Connecting the Dots: Anak Kost, Toiletries, dan Buku Kompas 100

Inspirasi dari Toiletries

Toiletries

Cerita ini bermula dari toiletries milik teman-teman kost yang tersusun di bawah meja dekat kamar mandi. Produk-produk pelengkap mandi itu begitu mudah terlihat karena kamar mandi di tempat kost terpisah dari kamar utama. Apa yang saya lihat hampir setiap pagi itu kemudian mengantarkan pikiran pada satu buku yaitu Kompas 100. Buku yang didapat dengan penuh perjuangan. Saya masih ingat waktu itu tahun 2009, saat masih menjadi peserta training di salah satu perusahaan swasta nasional di Jakarta. Saya berjuang untuk mendapatkan buku kompas 100 dari satu toko buku ke toko buku lainya di Jakarta. Sejak membaca ulasan buku itu saya merasa terhipnotis, dan seperti tergerak untuk segera mendapatkannya. Pencarian pertama saya lakukan di toko buku di kawasan Atrium Senen dan Mall Mangga Dua, lanjut lagi ke toko buku di Matraman dan ternyata buku itu baru saya dapatkan di toko buku di Grand Indonesia. Waktu itu hanya ingin membaca dan ternyata baru sekarang terasa manfaatnya.

Kejadian ini mirip seperti cerita Steve Jobs tentang connecting the dots.

Saat ini saya dan beberapa teman tinggal di kost. Kami berasal dari suku yang berbeda-beda. Ada teman saya namanya Edwin Poltak, anak Jakarta keturunan Medan. Adi anak asli Jakarta. Richard anak Palembang keturunan China. Bayu dari Jambi dan saya sendiri anak Palembang keturunan Jawa. Kami berasal dari suku yang berbeda tapi percaya atau tidak kami adalah pelanggan setia dari suatu product. Misalnya untuk Shampo kami menggunakan product merk C***R. Hal ini memudahkan bagi kami untuk berbagi ketika salah satu dari kami kehabisan shampo di pagi hari. Selain shampo, kami juga menggunakan product yang sama untuk sikat gigi dan pasta gigi. Lagi-lagi product tersebut diproduksi oleh satu perusahaan yang sama. Jika sebagian dari kami adalah pengguna setia dari produk tersebut, berapa besar keuntungan yang didapat oleh perusahaan yang memproduksi produk-produk tersebut?

Apa hubungannya dengan connection the dots, anak kost, toiltries, dan buku kompas 100?

Saya mencoba mengambil hikmah dari rutinitas sehari-hari. Bangun pagi lalu mandi, saat mandi saya menggunakan sikat gigi, pasta gigi, shampoo, dan sabun. Setelah itu saya menggunakan deodoran, minyak rambut, alat cukur, dan minyak wangi. Setelah saya lihat ternyata hampir 50 persen dari produk yang saya gunakan diproduksi oleh satu perusahaan. Dan ini tidak hanya terjadi pada saya sendiri, melainkan terjadi juga pada sebagian besar anak kost lain yang mempunyai latar belakang daerah yang berbeda. Jadi saya menyimpulkan bahwa produk ini sudah merakyat dan dominasinya sudah menyebar ke seantero tanah air. Pendek kata product yang diproduksi perusahaan ini laku di Indonesia.

Dari toiletries yang digunakan oleh sebagaian besar anak kost itu, saya berfikir untuk meilhat peluang lebih jauh atas apa yang bisa saya dapatkan sebagai pengguna setia produk tersebut. Berharap ada take and give dalam proses ini. Peluang benefit yang bisa saya dapatkan adalah dengan membeli saham perusahaan tersebut. Disinilah asal muasal connecting the dots antara toiletries, anak kost, dan buku kompas 100.

Benar dugaan saya, saham perusahaan itu masuk dalam salah satu bahasan Pak Hermawan Kartajaya dan Pak Taufik dalam buku mereka “Kompas 100 – Corporate Marketing Ceses”. Buku yang saya beli tahun 2009 lalu baru terasa manfaatnya sekarang. Kompas 100 sendiri lahir pada tanggal 10 Agustus 2007 dari inisiasi antara Bursa Efek Indonesia (BEI) dan harian kompas dengan meluncurkan sebuah indikator penggerak 100 harga saham terpilih yang disebut sebagai indeks kompas 100. Dalam buku tersebut saya melihat bahwa harga saham perusahan ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut saya berdasarkan historical price yang terus meningkat, realita pengguna produk di masyarakat secara massive, dan didukung dengan strategi pemasaran yang hebat, serta proyeksi dari The McKinsey Global Institute tentang jumlah consuming class Indonesia menjadi 137 juta tahun 2030. Secara historical, current condition and future opportunity, isnya Allah saya tertarik untuk memasukkan saham ini ke dalam shopping list in 2013. Aamiin.

Muara Bungo: January 23, 2013

4 thoughts on “Connecting the Dots: Anak Kost, Toiletries, dan Buku Kompas 100

  1. Ping-balik: Very Inspiring Blogger Award | Ramdan's Weblog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s