Mereka Berhak atas Pendidikan

Melunasi janji kemerdekaan salah satunya dengan cara membantu mendistribusikan pendidikan ke seluruh rakyat Indonesia secara merata, tanpa terkecuali.

SAD2

Mengutip orasi kemerdekaan yang disampaikan oleh Bapak Anies Baswedan bahwa republik ini memiliki janji. Janjinya melindungi, mencerdaskan, mensejahterakan, dan memungkinkan Indonesia berperan di tingkat global, itu janjinya bukan cita-cita. Cita-cita itu sesuatu yang diharapkan dicapai, jika tidak tercapai kita revisi. Kalau janji adalah sesuatu yang harus dilunasi, ini sebuah hutang, janji adalah hutang dan hutang itu harus dilunasi. Republik ini ketika didirikan memiliki janji-janji tadi. Secara konstitusional adalah tugas negara untuk melunasi seluruh janji itu. Tapi secara moral itu adalah tugas setiap orang Indonesia.

Itulah pesan yang disampaikan beliau di hari kemerdekaan Indonesia yang ke 66 tahun. Jika kita tarik benang merah, apa yang bisa kita lakukan untuk membantu melunasi janji-janji kemerdekaan tersebut. Menurut hemat saya ada beberapa cara dan dua diantaranya adalah. Pertama menjadi pendidik dan kedua mensupport pendidikan. Saya percaya pendidikan bisa menjadi eskalator penggerak yang paling handal untuk meningkatkan manusia dari kelas bawah ke kelas menengah bahkan menjadi manusia kelas atas. Pendidikan akan penciptakan manusia tangguh di masa depan.

Janji kemerdekaan itu tentu saja bukan hanya milik masyarakat di kota-kota besar, tetapi janji kemerdekaan harus dilunasi kepada seluruh rakyat Indonesia. Termasuk saudara kita dari Suku Anak Dalam yang berada di pedalaman kota Jambi, Sumatera Selatan. Kita seharusnya merasa sedih jika melihat masih ada saudara di sekitar kita yang belum mampu mengenyam pendidikan, apalagi jika alasannya karena materi. Seharunya kita yang berada disana tergerak untuk membantunya karena mendidik adalah tugas moral setiap manusia Indonesia.

Pilih Turun Tangan.

Lagi-lagi terinspirasi oleh kata-kata Pak Anies Baswedan. Beliau pernah bilang bahwa sekarang bukan waktunya lagi untuk mengeluh, mengasihani atau menghujat pemerintah. Lebih baik menyalakan lilin daripada terus-menerus mengutuki kegelapan. Kini waktunya beraksi, bersama berkontribusi membangun negeri dengan mencerdaskan kehidupan bangsa. Bukankah mendidik adalah tugas semua orang terdidik?

Kalimat itu seperti menonjok telak di muka kami dan mengerakkan jiwa dan raga untuk pilih turun tangan, melakukan hal sekecil apapun yang bisa kami lakukan untuk berkontribusi melunasi janji kemerdekaan. Dan langkah kecil itu kami mulai dari sini. Dari tempat kost kami berkumpul dan dengan latar belakang asal daerah yang berbeda kami bersatu, membuat aksi. Mencari donasi dari teman-teman dan akhirnya kami meluncur ke pedalaman kota Jambi, tepatnya di daerah Sungai Kopi Rantau Kloyang Kabupaten Muara Bungo Jambi untuk bersilaturahmi dan berbagi dengan mereka yang berada di pedalaman. Ya hari ini kami putuskan untuk mengambil peran kecil sebagai anak bangsa untuk senantiasa berbagi dengan siapapun. Tak terkecuali saudara kita, Suku Anak Dalam di kota Jambi.

Sebagian dari kami awalnya merasa takut untuk pergi ke Suku Anak Dalam. Jujur saja salah satu ketakutan terbesar adalah masuk kedalam masyarakat yang kami tidak tahu budaya dan kebiasaannya. Mungkin ini terjadi setelah membaca dan mendengar cerita tentang suku Canibal. Suku yang penduduknya suka makan daging manusia. Rasa takut itu masih menghantui sampai hari ini. Terkadang kami merasa ini tidak fair karena banyak orang yang merasa biasa saja dengan masuk ke dalam masyarakat yang mereka juga tidak tahu asal muasal, budaya dan kebiasaan masyarakat setempat. Saya putuskan ketakutan itu harus dikubur hari ini. I think anxiety and willingness to share will overcome fear.

