Trickle Down Effect of Laluppo

Sahabat akan selalu ada, walau jarak dan waktu memisahkan kita

Acara yudisium ke-90 Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya pada tanggal 28 Februari 2009 lalu telah menelurkan ratusan sarjana baru. Acara yang bertepatan dengan hari ulang tahun persahabatan Laluppo – nama geng kami – yang ke-3 ini telah melahirkan suka cita istimewa, baik untukku sendiri maupun bagi teman-temanku. Kurang lebih tiga tahun enam bulan (3,6 tahun) kami harus menuntut ilmu di perguruan tinggi. Walaupun jaraknya lumayan jauh, sekitar satu jam jika ditempuh dengan bus mahasiswa, tapi semangat dan niat kami tidak surut untuk tetap mengejar mimpi sekaligus menuntaskan amanah dari orang tua.

Banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik dari bangku kuliah, mulai dari mempelajari budaya teman yang datang dari berbagai latar belakang, mengatur waktu antara kuliah dan berorganisasi, sampai pada teknik lobbying agar bisa mendapatkan dana untuk kegiatan kemahasiswaan.

Begitu cepat waktu berlalu, rasanya baru kemarin aku mengenakan kaos hitam pemberian senior sebagai tanda bahwa acara OPDIK (Orientasi Pengenalan Kehidupan dan Pendidikan Kampus) di Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya baru saja dimulai. Masih segar dalam ingatan ini ketika aku naik turun tangga menuju kantor dekanat untuk mendapatkan stempel dari kepala bagian akademik, melihat jadwal kuliah yang berubah-ubah, mencari informasi beasiswa, hingga menikmati hiruk pikuk di ruang 1103 yang sulit untuk dilupakan, amazing!

Pernah juga aku sampai harus meluncur ke penjara perempuan karena seorang temanku tertangkap polisi dalam razia gabungan pemeriksaaan SIM dan STNK. Temanku yang energik ini kena tilang sehabis memasang spanduk dan poster di hampir setiap sudut kota Palembang untuk persiapan acara Tax Goes to Campus. Dan waktu itu aku memang harus ke penjara, tidak bisa diwakilkan. Maklum, kebetulan aku adalah ketua panitia acara itu.

Di relung-relung kamar 4 X 7 meter ini aku merenung dan berpikir, mencoba untuk menarik kembali garis mundur perjalanan hidupku dari titik awal ketika aku beranjak puber sampai ketika aku menginjak masa-masa penulisan skripsi. Waktu itu, puluhan tahun lalu di SD Madrasah Qur’aniah 1, aku mulai belajar menghitung dan mengenal huruf A, B, C hingga Z. Saat itu aku juga mulai belajar bermain jangka untuk membuat sudut lingkaran atau menggambar peta menyerupai telapak tangan yang baru-baru ini aku sadari sebagai propinsi Sulawesi, tempatku mencari rizki dan merintis mimpi saat ini.

Sungguh aku tidak menyangka kalau anak ingusan yang nakal dan bandelnya setengah mati seperti aku ini ternyata ditakdirkan oleh Sang Pencipta untuk menulis skripsi tentang analisis struktur modal perusahaan. Meskipun itu hanya untuk mengaitkannya dengan rasio likuiditas dan rentabilitas yang mungkin bukanlah termasuk topik yang menggigit di kalangan akademis.

Tulisan ini mencoba untuk meniti kembali makna kisah dan kasih dalam persahabatan Laluppo. Geliat proses pencarian fitroh hidup telah mempertemukan kami di hutan yang sarat dengan ilmu. Aku, Yoyo, Kiki, Bibie, Wawan, Deni, Sutan, Tejo, Wisnu, Rama, Yulia, Deva, Zakiah, Wiwik, Indah, dan Gea adalah pemuda-pemudi tanggung yang datang dari sudut-sudut Indonesia. Tujuan kami sama; mencari ilmu sebanyak-banyaknya untuk kemudian mengimplementasikannya ke dalam dunia nyata jika sudah sampai pada waktunya nanti. Insyallah.

