Anak Finance jadi Salesman… (bag 2-Finished)

Imajinasi menggapai mimpi..


Flash back kejatuhanku pada mimpi yang kedua. Sekitar Juni 2010, aku ada meeting dan rapat kerja tahunan di Jakarta, kesempatan itu tidak aku sia-siakan untuk mengambil cuti full satu minggu. Rencanaku waktu itu adalah liburan ke Bandung bukan pulang ke Palembang. Entah kenapa, tiba-tiba Bapak menyuruhku balik ke Palembang, dengan perasaan sedikit berat hati aku pesan tiket untuk ke Palembang dan rencana ke Bandung harus tertunda.

Ada hikmah di balik perintah orang tua. Hari ketiga di Palembang, aku sempatkan main ke Kampus bersama sahabatku, M. Hidayat. Niat waktu itu adalahmencari info beasiswa (mengejar mimpiku yang pertama). Tiba di Rektorat kampus pukul 10 pagi dan tidak ada pengumuman perihal beasiswa. Pada waktu yang bersamaan aku melihat ada keramaian di lantai dua rektorat, tenyata sedang ada campus open recruitment dari salah satu perusahaan, dan selidik punya selidik ternyata perusahaan itu bertengger di peringkat 44 di fortune 500 company tahun 2010 dari survey majalah fortune, itu artinya perusahaan ini sudah berskala internasional atau multinational company (bisa bekerja di tempat ini adalah mimpiku yang kedua).

Iseng-iseng berhadiah. Tanpa persiapan dan dengan penampilan apa-adanya, aku beranikan diri untuk berkompetisi. Waktu itu aku melihat para peserta lain mengenakan pakaian rapi. Wanita memakai blazer dan pria setidaknya mengenakan kemeja panjang, calana dasar, dan sepatu fan tofel, bahkan ada beberapa yang memakai dasi. Tetapi aku agak berbeda, dengan celana levis tua, kaos polo dan sepatu converse yang sudah layak dipensiunkan.

Company overview selesai pukul 12 siang dan setelah ishoma akan dilanjutkan dengan interview, aku coba-coba ikutan tanpa berharap banyak. Tepat pukul 14.00 aku harus kembali ke Palembang karena sahabatku akan mengajar di Palcomtech.  Bersyukur mendapat nomor urut ke empat, jadi aku tak menunggu lama mendapat panggilan. Sekitar pukul 13.15 aku dipanggil untuk interview, aku lebih senang jika menyebutnya sebagai sharing karena selain penampilanku yang tidak mencerminkan orang yang sedang melamar pekerjaan, aku dan interviewer seperti terjebak diskusi antara guru dan murid. Beliau (interviewer) memberikan beberapa pertanyaan tentang aktivitasku semasa kuliah (disini pengalaman organisasi menjadi penting) dan kontribusi apa yang sudah aku berikan pada perusahaan sebelumnya (ceritakan tentang kontribusi positif ya). Akupun tidak mau ketinggalan memberikan banyak pertanyaan tentang janggung jawabku sebagai sales di perusahaan ini jika aku diterima nanti.

Niat awal aku memilih bagian finance and control karena selain sesuai dengan pengalaman kerjaku, finance juga merupakan background pendidikan sewaktu kuliah strata satu, tapi yang dibutuhkan saat itu adalah posisi sales. Jika aku tetap kekeh dengan pilihanku, kemungkinan besar aku tidak akan diterima atau paling tidak butuh waktu lebih lama sampai perusahaan ini membutukan bagian finance and contol. Ini adalah awal aku terjebak di dunia sales. Suatu jebakan yang memporak-porandakan paradigma lamaku tentang salesman yang berpanas-panasan, dianggap remeh orang lain, door to door membawa barang, dan identik dengan gaji kecil, kini sudah berubah. Bagiku menjadi salesman adalah belajar untuk menjadi Chief Executive Officer (CEO) yang sesunguhnya.

Interview hanya berlangsung 15 menit dan aku merasa seperti mendapat free golden shake hand dari interviewer.

