Smart Young Investor

Property Industry: when demand is bigger than supply

Pagi ini, sebelum berangkat kerja saya sempatkan membaca Marketeers Edisi Januari 2012. Setelah membolak-balik halaman majalah besutan Bapak Hermawan Kartajaya ini, saya putuskan untuk berhenti di halaman 107 dan fokus saya jatuh pada kolom CMO of the month. Tentu saja gambar seorang pria yang sedang minum oli menarik perhatian saya, ternyata model dalam foto itu adalah Pak Dede Patmawidjaja, CEO PT Castrol Indonesia. Setelah mengamati foto itu beberepa menit, sepertinya saya tidak asing lagi dengan wajah itu. Ternyata benar dugaan saya, sebelum menunggangi perusahaan lubricant industry dunia itu, beliau pernah bekerja di salah satu perusahaan consumer goods yang berinduk di switszerland. Itu artinya kita pernah berkerja di satu perusahaan yang sama. Bedanya Pak Dede sudah menjadi Manajer Bisnis dan saya masih salesman biasa. Bisa dibilang satu atap tapi beda nasib : )

Nestle with BU Nescafe

Bersama Pak Dede and friends at Nasional Sales Convention

Well, setelah melahap habis bagian CMO of the month, saya langsung berpindah lagi ke halaman 15. Ada apa di halaman tersebut? Jika sebelumnya saya tertarik membaca karena melihat foto pak Dede sedang minum oli, sekarang saya tertarik karena melihat tulisan yang di Bold “INDONESIA MASIH KEKURANGAN RUMAH”. Saya melirik siapa penulisnya dan saya semakin penasaran untuk segera membacanya karena tulisan ini dibuat berdasarkan hasil interview dengan Bapak Setyo Maharso, Ketua Umum Real Estate Indonesia. Membaca kata real estate, bayangan pertama yang terekam oleh otak saya adalah bangunan mewah dan hanya bisa dimiliki oleh orang kaya. Tapi tulisan yang masuk ke dalam kolom property movement tersebut juga membahas tentang demand and supply di industri perumahan.

Menurut Pak Setyo, bisnis property masih cukup menjanjikan di tahun ini. Industri yang menyumbang 9,4 persen kepada Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia ini sebenarnya masih mengalami ketimpangan antara kebutuhan rumah dan jumlah rumah yang diproduksi setiap tahunnya. Demand is bigger than supply. Secara lebih detailnya, supply rumah hanya 400 ribu unit dan demand-nya mencapai 1,4 juta unit atau satu berbanding tiga.

Jika melihat data ini, saya optimis berinvestasi di properti akan menguntungkan. Hal ini sesuai dengan teory demand and supply yang pernah saya pelajari waktu kuliah. Jika permintaan lebih tinggi dari panawaran maka harga produk tersebut akan naik. Saya Alhamdulillah sudah menyaksikan sendiri keuntungan investasi di properti ini. Begini ceritanya, awal Juni 2011 saya menemani seorang sahabat membeli rumah di salah satu kabupaten kota di provinsi Jambi. Waktu itu harga rumah tipe 36 dengan luas tanah 120 m2 Rp.85 juta dan setelah enam bulan harganya naik menjadi Rp.97 juta rupiah. Investasinya bisa tumbuh 14% dalam kurun waktu enam bulan. Dan saya masih optimis harga itu akan terus naik karena lokasi perumahan cukup strategis. Dalam dua tahun kedepan, jalan menuju perumahan itu akan dijadikan sebagai jalan lintas sumatera dan belum lagi lokasinya yang hanya tiga kilometer dari calon bandara yang diprediksi akan selesai di tahun 2013.

Saya juga tertarik untuk investasi di properti tapi apadaya tangan masih tak sampai, hhheee. Sembari mengunggu ada baiknya saya mencari informasi sebanyak-banyaknya dan bergaul dengan orang-orang yang sudah terjun di investasi properti. Bukannya cara memulai yang paling mudah itu dengan mencontek : )

Selamat berinvestasi dan semoga bisa menjadi a smart young investor. Aamiin.

Muara Bungo, January 20, 2011.

2 thoughts on “Smart Young Investor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s