Satu Malaikat dan Dua Bidadari di Negeri Impian

“Ketika cinta dan rindu bertemu, Insyallah melahirkan tulisan sederhana ini”

Lelah itu seakan pudar, tatkala mata berbalut lensa ini mulai mengenali lelaki tua berpeci bundar warna coklat, tubuhnya yang gempal seakan sudah kukenal puluhan tahun lalu, perjuangannya yang tak kenal lelah, membakar jiwa anak muda untuk selalu bergerak. Sandal jepit idolanya seakan menjadi simbol kesederhanaan, padahal bagiku dia adalah manusia setengah dewa, pahlawan keikhlasan. Dengan bermodal ijazah SMA, beliau harus peras keringat dan banting tulang untuk menghidupi kelima anaknya yang alhamdulillah baru-baru ini, dua dari lima anaknya tersebut telah lulus kuliah, bahkan lulus dari universitas negeri yang cukup favorit di kotanya. Dia adalah bapakku tercinta.

Insyallah beliau akan menjadi sumber inspirasiku, tak sabar raga ini ingin berpeluk tapi apa daya keramaian manusia di bandara memaksaku untuk sedikit menahan gejolak kasih sayang yang tak terhingga, tapi aku tidak bisa menanggalkan semuanya. Spontan, kusambar tangan bapak yang mulai keriput, kuhisap aroma khas kulit itu, rasanya ingin tumpah semua air di tubuh ini, tapi aku takut jika kantong mata ini tak berdaya dibuatnya, kuputar haluan mencoba menarik gelora energi dari sel-sel dalam tubuh beliau. Segar, gelora yang terakhir aku rasakan sekitar delapan bulan lalu, sejak aku terbang merantau 20 april silam.

Dia kekar lagi pantang menyerah, visinya Insyallah tidak diragukan, apalagi dedikasinya untuk keluarga. Tak cukup dua jempol tangan untuk mengakui kehebatannya. Berselimut rasa cinta dan rindu, perlahan beliau mulai mengundang untuk berdiskusi seputar pekerjaan. Aku yang baru selesai rapat kerja (raker) tahunan di Jakarta, langsung melayang menuju Palembang, walau dengan hasil yang sangat tidak memuaskan, karena jujur aku menjadi juru kunci dalam raker kali ini. Seperti dalam liga Indonesia yang jika tidak berubah posisi hingga akhir liga, maka tanpa basa- basi aku harus terdegradasi. Apapun hasilnya, Insyallah ini adalah awal bagiku untuk belajar, sama seperti beliau yang harus bekerja tanpa pernah putus asa demi keluarga.

Cerita bersama beliau bisa membunuh waktu tanpa jejak, sehalus menarik rambut di atas ladang gandum, seperti sejentik pasir yang terlindung ibu pantai nan luas. Dia adalah bapakku, malaikat nyata pelipur lara dikala suka cita.

Tak terasa, mobil berhenti tepat di muka gang kecil yang tak asing bagiku, kukenal gapura merah putih itu, warung kayu milik mendiang almarhum kakek masih berdiri tegap di sampingnya. Insyallah tak salah ini adalah gang dimana aku bisa bertemu bidadari pertamaku.

Kutarik tas gajah berisi baju dan buku, kubawa lari kencang, beban 35 kg sepertinya kalah berat dengan rasa kangen dengan bidadari itu. Tepat di depan pintu putih yang mulai pudar warna, aku melihat sesosok wanita paruh baya yang mendekat, teduh, dan tetap sabar. Sedetik selepas membuka gagang pintu, kupeluk dan kucium tangannya, kuhisap aroma dari setiap lekuk jarinya yang mulai keriput, kuraba setiap garis tangannya, semakin dalam aku menghisap semakin aku tidak mampu membendung tetesan air mata ini, tak lupa amanah Allah melalui bidadari ini telah melahirkanku ke dunia dan Insyallah tak lekang, dari tangan inilah, aku bisa menjadi seperti ini.

Insyallah tak terhingga berapa kali air mata ini menetes setelah teringat budi baiknya, maaf bu jika hingga hari ini aku belum bisa memberikan yang terbaik untukmu, tapi yakinlah ibu, anakmu berjanji, Insyallah jika ada waktu dan rezki aku akan menerbangkan malaikat dan bidadariku ke tanah suci. Aamin ya rabbal ‘alamin.

