Selamat Jalan Sayang*

Biarlah surat cintamu jadi sejarah kita...


Tak ada yang abadi, lirik lagu almarhum band Peterpan ini cukup mewakili perasaanku saat ini. Aku harus merasakan rasa pedih yang tidak berbekas, tidak berdarah tetapi perihnya lebih dari goresan belati. Hari ini aku sakit hati kawan, ditinggal pergi oleh sesuatu yang dulunya sangat aku cintai. Dia, melalui orangtunya sudah aku khitbah 8 bulan lalu tepatnya 25 Desember 2009. karena kami terpisah jarak dan waktu, maka aku putuskan untuk memberikan beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk melengkapi upacara sakral itu.

Acara berlangsung sederhana, aku ditemani dengan saksi yang notabene adalah teman sekantorku sendiri, dan sang bidadari sudah berwasiat melalui surat panjang, seperti prospektus salah satu produk manajemen investasi. Walau malas aku paksakan untuk membacanya, aku sadar ini bukan perkara remeh yang bisa diterlantarkan, ini menyangkut masa depanku, masa depan keluargaku nanti.

Surat ini sudah aku baca, begitu juga dia, butuh waktu 30 menit untuk mempersiapkan syarat – syarat yang aku minta darinya. Sebenarnya syarat itu mudah dan ini memang harus dilakukan karena kita jauh. Aku tidak bisa mengetahui informasi tentang dia setiap hari. Oleh karena itu aku memintanya untuk mengirimkan surat cinta setiap bulan melalui dua cara. Pertama, dia harus membuka diri untuk menulis perkembangan dirinya di situs pribadi yang sudah dilegalkan oleh pemerintah. Kedua, dia harus mengirim surat cinta ke alamat rumahku, tujuannya agar orang tuaku di Palembang tau, siapa dia sebenarnya, bagaimana kondisi kesehatannya, dan yang paling penting apakah dia masih ada, belum collaps oleh turbulensi ekonomi dunia.


Sejatinya dia bukanlah orang pertama yang memberikan pengalaman dan pelajaran tentang cinta, sudah dua kali aku ditinggal pergi orang-orang yang aku pikir layak untuk diajak mengarungi terjalnya masa depan kehidupan, ya namanya hidup, kita hanya bisa berusaha dan Allah yang akan menentukan semuanya. Aku berusaha melepasnya dengan ikhlas tapi tetap saja sakit hati. Seberat apapun problema dalam hidup, Insya Allah aku selalu yakin bahwa apa yang terjadi padaku hari ini adalah kondisi terbaik yang Allah berikan padaku dan tidak mungkin Allah memberikan cobaan di luar kemampuan hambanya.

Tak mau larut dalam kesedihan putus cinta, aku mencoba merasionalkan tentang keputusan yang akan aku terima, meskipun berat tapi harus sabar. Melupakannya bukanlah suatu hal yang mudah, sedikit banyak dia telah merubah kebiasaanku, dari manusia malas menjadi sedikit tertarik membaca, belum lagi usahanya untuk membujukku agar selalu membeli majalah Investor setiap awal bulan dan merayuku untuk mengamati keadaan Indonesia melalui diskusi publik di layar kaca. Aku pikir ini sebagai salah satu efek cinta yang konstruktif dan harus dijaga. Secara perlahan dia mengajakku untuk lebih perhatian dengan kondisi ekonomi. Semua orang juga tau jika manusia sepertiku tidak mengerti ikhwal itu.

Sejujurnya aku mempunyai pertanyaan besar untuknya tapi selalu aku simpan dan berharap bisa menemukan alasan kenapa dia memaksaku untuk tau tentang itu. Lambat laun jawaban itu mulai tergambar, perlahan tapi pasti ternyata kondisi ekonomi bisa mempengaruhi kesehatan kekasihku.

Seringkali riak-riak kecil di belahan dunia lain membuatnya lunglai dan terjatuh. Masih ingatkah kejadian krisis global tahun 2008, saat bubble subrime mortgage meledak dan melukai American International group (AIG) dan Yamato Life serta membunuh beberapa perusahaan raksasa dunia seperti Lehman Brother dan Fannie Mae. Waktu itu tubuhnya terkulai lemas, surat cinta yang dia kirim tidak semanis dulu, aku sering gemetar membaca surat itu. Semakin hari kondisinya semakin menurun dan akhirnya dokter negara harus memberikan bantuan dengan cara menghentikan aktivitasnya pada 8 Oktober 2008. Apakah kamu tau kenapa jalan itu yang harus diambil sayang? karena dokter negara ingin melindungimu dari kemungkinan keterpurukan akibat sentimen negarif waktu ini, jika engkau terus berlari di lantai bursa, takutnya engkau akan terpeleset, membentur titik kulminasi dan akhirnya kamu tidak bernilai lagi di masyarakat dan jujur aku tidak menghendaki semua itu terjadi padamu. Itu sekilas cerita pertama ketika kondisimu kritis dan harus masuk ruang ICU dua tahun lalu.

