Kontruksi Legenda Pribadi

Jembatan kehidupan adalah infrastruktur yang butuh konsep


Bismillaah, alhamdulillah, wash shalatu wassalamu’ala rasulillah.

Dalam hidup ini Insya Allah tak ada yang aku cintai selain pencipta hidup itu sendiri, Allah SWT. Tak ada teladan terbaik melebihi sunnah Rasulullah SAW. Duhai Tuhanku kepada-Mu hamba bersujud, mengadu, dan berdo’a. Bahagia dan bersyukur karena telah melahirkan rasa cinta yang indah ini, menyediakan pilihan-pilihan dalam festival kehidupan serta selalu Engkau sajikan pilihan terbaik bagi hamba-Mu. Semakin hari aku meyakini bahwa semua yang terjadi bagi umat adalah yang terbaik bagi-Mu, mungkin manusia hanya butuh waktu untuk menyadarinya. Aamin.

Setiap hari, proses kehidupan-Mu selalu mengajarkan banyak hal tanpa kata. Bumi terus berputar, detik bertumpuk menjadi menit, menit berkumpul menjadi jam. Jam bergerak menjadi hari. Minggu berlari menjadi bulan. Semuanya berubah, seperti roda kehidupan, terkadang di atas dan tak jarang kita harus berada di bawah. Semua itu agar kita sabar dan bersyukur atas nikmat yang telah Engkau beri. Tak terasa hampir sepuluh bulan aku merantau dan tinggal di provinsi utara sulawesi dan minggu depan Insya Allah aku akan berjelaga ke sisi lain dari bumi-Mu ya Robb yaitu Makassar.

Beberapa kota telah aku lalui, mengajarkan aku satu hal bahwa dunia ini seperti labirin yang unik, tak bisa diprediksi, kemana dan dimana ujung dari perjalanan ini. Pernah kita mengunduh bahagia tapi yang terupload adalah derita, kita berharap menjadi dokter, saat ini bekerja di finance. Singkatnya aku ingin berbagi jika hidup itu tak selamanya indah, hidup itu misteri yang lucu, terlalu cantik untuk mengetahui kejadian masa depan belum pada waktunya.

Allah itu adil, selalu memasangkan setiap ciptaanya. Ada tawa ada airmata, ada pujian ada juga penghinaan, ada yang datang ada juga yang pergi, ada suatu pertemuan sudah pasti akan ada perpisahan, karena susuatu yang bernyawa itu pasti akan mati. Bukan seberapa perih arti sebuah perpisahan tetapi lebih pada seberapa baik kwalitas persaudaraan yang sudah kita jalin selama ini. Hidup ini lebih perlu kwalitas bukan sekedar kuantitas.

Dalam mencari pasangan dan kelengkapan di dimensi kehidupan. Gelisah, galau, kesepian sering menghampiri. Jika sedang putus asa aku sering berfikir apakah tepat aku memilih jalan ini. Pergi dari tanah kelahiran, berpisah dengan keluarga, sahabat dan kerabat yang sudah terjalin cukup lama. Tidak ada ruang bebas untuk bermanja dengan keluarga, dahalu aku selalu ingin dipeluk ibu ketika merasa takut, curhat dengan bapak disaat rasa gelisah akan bayangan masa depan mengampiri. Dan menimba ilmu agama di majelis taklim As-Shobirin. Sekarang aku harus pergi, cukup jauh dari semua itu. Beruntung masih ada Allah yang selalu dekat, bahkan lebih dekat dari nafasku sendiri. Aku bisa meminta-Nya kapan saja untuk hadir dalam hidupku. Aku bisa bermanja-manja dalam waktu yang lama tanpa pernah ada rasa kesal dari-Nya. Ya Allah nikmat mana lagi yang aku dustai. Ya Rabb dalam malam pekat aku ingin mengadu, bersimpuh dihadapan-Mu.

