Dua Warna Maret 2011…(bag 2)

Putih dan Merah Jambu Maret 2011…


6 Maret 2011. Full of family, pagi itu mulai dari jam 7 hingga jam 10 aku habiskan untuk sharing dengan Bapak. Apa saja kita diskusikan pagi itu. Mulai dari tujuan dan prioritas hidup, bagaimana cara berhubungan dengan orang lain, dan membahas sislisah keluarga yang terlalu rumit aku pahami. Obrolan berhenti, aku langsung menuju kamar, turn on my new laptop and transfered data. Need around one hour to finish that. Ga terasa waktu begitu cepat berlalu. Aku harus bersiap-siap karena jam 12 siang aku harus kembali merantau menuju Muara Bungo dan menjalankan aktifitas seperti biasa. Siang itu aku batalkan tawaran pihak travel yang akan menjemputku pukul 11 siang, because I still have a promise to lend my book to someone special. Hee. So I came to her home, gave my book and ..hhmmm..

8 Maret 2011. Hari ini hari paling stress. Teman-teman bisa bayangkan pagi-pagi Head of Region (bos) menelpon dan tiba-tiba  menanyakan perkembangan penjualan and parahnya aku tidak bisa menjawab. Wah..wah..wah habislah aku pagi itu. Positif mendapat ceramah 20 menit by phone dan cukuplah membuat kecerian hari itu turun 20%. Heee. But it’s ok. Sebagai pemimpin beliau tidak hanya marah tetapi juga memberikan arahan dan tau ga teman, setelah kejadian itu aku lebih aware tentang apa yang harus lakukan, dan Alhamdulillah sembari belajar aku bisa membuat project plan untuk mencapai target penjualan di kwartal 1, 2011. Seperti mendapat pelajaran hidup baru hari itu, yaitu jangan pernah mengeluh ketika kita sedang berada di zona masalah, karena pada saat itulah kita sejatinya belajar sesuatu yang baru. So don’t be afraid to jump onto the problem, because they always come with a solution..kalau masalah dan keraguan datang. Katakan saja, Pasti Bisa, Pasti Bisa, Pasti Bisa, Pasti Bisa, PASTI BISA…

13 Maret 2011. Malam itu aku mimpi bertemu dosen favoritku. Pertemuan itu dimulai ketika aku membeli buku melalui online shop. Buku ini memiliki mekanisme penjualan yang cukup unik. Aku harus mengantarkan sendiri bukti transfer ke toko buku yang sudah ditunjuk oleh situs tersebut. Aku pikir buku akan langsung aku dapatkan tatkala bukti transfer sudah aku berikan ke penjaga toko buku, dan tenyata penjaga toko hanya mengambil bukti transfer dan menukarnya dengan kwitansi yang aku harus antar sendiri ke orang yang memegang kuasa atas pemasaran buku yang katanya limited edition tersebut.

Tak mau menunda, aku langsung berkunjung ke alamat si empunya, ternyata aku di minta datang ke tempat yang tidak asing bagiku. Tempat itu adalah kampus hijau, kampus tempatku menimba ilmu, kampus yang mengajarkanku berorganisasi, fakultas yang memberikanku kesempatan untuk memimpin departeman kajian ekonomi, kampus yang mempertemukanku dengan sahabat terbaik, dan dari kampus itu jualah aku bertemu dengan dosen-dosen favoritku.

Datang ke tempat sejarah ini, tak begitu sulit bagiku. Rasanya aku hampir khatam seluk-beluk tempat itu, maka mudah bagiku untuk mencari ruang yang disebutkan oleh pernjaga toko buku itu, dan Subhannallah, setelah aku membaca nama yang ada di kwitasnsi itu, tak lain beliau adalah dosen yang pernah mengajarku selama 3 semester. Bpk Zulkarnain Ishak. Dosen favoritku, lulusan Ohio university, mengajar introduction to micro, introduction to  macro and interntional economics. Bukan kepalang bahagia hatiku detik itu. Alhamdulillah.

Belum sempat kakiku tiba di ruangan yang menjadi tujuanku. aku melihat seorang lelaki yang masih aku kenal dengan cara jalannya, dia santai, selalu membawa tas slempang warna hitam, sepatu dengan lubang udara yang cukup besar. Tapi jangan mau tertipu, di dalam ketenangan itu, tersimpan potensi yang luar biasa. Tidak hanya Bahasa inggris beliau yang fasih, analisa kurva atau grafiknya juga mumpuni, dan perjalanan hidupnyapun menginspirasi. Aku yakin dia adalah Pak Zulkarnain Ishak. Langsung aku panggil beliau dan aku bersujud mencium tangannya. Selain karena Allah mungkin Pak Zul memiliki andil kuat dalam menanamkan rasa cinta ekonomi pada diriku. Terima Kasih Pak..

