PAK HAJAR, PENAMBAL SEPATU DARI GARUT

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al-Hadid [57] : 22 – 23)

Aku ingin belajar tentang kerja keras, bersyukur dan ikhlas dari beliau…

Hidup itu perjuangan ya nak. Sudah 25 tahun saya berkeliling membawa sisa ban bekas, lem dan benang sebagai penambal sepatu dan sandal. Saya memulai usaha ini pada tahun 1985 atau ketika umur bapak hampir 23 tahun. Bapak menekuni profesi ini sudah lebih dari setengah perjalanan hidup.


Kota Garut menjadi saksi pertama tatkala bapak memutuskan berprofesi sebagai penambal, bapak dan kaluarga sendiri asli Garut. Di kota  kelahiran ini bapak sudah berusaha cukup lama, menjadi panambal di kota dodol lebih dari 10 tahun. Sempat juga bapak mengadu nasib menjadi penambal di kota Bekasi dan Alhamdulillah hanya bertahan sekitar 5 tahun dan itu terus terang bapak lalui dengan sangat berat karena harus meninggalkan keluarga yang masih ada di Garut. Bapak pikir profesi ini akan bisa bertahan di sudut kota Jakarta itu, tetapi semakin hari orang jawa yang berprofesi sebagai penambal juga semakin banyak dan akhirnya pendapatan bapak menurun. Keputusan berat harus bapak pilih, untuk membiayai uang sekolah anak yang masih kelas 5 SD, bapak harus merantau ke Manado. Sisa uang hasil manambal sepatu bapak kumpulkan sedikit demi sedikit, hingga uangnya bisa menjadi modal untuk membeli tiket pesawat agar bapak bisa memulai perjuangan baru menjadi seorang penambal di ujung sulawesi. Bapak datang kemari sekitar 10 bulan lalu, dengan pesawat Alhamdulillah bapak sampai juga di kota nyiur melambai ini.

Inilah awal mula perkenalanku dengan Pak Hajar, minggu sore itu sengaja aku shalat berjamaan di Masjid Raya Ahmad Yani Manado, karena di masjid terbesar Manado inilah Allah sering mempertemukanku dengan orang-orang baru, saudara-saudara baru yang tentunya memiliki perjalan hidup yang berbeda-beda. Mulai dari mas Iman, mahasiswa biologi universitas samratulangi kelahiran Bitung yang akhirnya menunda skripsi karena ingin menjalankan bisnis keluarga. Mas Brilian yang menolak tawaran kerja di perusahaan pemerintah karena mendapat tawaran dari perusahaan perbankan. Kak Armada, pemuda berusia 28 tahun asal Palembang, yang harus merantau karena bekerja di salah satu perusahaan asal Canada yang fokus pada perkembangan skill manusia Indonesia, hingga Pak Hajar, perantau asal Garut yang memiliki kegigihan dan semangat bak ombak di pulau Lihaga.

Bertemu dan menimba ilmu dari orang dengan latar belakang berbeda sering melahirkan kebahagiaan tersendiri bagiku, apalagi pertemuan dengan Pak Hajar. Terbersit di hatiku untuk menggali lebih dalam sisi spritual beliau, sepertinya ada keyakinan tersendiri dalam hati ini yang berbisik bahwa aku harus belajar banyak tentang kehidupan terutama rasa syukur dan ikhlas dari bapak satu putra ini. Melalui cerita singkat di teras masjid tersebut, aku mendapat informasi penting bahwa pak hajar sering shalat subuh, magrib dan isya berjamaan di marjid Nurul Huda tepatnya di kampung ternate baru.

Setelah pulang dari toko buku aku sengaja geber bebek tahun 2005 yang standarnya mulai rusak sebelum akhirnya kusandarkan di bawah tangga masjid tempat pak hajar mengaduh dan bersimpuh untuk mengingat sang Khalid. Sengaja aku datang lebih awal, karena aku masih ada utang menulis dengan diriku sendiri. Sedih rasanya karena senja itu aku hanya bisa menulis 2 paragraf dan tiba-tiba ide itu mengering, sebelum panggilan merdu adzan menarikku untuk sujud di hadapan-Nya.

