Fatimah

Imajinasi tentang siapa dan kapan…


Satu sosok berwajah indo berpostur ideal, kulit bersih serta berhidung mancung tengah asik berlari kecil menuju masjid, sesekali membetulnya kerudungnya yang terbang tertiup angin. Sementara tak lebih dari satu meter wanita berkulit kecoklatan menyebut namanya, memintanya dengan lembut untuk tidak tergesa-gesa. Dia tetap berlari, mungkin dia takut jika dia belum tiba di masjid sampai adzan selesai berkumandang. Aku yang sedang membuka sepatu di teras masjid tergoda untuk melihatnya. Aku hanya mengulum senyum sembari mengucap dalam hati, Tuhan begitu ayu ciptaan-Mu.

Bergegas aku mengambil air wudhu. Secepat kilat, aku sudah dapati mereka berada di shap ke dua bagian wanita. Mukenah putih corak biru dan abu-abu membalut tubuhnya. Rasanya teman-teman akan mengamini  jika kaum hawa akan terlihat lebih sejuk jika memakai penutup di kepalanya. Cantik dan berwibawa.

Imam selesai membaca do’a. Kita berkumpul untuk bersalaman, lalu pergi meninggalkan masjid. Seperti biasa, aku duduk di teras masjid untuk memakai sepatu dan ternyata mereka lewat tepat di depanku, jaraknya sekitar dua meter. Pancaran sinar matahari senja yang kemerah-merahan berlapis sisa air wudhu yang belum mengering menampilkan rona wajahnya menjadi bercahaya. Air wudhu seperti make up terbaik bagi hawa, beberapa bulan lalu aku pernah mengajak temanku sholat dan karena selesai lebih dulu aku sengaja menuggunya di luar. Selesai sholat, aku melihat ada yang beda di wajahnya,  sepertinya air wudhu bisa meng-make over secara singkat dan tanpa biaya sehingga dia terlihat begitu cantik dan sederhana.

Orang sepertiku hanya bisa curi-curi pandang, dan malas untuk bertindak. Lebih tepatnya malu untuk bertanya. Pengalaman sepertinya mebuatku troma untuk memulai sesuatu, apalagi yang berbau perasaan. Aku yang tadinya ingin bersantai di halaman masjid, tiba-tiba terkena sihir Cleopatra. Berdiri dan berjalan pelan seakan ingin membuntutinya. Kuperhatikan, sesekali dia meloncati genangan air sisa hujan semalam dengan mengulurkan tangan ke temannya. Bahkan dengan melihatnya berjalan saja aku ikut bersemangat dan melupakan keletihan fisikku setelah menyetir dari Hitam Ulu ke Muara Bungo. Hari ini aku tersadar, ternyata ada jamu yang lebih mujarap daripada jamu tradisional mbok Narsi, dia bisa bekerja tanpa diminum, cukup dilihat dengan seksama.

Aku sengaja berjalan pelan, mencari jarak yang tepat dengan harapan temannya akan menyebutkan nama gadis itu dan lebih beruntung jika dia menyebut dimana tempat tinggalnya. Tahu nama dan alamat dimana dia tinggal, merupakan awal yang baik untuk pertemuan pertama. Hari ini seperti kejatuhan duren montong. Sedetik keluar dari pagar masjid, ternyata mereka putuskan untuk makan sate padang Pak Rusi. Aku yang belum lapar tiba-tiba ingin makan. Kebetulan aku sering makan di warung ini dan aku harap dia juga melakukan hal yang sama sepertiku, yaitu menghabiskan  dua dari tujuh hari untuk dinner sate padang bukit tinggi Pak Rusi, sehingga tidak terlalu susah bagiku untuk mendapat info tentangnya. Cukup dengan menambah intensitas kunjungan ke warung Pak Rusi dan biarkan ilmu manajemen yang menggiring Pak Rusi untuk mencari info tentang gadis senja itu.

Tiga piring sate berjajar di satu meja, aku, dia, dan temannya. Sembari makan, bola mataku selalu tergoda untuk melirik ke sebelah kanan. Sengaja aku mengambil tempat duduk yang berhadapan tetapi agak kesamping kiri, tepat di sudut 45 derajat. Angle yang baik untuk memandangi suatu objek. setiap sate yang selesai aku lahap, tusuknya aku letakkan di sebelah kanan, sekaligus mencari momentum untuk melihat tata cara makan gadis itu. Satu porsi sate ada sepuluh tusuk, berarti sepuluh kali aku melihatnya. Dari sepuluh kali melihat, hanya dua kali kita beradu mata, aku merasa heroik sekali ketika empat boleh mata itu membentuk sinar persegi panjang . Momen itu hanya sukses dua kali setelah melakukan sepuluh kali research, artinya teori probabilita valid sebesar dua puluh persen jika diujikan di tempat makan, lebih spesifik lagi di warung sate padang pak Rusi. (2:10 x 100%= 20%; ini rumus matematikanya).

Sepuluh kali melihat cara dia makan, sepertinya dia sudah lulus ujian kelas table manner level advance dengan nilai excellence. Dua kali beradu mata, membuat kesimpulan pribadi yang belum tervalidasi bahwa dia seorang gadis yang sederhana. Aku semakin gelisah dan takut. Sama takutnya seperti warga Amerika ketika mendengar pengumuman jika Wall Street akan diet. Mereka takut jika menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari proses efisiensi perusahaan. Sama takutnya seperti aku di senja merah ini, takut jika aku mendegradasi selera makannya.

Siapa dia? Aku sangat penasaran..

Upp, dering jam weker mengejutkanku. kebiasaan buruk setelah sholat subuh aku sering tertidur dan tenyata aku hanya mimpi bertemu Fatimah..

Muara Bungo, May 2011 time 22:42

4 thoughts on “Fatimah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s