Anak Finance jadi Salesman…(Bag 1)

Bertindak, maka kita akan tahu…

Matimatika, Fisika dan Kimia subject yang paling menakutkan sejak SMP, paradigma itu juga yang menggiringku untuk mengambil jurusan sosial sewaktu SMA. Memilih sosial bukan karena saya mencintai ilmu sosial, melainkan aku takut dengan pelajaran science oleh karena itu aku harus mengorbankan keinginan orang tuaku yang mengarahkan anaknya untuk mengambil IPA dan terjun bebas ke IPS. Boleh disimpulkan diantara usia 15 tahun itu aku masih belum tau apa yang menjadi pelajaran kesukaanku.

Aku terjun ke social murni untuk menghindari angka, formula, dan logaritma. So pertanyaanya adalah, apakah aku enjoy di IPS? Tidak juga karena jurusan itu sendiri aku ambil bukan karena keinginanku tapi katakutan dan hanya ada dua pilihan, maka aku harus mengambil apa yang tidak menakutkan bagiku, meskipun pilihan itu bukan keinginanku.

satu tahun berjibaku dengan ilmu sosial. Masih ingat dengan nilai antropologiku yang tidak pernah keluar dari jeratan angka lima, sosiologi berada diantara nilai enam dan tujuh, meskipun pada akhirnya aku harus mendapat nilai 4,27 di ujian akhir sekolah. Angka yang sangat fantastik buruknya sekaligus hampir membuatku tidak lulus SMA. Belum lagi tata negara yang tebal bukunya bisa digunakan untuk bantal tidur, teori ekonomi dan filsafat ekonomi. Mulai dari Adam Smith, Plato, hingga Samuelson. Nama-nama yang hanya dihafal pada saat ujian tanpa pernah tertarik sedikitpun untuk mencari tahu kenapa nama-nama mereka dijadikan tokoh ekonomi, apa yang menjadi temuan mereka, dan bagaimana teori mereka bisa mengubah perekonomian dunia. Jangan pernah bertanya tentang itu padaku, sudah jelas jawabannya aku tidak tahu. Kesimpulannya, aku lulus SMA dengan nilai pas-pasan, setidaknya pas untuk melengkapi administrasi mengikuti ujian SPMB.

September 2005, dikeluarkannya pengumuman tentang calon-calon mahasiswa yang lulus di surat kabar lokal. Dari ribuan daftar peserta yang lulus terselip namaku di bagian fakultas ekonomi manajemen.  Sempat shock dengan hasil tersebut. Terus terang aku tidak percaya, karena pada saat ujian aku hanya menjawab 3 dari 25 soal matematika, tidak menjawab lengkap soal bahasa inggris, dan tidak yakin benar dengan jawaban soal-soal yang lain. Bukti bahwa aku tidak yakin lulus, aku mendaftar di Politehnik Negeri Sriwijaya dan ternyata aku lulus juga disana. Waktu itu aku hanya berfikir bahwa nasib baik sedang berpihak kepadaku, tapi aku harus berubah karena keberuntungan tidak datang setiap saat, jadi aku harus mempersiapkan semuanya sejak dini.  setelah menjadi mahasiswa, aku menantang diriku sendiri dengan satu pertanyaan. Mau menjadi mahasiswa seperti apa aku?

Dinamika sebagai mahasiswa dimulai. Lepaskan seragam putih abu-abu, lupakan rambut catam. Sekarang bebas. Bebas berpakaian, bebas memilih organisasi, dan bebas untuk mengactualisasikan diri. Jika cinta basket, masuk ke organisasi basket, jika suka menulis, joint di kamunitas penulis, jika suka membaca, datang saja ke perpustakaan, dan jika ingin belajar bahasa inggris, dipersilahkan datang ke komunitasnya, dan apabila ingin berbagi dan memperdalam ilmu agama, akan disambut baik oleh ustaz dan ustazah kampus di mushola, lalu apabila sudah merasa cukup bekal, tidak ada salahnya untuk menceburkan diri di badan eksekutif mahasiswa. Peluang benar-benar terbuka lebar  bagi kita yang sadar dengan kondisi tersebut.

Semester awal, organisasi bahasa ingris dan menjadi bagian dari anak mushola menarik minatku. Dua tempat yang mengajarkan banyak hal. Dua agenda yang kurindukan setelah keluar dari kampus dan masuk dunia kerja.

Semester kedua, aku putuskan untuk manjadi anggota BEM Fakultas, dan alhamdulillah hampir dua tahun aku berada disana. Rasanya lebih banyak lagi ilmu-ilmu yang bisa aku dapatkan. Organisasi bagiku seperti wadah untuk kita belajar. Belajar bersosialisasi, belajar presentasi, belajar menyampaikan ide, dan  belajar untuk mengaplikasikan teori ke dalam tindakan. Dan yang lebih penting adalah belajar untuk mendewasakan mental.

