Dialog Masa Tua

Dialog masa tua

Dialog masa tua

Sebagian dari kita seringkali disibukkan dengan urusan pekerjaan yang sangat menyita waktu. Tak jarang yang menjadi prioritas utama begitu tiba di rumah atau kost adalah langsung bersiap-siap untuk beristirahat tanpa sempat melakukan evaluasi atas apa yang telah kita lakukan hari itu. Karena memang kita harus mempersiapkan stamina yang cukup untuk bekerja di esok hari. Hidup sepertinya hanya diisi oleh kerja dan istirahat. Saya sempat terfikir apakah kita rela terjebak pada kondisi ini dalam waktu lama. Jika iya, apakah kita tidak lebih dari sekedar money making machine yang seringkali menanggalkan sisi-sisi humanisme, padahal kita adalah bagian nyata dari kelompok manusia itu sendiri.

Bukankah waktu telah mengajarkan banyak makna hidup kepada kita. Seringkali kita baru menyesal atau berharap akan diberikan second chance agar bisa melakukan tugas itu dengan lebih baik. Tapi sayangnya kesempatan kedua tidak selalu ada. Apakah kita pernah berfikir atau paling tidak terlintas dalam pikiran kita bahwa kehidupan juga akan bertanya pada kita suatu hari nanti. Dan pertanyaan ini kemungkinan besar akan terjadi. Pertanyaan yang sering ditanyakan oleh sebagian besar orang tua yang seringkali mendapati ketidakpuasan atas jawaban tersebut alhasil hanya melahirkan penyesalan tak berarti di masa tua. Kita tidak akan kehilangan narasumber untuk pertanyaan ini karena narasumbernya adalah diri kita sendiri.

Hari itu akan datang, hari dimana kita harus berdialog dengan diri kita sendiri tentang apa yang sudah kita lakukan sejak lahir hingga kita setua ini. Dan ketika jawabanya bahwa kita hanya semata-mata mengumpulkan harta untuk kepentingan pribadi dan keluarga kemungkinan kita akan kecewa.

Saya belum pernah tua tapi saya sering membaca kisah hidup para tokoh dan seringkali mereka dihadapkan pada pertanyaan tersebut di masa tua mereka. Malam ini saya mencoba untuk menuakan diri. Saya membayangkan rambut memutih, kulit semakin tipis, mata harus ditemani lensa tebal untuk membaca, sesekali diselingi batuk akibat lalai menjaga kesehatan di masa muda. Bayangan menjadi tua terhenti ketika saya dihadapkan pada satu pertanyaan yang sama yaitu kebaikan apa yang sudah engkau perbuat sejak lahir hingga hari ini?

Mendengar petanyaan itu, saya menajdi takut karena memang belum ada kontribusi positif yang saya berikan untuk masyarakat apalagi negara. Mendadak saya ingin kembali ke masa muda secepat mungkin, sembari berdo’a agar Tuhan memberikan kesempatan kedua. Menua tanpa pernah berkontribusi bagi masyarakan kemungkinan akan menyisahkan penyesalan. Semoga kita bisa belajar dari dialog masa tua ini. Aamiin.

Muara Bungo: Desember 8, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s