Sahabat memang laksana keluarga, yang kokoh bila bersatu, kuat karena cobaan dan bahagia karena berbagi. Meretas ilmu dari satu teman ke teman yang lainnya, seperti tetesan air yang meretas ke akar daun dan tumbuh menjadi pohon yang rindang.

Ketika bernostalgia dengan lika-liku persahabatan kami, aku jadi teringat dengan teori trickle down effect (TDE) milik WW Rostow – sayangnya Rostow bukanlah anggota Laluppo. Teori TDE ini didasarkan pada asumsi bahwa pertumbuhan ekonomi ternyata dapat meningkatkan produksi barang dan jasa di suatu wilayah. Meningkatnya produksi barang dan jasa inilah yang disinyalir ikut mendorong meningkatnya kebutuhan akan faktor-faktor produksi. Peningkatan faktor produksi sendiri dipercaya bisa mendongkrak pendapatan yang pada akhirnya membuat efek meretas ke bawah mampu memicu terjadinya pertumbuhan ekonomi. Situasi ini biasanya tercermin dari meningkatnya pendapatan dan taraf hidup masyarakat sekitar.

Hal ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan proses belajar mengajar yang terjadi di kampus fakultas ekonomi. Awalnya ilmu datang dari dosen – yang biasanya mendapat ilmu setelah melakukan penelitian mendalam terhadap perilaku ekonomi masyarakat, lalu turun ke mahasiswa, untuk kemudian jatuh lagi ke mahasiswa lainnya. Sampai di sini, ilmu tadi pada akhirnya akan kembali juga kepada masyarakat. Tapi tentu saja, kali ini ilmu tadi datang dalam bentuk baku yang sudah memiliki definisi-definisi jelas untuk dipelajari dan dipahami. Inilah trickle down effect sesungguhnya!

Teori Rostow memang sempat dipuja pada awal-awal masa pembangunan di Indonesia, sebelum akhirnya ternodai oleh indikasi utang luar negeri yang semakin menggila sebagai bukti jelasnya cengkraman negara kapitalis. Kejatuhan teori ini juga dipertegas oleh John Perkins – penulis buku laris A Confession of an Economic Hit Man – yang menganggap bahwa ada kesalahan pada teori TDE. Perkins yang juga dikenal sebagai bandit ekonomi ini menyebutkan bahwa salah satu moment of truth pincangnya TDE adalah ketika ketimpangan dan kesenjangan sosial antara golongan atas dan bawah di suatu negara sudah tampak dengan sangat jelas.

Meskipun analisis Perkins terhadap TDE-nya Rostow tampaknya benar, patut diingat bahwa Perkins sendiri adalah seorang ”penjahat kakap”. Melalui buku yang sama, Perkins mengaku bahwa ia telah melakukan sebuah konspirasi besar dengan cara menggelontorkan bantuan untuk negara-negara debitur di luar batas kemampuan bayarnya, yang jika menjadi kredit macet maka akhirnya harus dibayar dengan kekayaan alamnya. Kalau Anda adalah warga negara Indonesia, maka saya mengucapkan selamat, karena negara Anda adalah salah satu negara yang dimaksud Perkins dalam buku itu. Poor Indonesian!

Episentrum gonjang-ganjing terkait TDE ini kemudian menyebar ke Yusihara Kunio. Penulis sekaligus pakar ekonomi asal Jepang ini menyatakan bahwa trickle down effect hanya akan melahirkan kapitalis semu karena kekayaan, harta, dan penumpukan modal sebenarnya hanya dimiliki oleh para pelaku ekonomi papan atas, bukan oleh semua kalangan (Tabloid Mingguan Ekonomi Politik Indikator, januari 1999).

Berangkat dari dua pandangan ini saja, sebenarnya kita sudah bisa mengasumsikan bahwa Teori TDE milik Rostow yang berkebangsaan Inggris ini belumlah bisa berjalan dengan cemerlang di Indonesia. Ketimpangan antara golongan atas dan bawah di Indonesia sejatinya sudah cukup untuk menjadi contoh nyatanya.