Aku dipersilahkan untuk menuju ruangannya, dan tanpa banyak basa basi aku langsung menyampaikan maksud dan tujuanku bertemu dengan beliau. Sedetik beliau langsung mengerti dan mengambil buku itu lalu diserahkan padaku. Cover buku itu unik, seperti ada ukiran batik berwarna merah agak kecoklat-coklatan, dan dari cover itu aku jadi tau bahwa Judul buku itu adalah “Mahakarya Ekonomi” tepat di bawah judul buku itu tertulis “limited edition”.

Inception: Terus terang peristiwa ini seperti de javu. Teringat peristiwa 2008 lalu, ketika masih mengenakan almamater kuning sebagai mahasiswa. Aku sempat menghadiri bedah buku nasional di rektorat kampus tentang BLBI: perampok uang negara. Kebetulan Pak Zul menjadi salah satu pembicaranya. Beliau membawakan artikel yang berjudul BLBI: kisah tak berujung. Dan percaya atau tidak sahabat. Setelah acara selesai aku langsung memberikan selamat atas penyampaiannya yang bagus, lalu beliau memberikan aku hardcopy asli artikelnya dan beliau bilang. Aku hanya mencetak ini satu dan aku berikan untukmu. Wow. Wow.  I think it will be priceless article. Artikel 3 lembar yang penuh makna itu, menginspirasiku untuk menulis beberapa tulisan. Diantarnya “Air mata sumber devisa Indonesia dan Trickle down effect of Laluppo”. Kalau sahabat tertarik membaca artikel tersebut, Insya Allah artikel itu masih setia di lemari kamarku.

Kembali ke Mahakarya Ekonomi: beliau menyebutkan bahwa buku Mahakarya Ekonomi ini merupakan kumpulan dari teori-teori dan pengalaman kejadian ekonomi baik di dalam maupun luar negeri, lalu diramu oleh para pakar ekonomi Indonesia yang memang khusus ditujukan untuk perbaikan ekonomi Indonesia. Buku itu sengaja dicetak terbatas dan menggunakan birokrasi penjualan melaluai agen khusus. Tentunya agen-agen yang dipercaya memiliki kwalitas pemahaman ekonomi yang tak diragukan lagi. Karena Pak Zul menjadi salah satu agennya, maka aku masih percaya dengan itu. Setelah mengulas singkat isi buku itu, tiba-tiba beliau bertanya: kamu ingin melanjutkan kuliah?

Kegalauan yang seharusnya sudah mulai reda hari itu berkecamuk lagi. Terus terang saat ini aku masih di blok oleh 2 mimpi besarku yaitu melanjutkan kuliah dan bekerja di perusahaan multinational. Seperti kurva Philip yang harus selalu bisa menyeimbangkan antara inflasi dan penganguran. Begitu juga aku yang harus bisa menyeimbangkan kedua mimpi itu. Dengan suaranya yang khas beliau menasehati. Katanya hidup ini adalah pilihan. Masih dalam mimpi. Beliau juga menceritkan rekan kerjanya yang juga sesama dosen, tetapi bisa berhasil mengelola 125 jenis usaha. Dari temannya tersebut belia bisa memetik pelajaran bahwa kita itu harus fokus pada hasil dan disiplin dalam proses.

Tak hanya itu, beliau juga membagi pengalaman ketika berjuang untuk mendapatkan beasiswa ke Ohio University di Amerika. Sangat inspiratif dan mengharukan. Aku yang hari itu datang Insya Allah sudah membawa satu mimpiku. kini tertantang untuk mewujudkan impian lain yaitu melanjutkan kuliah. Insya Allah aku akan belajar untuk fokus pada hasil dan disiplin dalam proses.

Setelah kata-kata itu, tiba-tiba alarm jamku berbunyi, aku terbangun dan ternyata sudah jam 05.28 subuh, bergegas aku bangun dan mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, tanganku langsung mencari Handphone dan dalam keadaan setengah sadar aku mengirim SMS ke seseorang hanya untuk mengajaknya sholat shubuh. Siapakah dia? Seingatku dia bukan Pak Zul…Heee

Nb: apapun yang menjadi impian kita, sertakan do’a dalam usaha untuk mewujudkannya karena mimpi itu di install Allah beserta cara untuk mencapainya.

Maret 2011. Insya Allah to be continued….


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Muara Bungo, March 13, 2011

2 thoughts on “Dua Warna Maret 2011…(bag 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s