Studi Kelayakan Kredit

Alan Greenspan (President Federal Reserve Board) on May 1996 “we should not forget the basic economic function of these regulated entities (bank and finance company) is to take a risk, if we minimize risk taking in order to reduces failure rates to zero, we will by definition have eliminate the purpose of the banking and finance system”.
“You gain a competitive advantage when you become skilled and swift at framing business decision that maximize opportunity while mitigating risk and understanding uncertainty”.
merenung

Analisa kredit ini mungkin terlahir karena adanya resiko akibat ketidakpastian. Resiko bisa berupa kesempatan atau ancaman. Fundamental manajemen resiko memusatkan pada analisa atas kerugian dari ketidakpastian tersebut dan berusaha untuk mengurangi probabilita terjadi atau mengurangi besarnya kerugian yang mungkin terjadi akibat dari ketidakpastian tersebut apabila ketidakpastian tersebut terealisasi.
manajemen resiko itu membutuhkan praktek yang kredibel dalam:
a. Mengindentifikasi dan monitoring resiko
b. Akses yang meyakinkan dan akurat pada infrmasi terkini yang terkait dengan resiko tersebut
c. Praktek pelaksanaan kritikal bisnis control terkait dengan resiko yang konsissten
d. Proses pengambilan keputusan yang didukung dengan kerangka kerja analisa resiko dan evaluasi resiko.

Hal-hal yang sering dijadikan pertimbangan sebelum melakukan suatu analisa kredit melibtkan beberapa hal yang harus dipenuhi oleh seorang debitur. Meskipun hal-hal tersebut jarang terpenhi semuanya, tetapi seiring jam terbang seorang credit analis, dia akan mampu membaca analisa credit secara detail. Factor-faktor tersebut antara lain:
1. Charakter : factor ini yang paling penting, karena hal ini berhubungan dengan sifat debitur dan yang paling sulit untuk dicaba, apalagi untuk debitur baru karena kita tidak mempunyai referensi mengenai sifat dari debitur tersebut, selain melakukan kredit checking ke lingkunagan debitur tinggal, lingkungan kerja. Untuk factor karakter ini kita bisa mengklasifikasi debitur menjadi empat kelompok berdasarkan kapasitas dan keinginan seorang debitur, antar lain (mampu dan mau, mampu dan tidak mau, tidak mampu dan mau serta tidak mampu dan tidak mau membayar kewajibannya ke pihak kreditur). Untuk melihat karakter ini mungkin kita harus selalu mengupadate unformasi mengenai debutur yang pernah terlibat kasus pada lembaga keuangan atau non keuangan, biasanya debitur tersebut akan dimuat d surat kabar, majalah atau yang langusng dikeluarkan oleh Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI).
2. Purpose : Faktor ini lebih mudah kita diteksi, karena ini berkaitan dengan tujuan debitur meminjam dana, biasanya kita klasifikasi menjadi beberapa kelompok:
” Tujuan Produktif : modal kerja, ekspansi usaha atau yangsecara prinsip dana digunakan untuk kegiatan yang bisa menghasilkan pendapatan lain
” Tujuan Konsumtif : renovasi rumah, biaya sekolah, pengobatan atau yang secara prinsip digunakan untuk kegiatan yang menyebabkan timbulnya modal.
” Tujuan lain-lain : dana dugunakan untuk tender, atau untuk menutup utang di tempat lain.
3. Condition : factor kondisi dalam analisa suatu kredit tergantng sejauh mana kemampuan kita dalam menganalisa kondisi ekonomi khususnya yang berhubugan dengan industry calon debitur kita seperti bagamana kondisi bisnis ini kedepan, apaka ada regulasi baru dari pemerntah yang intinya bisa mempengaruhi kegiatan bisnis para debitur nantinya dan keahlian kita untuk mengetahui local knowledge para debitur kita.
4. Capacity : merupakan kemampuan seorang debitur untuk memenuhi kewajibannya kepada phak kraditur ketika aplikasi kredit sudah sisetujui leh pihak kreditur hal-hal tersebut bisa kita lihat dari:

