Jangan Menunggu Kaya untuk Berinvestasi

Mari berinvestasi..

IHSG

(sumber gambar dari rudiyanto.blog.kontan.co.id)

Menghabiskan waktu libur pergantian tahun selama 3 hari di kost ternyata memberikan beberapa informasi. Informasi itu banyak di dapat dari buku, jurnal dan majalah yang berserak di kamar seluas 4 x 6 meter ini. Mulai bacaan ringan, sedang, hingga yang lumayan berat.
Mengawali tahun 2013 bacaan yang menarik minat saya adalah tentang investasi. Untungnya saya merasa tidak kekurangan sumber untuk informasi yang satu ini. Majalah Fortune dan Investor menjadi referensi yang cukup menarik untuk mendorong pengambilan keputusan sebelum melakukan aksi jual atau beli. Jika belum puas dengan semua itu, terpaksa harus mencari secara online sebagai pelengkap informasi tersebut.
Saya pribadi menilai investasi ini menjadi suatu yang sangat penting untuk mempersiapkan kebutuhan finansial kita dan keluarga di masa mendatang di tengah gejolak dan ketidakpastian kondisi keuangan global saat ini. Oleh karena investasi ini sangat penting maka harus kita rencanakan sedini mungkin dan tidak perlu menuggu kaya agar bisa berinvestasi.
Sebagai contoh bulan Desember 2012 lalu, saya membeli sebuah produk investasi yaitu reksadana saham dari salah satu manajer investasi dengan minimum pembelian senilai Rp.250.00,-. Angka yang relatif terjangkau oleh sebagaian besar kalangan masyarakat Indonesia. Bahkan dengan nilai seperti itu, pelajar sudah bisa menyisihkan uang sakunya untuk berinvestasi. Terkadang investasi ini masih terdengar mahal oleh sebagian masyarakat. Padahal jika kita ikuti perkembangannya, ternyata sudah banyak instrument investasi yang murah dan terjangkau untuk kita.
Guna melihat manfaat investasi secara real, saya mengambil contoh atas apa yang sudah dilakukan oleh Bapak Abiprayadi Riyanto yang dimuat di majalah Fortune edisi Juli 2011. Presiden Direktur PT Mandiri Manajemen Investasi ini mulai membeli reksadana saham pada tahun 1996. Kala itu, Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit penyertaannya Rp.1.000,-. Per Juni 2011, NAB-nya ada yang sudah mencapai Rp.19.000,- dan Rp.20.000,- dan Rp.23.000,- per unit penyertaannya. Artinya imbal hasilnya sudah menembus kisaran 2.000 persen. Padahal semua itu setidaknya melalui dua kali krisis ekonomi.
Saat krisis ekonomi 1997/1998 terjadi, NAB per unit anjlok, dari Rp.1.000,- menjadi Rp.600,-. Tapi beliau tidak menggubrisnya karena tujuan investasinya adalah jangka panjang. Sebutlah nilai investasi beliau waktu itu sekitar Rp.100 juta. Maka, dengan peningkatan sebesar 2.000 persen nilai investasinya menjadi sekitar Rp.2 Milyar.
Ayo tunggu apalagi mari kita berinvestasi sejak dini. Jadikan tahun 2013 sebagai tahun untuk memulai investasi. Tidak perlu menuggu kaya untuk memulainya. Mulai dari nilai secukupnya, sembari kita pelajari proses dan prospeknya lebih detail. Apalagi potrait ekonomi negara kita dari beberapa aspek seperti petumbuhan ekonomi, inflasi, investasi relatif stabil dan insya Allah ini akan memberikan support positif terhadap invesati kita di kemudian hari.
Pada prinsipnya, dalam jangka pendek dunia boleh saja mengalami gejolak ekonomi tapi sejarah membuktikan bahwa long term investment once again is a winning strategy.

Muara Bungo: Januari 1, 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s