Bapak Boediono

Akan kuberi tahu kalian suatu rahasia. Ahli-ahli ekonomi sering dipandang orang yang berfikiran segersang debu dan menjemukan. Anggapan itu keliru, sebab yang benar adalah sebaliknya (Paul Samuelson)

Tindakan korektif yang terlambat jauh lebih mahal daripada tindakan antisipatif yang diambil sejak dini (Boediono)

201209270801nD6Sj--113277_world-economic-forum-20_663_382

(Gambar diambil dari merauke.go.id)

Kemarin sore salah satu media elektronik menyiarkan berita tentang aksi demontrasi yang dilakukan oleh sabagian masyarakat ke kediaman rumah dinas wakil presiden, Bapak Boediono. Demonstran menganggap seharunya mantan gebernur BI itu ditangkap karena harus mempertanggungjawabkan keputusannya atas bailout Bank Century sebesar Rp. 6,7 trilliun. Berita bailout menjadi semakin hangat karena sepertinya beberapa tokoh yang diindikasikan menjadi tersangka belum juga tertangkap. Bahkan beberapa tokoh yang dinilai terlibat justru mendapat jabatan atau amanah yang lebih tinggi, baik di dalam maupun luar negeri. Hal ini semakin menggelisahkan beberapa pihak yang kontra dengan bailout Bank yang kini berubah nama manjadi Bank Mutiara tersebut. Apalagi masa panja Century di DPR akan berakhir desember 2012.

Aksi turun ke jalan, menyampaikan pendapat di depan umum atau demontrasi adalah konsekuensi logis dari suatu sistem pemerintahan yang demokratis. Demontrasi itu wajar dan perlu jika kritik atau saran yang ingin disampaikan kepada para pembuat kebijakan dengan tujuan untuk kesejahteraan rakyat. Tapi aksi demontrasi yang dilandasi ketidaktahuan atau minim informasi tentang apa yang ingin kita suarakan ditambah menggangu ketertiban umum dan melakukan pengrusakan, hanya akan merugikan diri sendiri dan negara. Demontrasi dalam demokrasi boleh tapi jadilah penganut demokrasi yang cerdas demi kepentingan bangsa.

Melihat Bailout Bank Century secara Objektif

Belajar dari sejarah mengcekam krisis 1998 tentunnya kita berharap keadaan itu akan terulang lagi selamanya. Begitu besar harga yang harus dibayar untuk memperbaikinya. Harusnya kita sadar dan bisa mengambil hikmah untuk melakukan pencegahan agar krisis tersebut tidak terulang kembali. Pelajaran tentang krisis itu diujikan di tahun 2008 lalu tatkala Amerika mengalami krisis yang diikuti beberapa krisis di negara lain yang menyebabkan beberapa negara mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi bahkan ada yang negatif. Tapi di tengah badai tersebut ekonomi Indonesia bisa tumbuh 4,5 persen. Suatu pencapaian yang layak diberi apresiasi.

Kembali ke Century. Tanggal 21 November 2008 terjadi pengambilalihan Bank Century oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) semakin memperjelas berhentinya fungsi manajemen lama dan pemegang saham bank tersebut. Secara otomatis pemegang saham publik Bank Century sudah tidak ada lagi lantaran equity-nya bernilai negatif dan capital adequacy ratio (CAR) mencapai minus 3,5%. Jika saja tahun itu dunia tidak sedang dilanda krisis mungkin penutupan Bank Century akan lebih mudah dilakukan tetapi dalam kondisi panik akibat krisis global, salah sedikit saja dalam mengambil keputusan bisa menstimulasi terjadi penurunan tingkat kepercayaan masyarakat yang berdampak sistemik.

