Ini Mimpiku, mana mimpimu sahabat?

Hari ini, Sabtu 20 November 2010, aku mengenangnya sebagai hari spekulasi 50%.

Jumlah penduduk Indonesia mencapai 238 juta. Logikanya setiap manusia pasti mempunyai impian. Berarti di jagat raya dengan teritori wilayah Indonesia ini sedang berterbangan impian-impian dari setiap manusia. Kenapa saya bilang impian itu berterbangan? karena impian itu awalnya adalah imajisasi, masih ada di alam pikiran selama kita belum bergerak dan merubahnya ke dalam suatu aktivitas yang namanya  tindakan. Setidaknya itulah yang aku rasakan beberapa tahun terakhir yaitu menjadi manusia yang tega menterlantarkan mimpi-mimpinya secara sadar.

Sekali lagi setiap manusia itu mempunyai impian. Ibu mempunyai impian agar anak-anaknya bisa menjadi orang  yang bermanfaat, seorang ayah bermimpi agar keluarganya bisa menjadi keluarga yang harmonis, anaknya bisa bahagia dunia dan akhirat. Seorang balita bermimpi agar dia bisa berjalan, bahkan berlari. Kita, sebagai generasi muda juga mungkin memiliki suatu impian yang hampir sama yaitu mengisi kemerdekaan dengan usaha yang sebaik-baiknya, sehingga negara Indonesia yang tercinta ini bisa mewujudkan amanah dari founding father kita yang tertuang di dalam Pancasila yaitu menciptakan suatu keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebagian kita tahu dan sadar bahwa masing-masing impian membutuhkan proses untuk mencapainya. Baik pencapaian itu bersifat kesuksesan ataupun dalam bentuk penundaan keberhasilan. Ingat, sejatinya kegagalan itu tidak ada, karena kegagalan adalah proses untuk belajar memperbaiki kekurangan. Dalam proses memperbaiki diri, sadar atau tidak sadar kita telah memperkokoh tangga insya Allah untuk mencapai kesuksesan. Yang diperlukan dalam proses ini adalah kerja keras, do’a dan kesabaran selama masa penantian.

Dalam proses menunggu suatu jawaban atas sebuah impian, maka kita akan dihadapkan pada suatu realitas yang namanya penantian. Mungkin ada beberapa temanku yang hari ini sedang menanti pengumuman hasil test psikotes CPNS tahap awal, dia menanti dengan perasaan harap-harap cemas, karena sang sahabat sudah lebih dari dua kali berniat ingin menjadi abdi negara tapi jawabannya masih harus diperjuangkan. Lain lagi temanku asal lampung yang sedang merantau ke Makassar. Beberapa bulan ini dia sedang berjuang dan berdo’a menanti jawaban dari sang kekasih apakah menyetujui untuk diajak menikah di bulan April nanti. Berkaca dari dua peristawa itu, aku seirng beranalogi yang merujuk pada satu kesimpulan sederhana bahwa hidup ini adalah proses berjuang menunggu jawaban atas impian yang hendak kita capai. Dan sebaik-baik impian menurut orang tuaku adalah menjadikan setiap langkah dalam hidup ini untuk ibadah kepada Sang Pencipta. Insya Allah aku juga sepakat dengan petuah itu.

Tak mau kalah dari para sang pemimpi, aku juga mempunyai impianku sendiri yang Insya Allah sudah aku rapikan di dalam satu tulisan beberapa tahun lalu. Dan saat ini aku sedang menunggu datangnya jawaban dari mimpiku yang lain. Jika jawaban ini baik yaitu keberhasilan, Insya Allah aku akan mengenangnya sebagai spekulasi positif, seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang akhir-akhir ini terkenal dengan selogan baru yaitu jawara pemecah rekor bursa. Tapi jika jawaban ini belum baik, maka hasil spekulasiku adalah negatif, dan aku tidak mau terkubur dengan semua itu, maka aku harus menyiapkan alternate dreams. Nah alternate dreams ini yang cukup berat karena awalnya belum disetujui oleh orang tua dan kakakku.