Belum selesai badai krisis 2008, baru-baru ini virus negeri Yunani hampir menular padamu. Kekebalan tubuhmu menurun, vitamin – vitamin negara Eropa tidak berfungsi untuk membunuh virus yang lahir dari negeri seribu dewa itu. Untuk kali kedua dengan sangat terpaksa aku membaca sutat cinta darimu dengan bahasa yang mulai kaku, semua seperti tidak ada pergerakan ke arah yang lebih baik dan belum ada tanda-tanda engkau akan pulih dalam waktu singkat. Virus negara itu begitu berbahaya, dia terkena defisit kekebalan tubuh hingga 124% dari standar kekebalan tubuhnya. Dunia berharap dokter dari Jerman bisa memberikan bantuan anti virus seharga $ 1 triliun pada Yunani agar virusnya tidak terus menyebar ke belahan dunia lain tapi ternyata negeri Panser keberatan untuk membeli obat dengan harga yang sangat mahal apalagi parlemen di Berlin sudah menganggap negeri dewa itu sebagai pemalas, tidak bisa menjaga anggaran hingga transaksi berjalanpun defisit 11,9 persen.

Takut virus itu semakin menyebar, maka dokter dunia (International monetary fund) dan Uni Eropa harus turun tangan. Obat seharga $ 1 triliun sudah disuntikkan dalam bentuk pinjaman, dan kini kondisi Yunani mulai membaik dan syukur itu menular juga padamu, tetapi tetap saja jantungku mau copot waktu itu. Dan itu kali kedua engkau menurunkan tensi darahku.

Dua kali jantungku berdebar kencang. Pertama ketika krisis global 2008 dan kedua saat krisis Yunani baru-baru ini. Aku sadar, melepasmu bukanlah perkara mudah bagiku, aku masih ingat kisah-kisah manis tiga bulan lalu. Ketika badanmu mulai gempal, surat cintamu semakin manis dibaca, belum lagi aroma mawar dari negara tetangga yang semakin hari semakin meyakinkanku untuk terus bersanding denganmu. Semua itu akan jadi kenangan kita sayang. Informasi kemarin membuatku sangat khawatir. Aku takut jika kamu tidak mampu lagi untuk bertahan. Dua hari lalu aku membaca berita dunia, berita yang sangat menyedihkan sayang, saat ini banyak negara-negara di dunia dengan bangga menggadaikan dirinya sebagai jaminan utang. Kamu pasti tau sayang apa akibatnya jika utang itu jatuh tempo dan tidak ada dana untuk melunasinya. Bagaimana multiplier efek yang bisa ditimbulkannya sayang. Dunia bisa meledak, dan bukan tidak mungkin ledakannya bisa melebihi ledakan bubble subrime mortgage di Amerika atau kecerobahan negeri para dewa dalam mengelola utang.

Kamu juga pasti sudah tahu jika utang luar negeri Inggris sudah mencapai $ 9,26 triliun atau kedua terbesar di dunia setelah Irlandia, Belanda $ 2,58 triliun, Prancis $ 5,22 triliun, Jerman $ 5,33 triliun, Amerika 13,67 triliun dan Indonesia, negeri yang memiliki sumber daya alam yang berlimpah ternyata mempunyai utang sebesar Rp5.613 triliun. Tahun 2010 akan jatuh tempo sekitar Rp. 115 triliun dengan ditopang pendapatan domestik bruto sekitar Rp. 5.303 triliun

Itu baru utang beberapa negara sayang. Jika Yunani saja bisa membuatmu sakit, apalagi negara-negara besar yang terjerat virus, aku tak sanggup membayangkannya sayang. Aku ingin hidup tenang, aku ingin kembali pada suatu masa, dimana aku bisa menikmati kondisi yang ada denagn rasa damai dan tenang.

Dengan pertimbangan analisa SWOT yang sederhana, dan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan di antara kita maka kuputuskan untuk mengakhiri hubungan ini. Hubungan yang sudah terjalin delapan bulan lamanya. Aku juga akan menyimpan setiap surat cinta yang engkau berikan sebagai sejarah, sama seperti bidadariku yang pertama dengan senang hati dia menyimpan photo di brangkas tua satu tahun lalu. Baik ataupun buruk, suka maupun duka akan kujadiakan kamu sebagai pengalaman berharga dalam hidupku. Terima kasih dan selamat jalan sayang, selamat jalan Fortis Equitra.

Manado, 30 Juli 2010.

Time 20.49 at office

14 thoughts on “Selamat Jalan Sayang*

  1. πŸ™‚πŸ™‚πŸ™‚ … Senyum ceria menyambut Ramadhan yang mulia,πŸ˜€
    ^.~ Setitik kekhilafan di setiap detik waktu yang telah berlalu, semoga berujung saling memaafkan yaa…πŸ™‚

    Salam silaturrahim di penghujung Sya’ban,

  2. bagus sekali tulisannya…saya harus lebih banyak lagi belajar menulis dengan melihat tulisan ini…saya jd merasa banyak sekali kekurangan pd diri saya dlm hal menulis…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s