Seakan belum puas, setelah trickle down effect menelanjangi sektor riil, teori ini ternyata juga berhasil menjerat aliran dana BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) untuk terjebak ke dalam alur permainannya yang negatif. Masih segar di dalam pikiran kita, mega kasus yang merugikan negara hampir 1.000 triliun ini mengalir laiknya kisah klasik yang tak berujung. Dana yang sebagian besar ditopang oleh utang tersebut ternyata belum juga mampu meretas dengan baik ke target-target yang dituju. Buktinya krisis 1998 terus merajalela dan bank-bank lokal ternyata banyak yang terkena imbasnya pada waktu itu.

Bailout itu belum meretas ke sasaran secara maksimal. Marwan Batubara dalam bukunya, Skandal BLBI: merampok negara, melepas koruptor dan memiskinkan rakyat, bahkan melihat beberapa indikasi penyimpangan yang dibuat oleh oknum-oknum tertentu ketika bank-bank yang tidak layak menerima bantuan ternyata telah didandani sedemikian rupa agar seolah-olah tampak layak untuk mendapat bantuan likuiditas dari pemerintah. Ada banyak cara supaya retasan uang rakyat tersebut bisa masuk ke kantong para oknum curang itu. Mulai dari merekayasa laporan keuangan, menyalurkan dana kotor itu ke bisnis afiliasi, hingga memperdagangkan dana tersebut ke dalam bentuk dolar Amerika Serikat (USD$) yang kita ketahui saat itu memiliki selisih yang sangat tinggi dengan mata uang Rupiah. Dua bukti tadi, kasus sektor riil dan BLBI, harusnya sudah cukup untuk mencap resep Rostow ini dengan status ”gagal” di Indonesia.

Tapi cap gagal untuk TDE itu tampaknya tidak berlaku di dalam persahabatan kami. Konsep teori meretas ke bawah atau TDE ini sebenarnya bagus dan bahkan sangat bermanfaat jika kita mampu menjalankannya dengan ikhlas. Prinsip dasarnya adalah take and give: berilah sebanyak-banyaknya dan ambillah sebanyak mungkin. Tapi perlu dicatat bahwa sahabat yang sudah menerima suatu pemberian haruslah mampu untuk membagi pemberian itu ke sahabat atau orang lain yang membutuhkan. Bukan untuk didiamkan begitu saja atau justru membuangnya.

Aksi take and give ini sendiri sebenarnya sangat sesuai dengan petunjuk Allah SWT yang telah berjanji dalam kitab suci-Nya bahwa Dia akan membalas semua kebaikan. Sekecil apa pun itu! Nasehat ini juga dipertegas dengan anjuran-Nya agar kita berani dan ikhlas membagi-bagi ayat-Nya meskipun itu hanya secuil. Dengan dua petuah ini, harusnya efek meretas ke bawah ini bisa mengalir laiknya air segar yang mengobati keringnya kerongkongan untuk kemudian membangkitkan raga agar bisa beraktivitas kembali.

Kita semua tau bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Setiap teori ada kelebihan dan kekurangannya. Tak terkecuali trickle down effect. Tapi lain objek lain juga hasilnya. Dalam ruang lingkup dan dinamika persahabatan Laluppo, teori meretas ke bawah bisa kami terapkan nyaris dengan sangat sempurna. Maklum saja, waktu itu aku sudah mengibaratkan kampus sebagai ruang operasi liver karena setiap hari kami bisa melakukan proses transplantasi kecerdasan dari dosen ke mahasiswa sebelum ditransfer lagi ke mahasiswa yang lainnya. Meski tidak semua mahasiswa mau menerima tawaran operasi itu tentunya.

Beberapa mahasiswa yang mampu menyelesaikan proses transplantasi kecerdasan dengan baik – walau usia adalah taruhannya – adalah Deva, Wiwik, Yulia, Gea, dan Zakiah. Kelimanya adalah tipikal wanita cerdas yang akhirnya mampu lulus kuliah dengan status cum laude dalam waktu yang singkat, yakni 3,6 tahun. Mahasiswa lain yang masih bermalas-malas ria, berbahagialah karena impian untuk menjadi mahasiswa abadi akan segera terwujud.