Akhir-akhir ini aku sering gelisah, terus terbayang wajah orang-orang yang aku sayangi. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Tak terasa senja mulai pekat, langit utara berubah jingga, lampu-lampu Tumbilo Tohe menyinari setiap sudut kota, cahayanya berkeliaran dan menerangi bibir pantai Leato. Semua saudara riang menyambut takbir datangnya hari yang fitri, tapi hatiku merinti perih malam ini. Semua bahagia lenyap, deru takbir mengingatkanku akan budi baik beliau, sekaligus terlintas dosa-dosa yang telah kuperbuat. Aku sedih malam ini.

Ragaku boleh saja berjelaga di sulawesi tapi jiwaku sungguh tak bisa berbohong. Dia ingin bersanding dengan keluarga, bertemu orang tua yang sudah mengajarkannya banyak hal, aku ingin bersujud di jari tangannya yang mulai menua dengan harapan cara ini bisa mengembalikkanku ke fitrah. Aamin.

Hari ini aku berlari, menyendiri di sudut sulawesi. Seperti para idealis yang terpental oleh konsepsi penguasa. Aku mulai tersadar, tidak ada kata paling indah selain kejujuran, tidak ada kedamaian abadi selalin berjalan searah hati nurani. Hari ini nuraniku ingin bertemu keluarga, aku rindu keluarga. Hari yang fitri seharusnya menyatukanku dengan mereka, berkumbul, diskusi, dan bercanda di gubuk tua, mengenang perjalanan semasa kecil beliau di pulau jawa dan medan atau menceritakan kembali kepolosan masa kecil anak-anaknya yang lucu. Kini semua seakan sirna, jarak memutus asa itu, perbedaan ruang dan waktu hampir membunuh rasa damai. Semua ini akan kucatat dalam diari, akan ku rekam dalam memori mega server Allah, aku yakin suatu hari nanti aku bisa kembali. Bukan untuk aku tapi untuk beliau, keluargaku.

Keputusan untuk merantau sering kali membawaku pada jurang jembatan kecemasan. Seperti dua sisi yang mempunyai konsepsi berbeda. Jembatan rantau sering terasa ronta, setiap saat bisa patah. Jalan yang ku pilih ini masih labil, tak jarang melahirkan kegelisahan setiap saat. Yang kuingin tidak banyak, apalagi kekayaan yang tak terbatas. Inginku hanya satu yaitu kedamaian hidup. Itu saja.

Tetapi jika aku putuskan untuk menetap di tanah kelahiran, aku takut menjadi katak dalam tempurung, menjadi bayi dalam ketiak majikan yang hidup karena disusui oleh ibunya. Mungkin aku juga akan menghapus kesempatan, kesempatan yang akan dihadiahkan oleh kehidupan untukku. Dalam gelisah aku mencoba sadar, bersabar di atas kegamangan jembatan yang sedang aku injak hari ini. Allah aku sudah memilih jalan ini. Semoga jembatan ini menjadi jalan yang terbaik dari-Mu untukku. Jika jembatan ini yang bisa mengantarkanku ke Jannah-Mu, maka izinkan aku agar tetap istiqomah di jalan ini. Hanya pada-Mu hamba mengadu dan pada-Mu jualah aku memohon pertolongan.

Ini hari ke-2 di bulan syawal 1431 Hijriyah dan Insya Allah do’a ku masih sama dengan apa yang telah aku tulis dua tahun lalu. Insya Allah pada tangal yang sama di tahun berikutnya aku bisa menggapai impianku yang lain, aku ingin mengikuti hati nuraniku yang masih ingin merantau, berlari di labirin-Mu yang masih misteri. Sudah terlalu lama aku mengubur hasrat jiwa. Maafkan jasad yang belum bisa memenuhi semua keinginan hati. Ini bukan sepenuhnya keinginku tapi lebih pada aku belum punya cukup amunisi untuk memilih.

Hari ini, detik ini aku masih dalam suasana berjuang, bertahan dengan mengumpulkan sedikit receh, hingga suatu hari nanti, aku ingin membuat nuraniku tersenyum. Ini janjiku, Inysa Allah. Tak lebih dari satu tahun lagi janji ini akan jatuh tempo, dia akan menagih returnnya dari ku. Aku tidak bisa menghindar karena dendanya akan menggulung. Denda yang tidak hanya menyiksa batinku tapi Insya Allah aku juga tidak mau dicap sebagai pendusta bagi diriku sendiri.

