Dua Warna Maret 2011… (Bag 5)

Ada HIKMAH di setiap peristiwa..


27 Maret 2011. Amnesia. Ya benar, hari minggu itu aku harus meng-amnesia-kan diri sebagai salesman. Aku harus pulang kampung untuk menghadiri saudaraku yang walimah. Berangkat hari sabtu dengan jarak tempuh sekitar 14 jam, maka hanya menyisahkan sekitar 15 jam di rumah. Tiba di Palembang jam 10 malam, kulanjutkan 2 jam untuk mengobrol bersama teman dan  makan pempek lenggang H. Anang bersama saudaraku yang datang dari Jakarta. Jam 12 malam aku pulang ke rumah dan sudah ada Bapak yang lagi tidur di sofa dan Ibu yang baru pulang selesai membatu persiapan acara pernikahan saudaraku. Jujur mataku berat malam itu, tapi sayang jika moment ini aku hanya lewatkan untuk tidur. So setelah diganjal dengan lenggang, maka mie kari ayam menambah staminaku malam itu. Bapak yang tadinya tidur kini terbangun dan tergoda juga untuk makan. Makan malam bersama tepat jam 12 malam, selesai makan, kami tidak lantas tidur melainkan melanjutkan bercerita dengan Bapak seorang karena Ibu-ku menyerah dan pamit tidur duluan malam itu. My pleasure Mam and thank you so much for nuddle.

Seperti ceritaku sebelumnya bahwa Bapakku adalah sahabat berbagi terbaik saat ini. Waktu seakan terbunuh tanpa rasa dan jeda. Kita mulai cerita dengan rencana walimah saudaraku yang akan dilangsungkan besok pagi di Gedung Pelabuhan, lalu kita juga bicara tentang rencana membuka usaha ikan giling di pasar, dan kita juga punya niat Inysa Allah ingin membuka usaha makanan di tempatku bekerja. Seakan tak mau ketinggalan, melihat anaknya yang mulai tumbuh dewasa,  Bapak juga menceritakan lika-liku kisah cintanya yang luar biasa. Empat jempol untuk beliau malam itu. Tak tanggung-tanggung beliau membuka cerita dengan kisah pahit tetapi baik tatkala lamaran beliau ditolak oleh mertua, hingga perjuangan melamar ibuku yang sudah dijodohkan oleh kakek dan nenekku waktu itu. Bahkan saking kekehnya kakekku ingin menjodohkan ibu, kayu api yang akan digunakan sebagai alat memasak di hari pernikan sudah disiapkan jauh-jauh hari. Malam itu juga Aku teringat kembali ternyata nama Budi sendiri adalah nama someone special bagi Bapak.

Malam itu dingin, sedingin hatiku yang mendapat berita bahwa seseorang yang aku harapkan bisa datang ke acara walimah saudaraku besok ternyata tak bisa datang (ada hikmah di balik itu).  Cerita Bapak telah menyadarkanku akan dua hal. Pertama, mencintai seseorang itu wajar, tapi janganlah berjanji sebelum dia benar-benar menjadi istrimu. Kedua, jika ingin mengkitbah seseorang, datanglah sendiri karena jika ditolak hanya dirimu yang tau dan sebagai bujangan seharusnya kau tegar menghadapi masalah itu. Tetapi jika mengajak keluarga ceritanya akan beda, karena rejection effect ini akan beda antara kamu sebagai pemuda dan kami sebagai keluarga. Aku mengerti maksud beliau, betapa dia mennyayangi anaknya dan tidak mau melihat anaknya ditolak oleh orang lain. Aku yang tadinya menggebu tentang cinta, kini mulai luluh dan sadar bahwa mencintai bararti mengikhlaskan. Ikhlas membebaskan seseorang yang kita cintai untuk memilih sesuai hati nuraninya. Thanks Dad, Insya Allah aku lebih sabar dan ikhlas malam itu. Tidak terasa jam berhenti di angka 3 dan Bapak mengajakku untuk istirahat.

Malam itu aku tidur jam 3 subuh, dan bangun jam 5. Selesai shalat subuh, aku hidupkan netbook dan kusambungkan ke kabel speaker. Sekitar 2 album Sabrina aku lahap pagi itu. Selain suaranya yang khas aku juga suka dengan aransement musiknya. Sekitar 25 lagu aku dengar dan membuatku setia duduk di kamar kurang lebih 2 jam. Sembari menikmati lagu, Aku buka kembali buku-buku lama yang sempat aku beli di beberapa kota antara lain Palembang, Jakarta, Manado, dan Makassar karena hampir di setiap buku aku menulis alasan kenapa aku tertarik untuk membeli buku tersebut. Tak jarang aku tertawa ringan setelah membacanya. Diantara 30 buku itu aku melihat sebuah album kecil yang cover depannya adalah foto kakakku sewaktu berlibur ke pantai Palang Tritis dan Candi Borobudur. Setelah membolak-balik setiap foto aku melihat dua foto yang dibelakangnya menunjukkan bahwa foto itu dicetak pada bulan Juni 1987. Foto seorang bayi yang sedang degendong ayahnya dan ada seorang lagi yang berpeci seperti sedang membelai rambut sang bayi. Rasanya Aku familiar dengan wajah beliau, sepertinya Aku tidak salah lelaki paru baya itu adalah Bapak Toyib, penjaga Mushala Syarus Syalikin. Dari foto itu seperti sedang melakukan proses aqiqah atau pemotongan rambut pertama bagi bayi yang baru lahir. Subhanallah ternyata bayi itu adalah aku. Budi Setiawan ketika berumur 2 bulan. Dan tidak menyangka saat ini usiaku sudah hampir 24 tahun. Thank You so much Allah, You give me a life till this time.