Dalam persahabatan Laluppo, efek meretas ke bawah begitu kental terasa, seperti madu sumbawa yang manisnya takkan pernah bisa dilupakan. Apalagi ketika kami – para follower – mendapat fotocopy catatan sebelum ujian akhir semester atau contekan tugas dari mereka. Wow lezat man…

Proses tetesan itu mengalir lambat tapi pasti. Gara-gara kemahiran lima wanita ini, aku yang mempunyai kemalasan tingkat tinggi pun jadi ikut terseret ombak untuk lulus cepat. Aku masih ingat ketika kami berdiri di satu podium yang sama. Deva, Wiwik, Yulia, Gea, Zakiah, dan aku sendiri akhirnya telah berkalung sorban sarjana. Jas dan kebaya membungkus badan kami. Laksana pasukan yang sudah siap tempur di medan perang, ijazah akan menjadi senjata bagi kami sedangkan pelurunya adalah ilmu yang telah kami rajut selama ini. Hari ini, jendral fakultas telah berani melepas kami untuk bertempur melawan para pesaing dalam kompetisi yang sesungguhnya.

Kami semua berharap agar efek meretas ke bawah tidak berhenti hanya sampai di acara wisuda, tetapi akan terus dan terus mengalir sepanjang hayat masih dikandung raga. Persis seperti tuntunan sang baginda Rasul yang mengajak kita untuk bekerja seolah-olah kita ini akan hidup seribu tahun lagi dan beribadah seolah-olah kita akan mati esok hari.

Kalaulah dulu aku tidak pernah bermimpi untuk menyelesaikan kuliah dengan cepat, kalaulah dulu aku tidak melihat mata ayahku berkaca-kaca saat menceritakan getir masa kecilnya, kalaulah dulu aku tidak berani berjanji untuk mengharumkan mendiang nenek-kakekku, sungguh aku tidak tau apa yang akan terjadi pada diriku sekarang.

Gusti Allah telah mengingatkan kita dalam kitab-Nya bahwa suatu kaum tidak akan dapat merubah keadaannya jika kaum itu tidak berusaha untuk merubahnya sendiri. Aku juga masih mengingat dengan jelas ucapan kakekku bahwa Gusti Allah tidak akan mendatangkan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya. Dan aku yakin bahwa kemampuan yang telah Allah berikan sejatinya sudah lebih dari cukup untuk mengatasi masalah-masalah hidupku ini.

Kini semua hampir berlalu, tinggal kenangan seorang sahabat yang tidak akan pernah sirna. Ketika canda tawa mulai mengusir gundah dan bantuan datang ‘tuk ringankan masalah, tak jarang air mata ini mengalir untuk membersihkan luka kesalahpahaman.

Jangan pernah menyesali sebuah pertemuan yang selalu melahirkan perpisahan. Sejatinya kita hanya melakoni skenario yang disutradarai oleh Sang Pencipta, jadi mainkanlah peran itu dengan baik sesuai dengan aturan main yang telah terpatri dalam kitab-Nya. Yakinlah teman, walaupun kita harus berpisah sekarang, Insyallah ini adalah untuk kebaikan kita, demi masa depan kita dan demi kebahagiaan orang tua kita. Semua ini hanyalah proses kehidupan yang harus kita lewati atau rintangan-rintangan yang mesti kita taklukkan. Dan menaklukkan rintangan hanya bisa dilakukan oleh seorang juara. Jangan pernah berpikir untuk diam sedetik pun sahabat, karena hidup ini begerak dan terus berubah. Engkau berhenti maka kau akan mati. Bukankah Hegel – filsuf dan sejarahwan Jerman terkemuka pada abad ke-19 – sudah menyitir perihal ini melalui metode analisisnya; ”These-antithese-sintherse-these” (gagasan-tantangan-gagasan baru-gagasan). Pria kelahiran Inggris ini mencoba untuk menerjemahkan proses dialektika yang menjadi penggerak perubahan-perubahan yang prosesnya akan terus berlangsung selama manusia masih bergelut dalam kehidupan, kemajuan, krisis ataupun kehancuran (Kuncoro; 2009).

