal di negara-negara kaya minyak.
Mungkin kita menjadi bagian dari dua pertiga dalam survey tersebut. Laporan tentang kekayaan sumber daya yg kita miliki hari ini, sepertinya baru bisa dirasakan di atas kertas tapi belum menyentuh realitas.
Apakah impian untuk menciptakan kemandirian energi akan tetap menjadi mimpi?
Pertanyaan itu disampaikan dalam buku “Mengapa Perusahaan Minyak Dibenci” karangan John Hofmeister, mantan dirut Shell Oil Company.
Itulah mengapa kita selalu mendengar tentang “kelangkaan energi” bukan “kekurangan energi” karena kita tidak pernah kehabisan energi.
Kita tidak akan pernah kehabisan energi kecuali kita memilih kebijakan yang salah atau tidak tepat dalam membuat kibijakan (John Hofmeiser).
Selama Pak Slamet masih menggunakan minyak untuk menggoreng bebek, dan kita rela antri untuk makan disana. Maka kebutuhan akan minyak akan tetap ada :)

RM Bebek Slamet Palembang
March 28, 2015

Nanosecond: Dream to West Europe

Nanosecond menjadi kata terakhir pada paragraf pertama pengantar (foreword) buku The Stock Market Barometer karya William Peter Hamilton. Buku ini pertama kali terbit tahun 1922 dan dicetak ulang tahun 1998. Ada informasi menarik saat saya mengisi kartu peminjam buku, di kartu tersebut ada catatan siapa saja yang pernah meminjam buku ini, berikut tanggal dan tahunnya. Dari catatan yang ada di kartu peminjam, saya mendapat informasi bahwa buku ini dibaca oleh 2 orang. Pertama tahun 2002 dan kedua tahun 2005. Hari ini 20 Maret 2015, saya menjadi orang ke-3 yang meminjam buku ini dalam rentang waktu 13 tahun.

Dari sini saya bisa menyimpulkan bahwa buku tentang stock market, apalagi dalam bahasa Inggris kurang menarik minat pembaca, khususnya mahasiswa di kampus ini. Indikasinya, dalam rentan waktu 13 tahun (2002 – 2015), buku ini hanya di baca oleh 3 orang. Buku ini paling tidak tertutup (tidak ada yang baca) selama 10 tahun, dan yang pasti tidak ada mahasiswa yang meminjamnya selama 10 tahun sejak 2005.

Nanosecond dalam buku ini menerangkan tentang dunia yang kita tinggali hari ini berubah dengan sangat cepat, Willam sudah menulis tentang perubahan supercepat ini tahun 1922, saat nenek moyang kita masih berjuang merebut kemerdekaan. Menurut saya, jika mengaitkan nanosecond dengan stock market dapat diartikan sebagai suatu pergerakan harga saham yang sangat cepat merespon setiap kejadian yang mempunyai korelasi baik langsung maupun tidak langsung terhadap emiten tersebut, yang pada akhirnya mempengaruhi nilai perusahaan yang tercermin dari harga saham.

Mari kita berasumsi, kembali ke tahun 2002. Seandarinya orang pertama yang meminjam buku ini mengaplikasikan apa yang ia baca dengan investasi di saham dua tahun kemudian. Sebut saja namanya Ira, ia meminjam buku The Stock Market Barometer tahun 2002, mengumpulkan uang selama 2 tahun Rp.3 juta dan menginvestasikan semua uangnya ke dalam instrumen saham, melakukan deversifikasi portofolio dengan cara membeli saham dari industri yang berbeda. Industri perbankan, ia pilih saham PT Bank BRI (BBRI), industri perkebunan, pilih PT Astra Agro Lestari (AALI), dan industri pertambangan, pilih PT Bukit Asam (PTBA). Akhir tahun 2014, karena ingin liburan keliling Eropa, Ira menjual semua sahamnya. Kira-kita tabel portofolio Ira dengan berinvestasi selama 11 tahun (Jan 2004 – Dec 2014) akan menjadi:

finance.yahoo.com

Moral Lesson:

  1. Iqro’ (Bacalah, bacalah)
  2. Knowingis not enough, you must applywilling is not enough,you must do (Bruce Lee)
  3. Kita hidup di sistem ekonomi yang semakin kompleks, tehnologi semakin canggih, dan internet seperti membuat jarak antar negara semakin dekat. Fluktuasi atas nilai yang kita investasikan sulit untuk dihindari, bahkan pergerakan nilainya supercepat (nanosecond) tapi secepat apapun perubahan itu, insha Allah akan dikalahkan oleh orang-orang yang sabar.
  4. Sebelum memulai investasi, berusahalah untuk mencari informasi dari sumbernya (seperti laporan keuangan yang sudah di audit) daripada membaca serpihan berita.
  5. Miliki tujuan investasi yang jelas dan berdamailah dengan fluktuasi harga yang hampir berubah setiap detik. Banyak orang menjadi takut investasi karena terlalu sering melihat monitor.
  6. Risk isinextricably linked to an investor’s time horizon (Risiko terkait erat dengan horizon waktu seorang investor) (Warren Buffett).