Pukul 8 pagi, Ibu memintaku untuk bersiap-siap ke gedung. Aku tahu untuk acara yang diundangannya tertera mulai pukul 08.00 sd 12.00 kemungkinan tamu mulai berdatangan jam 10. Aku datang belum dengan pakaian rapi tapi waktu antara jam 08.00 sd 10.00 aku usahan untuk membantu sebisaku agar acara ini berjalan lancar. It’s show time. Tepat pukul 10 pagi, paparazi sudah bersiap dengan lensanya, aku  yang sudah besih-bersih dan sengaja datang dengan Ibu dan Nenekku tak ketinggalan menjadi object kamera. (Sayang tak sempat aku melihat foto itu karena harus berburu dengan waktu).

Diantara tamu-tamu yang hadir aku melihat sepupuku yang kecil nan lucu. Sesekali bermain dengan mereka dan suprised jam tanganku sudah menunjuk ke angka 12 tetapi pak ustad masih asik dengan ceramahnya. Aku telpon Bapak siang itu dan ingin pamit karena jam 1 aku harus kembali merantau. Bapak memintaku untuk pamit dengan saudaraku yang sedang menjadi permaisuri siang itu. Tanpa pikir panjang aku segera naik ke panggung dan menyalami saudara dan pakdeku. Aku pamit juga ke bukdeku tapi tenyata beliau tidak mengizinkaku pulang jika belum makan. Oke Bukde, aku kembali hanya untuk mengambil tas dan bukde mempersiapkan makanan untukku. 10 menit aku bergegas ke rumah dan setelah tiba di gedung, bukde sudah siap dengan sepiring nasi minyak dan malbi kesukaanku. Makan ala kadarnya, aku habiskan dua daging malbi tapi tidak dengan nasinya. Well, jam tangan bergerak cepat, saat itu hinggap di pukul 12.30. aku panggil ibuku yang lagi sibuk melayani tamu, menggandengnya dan mengajaknya ke tempat yang agak sepi untuk pamitan. Tak lupa aku salami tangannya dan mengecup kening ibu (ritual yang Insya Allah tidak akan pernah aku lupakan sebelum merantau).

Di depan gedung adikku sudah siap dengan motor yang akan mengantarku ke travel. Tepat pukul 1 siang tiba di travel dan aku langsung bayar uang tiket tetapi sebelumnya aku dimarah oleh penjaga tiket karena dia menelponku hingga 5 kali dan aku tidak mengangkat telponya. I’m so sorry mbak. Aku selipkan uang ke kantong adikku dan bergegas melompat ke mobil dan sepeti biasa sebelum tertidur aku harus minum obat agar tidak mabuk di perjalanan. Selang tak lama obat itu membuatku mengantuk dan teringat dengan seseorang yang aku harapkan datang ke acara walimah saudaraku tetapi tidak bisa, aku sempat kecewa hari itu tapi aku putuskan untuk tidak kecewa, justru aku ingin berterima kasih karena dia memilih untuk hadir ke acara pernikahan temanya, faktanya saat itu untuk mengurusi diriku saja aku kebingungan apalagi jika dia datang. Sudah pasti  aku harus mengantarkan kerumahnya, rumah seseorang yang telah membelikan obat  untukku. Kejadian ini mengajarkanku dua hal bahwa semua orang berhak untuk memilih dalam hidupnya dan yang kedua adalah sebaik-baik rencana manusia, maka lebih baik rencana Allah. Inilah hikmah yang ingin aku bagi atas ketidakhadiran dia di acara walimah saudaraku.

28 Maret 2011. Yes we achieved 107%. Pencapaian ini kembali melempar kami ke zona hijau dengan +0,6%. Posisi yang masih belum aman karena masih menyisahkan 4 hari kerja lagi. Setelah meeting dengan salesco, maka kami berkomitmen untuk menjaga dan harus tetap setia di zona hijau. Komitmen kami sama yaitu memastikan bahwa 3 hari sisa harus hijau. Dan Alhamdulillah, hasilnya sesuai dengan perencanaan. 29 Maret achieved 116% dan 30 Maret kami achieved 109%. Cut off 30 Maret 2011, kami berada di peringkat ke-4 teratas dengan +1,1%.

31 Maret 2011. Menunggu hasil perjuangan untuk mencapai target Q,1 2011 dan perhitungan incentive…ditunggu kelanjutannya friend, do’aku tetap HIJAU.. Go Green..

Muara Bungo: March 30, 2011

3 thoughts on “Dua Warna Maret 2011… (Bag 5)

  1. Kejadian ini mengajarkanku dua hal bahwa semua orang berhak untuk memilih dalam hidupnya dan yang kedua adalah sebaik-baik rencana manusia, maka lebih baik rencana Allah. Inilah hikmah yang ingin aku bagi atas ketidakhadiran dia di acara walimah saudaraku.

    hidup (sensor bos)…

    ^_^

  2. @ iya wim dlm foto itu Om Yadi masih kurus, belum sukses sprti skrang. Hidup itu akan membaik seiring usaha, kerja keras plus do’a. btw comment u aku sensor sedikit wim krna dilarang menyebut merk bos, belum tentu jadi juga..
    Salam hangat dari Muara Bungo..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s