Mimpiku Inysa Allah hanya ingin belajar.

setelah bekerja hampir satu tahun enam bulan, rasanya aku masih merasa bodoh dan masih banyak yang harus aku pelajari. Baik itu pelajaran yang sifatnya pengembangan emotional dan intelektual skill. Dalam mimpiku kali ini, aku ingin fokus untuk meningkatkan kemampuan bahasa inggrisku. Sebenarnya keinginan ini lahir atas kekecewaan pada diriku sendiri. Bayangkan aku sudah kursus bahasa Inggris empat tahun  sewaktu di Palembang, tak tanggung-tanggung waktunya lebih lama dibandingkan waktu kuliah sarjana. Masih tak puas dengan bahasa Inggrisku (kususnya nilai Toefl) yang sangat jauh dari standar, maka aku putuskan untuk melanjutkan kursus di Briton English Course, dan itu aku jalankan sewaktu kantor tempatku bekerja menempatkanku di Manado. Jadi hari-hariku waktu itu bisa di bilang flat karena hanya diisi dengan kerja, kursus dan tidur. Apakah hasilnya sudah baik setelah kursus itu? Ternyata tetap saja masih jauh panggang dari api.
Pernah juga aku berkunjung ke Pameran pendidikan yang diadakan oleh IDP di Manado, dari situ aku tahu bahwa untuk apply beasiswa ke Australia saja kita butuh Toefl minimal 550. Baru-baru ini aku dan temanku Ilham (Mahasiswa HI Unhas, Makassar) mencoba untuk apply beasiswa Huygens Nuffic dari Belanda, dan lagi-lagi aku terhalang karena nilai Toefl-ku yang belum memenuhi persyaratan untuk lulus administrasi.
kekecewaan inilah yang membuat aku tertantang untuk mengambil suatu keputusan yang cukup besar dalam hidupku, dan setelah mempertimbangkannya selama beberapa bulan, akhirnya aku putuskan untuk berhenti bekerja. Insya Allah aku ingin fokus belajar bahasa Inggris dengan impian bahwa aku harus bisa mengejar nilai Toefl Insya Allah minimal 550. kenapa 550? karena nilai ini yang biasanya menjadi persyaratan standar untuk melamar beasiswa baik dari dalam maupun luar negeri, dan untuk memenuhi persyaratan ikut tes Kemenlu (ini dua dari banyak mimpiku).

Sebelum mengambil keputusan ini, tak jarang bayangan ketakutan itu muncul dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan, diantaranya: apakah ketika sudah mencapai nilai Toefl 550 akan membuat hidupku lebih baik? Atau apakan Toefl 550 itu bisa menolongku untuk hidup?  Pendeknya apakah nilai Toefl 550 itu bisa menjamin masa depanku? Setidaknya pertanyaan itulah yang orang tua, kakakku, dan teman-teman nasehatkan kepadaku. Melalui tulisan ini juga aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas masukan dari keluarga sekalian tapi Insya Allah aku tetap ingin mengambil jalan ini karena ini adalah mimpiku.

Dalam kegalauan tersebut, aku teringat nasehat Bpk. Mario Teguh bahwa tugas kita bukanlah untuk berhasil melainkan untuk mencoba, karena dalam mencoba kita telah membuka kesempatan untuk berhasil. Nilai Toefl 550 memang bukanlah segala-galanya, tapi hatiku mempunyai keyakinan bahwa nilai Toefl itu akan membuka banyak kesempatan untukku. Saat ini aku mencoba mengikuti kata hati, dan mencoba membuktikan nasehat Paulo Coelho dalam buku Al Chemist yang menerangkan bahwa harta karunmu ada di hati nuranimu.

Bicara masalah mimpi, saya teringat petuah dalam buku al chemist. Buku yang menurut saya sangat inspiring. Buku yang telah diterjemahkan ke dalam 56 bahasa tersebut menjabarkan kekuatan sebuah impian. Ada satu kalimat dalam buku itu yang menyebutkan bahwa waktu kecil semua manusia tahu impiannya, tetapi seiring berjalannya waktu kekuatan untuk mewujudkan impian seakan menghilang. Satu kalimat itu terus-terus terngiang di pikiranku. Aku merenung dan mencoba mem-flash back apakah aku termasuk orang-orang yang bekerja keras untuk mewujudkan mimpiku atau menjadi manusia yang tega menelantarkan mimpinya. Pikiran itu terus menghantuiku dan akhirnya aku memutuskan untuk fokus meng-upgrade kekuranganku.

Berhari-hari aku berfikir bagaimana menyederhanakan buah pikir dari sastrawan Brazil ini. Sampai hari ini aku menyimpulkan bahwa inti dari kalimat itu adalah impian dan keinginan untuk mewujudkan impian itu sendiri yang semakin meningkatnya umur seseorang maka disiplin untuk mewujudkan mimpi itu menjadi melemah dengan alasan apapun, sedih sekali rasanya karena banyak diantara kita yang hanya takut akan bayangan kegagalan bahkan sebelum kegagalan yang sebenarnya terjadi, pak Mario pernah bilang bahwa kekhawatiran karena bayangan kegagalan itu seing lebih sakit daripada kegagalan itu sendiri padahal kita sadar bahwa never trouble about trouble until trouble, trouble you.

