Memaknai Sebuah Penantian…

Just take a few minutes in Manado…



Hidup Insyallah adalah misteri, tidak ada yang bisa memprediksi masa depan. Hidup juga adalah perubahan, Insayallah tidak ada yang bisa menghalanginya untuk bermetamorfosa. Tak terkecuali bagi diriku. Siapa menyangka, baru kemarin aku tunggang langgang selama 6 jam, naik turun angkot, melewati belantara Amurang, dilanjutkan bus mengitari pantai Malalayang dan diselesaikan dengan menunggangi ojek sebagai pemberhentian terakhir sebelum aku berhadapan dengan pabrik raksasa itu, bukan rumor kalau perusahaan yang bermarkas di Illionis Amerika ini adalah perusahaan agriculture terbesar kedua di dunia, tak lain dan tak bukan, ini aku lakukan untuk mengejar mimpi-mimpi yang sudah aku tulis setahun lalu.

Jika pagi kemarin aku harus lebih fresh dan Isnyallah tanpa meninggalkan sujud dhuha untuk memohon ridho-Nya, karena aku harus visit ke perusahaan multinasional dan lebih menggetarkan lagi perusahaan ini masuk dalam daftar 500 fortune. Tapi sayang  informasi itu tidak mengerdilkan jiwaku, apalagi membunuh mimpi-mimpi itu. Kupatri di dada, kutegaskan dalam jiwa bahwa ini adalah suatu tantangan yang harus aku lewati, apapun hasilnya nanti, Insyallah aku harus sempurna dalam proses perjuanganku.

Lalu, bagaimana dengan pagi hari ini, sebenarnya tidak ada yang istimewa di kantor selain ada meeting all karyawan untuk mensosialisasikan strategi marketing baru yang akhir-akhir ini lebih kita kenal dengan marketing community yang telah dibahas di dalam buku pak Hermawan Kartajaya yaitu new wave marketing.

Seperti biasa, hari sabtu akan selalu ditunggu bagi setiap karyawan karena pulang lebih awal, biasanya kita pulang on time jam 12.00, kini harus tertunda karena meeting itu, jarum jam sudah hinggap di angka 12, tapi belum ada tanda-tanda meeting akan selesai dalam waktu dekat, apalagi ada sedikit perdebatan antar divisi. Wah, sontak aku mulai gelisah, bukan karena takut melihat perdebatan itu tapi lebih kerana takut tertinggal pesawat, karena senin besok aku harus raker di Jakarta, maka rencananya hari ini aku harus berangkat ke Jakarta, di tiket tertulis waktu keberangkatan jam 14.45.

Hatiku semakin galau, keringatku menetas, jantungku berdebar kencang, perasaan berdosa mulai mengintai karena waktu sudah menunjukan pukul 13.30, Masyallah, aku belum shalat dzuhur, mengambil tas di kost dan harus check in. secepat kilat aku turun ke bawah dan mencari telpon kantor untuk menghubungi pimpinan cabang untuk meminta izin meninggalkan rapat sekaligus izin pamit untuk ke Jakarta, tidak ada pesan istimewa dari bos ku, kecuali sambil bercanda beliau bilang, hati-hati kalau sudah di Jakarta jangan sampai lupa kembali. Folkways sederhana yang tidak akan terjawab hingga waktunya nanti..Hmm.

Izin meninggalkan kantor sudah kukantongi, tiket pesawat sudah setia sejak pagi tadi di tas tuaku, bergegas aku minta bantuan pak Aan, pria yang sudah mengabdikan dirinya di perusahaan sekitar 7 tahun, mulai dari menjadi satpam hingga ke messenger. Pak Aan akan selalu menjadi pendamping setia bagi setiap karyawan yang akan datang maupun pergi dari manado. Hingga keberangkatan kali ini, aku sudah dua kali merepotkan pak Aan. Dulu ketika pertama kali tiba di bandara Samratulangi Manado, beliau harus menunggu lama di bandara, lantaran kita tidak saling kenal muka, padahal kita sudah sama-sama berada di bandara sejak 3 jam lalu. Terima kasih pak Aan.

Alhamdulillah karena kecekatan pak Aan dalam mengendalikan mobil, perjalanan yang seharusnya ditempuh selama 30 menit kini hanya 15 menit. Suara jam sudah berbunyi, artinya sekarang sudah jam 14.15. Sampai bandara, langsung kusalami tangan pak Aan dan pamit untuk langsung check in. tak ada yang bisa kuberikan ke beliau kecuali senyum cemas takut ketinggalan pesawat. Maaf ya pak Aan.

