Mengejar Mimpi Mendaki Gunung Kerinci

Oh my God, keinginan untuk menggapai puncak gunung tertinggi kedua di Indonesia tiba-tiba muncul. Saya ingin merasakan lagi aroma hutan setelah meninggalkannya hampir dua tahun. Terakhir pendakian yaitu Gunung Klabat dan Gunung Mahawu di Manado, Sulawesi Utara. Keinginan mendaki itu diperkuat oleh rasa kagum saya pada seorang tokoh Energi Indonesia yaitu Bapak Widjajono Partowidagdo (wamen ESDM) yang wafat dalam pendakian di Gunung Tambora.

Saya bersama teman-teman dari pencinta alam warna warni berkumpul di secret Kerinci untuk mempersiapkan pendakian dan sore harinya kami mulai menapaki jalur setapak di bawah pepohonan hutan hujan tropis. Seharusnya pendaki pemula harus beradaptasi dengan alam pegunungan. Kita disarankan untuk tidur di sekitar pintu rimba agar tubuh bisa menyesuaikan kondisi angin di sekitar gunung. Tapi adaptasi itu tidak kita lakukan karena padatnya rute kunjungan. Selain menggapai puncak kerinci teman-teman juga ingin berkunjung ke Danau Gunung Tujuh.

Perlahan kami berusaha meniti jalan. Dingin yang menusuk tulang tidak kami hiraukan karena cita-cita kami adalah puncak Gunung Kerinci dengan ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dari pintu rimba kami terus berjalan hingga akhirnya kami dapati pos 1. Dari post 1 menuju post 2 kami harus melewati jalan yang tidak bersahabat. Dengan tingkat kemiringan mencapai 60 derajat dan semakin berkurangnya oksigen membuat tenaga terkuras habis. Dari sini saya mula berfikir bahwa untuk melakukan pendakian tidak hanya dibutuhkan keinginan dan semangat tetapi juga diperlukan persiapan yang matang.

Di post 2, kami putuskan untuk beristirahat dan perjalanan akan dilanjutkan pukul 4 subuh. Kami memasang tenda di ketinggian 3.100 mdpl. Disana saya merasa kaki berat sekali untuk digerakkan, seperti dibebani barang 5 kg. Belum lagi ditambah cuaca yang dingin, baju 4 lapis yang saya pakai tidak bisa memberi rasa hangat. Dingin menusuk hingga ketulang dan di tengah rasa sakit itu saya benar-benar merasakan dekat dengan Tuhan.

Melihat kondisi fisik yang lemah saya putuskan tidak ikut melanjutkan perjalanan ke puncak, saya memilih beristirahat di tenda, menunggu melanjutkan perjalanan turun pada pukul 2 siang. Kali ini saya belum diberi kesempatan untuk menggapai puncak Kerinci tapi saya merasa mendapat hikmah dari perjalanan kali ini. Untuk mencapai tujuan atau impian kita, tidak hanya semangat dan keinginan yang tinggi tapi juga harus ada persiapan yang matang.

Beberapa foto..

Gunung Kerinci, 6 May 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s