Today’s Learner & Tomorrow’s Leader

Membuka Sejarah 15 September 2005. Dari dulu sampai sekarang permasalahnnya masih sama yaitu scarcity..

Mengambil cuti 3 hari setelah end of month menjadi hadiah besar bagi seorang salesman seperti saya yang hampir setiap hari harus berjibaku mengejar target penjualan, apalagi cuti yang diambil tersebut sudah akan expired atau  akan hangus jika tidak diambil sampai 31 Juni 2012 ini. Alhasil izin cuti sudah saya kirim jauh-jauh hari sebelumnya dengan alasan visit family di Palembang. Sengaja cuti saya ambil setelah end of month and project of the month selesai dengan niatan selama cuti tidak mau diganggu dengan urusan kantor : )

Tiba di Palembang siang hari, lalu dilanjutkan dengan istirahat dan sorenya bergegas ke toko buku Gramedia di Palembang Square dan ternyata majalah yang dicari tak kunjung terlihat akhirnya setelah singgah di Masjid Taqwa Bukit untuk sholat magrib, saya bersama Mbak Ira meluncur ke Gramedia Pusat di Kolonel Atmo. Alhamduliilah setelah mencari beberapa waktu akhirnya Mbak Ira menunjukkan jarinya ke arah majalah yang kami cari dan memang posisinya jauh di rak paling atas, jauh dari penglihatan dan susah di jangkau. Hhmm secara teory tata letak, posisi majalah ini kurang tepat yaitu tidak memenuhi standar AVA (Availibility, Visibility, and Accessibility). setidaknya teori AVA inilah yang sering menjadi salah satu penyebab saya sering kena marah oleh atasan pada saat market visit karena mereka menemukan produk  tidak berada pada posisi yang seharunya.

Majalah sudah ada dan setibanya di rumah langsung saya robek bungkus dan melahap isinya. Membaca ditemani roti komplit sudah saya bayangkan kelezatannya jauh hari sewaktu masih di Muara Bungo. Dari beberapa artikel yang dibahas saya sangat tertarik dengan artikel yang berjudul Dua Skenario Masa Depan Indonesia. Judul yang terinsiprasi dari buku keluaran terbaru karangan Bapak Dorojatun Kuntjoro-Jakti “Menerawang Indonesia”. Guru besar ekonomi Universitas Indonesia ini membahas mengenai dua kemungkinan kondisi Indonesia pada 2030: menjadi raksasa ASEAN yang tidak berdaya atau menjadi pusat kebangkitan masyarakat ASEAN.

Menurut Menko Perekonomian pada masa Presiden Megawati ini, menciptakan Indonesia menjadi pusat kebangkitan masyarakat ASEAN, tidak hanya dengan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi tetapi juga harus mampu menyederhanakan system politik, menangani gejolak social dan ekonomi, serta memanfaatkan tata ruang wilayah NKRI sebaik mungkin. Selain itu pemerintah juga harus memperhatikan perangkap subsidi yang diberikan saat ini. Terlebih energy tidak akan tahan lama, beliau kawatir ke depan generasi muda sekarang akan mengalami kelangkaan (scarcity) energy.

Bayangan kelangkaan energy di masa mendatang mesih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera disesaikan bangsa ini. Di luar dari ikhwal tersebut kita sebagai generasi muda bangsa harus terus belajar agar kedepannya Indonesia tidak juga harus terbebani dengan kelangkaan pemimpin di masa mendatang. Seperti penjelasan Mr. Zulkarnain Ishak, Dosen Micro Economics pada 15 september 2005 silam yang masih tercatat di binder saya “Most of problem definitions focus on situation that arise as a result of scarcity” . Malam ini “scarcity” membawa saya ke masa lalu, masa kuliah di kampus hijau Universitas Sriwijaya bersama teman dengan sejuta impian, hari ini banyak diantara meraka yang sedang belajar untuk menjadi pemimpin dengan passion mereka masing-masing. Today’s learner and tomorrow’s leader, Aamiin.

Good luck my friends.

Palembang; June 2, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s