Personal Purpose:

Bulan lalu lihat paket liburan ke West Europe, harganya sekitar $2.500 atau Rp.32.500.000,-per orang (asumsi $1 Rp.13.000,-). Menimbang tingkat inflasi, kira-kira harga paket ke West Europe 5 tahun mendatang jadi Rp.50.000.000,- per orang. Insha Allah ingin ngajak Ira ke kesana 5 tahun lagi berarti mulai hari ini harus investasi. Aamiin.

Kesabaran Ibu Yallen

Kuliah malam ini membuat ngantuk, jadi membayangkan kesabaran ibu Janet Yallen sepertinya lebih menarik. Dia sabar, pintar dan sedang menjabat sebagai Chairman Federal Reserve Amerika.
Semalam, setelah melalui rapat dua hari dalam Federal Open Market Commitee (FOMC) Ibu Yallen akhrinya membuktikan kesabarannya untuk belum menaikkan suku bunga. Pernyataan yang ditunggu oleh hampir sebagian besar pelaku pasar keuangan dunia ini membuat nilai tukar dollar AS terdepresiasi terhadap hampir seluruh mata uang dunia, termasuk Indonesia. Rupiah hari ini terapresiasi hingga di bawah Rp.13.000 per dollar AS pagi tadi.
Tak hanya nilai tukar yang menguat, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga ditutup dalam teritori positif, menguat 0,75% ke level 5.453.
Thanks Ibu Yallen yg sudah menunda menaikkan tingkat suku bunga The Fed, sehingga investor asing yang melakukan net sell sejak 5 Maret 2015 lalu akhirnya melakukan net buy kembali. Dan yg penting performance IHSG hari ini jadi menarik (profit taking).

MM Unsri, room 205. Time 20.45 p.m
March 19, 2015

Ekonomi Indonesia, Mau ke Mana?

Sehabis makan malam, saya menemani anak adik istri yang baru berusia 6 bulan, ia belajar berjalan menggunakan odong-odong (jawaban itu yang saya dapat saat bertanya pada istri tentang benda empat roda tersebut). Namanya juga anak kecil, tentu dia akan berjalan kemana saja, sesekali bersuara, dan itu menjadi momen yang lucu. Sembari memegang gagang benda tersebut, tiba-tiba saya terpikir tentang bagaimana kondisi kita nanti, saat Rayyan yang hari ini berusia 6 bulan menjadi 20 tahun. Bagaimana kita dan seperti apa Indonesia.

Pertanyaan itu, mengasosiasikan pikiran saya pada buku Pak Boediono tentang Ekonomi Indonesia, Mau ke Mana?

Seperti apa yang kita pelajari di kelas Perekonomian Indonesia, tujuan akhir kebijakan ekonomi adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat. Menunut salah satu Professor ekonomi yang mengajar tentang metodologi penelitian, menyebut kesejahterakan itu sebagai sesuatu yang abstrak. Dan jika di empiriskan mungkin akan berbentuk dua kondisi mendasar yaitu kebutuhan hidup yang stabil dan juga penghasilan yang bisa diandalkan untuk menghidupi keluarga secara layak.

Tentu dua kondisi mendasar itu menjadi tugas penting pemerintah yang bisa dicapai dengan pertumbuhan ekonomi melalui perluasan kegiatan ekonomi guna membuka lapangan kerja baru, dan stabilitas ekonomi sebagai cara untuk melindungi agar penghasilan masyarakat tidak tergerus oleh inflasi. Kondisi lain yang tidak bisa diabaikan adalah stabilitas politik yang akhir-akhir ini semakin mendominasi.

Dalam ilmu ekonomi makro, kita juga diajari tentang pertumbuhan ekonomi potensial yang bisa diramalkan melalui kualitas institusi, manusia, sumber daya alam, dan kemampuan teknologi.