Imam mengingatkan agar para makmum untuk merapatkan shaf, mataku menari dan berputar ke kanan dan kekiri mencari celah jika ada shaf yang masih belum terisi, dalam pencarian singkat itu aku melihat sesosok bapak yang teduh dengan balutan baju muslim warna coklat, sarung merah bermotif kotak-kotak serta topi bundar laiknya pak haji, secara implisit semakin memperjelas keseriusannya dalam melakukan ibadah. Shalat selesai dan dzikir serta doa penutup sudah dibacakan. Perlahan aku mendekati pak hajar yang masih terlihat khusyu, aku mulai menyapa, selesai berdoa saya mulai bercerita dengan beliau.

Cerita terus mengalir, semakin beliau bercerita Insya Allah semakin terlihat kegigihannya hingga adzan isya berkumandang kamipun harus berhenti sejenak untuk bersujud, sebelum melanjutkan kembali mendengarkan cerita lika-liku perjalan hidup beliau. Singkat cerita, ternyata di Manado pak Hajar tinggal bersama 8 rekan yang berpofesi sama yaitu sebagai penambal, untuk menghemat uang makan, maka setiap pagi masing-masing anggota harus mengumpulkan uang Rp 10.000,- untuk makan satu hari. Masing-masing akan mendapatkan giliran untuk memasak (terharu). Masyallah ternyata masih banyak di luar sana, sebagian dari saudara muslim kita yang harus berjuang keras hanya untuk sesuap nasi, rasanya aku ingin meneteskan air mata waktu itu. Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu beliau. Mulai hari itu aku akan berusaha, sesekali waktu harus datang ke rumah kontrakan beliau tepat di samping kiri jembatan singkil, Insya Allah aku ingin berbagi dengan beliau walau hanya sedikit.

Ya Allah ini do’aku, berilah kemudahan bagi hamba-Mu yang lemah ini agar bisa membantu saudaraku yang sabar dan gigih berjuang di jalan-Mu dan berilah kemudahan bagi keluarga pak Hajar supaya anaknya bisa menjadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama.
Aamin Ya Rabbal ’Alamin.

Masjid Nurul Huda, Kampung Ternate Baru, Manado.

19 April 2010. Time: 20.10 WITA.

9 thoughts on “PAK HAJAR, PENAMBAL SEPATU DARI GARUT

  1. Assalamu’alaykum wr.wb.
    Subhanallah terharu bacanya. Apalagi saya juga asli orang Garut yang sama2 merantau untuk menimba ilmu di kota orang. Hmm.. Jazakalloh ya.. tulisannya jadi dapat pelajaran yg berharga tentunya. Oia.. kalau ketemu lagi dengan pak Hajar tolong sampaikan salam dari saya, asli orang Garut juga🙂
    wassalam

  2. subhanallah, terharu lor aq baco ceritonyo, emang kito erlu belajar dari kegigihan dan sikap sabar seperti pak hajar, terkadang aq mengeluh dengan penghasilan ku saat ini yang jauh dari teman-teman yang lain, namun aq sadar ternyata penghasilanku mungkin puluhan kali lebih tinggi dari pak hajar yang yang sabar menghadapi hidup,

    semoga kita selalu dalam bimbingan dan jalan Allah SWT,..

    Sukses lor disana,
    Salam dari palembang

  3. Iya dolor, aku rasa kita mengalami problem yg hampir sama yat. masalah yg sejatinya kita ciptakan sendiri dan terlahir krna kita kurang bersyukur serta tak jarang kita sering compare apple to apple dgn teman kita yg mengacu pda historical pd waktu kuliah.
    why do they get much better? I think I’m better than him. logic but not wise lor. Heee
    klw lgi kurang bersyukur biasanya aku baca sejarah tokoh2 Indonesia dan pelajari perjalanan hidup mereka. In fact bnyak orang2 besar sekarang yg memulai karir di atas usia 25 thun lor. so how big our chance to be a great man?
    Be grateful n we’ll find happiness.
    Sukses dolorku Dayat.
    kindly confirm from manado.

  4. Dear Rekan Netter…

    Salam perkenalan, dengan kerendahan hati, kami mengucapkan terima kasih atas apresiasi yang telah diberikan masyarakat Indonesia kepada EAGLE sebagai salah satu Sepatu Olahraga Terbaik Indonesia , Kategory Sepatu Olahraga , pada TOP 250 Indonesia Original Brands 2010 versi majalah SWA ( Ref. No.09/XXVI/29 April – 11 Mei 2010 ) atau bisa klik link ini :

    http://swamediainc.com/award/2009top250originalbrand/index_13.html

    Lihat koleksi kami di : http://www.eagle.co.id

    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s