Mendaki Gunung Klabat

*Panggilan Hati untuk Alam*

Rutinitas kerja sering mengundang rindu akan nuansa alam bebas. Sesekali aku ingin lepas seperti para petualang, berlari dari satu pantai ke pantai lain, mendaki bukit dan gunung, hingga berenang dari satu pulau dan menyelam menuju laut dalam nan gelap. Keindahan alam selalu mengundang rasa kangen yang teramat dalam.

Embun pagi itu menari indah, gerakannya melahirkan angin yang begitu sejuk untuk temperatur puncak gunung klabat. Sebelum akhirnya mereka pergi dan digantikan kehangatan sang surya yang mulai mengintip pagi itu. Keharuman pohon strawbery hutan memikat sekumpulan kupu-kupu coklat bermain sembari menikmati sarinya yang sedikit asam.

Lelaki coklat itu sekarang mulai menua, rambut kriting sudah jadi ciri khasnya sejak dulu, mungkin dia lebih sering mempercayakan alam untuk menyisir rambutnya. Matanya yang sipit tapi tajam mengisyaratkan kalau ia memiliki sejuta impian. Badannya yang ringkih, suaranya yang serak hanya sebagai penanda kalau dia lebih cocok jadi penulis daripada penyanyi, lebih baik jadi analis daripada jadi marketer.

Perjalanan dan cerita malam ini adalah refleksi sekaligus jawaban satu dari sejuta mimpi-mimpinya. Enam bulan lelaki itu menuggu setia, menanti hari merah diujung pekan karena hanya itu sebagai peluang baginya untuk meluncur ke puncak gunung yang terjal itu. Gunung itu laksana paku alam terbesar di bagian paling utara sulawesi, dikelilingi semak belukar dan bebatuan di post lima yang sangat terjal. Rasanya tak cukup dua kaki untuk melampauinya, tapi dia tetap kokoh karena semakin berat usaha untuk mencapainya, Insya Allah semakin besar kepuasan yang akan ia dapat. Keyakinan inilah yang membuat lelaki itu tetap setia dengan mimpi-mimpinya. apalagi di gunung ini juga, lelaki itu belajar satu hal tentang rasa. ternyata kenikmatan itu bukan terletak pada apa yang kita makan, tetapi pada kondisi apa kita makan. buktinya nasi berlauk garam sungguh gurih terasa di post empat gunung klabat yang dingin.

Jum’at pagi ini begitu cerah, berbeda dengan hari biasanya. Manado yang dikelilingi puluhan pantai sudah menjadikan hujan sebagai musim biasa, lain dengan lelaki jawa kelahiran sumatera yang sadang menggila dengan mimpinya. Naik klabat butuh dukungan cuaca karena ini akan jadi perjalanan panjang kawan. Otakku sudah penat bermain dengan pena, langsung kutuangkan saja isinya untuk kawan-kawan, inilah tulisan di puncak gunung klabat.

Mengejar impian ke-7

akhrinya akan tiba pada suatu masa, hari dimana kita merasa tidak ada kekuatan lain kecuali titipan. Disaat pikiran beku oleh aktivitas duniawi, sepertinya aku akan lari sejenak, bersembunyi di rimba gunung klabat nan lebat, larut dalam air terjun bukit doa yang tak beraturan dan mendaki tebing-tebing terjal jurang romeo and juliet.

Sore ini aku hampir mati rasa, embun seakan mengeras dan menusuk hingga ke rusuk. Sendi-sendi seperti dibius oleh analgesik kuat apalagi matahari penghangat bumi tak kunjung datang. Haripun menjadi gelap, cahaya menghilang. Suara-suara asing saling bertaut, segala mahluk seakan berbicara dalam bahasa yang tidak aku mengerti, aku ingin menutup telinga detik ini tapi aku tidak mampu.

Lembah bukit doa, kau dan aku kini tegap berdiri, menatap hutan yang mulai gersang, meraba air yang perlahan mengering, bumi yang mulai memanas, ozon semakin menipis. Sejujurnya aku ingin membagi ketakutanku padamu, aku khawatir jika Sang Pencipta akan menghapus semua nikmat ini. Bagaimana dengan cucu-cucu kita nanti, padahal kita sama-sama tahu bahwa semua ini bukan warisan yang bisa dihabiskan tetapi sesuatu yang harus dilestarikan.