Angka Rp. 6,7 triliun untuk bailout Bank Century masih menuai kontroversi hingga hari ini. Meskipun pemerintah waktu itu berkeyakinan bahwa angka itu lebih murah dibandingkan jika kehilangan kepercayaan masyarakat terhadap suatu bank yang bisa menimbulkan dampak sistemik. Setidaknya ada tiga alasan mengapa pemerintah tidak menutup Bank Century.
Pertama, terjadi penurunan kepercayaan nasabah. Penutupan Bank Century yang memiliki 65.000 nasabah ditakutkan akan memicu kepanikan masyarakat (Rush). Kedua, Bank Indonesia (BI) menyatakan penutupan Bank Century akan berdampak terhadap pasar keuangan karena keadaan ekonomi masih labil. Ketiga, BI juga menyatakan penutupan Bank Century bisa mengancam sistem pembayaran.

Tiga alasan pemerintah itu cukup masuk akal, apalagi jika kita berkaca pada krisis 1998 ketika rush terjadi dimana-mana. Kepercayaan hampir benar-benar menghilang, puluhan bank dilikuidasi dan pemerintah harus mengeluarkan Bantuan Langsung Bank Indonesia (BLBI) senilai ratusan triliun yang hingga saat ini masih bermasalah dan belum ada jalan keluarnya.

Mengenai aksi demo di depan rumah wakil presiden, itu hal yang wajar terjadi. Mungkin apa yang menjadi ekspektasi masyarakat belum sepenuhnya bisa diberikan oleh pemerintah saat ini. Melayani hampir 245 juta penduduk Indonesia dengan harapan, keinginan dan kebutuhan yang berbeda-beda bukan suatu perkara mudah. Kekecewaan beberapa pihak atas pengambilan suatu keputusan itu lumrah terjadi. Tidak hanya di negara kita, tapi hampir di sebagian besar negara demokratis.

Terlepas dari itu semua saya pribadi berterima kasih atas apa yang sudah dilakukan pemerintah. Para pengambil kebijakan mampu membuat ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata 6 persen dalam kurun waktu tiga tahun terakhir di tengah badai kriris dan bayangan resesi di beberapa negara. Intervensi mem-bailout itu dilakukan dalam waktu dan kondisi yang tepat. Bukannya krisis subprime mortgage di AS, juga mengajarkan kepada kita bahwa sektor finansial yang kurang disentuh regulasi juga berpotensi menyebabkan kerusakan finansial.

Terlepas dari kasus Century, Saya ingin menyampaian pemikiran Bapak Boediono tentang arah dan tujuan ekonomi Indonesia di masa depan. Dalam bukunya “Ekonomi Indonesia, Mau ke Mana?”. Pak Boed menjelaskan bahwa akhir dari kebijakan ekonomi adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat. Bagi masyarakat awam, kesejahteraan bukan konsep abstrak melainkan kondisi nyata yang langsung menyangkut kehidupannya sehari-hari. Apabila diperas, kesejahteraan yang mereka tuntut ditentukan oleh terciptanya dua kondisi medasar. Pertama, mereka menginginkan agar kebutuhan hidup tetap stabil, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan. Kedua, mereka menginginkan adanya penghasilan yang bisa diandalkan untuk menghidupi keluarganya secara layak dan berharap penghasilan itu meningkat dari waktu ke waktu. Tugas negara adalah mewujudkan tuntutan dasar ini mejadi kenyataan, secepatnya. Itu pemikiran Bapak Boediono.

Ekonomi Kerakyatan

Sudah menjadi konsekuensi logis bahwa akan selalu ada demontrasi di tengah pemerintahan yang demokratis. Akan selalu ada terpaan angin bagi pohon yang tinggi. Tapi bukankah kita menjadi besar setelah melewati tantangan.

Tetap fokus Pak Boediono, wujudkan mimpimu untuk mempercepatan tercapainya kesejahteraan masyarakat Indonesia. Meskipun badai dan halangan terus menghalang karena sejatinya kebahagiaan akan redup dan kesedihan akan hilang, yang ada tinggal urusan kita dengan Tuhan. Hari ini kita tetap fokus untuk pro rakyat, pro growth, dan pro jobs.

Muara Bungo: December 9, 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s