Kami Butuh Energi Optimis

Indonesia should be able to take off properly

Bunaken, fot you Indonesia

Akhir-akhir ini kita sering mendengar dan melihat di beberapa media yang memberitakan tentang kasus dugaan korupsi salah satu pejabat polri, nikah sirih salah satu pejabat daerah, kongkalikong antara anggota dewan dan pejabat BUMN atau berita-berita negatif lainnya seperti kasus proyek hambalang dan kasus bailout bank century yang tak kunjung rampung serta kisruh pengelolaan sepakbola nasional yang belum juga menemukan solusi. Sepertinya negeri kita ini sangat penuh dengan masalah dan praktisi media kesulitan mencari sumber berita yang bisa melahirkan rasa optimis. Apakah kita sudah kehabisan berita baik di negara ini? atau memang kita tidak mau membagi kebaikan itu?

Melihat fenomena media saat ini kami menjadi khawatir. Pilihan-pilhan berita negarif yang lebih dominan akan menciptakan rasa pesimis bagi generasi muda saat ini. Tentunya kita tidak mau melahirkan atau mewarisi pemimpin yang pesimis di masa depan. Kritis terhadap sesuatu itu wajar selama sifatnya kontrukstif dan untuk kepentingan rakyat.

Saya rasa kita harus mulai belajar untuk menghilangkan atau paling tidak mengurangi pemberitaan-pemberitaan negatif yang menciptakan rasa pesimis. Sudah terlalu kenyang kami dengan semua itu dan sudah seharusnya kita memikirkan untuk persiapan-persiapan agar kita bisa lepas landas sebagai suatu negara yang lebih besar.

Agar bisa lepas landas dengan baik tentunya kita memerlukan landasan yang kuat. Sebenarnya negara kita sudah memiliki modal untuk membuat suatu landasan yang kuat saat ini. Jika kita lihat dari beberapa aspek, Indonesia merupakan negara dengan penduduk nomor empat terbesar di dunia dimana kita juga mendapat bonus demograpi dengan usia produktif di bawah 29 tahun sebanyak 50 persen, negara demokrasi nomor tiga terbesar di dunia, menjadi satu-satunya negara di asia tenggara yang menjadi anggota G20 dimana saat ini negara kita tercinta Indonesia berada di peringkat 16 ekonomi dunia, ratio debt to gross domestic product (GDP) hanya 20-an persen, jauh di bawah Malaysia yang 50-an persen dan Amerika serta beberapa negara di Eropa yang ratio hutangnya hampir atau lebih dari 100 persen. Indonesia juga menjadi pilar pertumbuhan di Asia bersama China dan India. Dengan postur atau kondisi seperti di atas dan dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi yang positif beberapa tahun terakhir. Banyak lembaga peneliti internasional meramalkan Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi nomor 7 terbesar di dunia pada tahun 2030. Mengalahkan beberapa negara-negara yang pernah menjajah kita seperti Belanda dan Portugis. Hari ini banyak media internasional menganggap Indonesia akan menjadi negara hebat di dunia tetapi kenapa rasa optimisme harus datang dari orang lain bukan dari anak bangsa Indonesia!

Kita sudah punya modal bagus untuk lepas landas untuk menjadi negara maju seperti yang diprediksi oleh banyak lembaga peneliti internasional. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak optimis dengan Indonesia di masa depan. Tapi rasa optimis itu harus dibarengi dengan persiapan-persiapan dan tentunya didukung oleh semua pihak.

Kita harus bahu membahu untuk memdukung Indonesia menjadi lebih baik lagi di masa mendatang. Dan persiapan kita untuk menghadapi masa indah itu tentunya akan melewati beberapa tantangan dan ujian. Sudah menjadi hal yang wajar dalam hidup, untuk bisa naik kelas ke tingkat yang lebih tinggi kita harus melewati suatu ujian terlebih dahulu. Menurut kami ujian pertama bagi bangsa kita akan datang dalam waktu yang relatif singkat, tidak lebih dari 3 tahun dari hari ini yaitu Indonesia akan menjadi bagian dari Asean Free Trade Area (AFTA) pada tahun 2015. Tentunya kita harus mempersiapkan segala sesuatunya termasuk sumber daya manusia agar kita bisa mengambil peran besar di tahun 2015 nanti, bukan hanya menjadi penonton di negeri kita sendiri.

Bisa kita lihat hari ini, di level korporasi ujian sudah mulai terjadi. Kita telah melihat banyak perusahaan asing yang ada di Indonesia. Sebut saja perusahaan pengisian bahan bakar seperti Shell dan Petronas yang sudah banyak menyebar di beberapa kota tapi besyukur perusahaan minyak kita yaitu Pertamina mampu bersaing. Hari ini kita juga sering dapati produk-produk import dari negara lain seperti China, Taiwan, dan negara-negara lain yang jika tidak diantisipasi dengan baik bisa menggangu bahkan membunuh home industri anak negeri.

Lalu bagaimana jika kompetisi ini sampai ke level individu? Apakah kita sudah siap bersaing dengan tenaga kerja dari luar negeri?

Memang banyak persiapan-persiapan yang harus kita lakukan untuk menjadi negara maju di kemudian hari. Tapi sesuatu yang besar itu hari dimulai dari langkah kecil. Salah satunya adalah kita harus menyemai benih dan menyebar bibit optimisme kepada generasi muda saat ini melalui pemberitaan-pemberitaan yang menginspirasi bukan yang melahirkan demotivasi.

At the end, bagaimana kita bisa melahirkan generasi muda yang bangga berbangsa jika bibit yang kita tanam dan energi yang kita bagikan adalah negatif. Bukannya modal awal untuk menjadi besar adalah kita harus yakin dengan kemampuan pribadi, kemampuan bangsa dan negara serta menjadikan segala sesuatu yang telah dianugerahkan Tuhan sebagai modal untuk menggapai masa depan Indonesia yang lebih baik.

We hope Indonesia can get a smooth take off not too long from now, Aamiin.

Muara Bungo; December 6, 2012.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s