” Rasio leverage (Debt to Equity Ratio) yaitu perbandingan antara utang dan modal, semakin tinggi DER suatu perusahaan biasanya semakin tinggi resiko gagal bayarnya, tetapi selain meilhat rasio DER kita juga harus melihat peningkatan laba perusahaan tersebut. Jika peningkatan laba perusahaan itu melebihi dari peningkatan rasio DER maka perusahaan itu baik dan mampu dalam me manage utang sehinga mampu menghasilkan keuntungan melebehi dari nilai utang yang dia pinjam.
” Fluktuasi pendaptan : semakin fluktuatif pendaptan semakin rentan terhadap resiko gagal bayar, karena biasanya angsuran itu sifatnya tetap atau mengikuti tingkat suku bunga bank Indonesia, jika debitur mengalami fluktuasi pendapatan yang jauh berberbeda setiap bulanya maka itu akan mempersulit debitur dalam memanage cas flow dal hal ini akan berpengaruh ke pembayran kepada pihak ketiga.
Hal-hal lain yang bisa dijadikan sebagai bukti kapasitas antara lain slip gaji, surat perintah kerja (SPK) yang biasanya diberikan oleh calon debitur yang berprofesi sebagai seorang kontraktor, untuk SPK ada beberapa hal yang harus kita perhatikan antarala lain, nilai kontrak SPK, jangka waktu, term of pament, siapa pemberi SPK (semakin bagus reputasi perusahaan pemberi, biasanya semakin baik), posisi debitur dalam SPK tersebut (kontraktor utama atau subkontraktor) dan pengalaman debitur dalam menjalankan usaha tersebut. Untuk memvalidasi apakah debitur benar-benar mendapatkan proyek tersebut, kita bisa mengecek via internet, apalagi untuk SPK multiyaers kemungknan ada.
5. Collateral : rasio nilai jaminan terhadap nilai utang. Hal ini juga menjadi penting dalam analisa credit karena untuk memproteksi jika terjadi gagal bayar, dimana asset yang dijaminkan harus lebih besar dari nilai utang yang kita berikan kepada debitur, agar tidak terjadi over fianacing. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir resiko secara collateral. Menigkatkan nilai down payment (DP), market value dan resale value asset tersebut, legalitas asset, dan tujuan dan lokasi pemakaian.
6. Capital :komposisi asset yang dimiliki (credit dan milik sendiri) artinya semakin banyak credit debitur maka semakin banyak pengeluarannya dan itu akan mempengaruhi pembayaran, status kepemilikan rumah dimana orang yang memiliki rumah sendiri jauh lebih sedikit resikonya dibandingkan dengan debitur yang rumahnya mengontrak, asset produktif dan konsumtif.
Dunia bisa terganggu karena salah dan ceroboh dalam menganalisa, krisis global saat ini misalnya. Perusahaan-perusahaan besar kelas dunia seperti AIG (American Internasional Group) hampir bangkrut, Lehman Brother yang juga sakit karena mereka terlalu berani mengambil resiko. Memang resiko itu terkadang tertutupi oleh ekspektasi pasar yang terlalu positif. Pembangunan properti di Amerika yang mencapai $ 10,6 Triliun diinterprestasikan bahwa industri perbankan di AS kurang berhati-hati dalam ekspansi di dalam satu industri. Kalau terjadi failure dampaknya bisa fatal dan sayangnya ini benar-benar terjadi. Properti senilai % 10,6 triliun itu ternyata $ 1,5 triliun disalurkan kepada orang-orang yang dinilai kurang layak untuk diberikan kredit (Subprime Mortgage).
Tidak hanya disebabkan NPL (Non Performing Loan) yang tinggi tetapi lonjakan harga minyak dunia menjadi USD 70 per barel, kenaikan harga minyak ini menyebabkan inflasi di seluruh dunia karena minyak hampoir menjadi multi sektoral. Inflasi AS yang dulunya hanya 2% per tahun kini menjadi 5,2% per tahun. Kenaikan suku bunga ini tentunya akan menurunkan nilai uang masyarakat US dan ini akan mempengaruhi mereka dalam membayar kredit. Pihak bank memang bisa menyita collateral yaitu rumah milik debitur tetapi karena rumah yang disita terlalu banyak (over supply) akibatnya harga properti rontok dalam sekejap dan harga sekuritas propertipun tumbang.

Pada akhir tulisan ini saya mencoba menyimpulkan bahwa resiko dalam suatu transaksi itu akan tetap ada dan mendeteksi dan melakukan proteksi terhadap resiko atas suatu transaksi adalah hal penting yang akan berkembang seiiring jam terbang kita sebagai seorang credit analyst. Karena kita juga sudah tau bahwa konsep dalam dunia bisnis adalah high return high risk.

2 thoughts on “Studi Kelayakan Kredit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s