Check in sudah selesai, travel bag sudah kupercayakan ke pihak bandara, dan sekarang naik ke atas menunggu datangnya pesawat tiba. Suara panggilan penumpang pesawat silih berganti terdengar, tapi sayangnya dari sekian banyak suara itu belum ada yang tujuan Manado-Jakarta, waktu telah menunjukkan pukul 15.00, delay 15 menit tanpa pemberitahuan. Selang tak lama, pusat informasi melalui pengeras suara mengumumkan pesawat tujuan Manado-Jakarta akan berangkat sekitar pukul 16.00 karena ada masalah operasional. Memang masa depan itu sulit diprediksi, kalau tau akan begini, mending tidur siang dulu di kost. Melihat sofa merah nan empuk di ruang tunggu memaksa kakiku untuk meraihnya. Tapi tenang kawan, saat ini aku harus menanggalkan kebiasaanku yang selalu tidur dimanapun jika ada kesempatan.

Kolaborasi teh botol dan lagu Indonesia Pusaka slow version seakan menjadi pelumas bagi otakku yang kotor dan tercemar oleh karat kehidupan. Tanganku ingin menari gemulai di atas kertas tetapi semua itu harus tertunda sesaat bukan karena ide ini telah pergi apalagi kemalasan diri tapi justru karena tidak ada kertas kosong di tasku sekarang, semuanya aku tinggal di travel bag dan itu ada di bagasi, orang pintar ga akan kehabisan akal. Aku ingat di tasku sekarang ada ijazah asli dan tidak mungkin akan kutuangkan hasrat tanganku di atas kertas berbalut plastik itu, bodoh sekali aku. Mungkin alternative ini jauh lebih baik, kertas putih yang sekaligus sebagai bukti kepemilikan asetku harus kunodai karena keganjenan tangan ini.

Selembar kertas yang kudapatkan seharga satu juta itu kubuat tak berharga, kubiarkan tangan ini melumurinya dengan tinta dan sesekali coretan remeh temeh. Habis lagu karangan Ibu Sut itu, tak puas mendengarnya sekali, maka aku putar ulang lagu Indonesia Pusaka itu, bukan melambatkan tangan ini untuk menari tapi pelumas itu semakin bereaksi dengan optimal, seperti kereta highway rasanya. Maaf kawan, aku tidak akan melukai tanganku sendiri karena telah menodai bukti kepemilikan asetku. Yang terjadi malah sebaliknya, hati kecilku yang paling dalam merayu otak kiriku dan kemudiannya membuat suatu konspirasi untuk menarik bibir kanan dan kiri ini untuk membusung ke atas. Karena pada saat tanganku menggila dengan tulisannya, pada saat itu juga mataku tidak bisa menahan nafsunya untuk mengintip harga reksadanaku yang naik 10%.  Alhamdulillah.

Seperti tidak mau kalah, hati baikku menggoda otak sebelah kanan untuk membuat suatu konspirasi besar bahkan lebih besar dari konspirasi century, tapi ini dengan target yang berbeda yaitu harus memaksa sisi bibir kanan dan kiri membusung lebih tinggi, tapi sontak, karena merasa dipermainkan bibir ini menolak dengan tagas. Dan si bibir berkata, aku tidak mau membusung untuk kalian, apalagi hanya sedikit tapi aku akan membuka lebar sebagai bukti kebahagiaanku yang paling dalam, karena aku sudah tahu apa yang kalian konspirasikan melalui setiap ucapan baik yang terlontar dari bibir ini. Ini aku buka lebar senyumku, tapi maaf bukan untuk kalian tapi untuk keluargaku tersayang. Alhamdulillah, sebentar lagi Insyallah aku akan ketemu beliau.

Ssttttt…. kita diam sejenak kawan, ada suara merdu mendayu, halus dan membakar semangat tapi aku yakin ini bukan suara dari mp3 ku. Perlahan badannya yang kekar mulai terlihat, dan sayapnya yang gagah sudah mekar. Oh my God, Centaur tak sabar menggendongku untuk terbang ke Jakarta. IT’S TIME TO TAKE OFF…

Bandara Samratulangi, Manado.

January 23, 2010.

Kejar, peluk mimpi-mimpi itu, buat dia tidak berdaya.

14 thoughts on “Memaknai Sebuah Penantian…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s