Bunaken

Beyond the dream, there’s a dream

Panas matahari pagi menembus bumi Likupang Manado, hangatnya menarik memoriku ke jalan malioboro Jogyakarta yang penuh blangkon coklat dan baju jawa hitam berselip keris. Miniatur artistik banjir di pinggiran Krapyak, seperti hamparan baju bekas pedagang kaki lima di bawah jembatan ampera kota Palembang. Dokar putih di pelataran candi borobudur mengembalikan ingatanku ke Tomohon, daerah penangkaran bendi (kuda) di bagian utara sulawesi, jejaknya juga dikenal dengan kota sejuta bunga, tanah kelahiran pahlawan nasional Doktor Sam Ratulangi. Kota ini mulai mendunia sejak acara world flower conference dan festival bunga Tomohon Juli 2010.

Hari ini aku bahagia karena sehati dengan matahari pagi. Cahayanya menembus pulau Bunaken menjadi kompas yang paling ampuh. Deru mesin perahu motor mulai membela pantai, dua kipasnya mendorong benda berukuran empat kali meja kerjaku ini semakin kencang. Angin laut yang searah pantai juga menambah kecepatan kapal milik bapak Toar. Toar sendiri aku kenal sebagai nama jalan di Manado tempat menjual coto makasar paling enak di kota nyiur melambai ini sekaligus sebagai saksi bisu pristiwa tragis hilangnya camera, handphone, mp3, dan buku sejarah ekonomi modern maret lalu.

Bibir kapal semakin mendekati pasir putih, terparkir kapal-kapal lain seperti armada tempur Amerika hendak menyerang Hiroshima dan Nagasaki. Sedikit terkejut dengan perubahan kondisi pantai ini. Taman laut yang menjadi salah satu biodiversitas kelautan tertinggi di dunia ini dulunya kotor seperti pantai mati ketika aku datang tujuh bulan lalu. Sampah plastik, botol, dan tulang-benulang bertebaran sepanjang bibir pantai. Sekarang semuanya nyaris berubah, pantai terlihat lebih bersih. Dengar-dengar ini wujud aksi filantropi lembaga yang peduli dengan wisata laut di bagian paling utara sulawesi. Mungkin dampaknya belum sebesar filantropi negeri Paman Sam yang digagas oleh Bill Gates dan Warrant Buffett, cikal bakal laga amal terbesar ini mengajak 400 orang terkaya Amerika untuk menyumbangkan setengah dari pendapatan mereka demi perbaikan kualitas manusia dan lingkungan.

Ini adalah kali ketiga aku menginjakkan kaki di underwater great walls. Pulau yang memiliki 20 titik penyelaman (dive spot) ciamik ini sudah menjadi ritual perpisahan bagi teman-teman kantor yang akan dipindahtugaskan. Tahun lalu aku melancong untuk merayakan perpisahan Bapak Paulus, marketing asal palembang yang akan menjadi pimpinan cabang di tanah Toraja. Kedua, firewall party Aurora, gadis keturunan jawa bali ini akan dipindahkan ke Solo dan lagi-lagi bunaken jadi tempat paling romantis untuk berpisah. Terakhir, sekitar tiga minggu lalu, perpisahan tim confins dari Jakarta. Meskipun sudah tiga kali ke taman laut bunaken, rasanya belum bosan karena setiap menyelam, kita akan melihat keindahan flora dan fauna bawah lautnya yang selalu melahirkan kepuasan tersendiri.

Singgah ke tetangga pulau siladen dan manado tua ini bukanlah tanpa perjuangan, orang yang tidak biasa terkena ombak akan merasakan mual yang cukup mengganggu, dan aku adalah salah satu pasien yang mengindap penyakit tersebut. Tapi tenang saja kawan karena keindahan bawah laut pulau seluas 8,08 km² akan membayar lunas semua rasa sakit yang kita derita.

Tujuanku hari ini adalah snorkeling, aku lupakan perasaan mual itu, aku biarkan percikan air garam pantai menampar mukaku. Kulitku yang sudah gelap akan semakin menghitam, dan aku tidak peduli dengan itu. Hari ini aku ingin menyatu dengan alam, aku ingin berenang bebas, menyelam hingga ke dasar. Mencari sepasang clown enemonefish yang sering bermesraan di red reef. Diskusi tentang masa depan Indonesia dengan kepiting warna merah putih yang bernama anemone crab. Dan menghadiri acara pernikahan ikan nemo yang sering dilakukan di heteroctis magnifica anemone sekaligus aku ingin belajar tentang ritual upacara pernikahan dari hewan cantik ini.

Bicara tentang pernikahan menjadi hal yang cukup sulit bagiku, tak ubahnya melakukan analisa tehnikal dan fundamental sebelum membeli saham. Perlu data yang akurat dan time period setidaknya lima tahun sebelum menghasilkan suatu keputusan. Problem akan selalu ada, setidaknya untuk menunggu harga di lantai bursa yang pergerakannya secepat kedipan mata. Mungkin masa penantian akan menjadi hal yang paling membosankan bagi sebagian orang. Jika kita sadari, sejatinya menunggu untuk sesuatu hal yang lebih baik tidak selalu buruk hasilnya. Setidaknya hal itulah yang aku dapat dari buku Malcolm Gladwell “what the dog saw” penulis mencoba menggambarkan sosok yang bijak dalam masa penantian. Ini bukan hanya ilustrasi tapi ini kisah nyata dan dilakukan melalui penelitian.