Aku mencoba menyederhanakan kalimat paulo coelo itu ke dalam suatu grafik kurva permintaan. Tetapi variabelnya aku ganti, jika kurva permintaan menggunakan variabel “Price” dan “Quantity”  dimana jika price naik maka quantity akan menurun (dengan catatan variabel lain bersifat cateris paribus atau tetap). Dalam gambar itu aku mengganti variabel “price” menjadi “dreams” dan variable “quantity” menjadi “age” dimana semakin naik usia sesorang, kegigihannya untuk mengejar impian akan semakin menurun. Berikut ini adalah grafiknya.

Misalkan kita memiliki impian sebesar 20.000, maka upaya kita untuk menggapai impian tersebut adalah sebesar 3. dan jika kita mempunyai mimpi sebesar 40.000, maka kita akan menurunkan daya upaya kita untuk mengejar impian tersebut dan nilainya turun menjadi 2. dan apabila kita memiliki mimpi sebesar 80.000, maka kita akan mengurangi intesitas/ kerja keras kita untuk mewujudkan impian itu menjadi angka 1. kedua variabel ini bersifat paradoks, semakin tinggi mimpi kita, maka semakin lemah atau takutlah kita dalam mewujudkannya. Padahal yang kita takutkan itu hanya sebuah bayangan kegagalan. Oleh karena itu, sebalum kita menua, sebelum kita harus membagi fokus kerena telah masuk pada kondisi yang harus mengedepankan tanggung jawab keluarga, maka aku berpikir hari ini adalah hari yang sangat baik untuk bergerak, melangkah, dan berlari mengejar mimpi-mimpi itu. Semoga berhasil. Aamiin Ya Robbal ‘alamin.

Mengakhiri tulisan sederhana ini, aku mengutip pidato Steve Jobs pada acara wisuda di Stanford University. Beliau sebagai salah satu pendiri Apple ini menasehatkan bahwa kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai.

Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.

Masih dalam pidato yang sama beliau juga mengutarakan pengalaman pribadinya yang berakhir dengan kesimpulan bahwa “hanya yang hakiki yang tetap ada”. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.
Hingga hari ini aku belum tahu, sebenarnya siapa yang menemukan kata-kata ini “harta karunmu, ada di hatimu”. Apakah Steve Jobs sang pelopor Apple atau Paulo Coelho sastrawan asal brazil dalam buku Al chemist-nya?

* Selamat berjuang menelusuri labirin kata hati sahabat, dan semoga kita cepat menemukannya. Aamin.

Note: dalam tulisan ini aku juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT, kedua orang tuaku yang Insya Allah telah mengikhlaskan anaknya untuk mengikuti kata hatinya, kakakku Wim Permana untuk setiap solusinya. Perusahaanku, PT. BFI Finance Indonesia Tbk yang telah mengajariku banyak hal. Paulo Coelho dengan Al Chemist-nya, dan majalan Fortune edisi november yang mengulas perjalanan singkat dekan termuda UI. Bpk. Firmansyah yang berani mengambil keputusan untuk keluar dari tempatnya  bekerja, dan kembali ke dunia akademik dengan mengabdi di lembaga penelitian UI, sebelum akhirnya beliau bisa melanjutkan kuliah S2 dan S3 di Prancis hingga saat ini beliau tercatat sebagai dekan termuda yang dimiliki UI sepanjang sejarah. Lagu “ini mimpi” by Claudia Sinaga yang menemani malam galau-ku hingga menghasilkan keputusan ini.

Bismillah. INI MIMPIKU, semoga ini menjadi langkah awal bagiku untuk meraih mimpi-mimpiku selanjutnya. Aamin Ya Robbal ‘alamin.

Bismillah. INI MIMPIKU, semoga ini menjadi langkah awal bagiku untuk meraih mimpi-mimpiku selanjutnya.

Aamin Ya Robbal ‘alamin.


Makassar; November 20, 2010
Time 03.00 am WITA

4 thoughts on “Ini Mimpiku, mana mimpimu sahabat?

  1. hebat teman..aku pengen sharing bud sama ente..kayaknya pemikirin yang ente kemas dalam tulisan begitu mengenah dan batin ane meng”iya”kan atas ide2 n isi tulisan ente…(Sukses Bud) Salam Sukses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s