Rasa takut itu harus dilawan, meskipun awalnya merasa takut tetapi kami beranikan diri untuk mendekat dan mencoba memperkenalkan diri lalu menyampaikan tujuan kami datang dan bersilaturahmi dengan mereka. Alhamdulillah, meskipun pada awalnya mereka tertutup dan seperti berhati-hati untuk berbagi informasi, akhirnya diskusi santai bisa melebur kami menjadi keluarga. Hari itu kami merasakan rasa kekeluargaan itu ada. Dekat dan tak berjarak anatara satu sama lain. Mereka adalah bagian dari kita. Mereka juga penduduk Indonesia, jadi mereka juga layak untuk mendapat pelunasan dari sebuah janji kemerdekaan.

Diskusi terus berlanjut, mulai dari cerita serajah Suku Anak Dalam, kebiasaan masyarakat, kegiatan sehar- hari dan tentang pendidikan. Ada moment yang membuat kami terkejut saat diskusi sedang berlansung. Tiba-tiba salah seorang anak dari suku mereka “namanya Naira” membaca poster yang kami bawa. Dengan mengeja dia membaca poster yang sudah kami siapkan sebelumnya dengan pelan dan terbata-bata tapi jelas sekali terdengar. Dia berkata “ka..mi aanaak Indooneesiiaa dan kaammii baangga meenjaaddiii aanaak Indonesia”.

SAD1

Wajar saja Naira bisa membaca tulisan di poster tesebut karena hari ini Naira sudah bersekolah di sekolah dasar (SD) Sungai Kopi dan masih duduk kelas lima. Selain Naira ada juga seorang anak laki-laki dari suku mereka yang duduk di kelas lima SD. Dia begitu antusias ketika kami mengeluarkan buku satu lusin dan mengambilnya seperti tak sabar untuk segera menulis. Sungguh moment yang luar biasa, anak-anak Suku Anak Dalam mempunyai semangat yang tinggi untuk belajar. Meskipun berada di pedalaman mereka adalah masa depan bangsa Indonesia.

Tapi sayang menurut informasi dari kepala keluarga Suku Anak Dalam, sebagian besar dari mereka hanya mampu mengenyam pendidikan sampai kelas enam SD. Sehingga di keluarga Suku Anak Dalam tersebut belum ada yang lebih dari kelas 6 SD. Masalahnya klasik yaitu tidak adanya dana yang memadai untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Kondisi ini sedikit memprihatikan dan ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mampu membantu mensukseskan program pemerintah tentang wajib belajar 9 tahun. sekaligus kita juga harus mendorong suksesnya distribusi pendidikan secara merata di seluruh Indonesia agar suatu hari nanti kita akan melihat Naira yang hari ini duduk di bangku kelas 5 SD bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi lagi, tidak berhenti sampai di SD saja. Suatu hari nanti Naira akan kembali ke daerahnya dengan pola pikir baru, dan diharapkan bisa menginspirasi saudara-saudarnya serta menciptakan multiplier effect postif bagi anak-anak di Suku Anak Dalam untuk terus belajar yang pada akhirnya bisa menjadi agen of change di keluarga besar mereka. Aamiin.

Salam bahagia dari saudara kita di pedalaman kota Jambi.

SAD SAD0

SAD8 SAD9

SAD6SAD7

SAD3SAD5

Note : There will always be fear when facing new things, but unless we try, we never know how rewarding the experience can be (unknown)

Sungai Kopi Rantau Kloyang, Muara Bungo – December 2, 2012.

2 thoughts on “Mereka Berhak atas Pendidikan

  1. Alhamdulillaah, memang masih banyak anak muda yg berpikiran positif dan mau turun tangan spt anda Budi Setiawan. Saya bersyukur dan bangga,semoga terus dan selalu menginspirasi. Salam hangat dri Pekanbaru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s