Semester kelima aku menjadi pengurus pasif di organisasi, karena waktu itu aku harus fokus untuk memilih jurusan antara manajemen pemasaran, keuangan atau sumber daya manusia. Awalnya aku tertarik dengan manajemen sumber daya manusia karena aku pikir, jurusan ini yang akan menceraikanku dengan angka-angka. Tetapi aku batalkan karena aku menilai masalah SDM bisa diatasi hanya dengan membaca buku dan perbanyak bersosialisai di masayarat, sekarang aku sadar jika aku salah karena bicara SDM sangat kompleks bahkan tidak bisa dijabarkan secara pasti.  Lalu pilihan kedua adalah manajemen pemasaran, aku percaya jurusan ini akan membuat hubunganku dengan angka-angka tidak begitu mesra. Tapi aku juga tidak memilihnya karena terlalu banyak peminatnya, hampir 70 persen dari angkatan kelas waktu itu, belum lagi pemasaran identik dengan salesman. Karena kekerdilan pola pikirku, aku menganggap salesman sebagai pekerjaan yang gampang diperoleh  dan tentunya dengan gaji kecil, door to door membawa barang, sering dianggap remeh. Tetapi lambat laun paradigmaku berubah.

Pilihan terakhir adalah manajemen keuangan, dan karena peminatnya tidak terlalu banyak dan akupun yang waktu itu sedang tertatik dengan dunia investasi maka dengan bismillahirahmanirahim aku menikah dengan angka-angka sebagai akadnya aku buang rasa takut terhadap formula dan alhamdulillah ternyata semua tidak sesulit yang aku bayangkan, selama kita mengetahui manfaat dari setiap pilihan tersebut. Aku yang tadinya takut, bisa dibilang hampir kencanduan dengan dunia finance. Hampir tiada hari tanya analisa, dan seakan sudah terprogram dalam otakku bahwa apapun kejadian dalam kehidupan sehari-hari, otak ini akan selalu mengaitkannya dengan suatu teori keuangan, lalu menyederhanakannya kembali ke dalam bentuk yang lebih sederhana. Waktu itu aku sepertinya tertular Bapak Newton yang menemukan teori gravitasi sesaat setelah meilihat sebuah apel  jatuh dari pohon dan meniru pak Dahlan Iskan yang selalu bisa menyederhanakan masalah dan memberi solusi sehingga bisa dimengerti oleh tukang koran. So simple but amazing.

Tepat tiga tahun enam bulan, aku harus pisah dari kampusku dan langsung dipinang oleh salah satu perusahaan pembiayaan sebagai credit analyst. Berarti kerjaku adalah sebagai analisa kredit, memberikan saran dan rekomendasi yang mengacu pada kelebihan dan kekurangan dari seorang kreditur. Aku merasa kerjaku sejalur dengan jurusan yang aku pilih. Meskipun inline tak lantas membuat tanggung jawab sebagai credit analyts menjadi mudah. Seorang credit analyst juga harus mengerti tentang potensi wilayah, resiko-resiko industri, komodity yang lagi bullish dan barriesh, dll. Tanggung jawab itu tentunya tidak begitu besar dan tidak langsung membuatku jatuh sakit seperti yang dialami oleh Bapak Montagu Collet Norman, D.S.O  seorang gubernur bank ingris yang sakit akibat tekanan pekerjaan. Atas saran medis, ia telah melepaskan semua pekerjaan dan pergi ke luar negeri untuk beristirahat dan menikmati suasana baru. Jika aku sedang mengalami tekanan pekerjaan seperti Bapak Norman. Atas saran sendiri, aku meminta izin cuti dan liburan ke pantai, kebetulan waktu bekerja di finance aku ditempatkan di daerah sulawesi, daerah yang notabene memiliki panorama pantai yang indah. Belum tahu karena tekanan pekerjaan atau bukan, aku pergi ke pantai bunekan 5 kali, pulau lihaga 2 kali, pulau siladen 1 kali dalam kurun waktu 10 bulan.

Masa kerja di perusahaan finance sebagai credit analyst aku geluti kurang lebih satu tahun delapan bulan, setelah itu aku putuskan untuk pindah. Motivasiku hengkang waktu itu adalah mimpi. Mimpi untuk bisa melanjutkan studi yang lebih tinggi atau bisa mendapat pekerjaan di perusahaan multinational. Syukur Allah mentakdirkanku jatuh di mimpi yang kedua. Saat ini aku bekerja di salah satu perusahaan consumer good yang bermarkas di Vevey, Swiss.

Muara Bungo: May 8, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s