Teman baru saya lebih kaya dari Amerika?

…My new friend…

Kepala gudang yang ikut hadir di pemusnahan produk kadarluarsa di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Muara Bungo kali ini pulang dengan perasaan berbeda. Hari itu, Januari 2012 kami tidak boleh lagi membakar produk expired di bagian depan TPA, hal ini terjadi karena seminggu lalu manager operasional menolak untuk membayar iuran kepada oknum yang mengatasnamakan pemilik lahan bagian depan di TPA tersebut. Alhasil kami harus melakukan pemusnahan barang tidak layak konsumsi tersebut di lahan atas milik pemerintah yang jaraknya sekitar 100 meter dari pintu masuk TPA.

Hari ini ada ratusan susu kadaluarsa dan rusak yang harus kami bakar. Proses pembakaran ini bisa menghabiskan waktu hampir satu jam. Sepertinya pembakaran hari itu akan molor karena beriringan dengan rintik-rintik air yang turun dari langit. Tapi kami beruntung karena ada seorang pemulung yang memberikan ban dan menyarankan kami untuk menaruh ban tersebut di tumpukan barang yang lagi dibakar. Alhasil proses pembakaran itu terjadi lebih cepat. Merasa terbantu, saya berlari mendekati pemulung yang sedang asik memilah-milah plastik bekas.

Setelah berkenalan, saya tahu nama bapak itu adalah Pak Aji Santoso. Sudah 12 tahun merantau dari Kediri ke Muara Bungo. Awalnya sempat bekerja serabutan selama tujuh tahun dan sisanya dihabiskan untuk menggeluti profesi sebagai pemulung. Satu alasan yang membuat pria satu anak ini setia dengan profesi ini yaitu beliau ingin merdeka. Merdeka, bisa bekerja kapanpun dia mau tanpa ada yang perintah dan tidak pusing dikejar target oleh atasan.

Saat ini untuk membantu perekonomian keluarga, istrinya bekerja sebagai pembantu di salah satu bidan desa. Di kota ini mereka sekeluarga mengontrak rumah dengan biaya sewa Rp.4 juta pertahun.  Saya merasa tertarik dengan kondisi teman baru saya ini. Lalu saya tanya berapa pendapatan beliau setiap bulan dari hasil kerja sebagai pemulung ditambah penghasilan istrinya yang bekerja sebagai pembantu di Bidan desa. Ternyata pria 43 tahun ini bisa menghasilkan uang Rp.2 juta per bulan ditambah penghasilan istrinya Rp.1 juta perbulan. Total penghasilan mereka Rp.3 juta per bulan. Untuk biaya rumah tangga Pak Aji biasanya mengeluarkan uang rata-rata Rp.2 juta per bulan. Itu artinya beliau masih surplus Rp.1 juta perbulannya.

Mendengarkan penjelasan tentang income yang didapat Pak Aji, pikiran saya lari tak tentu arah. Mencoba membandingkan pendapatan dari setiap profesi yang saya ketahui. Awalnya saya terpikir pada income pertama saat mulai bekerja di salah satu perusahaan finance nasional yang waktu itu bergaji hanya Rp.1,6 juta per bulan. Lalu saya juga membayangkan pendapatan seorang PNS lulusan SMA yang mungkin tidak lebih dari dua juta per bulan. Lalu sebenarnya siapa yang lebih mapan secara ekonomi waktu itu. Keluarga Pak Aji, saya, atau PNS lulusan SMA?

Merasa tidak puas hanya membandingkan income keluarga Pak Aji, saya dan PNS lulusan SMA. Saya coba mengajak pikiran terbang lebih jauh hingga ke Hollywood untuk melihat pendapatan dan beban negara Adidaya, Amerika.

Menurut video ini, Amerika mempunyai income $ 2,2 trillion per tahun dengan beban $ 3,8 trillion per tahun. Beban-beban tersebut berasal dari biaya pensiun, gaji CIA, FBI, subsidi, gaji veteran, biaya pertahanan de el el. Dengan neraca seperti itu artinya Amerika deficit $ 1,6 trillion per tahun. Lalu bagaimana negara itu bisa bertahan dengan kondisi harus menanggung deficit $1,6 trillion per tahun?

Jawabannya adalah karena Amerika selalu berhutang dari bank, investor dan pemerintah negara lain dengan konsekuensi mereka harus membayar bunga dan tentu saja pokok hutang. Logikanya sama dengan ketika kita meminjam uang di bank. Bank akan mengenakan biaya bunga dan hutang pokok pada nasabahnya. Masih informasi dari video tersebut, saat ini Amerika sudah mempunya hutang $ 14 trillion. Dengan penjelasan ini, saya tertarik untuk melihat sebenarnya siapa yang lebih mapan antara Pak Aji yang berprofesi sebagai pemulung dan Amerika dalam 5 tahun kedepan.

Financial keluarga Pak Aji. Setiap bulan Pak Aji dan istrinya bisa menghasilkan uang Rp.3 juta rupiah dikurang pengeluaran per bulan Rp.2 juta rupiah. Itu artinya beliau masih bisa saving Rp. 1 juta per bulan atau Rp.12 juta pertahun. Dipotong biaya kontrak rumah Rp.4 juta per tahun. Jadi pak Aji masih bisa surplus Rp.8 juta pertahun. Dalam kondisi normal, lima tahun dari sekarang pak Aji sudah mempunyai uang Rp.8 juta x 5 tahun = Rp.40 juta.

Amerika dengan pendapatan $2,2 trillion per tahun dan beban $3,8 per tahun harus menanggung defisit $1,6 per tahun atau sekitar $ 8 trillion dalam 5 tahun kedepan. Angka itu belum termasuk bunga yang harus dibayar oleh Amerika.

Dengan kondisi seperti ini, sebenarnya siapa yang lebih mapan, Pak Aji atau Amerika?

 

Muara Bungo, January 17, 2012.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s