Hampir enam bulan menanti, akhirnya yang ditunggu datang juga. Setelah melalui interview, tes kesehatan, dan offering salary, akhirnya awal january 2011, aku bersama dua temanku dari Palembang diundang ke Jakarta untuk menandatangi kontrak kerja sebagai salesman dengan masa probation selama tiga bulan. Posisi baru bagiku, bagian yang dulunya aku anggap sebelah mata, posisi yang tidak prestisius, tapi kini aku terjebak di dalamnya. Apa boleh dikata, mimpiku yang kedua harus diwujudkan. Kerja di perusahaan multinasional. Sesaat setelah menandatangi surat kontrak kerja, saat itu juga aku masuk ke dalam masa transisi dari anak finance jadi salesman. Suatu masa yang kurang disukai oleh sebagian besar orang, karena melibatkan unsur perubahan.

Tidak mudah menjadi salesman, di awal-awal kerja beberapa kali sulit tidur ketika target belum tercapai dan dari hasil sharing dengan dua temanku yang dari Palembang, kami sama-sama kompak pernah sakit mungkin karena terlalu stress dalam menghadapi dinamika sales yang sangat dinamis.

Perlahan-lahan aku terus belajar dan berusaha mengerti dinamika sales yang tidak menentu, sama seperti mekanisme pasar yang terlalu dinamis untuk dibuat konsep bakunya. Bekerja sebagai salesman harus sabar, disiplin, dan giat karena kita harus dealing with people dengan berjuta karakter. Insya Allah aku menikmatinya.

Lakukan, maka kita akan tahu. Hari ini hampir lima bulan aku menjadi salesman. Ternyata ada beberapa hal yang berbeda antara profesi sebagai credit analyst dan salesman, serta perbedaan fasilitas di setiap perusahaan. Dulu sewaktu menjadi credit analyst, aku lebih mengedepankan risiko-risiko yang mungkin akan terjadi, tapi kini aku harus berfokus pada opportunity. Jika dulu aku adalah risk averst, kini aku belajar menjadi risk calculator. Jika dulu aku bertanggung jawab mengontrol portfolio credit macet, kini salesman memberi tanggung jawab portfolio penjualan by area yang dikaitkan dengan ROIC (return on investment and capital). Tapi sewaktu menjadi credit analyst aku mempunyai kesempatan besar untuk belajar tentang komodity-komodity di Indonesia, mulai dari batu bara, timah, nikel, sawit, hingga ke jasa transportasi dan proses land clearing.

Bicara tentang fasilitas, Jika profesi lama sering mengajakku bermain di bintang 3, kini salesman lebih sering mengundangku ke bintang 4 bahkan sesekali bintang 5. Jika dahulu aku lebih akrab dengan Singa saat ada perjalanan dinas tapi kini diarahkan lebih cinta produk dalam negeri dengan menunggangi Garuda. Tetapi di profesi lama, aku sering ditempatkan di daerah-daerah yang eksotis dengan wisata alamnya, sebut saja Manado. Tapi kini aku berada di kabupaten yang hingga hari ini belum aku temukan dimana tempat wisata alamnya, bahkan toko buku Gramedia-pun tidak ada. Hidup memang plus and minus, ada suka dan duka, tinggal bagaimana cara kita mengisi setiap proses kehidupan dengan rasa syukur. Agar tetap semangat dengan kondisi ini, aku selalu meyakinkan diriku bahwa I’m in the place of no where saat ini sebagai proses belajar yang nantinya insya Allah akan menjadikanku manusia yang memiliki world class competence with grassroots understanding (Anies Baswedan). Aamin Ya Robb.

Kini kewajibanku adalah mejadi salesman, tapi profesi baru ini tidak langsung membuatku melupakan subject yang membuatku jatuh cinta yaitu finance. Jikalau aku harus memformulasikan dua profesi ini, maka aku ingin menjadikan salesman sebagai makanan dan finance adalah minuman karena akan sulit bagiku jika makan tanpa minum. Inilah kisah singkat anak finance jadi salesman. Dan jika sedang merasa kesulitan dengan masa transisi ini, aku akan mengingat perjuangan berat temanku Eri Almuhari, lulusan sastra inggris unpad yang jadi salesman di Pare-Pare?

Nb: Sukses untuk dirimu my best friend, Eri Almuhari. Aamin.


Rimbo Bujang on Monday, May 2011

5 thoughts on “Anak Finance jadi Salesman… (bag 2-Finished)

  1. It’ so inspiring to me Bud. I am suprised to read your blog about Sales.Thanks for mentioning me in your blog.Sukses yaaaa……oh ya Now i am trying to write Blog but finish yet hihihihi. Sukses yaa any time, we can share more

  2. budi kuying itu memang penampilan lho kucay, namanya hoky kene juga lay.sepatu bawa hoky tapi kaos kaki sering d cuci dong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s