Indonesia Butuh Manusia Interdisipliner.

Berawal dari mereparasi radio, saya beralih ke jalur Teknik Biomedik Pengobatan. Berawal dari sebuah minat, lalu terus menerus maju di jalur itu, dan akhirnya menemukan kemampuan baru.  Dengan menggabungkan berbagai bidang pengetahuan yang berbeda. Dari bidang A dan bidang B, terjadi bidang baru, yakni bidang C, dari kombinasi A dan B, yaitu bidang interdisipliner (Ken Kawan Soetanto).

Trauma krisis tahun 1998 dan krisis global 2008 sepertinya belum menghilang dari pikiran rakyat Indonesia. Dahsyatnya bencana yang bernama krisis tak bisa dilupakan begitu saja. Kita masih ingat saat “ia” mampu membunuh bank-bank di Indonesia bahkan lembaga-lembaga keuangan kelas dunia seperti Lehman Brother, Marie link dan Fannie Mae. Pada waktu itu kondisi ekonomi sulit untuk diprediksi, yang ada hanyalah bayangan kehancuran.

Mari kita flash back sekilas kondisi ekonomi Indonesia pada waktu itu. Mata uang rupiah terjun bebas, melemah hampir 300 persen dari posisi pertengahan 1997 sebesar Rp.3.275 per dolas AS menjadi Rp.10.525 per dolar AS pada Mei 2008. Tidak hanya itu, lembaga perbankan juga banyak yang gulung tikar, sudah pasti jika perbankan sakit, maka sector riil juga akan sulit untuk mencari modal, pengangguran meningkat, purchasing power menurun karena banyak orang yang di PHK, wajar rasanya gross national income kita turun dari 1.120 dolar AS pada tahun 1997 menjadi 670 dolar AS pada tahun 2008 dan hampir pasti pertumbuhan ekonomi terseok-seok. (ppiyokohama: sudahkah krisis berlalu).

Pertanyaannya adalah, dalam kondisi chaos, manusia seperti apa yang dibutuhkan suatu negara untuk memperbaiki kondisi itu?

Menurut saya adalah manusia interdisipliner yang mampu mengetahui akar masalah, mencari solusi, dan tentunya bisa menemukan formula untuk menggerakkan lagi perusahaan-perushaan yang sakit tersebut tersebut hingga menjadi sehat seperti sedia kala. Salah satu juru selamat itu menurutku adalah private equity. Menurut majalah Fortune Indonesia, private equity adalah perusahaan pengelola investasi yang mendapat sponsor dari berbagai pihak baik individual maupun institusi. Tugas perusahaan adalah mencari perusahaan-perusahaan yang bermasalah yang layak dikucurkan investasi, lalu ditingkatkan kinerjanya, dan kemudian dijual kembali.

Di Indonesia kita mengenal yang namanya PT. Saratoga Investama. Perusahaan private equity yang digagas oleh Sandiaga Uno itu telah tumbuh membesar dan mengantarkan pria kelahiran Pekanbaru ini menjadi orang terkaya urutan ke-29 di Indonesia tahun 2009 menurut majalah Forbes. Menurutku Sandiaga Uno adalah satu satu orang yang masuk dalam kategori interdisipliner karena dia mampu menyembuhkan perusahaan-perusahaan yang sedang sakit. Apalagi sakitnya perusahaan itu cenderung komplek dan memerlukan pemahaman tentang analisa keuangan, mengontrol asset, dan menyusun strategi untuk menghidupkan kembali perusahaan yang sedang sakit tersebut.

Kurang baik rasanya jika kita hanya menilai kesuksesan seseorang tanpa melihat perjuangan mereka untuk mencapai kesusksesan tersebut. Mereka harus bekerja keras, keluar dari zona nyaman dan tentunya mereka harus disiplin sebelum akhirnya menjadi manusia yang interdisipliner.

Hal senada juga dirasakan oleh Ken Kawan Soetanto, orang Indonesia pertama yang menjadi guru besar di Jepang. Dalam bukunya “Soetanto Effect” beliau bercerita bahwa sebagai “orang asing” untuk bekerja di Jepang dengan hanya satu gelar doctor saja terasa sulit. Bapak lulusan Tokyo University ini mencoba keluar dari zona nyamanya dan memasuki ilmu kedokteran di universitas Tohoku. Akhirnya lelaki kelahiran Surabaya ini berhasil menyabet empat gelar doctor dan tiga gelar fellow, diantarnya dua dari Amerika dan satu dari Jepang.

Hari ini Soetanto sensei sudah berhasil membuktikan hasil dari kerja kerasnya. masih dalam buku yang sama beliau selalu berpesan bahwa setiap mencoba pasti berhasil, syaratnya hanyalah semangat untuk mengubah rintangan menjadi tantangan, pemicu untuk menjadi lebih baik. Semoga kita bisa menjadi manusia interdisipliner. Aamin.

Sebelum kita berniat untuk menjadi manusia interdisipliner, pertanyaan awal yang harus dijawab adalah siapkah kita keluar dari comfort zone kita saat ini?

December 1, 2010 at 17.03 WITA

Makassar, Indonesia

2 thoughts on “Indonesia Butuh Manusia Interdisipliner.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s