Selamat berjuang sahabat, mari kita singsingkan lengan baju, membuka diri untuk ilmu yang lebih dalam, berjanji untuk membagi apa yang bisa kita beri. Jangan pernah menyerah. Apalagi harus mundur sebelum maju ke medan perang. Kejar mimpi-mimpi yang terlanjur kita tulis. Jangan terbuai oleh masa lalu karena dia telah berlalu, tenggelam dibawa ombak dan hilang terbang bersama angin. Tidak mungkin kembali lagi.

Dan tak layak kita membuang waktu barang sedetik pun untuk menghayal masa depan karena dia adalah kegaiban yang sepenuhnya masih menjadi milik Tuhan. Sekarang saatnya kita berdiri tegap, berdisiplin atas apa yang ingin kita raih, memeras otak dalam menyerap sari-sari ilmu kehidupan. Sebelum tubuh ini melemah, raga sulit bergerak, dan otak sakit untuk berpikir. Hari ini aku meminta komitmen kita bersama untuk mengobati sedikit luka orang tua yang telah bersusah payah mengandung anaknya. Dan aku berharap agar kita sepakat untuk menjadikan kematian sebagai wisuda yang sesungguhnya…..

Good Luck My Friends

Manado, North Sulawesi
March 21, 2010; 15.15 WITA

Thank To:

  • Laluppo: Best friends ever
  • Wim Permana: Thank for supporting this article “never give up on our dream co’s we are unstoppable”
  • Mr. Zulkarnain Ishak: Thank for your best article “BLBI Versus BLT: Kisah Tak Berujung”


12 thoughts on “Trickle Down Effect of Laluppo

  1. mantap mas…
    ane kira tulisannya bner2 pure ttg la luppo, tp gpp deh wlau bnyk dibalut teori2 ekonomi gtu jd keren jg…

    amin…
    moga la luppo’z smw nya bs sukses dunia n akhirat, amin…

    ayo mas, tulis lg yg laen, semangat…!!!

  2. Askum.
    Hmm.. Bingung mw nulis komen ap!?..
    Salut & luar biasa bwt “dulur” satu ini, pdhal hal2 yg kt alami dimasa2 kuliah sama, malah bs dikatakan selalu bersama tp bs menyerap dan mengambil nilai2 positif yg ad dgn sanggat berbeda.
    Sukses terus y bud, dan sukses jg bwt teman2 Lalupo lain ny.
    Salam hangat dr bumi rencong.🙂

  3. @ Yoyo: Insya Allah yo, meskipun ide ini sering kering tpi mimpi unk selalu menuliskan hal2 positif yg bsa dibagi akan menjadi pelumas dan penggerak unk tetap berkarya = ))
    @ Wisnu: Tenang wis, mudah-mudahan wajahmu terselip di 1 dari 75 Triliun sel yg ada pda tubuhku..heeee
    @ Kiki: bagiku u tetap lebih baik n pinter kio, apgli motivasimu di prabumulih waktu itu kawan, sprti dimotivasi olh bidadari “u know who “_”. heee
    Thanks All, salam hangat dari kota nyiur melambai, Manado.

  4. Hmmm..nice opinion about story of your life..good analyzing about Mr. Perkins an economyc hitman n TDE..see u later friend..

  5. berkaca2 mata aq bud baca tulisan blog kau ini…
    liat foto yg kau tempel, seakan2 aku kembali ke ruang 1103…
    smoga persahabatan qt laluppo menjadikan qt smua sukses ke depannya… aminnn

    good luck saudaraku….

  6. @ Salim. Thank u Bos, saat ini aku kehilangan teman diskusi, khususnya untuk politik, sastra, dan tokoh dunia.
    see u later Lim. Aamin.
    @ Deni, selama ini baru dua kali aku lhat kamu bisa menangis. pertama di steek Patal n sekerang ketika u baca blog ini. Heeee
    Good luck my best friend. Aamin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s