Ahli psikologi Walter Mischel, mengambarkan peribadi Nassim Taleb dengan melakukan serangkaian percobaan dimana dia menempatkan anak kecil di satu ruangan dan menaruh kue kering di depan anak itu. Satu kecil dan satu lagi besar. Anak itu diberi tau jika dia mau kue yang kecil dia tinggal bunyikan bel dan pelaku percobaan akan masuk dan memberikan kue. Tapi jika anak itu mau kue yang lebih besar, dia harus menuggu pelaku percobaan untuk masuk sendiri tanpa dipanggil, yang bisa terjadi apa saja dalam 20 menit ke depan. Mischel punya rekaman anak 6 tahun yang duduk sendirian, memandangi kue kering, mencoba meyakinkan diri sendiri untuk menunggu. Seseorang anak perempuan bernyanyi sendiri, dia membisikkan sesuatu yang tampaknya perintah yang diberikan bahwa dia bisa dapat kue yang besar kalau bisa menunggu.

Dia memejamkan mata lalu membalikkan badan membelakangi kue-kue itu. Seorang anak laki-laki menggoyang-goyangkan kakinya lalu mengambil bel dan memainkannya, mencoba berbuat segala hal kecuali memencet bel tersebut. Keteguhan dan kesabaran anak-anak itu mencerminkan pribadi Nassim Taleb yang akhirnya menghantarkan pria kelahiran Libanon ini sebagai Dean’s professor dalam bidang ketidakpastian di university of Massachussetts Armharts.

Aku juga perlu belajar bagaimana cara memaknai masa penantian, setidaknya berusaha lebih sabar seperti Nassim Taleb dan anak kecil itu. Hari ini aku sedang menunggu untuk terwujudnya sebuah mimpi. Mimpi yang sudah aku tulis 1 tahun lalu. Kini aku harus bersabar semoga nasib baik Nassim Taleb bisa menular kepadaku.

Ini adalah harapan dalam penantian, diperlukan konsistensi berkesinambungan serta disiplin untuk tetap fokus atas apa yang sudah tertulis di buku impian satu tahun lalu. Jika tidak ada halangan, Insya Allah satu impian lagi akan terwujud di akhir April 2011. tulisan ini sekaligus sebagai do’aku, pengharapan untuk menggapai suatu impian. Ini sudah aku tulis dan aku berusaha fokus untuk itu. Man Jadda Wajjadda. Aamin ya Rabbal ‘alamin.

Diujung tulisan ini aku ingin membagi sebuah pesan dari sahabat baik yang tidak aku kenal, aku tidak tau siapa dia sebenarnya dan masih malas untuk mencari tau jati diri seseorang misterius itu, tapi aku bisa merasakan jika kita pernah dekat setidaknya dalam negeri impian. Pesan singkatnya seperti sihir, mengundangku untuk membacanya berkali-kali sebelum aku membalas pesan itu dan menyimpannya di folder khusus. jika teman-teman pernah menonton film inception, maka itulah yang aku rasakan. Beyond the dream, there’s a dream .

Tulisannya sederhana, tapi karena aku membacanya pada waktu subuh mungkin aroma syurga menjadi pelengkap syahdunya pesan itu. Kutitipkan helai-helai rabithah pada desir angin, kusematkan setangkai kata rindu pada ranting cakrawala yang syahdu. Kumunajatkan segala asa dan do’a, semoga Allah selalu menguatkan kita dalam tali ukhuwah yang tak akan pernah terputus hingga Allah mempertemukan kita di Jannah-Nya. (unknown)

Ukhuwah terkadang seperti angin, dia ada tapi tidak bisa diraba. Molekulnya bisa melebar karena jarak dan waktu, dan jurangnya bisa terjal karena ombak kehidupan. Tapi yakinlah sahabat, ukhuwah itu layaknya air terjun viktoria, dia mengalir ke semua penjuru kota tapi akhirnya akan kembali pada satu muara, Insya Allah Jannah-Nya. Ya Rabb, dalam fajar subuh aku mengadu, hamba titipkan ukhuwah ini padamu.

Aku titipkan hati dan ukhuwah ini pada-Mu karena hanya Engkau yang tau kebenaran hakiki bukan diriku yang cenderung tergoda fatamorgana dunia. Bawalah kalbu ini ke tempat-tempat yang Engkau kehendaki, karena hamba sadar inginku seperti nafsu dunia yang tak ada habisnya. Bukannya guru sejarah sudah pernah bicara, jika hati manusia itu lebih besar sedikit dari isi dunia.

Aku ingin tidur beratapkan jerami malam ini, menelantarkan pikiranku untuk terbang bebas, berinsepsi dengan kondisi-kondisi baru sehingga aku tidak sadar apakah ini nyata, mimpi, halusinasi, atau sekedar imajinasi.

Malalayang, Manado.

Time 01.09 A.M (WITA)

7 thoughts on “Bunaken

  1. Alam bawah laut y cukup menawan mas eri, tpi baru-baru ini ada anggota DPR RI yg meninggal kena angin pulang dari Bunaken. jadi takut juga mas.
    Mas eri, bgi kiat2 y mas untuk bsa dapat beasiswa ke luar negeri?
    Terima kasih sebelumnya mas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s