Kuretas air mata itu, berharap bisa menyelimutinya dari kepekaan seorang ibu. Walau hatiku masih berteriak rindu, tetapi ibu selalu tau kemauan anaknya. Ini salah satu hal yang sering membuat aku cinta mati kepada beliau. Tak lewat 5 menit setelah melepas sujud haru di tangan beliau, secangkir teh hangat berdiri kokoh di atas jari jemarinya yang kemudian disusul dengan makanan-makanan kesukaanku, mulai dari pempek, malbi hingga buah apel sebagai penutup. Terima kasih ibu, terima kasih bidadari pertamaku, ijinkan dan do’akan anakmu agar bisa membalas budi baikmu ibu. Aamin.

Entah sebuah kebetulan, naluri seorang ibu atau justru pertanda jodoh dari Sang Ilahi, apa yang telah dilakukan oleh ibuku seakan sudah bisa dibaca oleh bidadariku yang kedua. Melalui pesan singkat, ia yakin bahwa akan ada menu istimewa buat ibu untuk anaknya, meskipun keduanya belum bisa bertemu dalam satu ruang dan dimensi yang sama tapi suatu hari nanti, Insyallah aku akan mempertemukannya dalam alam nyata dimana semua mata akan terpana melihat kesabaran dan kesederhanaan di balik kerudung sederhananya.

Sepertinya benar kata orang melayu, muka mungkin bisa berpura, tapi hati akan selalu jujur dengan kondisi yang ada. Tapi apa daya, semua masih dimensi, belum nyata. Dan setiap keberanian datang mengundang untuk mengutarakan maksud hati pada sang bidadari, secepat kilat seakan terkubur dalam oleh kesabaran dan kelembutan tutur katanya. Aku berharap semua akan merekah dan terlahir kembali pada waktunya nanti.

Perlahan aku sadar bahwa bumi juga ciptaan Allah, tak tega rasanya dia akan mengubur rasa itu dalam waktu yang lama, mungkin Allah melalui buminya ingin mengajarkan arti sebuah kesabaran bagi setiap hamba-Nya.

Perbanyaklah bekerja serta bersujud dalam do’a. kejar mimpi-mimpi yang terlanjur engkau tulis, buat malaikat dan bidadari pertamamu tersenyum sebelum engkau memutar halus cincin di jari manis bidadari keduamu, seakan itu menjadi tanda jika satu malaikat dan dua bidadari berada dalam satu dimensi ruang dan waktu yang sama dalam ikatan keluarga sakinah mawaddah dan warahmah. Insyallah. Aamin.

Note: Terimakasih ya Rabb, terima kasih Malaikatku, terimakasih Bidadari-Bidadariku. Insyallah, cintaku tidak perlu diuji untuk bidadari pertamaku dan untuk bidadari kedua. Hmmm, sebagai hamba Allah, aku hanya bisa berusaha dan berdo’a untuk selalu mencoba menempatkan cinta-Nya di urutan pertama dan keluargaku di urutan kedua. Sampai engkau menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keluargaku yang sebenarnya, suatu hari nanti. Man Jadda Wajada. Aamin.

Masjid Agung Palembang: Feb 6, 2010. Time. 19:26 WIB
and
repackage in Manado: Feb 10, 2010. Time. 22:15 WITA.

.

14 thoughts on “Satu Malaikat dan Dua Bidadari di Negeri Impian

  1. sukses ya mas kerjanya…
    ane jg pngen bahagiain ibu n bapak…
    qta sm2 semangat ya mas…

    nb :tolong smpein salam ane utk 1 malaikat n 2 bidadari itu y..

  2. hahaha…bahasamu udah hampir laiknya “novelis” bud. aku yakin kamu bisa jadi ekonom hebat negeri ini sebentar lagi. ga perlu gelar tinggi, terusa saja berkarya dan memudahkan umat manusia. make a different!

  3. semoga sukses n 1 lw harus inget ibu n bapak ituch guruch n penunjuk kita selagi hidup n tempat kita bercerita ttng diri kita.

  4. semoga sukses n 1 to lw harus inget ibu n bapak ituch guruch n penunjuk kita selagi hidup n tempat kita bercerita ttng diri kita.

  5. @ mkasih jga yo, sukses untuk kmu jga.
    kta sama2 kerja kras unk kebahagian ortu kita. Aamin.
    @aisyah, terima kasih ya, klw bsa jgn hanya terharu tpi jga tertular untk menulis. heee
    @wim, terima kasih, doakan saja adikmu ini, biar bsa cepat kumpulin uang n kuliah lgi. Aamin.
    aku trut senang atas kesembuhanmu.
    Good luck for BPK. Aamin ya rabbal ‘alamin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s