Klabat malam ini aku datang, berjalan dua hari dua malam untuk memenuhi panggilan hati tentang alam. Embun fajar yang tajam sepertinya menumpul dan belum cukup kokoh untuk membunuh bara impian yang terlanjur aku tulis. Aku tahu, mimpi itu bisa lebih panas dari lahar merapi jika berada pada manusia berpribadi baja, gerakannya lebih cepat dari angin, larinya jauh lebih kencang dari Chitah.

Bumi malam ini aku ingin bercerita dan mengadu tentang mimpi, Insya Allah aku tidak ingin membusungkan dada, semua ini terlahir dari panggilan hati, panggilan yang hanya bisa digerakkan oleh Sang Pencipta hati. Jujur aku sempat meneteskan air mata ketika menulis mimpi-mimpi itu, karena aku tahu betul keterbatasan yang aku miliki. Keberanian itu sering menciut ketika aku mulai mengenal rasa sakit. Jauh berbeda ketika aku masih balita, aku selalu bangun ketika jatuh.

Aku memejamkan mata, menerawang jauh hingga tenang, aku dengar detak jantungku yang lemah tapi bergerak, aku mulai membaca perintah hati yang samar tapi ada, yang sulit tapi logis, dan yang berat tetapi terlalu indah untuk diterlantarkan. Meskipun hati dan pikiran sering berbeda dalam implementasi, insya Allah impian harus tetap dicapai.

Malam ini di puncak gunung klabat, tiba-tiba panggilan hati untuk mimpi datang lagi, kali ini aku berjanji tanpa air mata dalam setiap goresan pena, tanpa rasa takut dengan bayangan realita. Sejatinya malam ini aku tidak sendiri untuk memnuhi panggilan hati. Setidaknya ada empat teman yang berhati baja, sehingga kami mempunyai akar yang kuat untuk membangun kerangka impian, tapi maaf kawan semua ini masih terlalu prematur untuk menjadi konsumsi publik. Di atas kertas putih yang bersih aku mulai menulis mimpi-mimpi itu, dan pada suatu masa aku akan melihat kertas itu berubah menjadi lusuh, penuh coretan, lembab, dan basah karena air mata. Air mata kebahagiaan menetes tepat di atas goresan mimpi sekaligus sebagai jawaban atas mimpi-mimpi itu, Inysa Allah. Aamin Ya Rabb.

Tuhan, malam ini aku datang dan meminta izin untuk tidur di puncak ciptaan-Mu agar aku sadar betapa kecilnya diri ini.

Gunung Klabat, July 11, 2010

Time 9.15 WITA

Note: Mendaki Gunung Klabat adalah Impianku nomor 7. Mimpi itu terlahir karena aku sering melihat gunung tertinggi di manado itu saat aku sedang menjemur pakaian. Langsung saja kutulis, dan setelah 6 bulan penantian, akhirnya mimpi itu dapat terwujud. Terima kasih Ya Allah.

Selamat berjuang untuk mimpi-mimpi selanjutnya,  tentunya lebih berat dan terjal dibandingkan dengan mendaki gunung Klabat yang hanya 6.545 kaki atau 1.995 meter.

7 thoughts on “Mendaki Gunung Klabat

  1. Berada di ketinggian, memandang alamNya yang indah…. subhanallah… pengalaman yang sungguh berkesan,
    Selamat meraih mimpi-mimpi berikutnya yaa.. and good luck selalu, aamiin…🙂

  2. pecinta alam serta isi rimba…menyukai ini.. slm lestari bro..thanxs z berbagi dgn rimba klabat..dari anak2 kpa pasir airmadidi..

  3. halo.. hey tulisannya bagus, boleh share ndak!? apaendaki klabat harus pake tour guide ? klu pake tourguide ato porter berapa yah kira kira, saya juga punya mimpi mendaki gunung klabat di bucket listku.. yg mudah mudahan bulan oktober thun ini bisa terealisasi, mphon bantuannya dan informasinya dong.. trims..
    mohon contact saya di denny_inbox@icloud.com

    • Halo mas Deny..salam kenal.
      Kebetulan waktu itu kami mendaki bareng anak-anak yg tinggal di area gunung jadi mereka yg jadi tour guide.
      Untuk harga tour guide disana, maaf saya ga tahu mas. Mungkin mas bisa googling atau cari kenalan di manado agar dapat info yg valid.
      Semoga mimpi mendaki klabat terwujud mas. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s