Mari kita ambil atau bagi tugas sesuai kapasitas masing-masing, agar pertumbuhan ekonomi potensial dapat dicapai secara maksimal dengan cara mendukung, mengontrol, dan mengkritisi pemerintah agar tetap fokus mensejahterakan rakyat dengan cara meningkatkan kwalitas institusi dan mendorong percepatan teknolgi, dan kita sebagai individu untuk upgrare diri agar bisa menjadi sumber daya manusia yang bermanfaat bagi percepatan pertumbuhan ekonomi, serta berdo’a agar Allah selalu melimpahkan sumber daya alam hingga anak cucu kita nanti karena kondisi ekonomi yang baik itu tak hanya kita yang nikmati tapi harus dijaga bahkan ditingkatkan untuk anak cucu kita nanti.

Palembang, 15 Maret 2015.

Jangan Protes Rupiah Melemah

Jum’at malam lalu, kami mengikuti ujian tengah semester mata kuliah Manajemen Keuangan Internasional. Salah satu soal terkait faktor-faktor penyebab terjadinya pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika. Hari ini pelemahan (depresiasi) rupiah terhadap dollar tak hanya menjadi diskusi pengusaha, pelaku pasar, dan akademisi tapi depresiasi ini sudah menjangkau warung kopi dan pedagang kaki lima.

Hari ini, disaat kita hidup dalam sistem ekonomi yang semakin kompleks, kegiatan ekonomi satu negara hampir tidak mengenal batasan secara fisik, semua sudah menjadi satu sistem yang terintegrasi secara global. Layaknya sebuah sistem, jika ada satu bagian yang bermasalah, maka akan mengganggu performance bagian lain.

Secara teori tentu kita tahu pergerakan nilai tukar dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain permintaan dan penawaran, posisi neraca perdagangan, tingkat inflasi, tingkat suku bunga, tingkat pendapatan, kebijakan pemerintah, dan ekspektasi, rumor, dan juga spekulasi terkait mata uang negara yang bersangkutan.

Tentu saya tidak ingin mendeskirpsikan faktor-faktor tersebut tapi lebih tertarik untuk melihat bagaimana peran atau kontribusi individu terhadap pergerakan nilai tukar suatu negara.

Salah satu faktor yang mempengaruhi nilai tukar adalah posisi neraca perdagangan. Neraca perdagangan antara dua negara berisi semua pembayaran hasil jual beli barang dan jasa. Neraca perdagangan disebut defisit apabila negara tersebut membayar lebih banyak ke negara partner dagang. Neraca perdagangan surplus terjadi apabila negara menerima uang lebih banyak dari partner dagang. Sekilas ini seperti zero some games. Apabila neraca perdagangan defisit maka negara tersebut membutuhkan mata uang negara partner dagang lebih banyak, menyebabkan permintaan mata uang negara partner dagang meningkat sehingga nilai mata uang negara tersebut melemah terhadap nilai mata uang negara partner dagang.

Kita sudah tahu hubungan defisit neraca pembayaran terhadap pelemahan nilai tukar, serang coba kita lihat atribut yang sering kita pakai sehari-hari lalu hitung kontribusi diri kita terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. Bagaimana menghitungnya?

Besok hari minggu sebelum pergi ke mall atau hari senin sebelum berangkat kerja, coba luangkan waktu sekitar 5 menit untuk menghitung atribut yang kita pakai (semua atribut yang melekat di tubuh) mulai dari ujung kaki hingga minyak rambut yang kita gunakan, lalu pisahkan antara produk lokal dan produk impor. Setelah menghitung dan jumlahkan, lalu kita bandingkan antara produk lokal dan produk impor. Tabel di bawah sebagai contoh sederhana.Picture1

Tadi pagi sebelum ke kampus, saya coba menghitung atribut yang saya pakai. Dari 10 atribut yang saya kenakan ternyata hanya 2 produk atau 25 persen produk lokal dan sisanya 75% adalah produk impor. Data ini menjelaskan bahwa saya berkontribusi terhadap pelemahan rupiah karena menjadi salah satu individu yang menyebabkan terjadinya defisit pembayaran. Maka saya tidak berhak teriak atau protes atas melemahnya rupiah saat ini jika realitanya saya adalah bagian dari penyebab pelamahan nilai tukar rupiah itu sendiri.

