Merasionalkan yang belum rasional?

Hukum Gossen, Logical Positivism, dan Tingkah Laku Spiritual

Rasanya aku sudah khatam dengan hal ini. Bangun jam 5 pagi, minum segelas air putih, sesekali nonton berita, mandi pagi, dan berangkat ke kantor. Pulang kerja jam 6 sore, lalu dilanjutkan kursus di daerah walter mongonsidi Manado. Rutinitas seperti ini sudah aku lakukan hampir 1 tahun terakhir kecuali kursus yang baru aku geluti sekitar 1 bulan lalu. Semua seakan-akan sudah terprogram tanpa perencanaan sebelumnya. Kegiatan ini baru akan berubah pada hari minggu karena semua aktifitas formal seperti kerja dan kursus aku tinggalkan untuk sementara. Meskipun semua ini telah berlangsung lama, setidaknya hingga detik ini aku belum merasa bosan dengan apa yang aku lakukan.

Sebelumnya aku tidak begitu perhatian dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya rutinitas. Sampai pada akhirnya aku teringat pesan dosen dua tahun lalu. Inilah salah satu pelajaran hidup, terkadang kita terlambat untuk menyadari apa yang sejatinya baik, hingga umur memaksa kita untuk menyadarinya karena jika menunda dan terlambat lagi maka kita akan dimakan oleh kerasnya pergulatan hidup yang semakin hari semakin menuntut perbedaan dan kelebihan positif dari masing-masing individu (the least but not last). Beliau menegaskan bahwa masa depan itu tidak ada (future is today) yang ada hanyalah hari ini. Jika ingin melihat masa depan maka lihatlah apa yang kita lakukan saat ini, dengan siapa kita bergaul dan apa yang menjadi fokus terbesar kita hari ini. Sepertinya dosenku sedang terjangkit virus “secret”. Buku fenomenal karya Rhonda Byrne membumi karena kata-katanya yang sangat kuat yang ingin menitikberatkan bahwa kekuatan terbesar manusia itu ada di dalam pikiran.
kata-kata yang maknanya mulai sedikit demi sedikit aku sadari kebenarannya justru datang disaat yang kurang tepat. Ide itu muncul ketika aku lagi menuggu air mengalir ke bak mandi yang kosong kerena lupa mengisinya tadi malam. Waktu iddah itu menuntun pikiranku melayang, merenung dan mengajakku kembali pada beberapa rutinitas lampau. Hasil dari penjelajahan pikiran sesaat ini memaksaku untuk lebih perhatian dengan apa yang aku kerjakan sekarang dan fokus akan hal ini terasa hampir merubah semuanya.

Kucuran air akibat bak sudah tidak mampu lagi menampung masa air, menarikku untuk melepas gerah akan segarnya air di pagi hari. Air di kota ini fresh, karena jarak mess tempatku tinggal tidak begitu jauh dengan gunung tertinggi di Manado yaitu gunung klabat. Di sela-sela mandi tiba-tiba aku berfikir tentang apa yang menjadi rutinitasku selama ini, belum untuk memperbaikinya tapi hanya ingin menyadari apakah yang sudah aku lakukan selama ini benar dan baik atau justru malah sebaliknya. Do’aku tentunya tidak hanya benar menurut pemikiran dan nalarku yang dangkal tetapi baik menurut keluarga, masyarakat, dan yang terpenting adalah benar menurut Agamaku.

Menyinggung tentang nalar yang pendek, aku teringat dengan buku filsafat yang aku baca dua bulan lalu. Sejauh membacanya sepertinya aku belum tertarik dengan filsafat pragmatisme yaitu suatu pemikiran yang merelatifkan kebenaran semata-mata atas dasar faedah atau keuntungan buat si pemikir atau sang subjek sendiri. Belum lagi diperparah dengan anggapan bahwa paham inilah yang menjadi cikal-bakal lahirnya paham kapitalisme yang notabene sudah banyak di cap di belahan dunia sebagai paham yang melahirkan manusia yang kaya makin kaya dan yang miskin menjadi lebih miskin. Nalarku yang seumur jagung menggiringku untuk selalu belajar dan berusaha mempercayai bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Selain paham pragmatisme, ada paham lain yang semakin bekembang seiring dengan perkembangan penelitian di dunia. Hasil penelitian cenderung mengacu pada rasionalitas atau lebih dikenal sebagai logical positivism. Rasanya sudah kebal, setiap melihat tingkah laku alam maka hati akan menarik otakku untuk berjelajah ke paham logical positivism sebagai tujuan utama hingga realitas itu tidak bisa dilogikakan lagi dan aku memutuskan untuk memutar haluan ke prilaku spiritual yang harus kita akui kegaibannya.

Jika filsafat dan nalar menyeretku ke logical positivism, maka rutinitas hidup mangingatkanku pada teori ekonomi tentang kepuasan marginal milik Gossen. Apa yang tidak bisa dilogikakan oleh paham logical positivism dan berbanding terbalik dengan teori marginal utility maka aku akan berlindung ke teori Tuhan yang sudah disempurnakan-Nya dalam Al-Qur-an dan Hadist.

