Jejak sepatu tua..

Semua pasti ada hikmahnya..

Sepatu adalah suatu jenis alas kaki (footwear) yang biasanya terdiri dari bagian-bagian sol, hak, kap, tali, dan lidah. Ini pengertian sepatu menurut Wikipedia. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, sepatu adalah lapik atau pembungkus kaki yang biasanya dibuat dari kulit (karet dsb), bagian telapak dan tumitnya tebal dan keras. sebenarnya aku tidak bermaksud membahas definisi sepatu, seandainya aku bisa mendapatkan kata-kata lain untuk memulai tulisan ini.

Namanya juga penulis amatir, sering kesulitan untuk merangkai kata-kata pembuka setiap kali menulis..itu artinya aku tidak sedang ingin menulis tapi aku harus menulis..karena kehabisan ide untuk menulis, maka aku jadikan foto-foto sepatu tua dengan background lantai di halaman masjid Agung Palembang sebagai bahan tulisan..mohon maaf bagi yang tidak merasakan manfaat dari tulisan ini..heee

Cerita berawal setelah acara seminar blogilicious barakhir, waktu itu aku sempatkan mampir ke Masjid Agung untuk sholat Ashar dan menunggu jemputan temanku karena sore itu kami akan kopi darat setelah hampir enam bulan tidak bertemu. Menunggu terkadang tidak mengasikkan dan perasaan bosanpun menghampiri setelah lelah duduk hampir 20 menit di aula masjid. Aku putuskan untuk berjalan mengelilingi masjid terbesar di kota pempek ini. Iseng-iseng di dalam perjalanan aku memfoto setiap lantai yang berbeda di setiap lokasi. Aku melakukannya dengat hati-hati seperti ditektif yang sedang mencari sidik jari pelaku kejahatan.

Inilah hasil jepretan fotographer amatir dengan model sepatu tua dan backgroundnya lantai halaman masjid. Sekaligus mencoba memberikan arti dari foto-foto tersebut..

..cerita antara sepatu tua dan kehidupan..

Gambar 1: Jejak hitam & putih kehidupan.

 

Hidup itu seperti berjalan di dua sisi, yaitu putih untuk kebaikan dan hitam biasanya identik dengan keburukan. semua pilihan ada di kita, mau kemana kaki ini akan melangkah dan akan selalu ada konsekuensi dari setiap langkah yang kita pilih.

Gambar 2: Jejak perjuangan

 

Warna merah berarti semangat. Artinya dalam hidup ini kita dituntut untuk terus semangat dalam menghadapi tantangan kehidupan. Seberat apapun langkah itu, kita harus tetap bergerak karena diam berarti mati dan seperti kata Pak Sutrisno Bachir bahwa hidup adalah perbuatan.

Gambar 3: Jejak diantara dua pilihan

 

Sengaja aku mengambil gambar dengan berdiri diantara batu dan rumput. Mencoba menggambarkan bahwa dalam hidup ini terkadang kita dihadapkan pada dua pilihan. Pada kondisi ini mungkin Tuhan sedang mengajar kita untuk tegas dalam memilih. Salah setelah memilih itu lebih baik karena kita lebih cepat tahu bahwa kita salah dan lebih cepat pula kita memperbaikinya daripada kita tidak berani membuat suatu keputusan.

Gambar 4: Jejak keberhasilan

 

Setelah berani menentukan pilihan dan melewati  tantangan, insya Allah Tuhan akan memberikan hadiah dalam bentuk keberhasilan. Sepatu yang sudah koyak itu melambangkan kerja keras dan semangat pantang menyerah untuk melewati setiap tantangan ,lalu kita akan menyentuh garis finish berwarna putih sebagai simbol keberhasilan. Tidak ada salahnya merayakan keberhasilan karena keberhasilan hari ini adalah langkah awal untuk meraih keberhasilan yang lebih besar di masa yang akan datang. Di ilmu manajemen kita sering mengenalnya sebagai transformasi visi (goal jangka panjang) ke dalam misi (goal jangka pendek yang terkoneksi ke goal jangka panjang). Seperti yang disampaikan juga dalam pidato Ibu Sri Mulyani di forum on Good Governance: From vision to action di Manila bulan Desember 2010 lalu.P

Setelah kaki lelah mengitari halaman masjid Agung. Aku berhenti di depan air mancur dan berimajinasi tentang hubungan antara air mancur, teori ekonomi (product life cycle), dan kehidupan. Sekaligus ini sebagai penutup jejak langkah sepatu tua di kota kelahiran.

Setelah mengamati gerak air mancur beberapa detik, aku beranggapan bahwa seorang designer air mancur ini pasti seorang pakar ekonomi kelas dunia yang paham betul dengan philosophi hidup dan hubungannya dengan Tuhan. Bentuk air mancur itu menyerupai siklus hidup pruduk (product life cycle) yang terdiri dari introduction, growth, maturity and decline. Menurutku itu sama seperti jejak perjalanan hidup. Ada saatnya kita harus memperkenalkan diri (introduction), kemudian kita merasa tumbuh (growth) dengan hampir menggapai mimpi-mimpi kita, kemudian kita berada pada suatu tempat tertinggi yaitu menikmati hasil dari apa yang sudah kita lakukan (maturity), sebelum akhirnya kita harus merelakan singgasana untuk terjun kembali dalam jurang kehidupan (decline). Mungkin ini makna yang sering orang sampaikan bahwa hidup itu seperti  air mancur (bukan roda).. heee

Lalu, kenapa jatuhnya  air mancur itu harus diarahkan ke masjid?

Mungkin, ini mungkin ya.. Designernya ingin menandakan bahwa manusia itu mempunyai kecenderung untuk taat kepada Sang Pencipta ketika mereka berada pada fase decline. Aku membayangkan pengalam pribadi dan cerita dari beberapa teman dekat. Mereka pernah merasa dekat sekali dengan Sang Pencipta ketika mereka merasa sudah tidak ada pertolongan lain pada saat jatuh selain pertolongan Tuhan. Aku dan temanku rela bangun tengah malam untuk sholat sambil menitikan air mata demi terwujudnya keinginan kami, bukan satu atau dua hari aku melakukannya, bahkan bisa berhari-hari jika aku merasa benar-benar membutuhkan-Nya. Beruntunglah karena Tuhan itu maha segala-galanya, Dia tidak pendendam, jadi Tuhan tidak menelantarkan do’a-do’a kita meskipun kita hanya berdo’a jika merasa perlu. Tapi seharusnya kita mulai belajar dari pengalaman tersebut. Sudah seharusnya kita selalu dekat dengan Sang Pencipta, itu juga yang mungkin menjadi alasan kenapa air mancur itu diarahkan ke masjid, bukan hanya pada saat air itu di posisi decline.

Note: nasehat untuk diri sendiri..

Palembang, June 5, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s