Jika ada orang yang berhak mengeluh atas pelemahan nilai rupiah hari ini, mereka bukanlah pengusaha, pelaku pasar, akademisi dengan atribut import yang lebih dominan daripada produk lokal, tapi mereka yang harusnya berteriak paling lantang atas melemahnya rupiah hari ini adalah orang-orang seperti Pak Usnan dan Bu Aminah, yang dalam diam, tanpa protes mungkin sebagian besar atau mungkin seluruh atribut yang mereka pakai adalah produk lokal yang tentu saja menjadi pondasi kekuatan nilai rupiah.

Bertemu Pak Usnan dan Bu Aminah di kampus MM Unsri Bukit Palembang

Bertemu Pak Usnan dan Bu Aminah di kampus MM Unsri Bukit Palembang

Baru sadar, ternyata ajakan pemerintah untuk mencitai produk dalam negeri mempunyai multiplier effect yang signifikat terhadap kondisi nilai tukar rupiah. Semoga kita bisa segera beralih ke produk dalam negeri. Aamiin.

Malam Minggu di Kalidoni, Palembang.

Maret 14, 2015

 

Uncertainty

Berdiamlah dalam kondisi ketidakpastian hari ini, dan bersiaplah menyerah, lalu mati tanpa perlawanan sebagai seorang yang layak tak dikenang. Kalimat ini menjadi kesimpulan dari kelas keuangan internasional malam itu.

Semakin hari, sepertinya kita tidak bisa lepas lagi dari ketidakpastian. Hari ini banyak media membahas pelemahan rupiah terhadap dolar yang tembus Rp.13.000,-. Nilai ini menjadi yang terendah sepanjang 17 tahun terakhir, tepatnya saat krisis 1998 terjadi.

Fluktuasi nilai tukar (exchange rate fluctuation) tentu sangat berdampak terhadap aliran kas (cash flow) perusahaan bahkan negara. Bayangkan jika perusahaan yang harus mengimpor bahan baku dari Amerika, tentu perusahaan tersebut harus membayar rupiah dalam jumlah yang lebih banyak. Atau perusahaan yang banyak hutang dalam bentuk dolar, dan jatuh tempo saat rupiah melemah seperti hari ini. Sudah tentu hal ini sangat berpengaruh terhadap keuangan perusahaan.

Sejatinya fluktuasi nilai tukar ini tidak hanya berpengaruh terhadap perusahaan yang aktivitasnya terlibat langsung dengan transaksi luar negeri (foreign transaction) tapi perusahaan yang tidak terlibat dalam aktivitas foreign transaction juga bisa terkena dampak dari pelemahan nilai tukar tersebut.

Uncertainty Creates Tough Competititon

Sampai hari ini perusahaan lokal terus berjuang berkompetisi dengan multinasional company (MNC), dan sepertinya perjuangan itu akan semakin menantang saat Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan dimulai akhir tahun ini. Pelemahan nilai tukar rupiah akan menjadi senjata makan tuan yang bisa melemahkan bagi pelaku bisnis lokal tanpa mereka mampu menghalau karena ini terkait dengan risiko sistematik, atau risiko yang berasal dari eksternal perusahaan.

Pelemahan nilai tukar akan membuat induk dari MNC yang beroperasi di Indonesia menerima dolar amerika lebih banyak. Konsekuensinya dengan obsesi meningkatkan penjualan, MNC akan menurunkan harga, jika sebelumnya perusahaan local mampu bersaing head to head dengan MNC, maka ketika disparitas harga terjadi cukup tinggi, maka konsumen yang rasional cenderung untuk membeli produk yang sejenis dengan harga yang lebih murah. Pada akhirnya, dalam pasar persaingan sempurna perusahaan dengan harga terendah yang akan memenangkan pasar. Seharusnya dengan cadangan devisa yang meningkat, pemerintah bisa melakukan intervensi pasar agar para pengusaha tidak terjebak dalam pesimisme kolektif yang bisa membahayakan ekonomi.

As a conclusion, jika uncertainty sudah menjadi fenomena sehari-hari dan competition tak bisa lagi dihindari, maka diam adalah menyerah untuk menunggu mati. Sepertinya tak ada hal yang lebih berguna selain menerima semua ini sebagai realitas, move on, dan berjuang. Pemenang hari ini adalah mereka yang mampu deliver objectives on uncertainty and tough competition.

Note: Ide untuk menulis sebenarnya sudah lama ada, tapi baru hari ini kesampaian saat menemani istri yang harus bed rest di rumah sakit. Semoga sayang cepat sembuh ya. Aamiin YRA.

RSIA TIARA FATRIN, PALEMBANG

March 9, 2015.