Mari kita mulai dengan logical positivism. Paham ini mempercayai bahwa segala sesuatu di dunia harus bisa dirasionalisasikan atau diuji melalui percobaan. Bahkan jika orang sudah extreme terhadap paham ini, mereka cenderung tidak percaya akan adanya Tuhan (the invisible hand of God is nothing). Sudah jelas saya takut dengan paham yang dibawa oleh Hume ini. Karena sekali saja aku percaya dengan paham ini maka akan menghancurkan apa yang sudah aku yakini sejak lahir, bayangkan 23 tahun 1 bulan lalu kawan. Biarlah Immanuel Kant saja yang cinta dengan paham ini. Apalagi Allah sudah menjelaskan dalam kitab-Nya (surat 2 : 3) orang yang beriman percaya kepada yang gaib, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang telah Allah berikan.

Berlayar dari logical positivism kita singgah berlabuh ke hukum Gossen. Hukum yang menjelaskan tentang kepuasan marginal. Secara garis besar, pria kelahiran Jerman ini menyimpulkan bahwa jika pemuas terhadap suatu benda berlangsung terus menerus, kenikmatan mula-mula mencapai kepuasan tertinggi. Namun makin lama makin turun, sampai akhirnya mencapai titik nol.

Jujur pada beberapa bagian aku sangat setuju dengan teori hukum Gossen, apalagi untuk hal-hal yang sifatnya duniawi karena semakin kita menikmati yang bentuknya meteril maka kita akan bosan dengan hal tersebut. Tetapi aku kurang sependapat jika teori kepuasan marginal ini diaplikasikan pada prilaku spiritual. Bagiku semakin kita naik tingkat prilaku spiritual maka akan sulit bagi kita untuk turun. Tidak ada kata bosan dan belum ada tindakan mundur kearah yang buruk untuk suatu pengharapan prilaku spiritual yang baik.

Aku mencoba merasionalisasikan walaupun sedikit kesulitan. Orang-orang yang sudah menerapkan shalat 5 waktu dengan konsisten akan merasa gelisah jika mereka meninggalkannya sekali waktu. Tak pernah bosan untuk shalat tapi malah sebaliknya, seolah-olah kita terus merasa dahaga meskipun secara kuantitas kita telah mengkonsumsi lebih banyak hal-hal abstrak tersebut. Mungkin mereka akan menambah dengan cara membaca Al-qur-an dan juga shalat sunnah. Dan lama kelamaan tindakan spiritual yang kita lakukan secara terus menerus ini bukannya mengurangi kenikmatan malah akan melahirkan suatu kebiasaan positif yang Insya Allah harus kita kembangkan dari waktu ke waktu.

Sering terbersit di pikiranku, apakah teori-teori yang pada umumnya metamorfosis dari paham logical positivism ini sulit diselaraskan dengan tingkah laku spiritual. Apakah kedua elemen ini mutlak tidak bisa disandingkan bersama. Apakah mereka harus dipisahkan dalam setiap deminsi kehidupan. Atau pada beberapa hal, akal manusia yang belum bisa menjangkau teori-teori dalam kitab Tuhan.

Orang bodoh sepertiku cenderung takut untuk mengambil risiko, lebih tepatnya aku memang tidak memiliki sesuatu apapun untuk dispekulasikan. seandainya saat ini saya manjadi seorang investor maka saya akan masuk kelompok risk avert (penghindar risiko). Kalaupun harus diartikulasikan dalam produk investasi, aku lebih suka deposito daripada saham dan lebih tertarik ke reksadana pendapatan tetap daripada reksadana campuran. Oleh karena itu aku belum berani dan semoga saja terus takut dengan hukum-hukum Tuhan yang kebenarannya tidak boleh diragukan sedikitpun. Dan kalaupun ada teori-teori yang belum bisa diselaraskan dengan teori Tuhan, itu adalah bukti dari suatu proses pencarian dan kegigihan seorang manusia yang menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna.

Bagi nalarku yang sering lumpuh oleh gemerlap materil, bicara tentang teori ekonomi dan filsafat bukanlah perkara mudah. Sebelum terlalu jauh aku melangkah maka aku ingin munyudahinya dengan suatu kesimpulan pribadi. Kesimpulan yang lahir dari manusia bodoh dan Insya Allah seseorang yang takut untuk menentang hukum Tuhan. Baiklah ini kesimpulanku setelah melakukan perenungan beberapa waktu: “hukum kepuasan marginal hanya untuk hal-hal yang sifatnya materil dan paham logical positivism terbatas pada sesuatu yang bisa dilogikakan sedangkan tingkah laku spiritual tidak perlu dipusingkan karena semua sudah diatur dalam kitab-Nya yang sempurna yaitu Al-qur-an dan Hadist”.

NB: Iman adalah pelengkap logika yang sangat terbatas dan Iman juga menjadi pelengkap kehidupan (Mario Teguh)

Manado, North Sulawesi : May 16, 2010

Time 10. 22 WITA.

3 thoughts on “Merasionalkan yang belum rasional?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s