Inilah perjalanan rantau kecilku. Perjalanan yang masih akan terus terjal dan menantang. Penjelajahan sederhana ini juga mengajarkanku dua hal mengenai kerja dan kehidupan Pertama, kerja adalah proses yang tidak pernah sempurna karena kesempurnaan itu hanya milik Allah. Kedua, keluarga sepertinya akan menjadi terminal akhir dari pencarian kedamaian hidup setelah Allah.

Banyak orang yang hanya berjalan mencari kekayaan, padahal itu hanyalah fatamorgana kehidupan. Ada orang yang berlari melawan kodrat demi jabatan, tumpang tindih, tak kenal lagi mana kawan dan lawan, mana hati dan uang, mana halal dan haram, yang ada hanyalah kekuasaan. Sejatinya Aku ingin jalan ini hanya satu arah, segaris dengan jembatan yang telah Engkau bentangkan sedari dulu, dulu sekali, waktu aku masih di dalam rahim ibuku.

Perjalanan dalam pencarian inilah yang sering disebut oleh Paulo Coelho dalam novel Al Kemis sebagai “Legenda Pribadi”. Legenda pribadi adalah apa yang ingin kita tunaikan. Setiap orang, saat mereka balita mereka mengetahui legenda pribadinya. Pada titik kehidupan itulah semuanya menjadi jelas dan segalanya mungkin terjadi. Mereka tidak takut bermimpi dan mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka. Tapi, dengan berlalunya waktu, suatu daya misterius mulai meyakinkan mereka bahwa mustahillah bagi mereka untuk mewujudkan legenda pribadi mereka.

Novel itu sepertinya berhasil mengelupas belenggu kemalasan yang terpatri sejak lama, menyalakan kembali bara mimpi yang mulai redup, setidaknya hari ini aku dapat asupan protein jiwa bahwa kekuatan itu mempersiapkan roh dan kehendak kita, karena ada satu kebenaran terbesar dalam planet ini: siapapun kamu, apapun yang kamu lakukan, saat kita benar-benar menginginkan sesuatu, itu karena hasrat tadi bersumber dari dalam jiwa alam semesta. Dan saat kita menginginkan sesuatu segenap alam semesta bersatu padu untuk membantu kita meraihnya.

Ya Allah semoga aku bisa menemukan legenda pribadiku, Insya Allah tetap konsisten dalam setiap jembatan yang telah dan akan ku pilih, serta damaikanlah hati ini dalam menyusuri setiap labirin kehidupan yang sangat indah. Semoga setiap langkah ini adalah langkah kecil yang akan mendekatkan aku ke Jannah-Mu. Aamin Ya Robb.

Limboto, Gorontalo

2 Syawal 1431 Hijriyah

Note: Idenya terlahir karena rasa kangen keluarga di Palembang, lebaran tahun ini saya habiskan di Gorontalo. Kota tempat kakakku bekerja dan mungkin ini akan menjadi tulisan terakhirku di daerah Sulawesi Utara karena Insya Allah minggu depan saya akan pindah tugas di Makassar, Sulawesi Selatan. Semoga kota baru akan melahirirkan ide baru yang lebih baik. Aamin Ya Robbal ‘alamin.

4 thoughts on “Kontruksi Legenda Pribadi

  1. Wah, wah, mantap banget bud. Kamu sudah terhipnotis sama novelnya coelho juga nih. Istilah “legenda pribadi” adalah istilah pandemi khusus untuk orang2 yang mampu menikmati novel itu.

    selamat memperjuangkan legendamu.

    Wimkhan!
    – yang sedang mengejar legendanya –

    • @ masyury, sama-sama mas salam kenal juga dari makassar = )
      @ wim, keep spirit bos, kita sama-sama berjuang mengejar legenda pribadi kita. siapa yg sampai duluan diijinkan menikah duluan (kidding). Hee

  2. Hidup ini lebih perlu kualitas bukan sekedar kuantitas. Ya.. that’s true. We are agree this sentence. Great!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s