Jakarta: A Journey to Finding the Real Purpose of Life

Jakarta

World in our Hand

Sebenarnya saya di Jakarta hanya beberapa jam saja, singgah di ibu kota ini lantaran maskapai yang mengantar kami dari Jambi tidak ada yang langsung ke Surabaya melainkan harus transit di Jakarta. Saya bersama teman dari Jambi menunggu di ruang yang sudah disediakan, karena tidak mendapat tempat duduk kami berdua berdiri di etalase kaca sembari melihat pesawat hilir mudik baik yang mau landing maupun akan take off.

Selain melihat pesawat-pesawat tersebut, mobil-mobil yang mengangkut barang penumpang juga tidak luput dari penglihatan. Dan justru nama perusahaan yang tertulis jelas di setiap mobil pembawa barang itu yang menjadi diskusi saya bersama teman. PT Cardig Aero Service Tbk, sebuah perusahaan jasa angkutan industry penerbangan. Perusahaan ini juga sudah menjadi perusahaan go public yang sahamnya direkomendasikan layak dikoleksi pada tahun 2013 oleh salah satu majalah keuangan di Indonesia.

Berawal dari diskusi ringan mengenai saham yang berkode CASS itu, diskusi kami melebar kemana-mana. Termasuk obrolan ekspatriat yang berdiri di samping kami tak luput jadi bahan diskusi. Karena lokasi kami dan ekspatriat yang berdekatan, sekilas saya bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Sepertinya orang asing itu akan melanjutkan perjalanan dari Jakarta menuju Hongkong untuk membahas strategi bisnis, lalu kembali ke London minggu depannya.

Mendengar sekilas obrolan ekspatriat tersebut, saya tertarik untuk mengajuakan pertanyaan kepada teman. Sebelum mengajukan pertanyaan, saya meminta teman saya untuk melihat orang-orang yang sedang duduk di ruang tunggu bandara dengan kesibukannya masing-masing.  Pertanyaan saya adalah, apa yang menggerakkan mereka sehingga berada di sini sekarang?

Money.  Jawab teman saya dengan spontan.

Dalam sepersekian detik saya menganggukkan kepala tanda setuju dengan jawabannya. Tetapi tak lama kemudian, saya mengoreksi anggukan kepala tersebut dengan memberikan argumentasi. Mungkin sebagian besar kita disini bergerak karena uang tetapi saya yakin ada juga diantara kita disini yang bergerak untuk tujuan yang jauh lebih dari sekedar uang.

Untuk meyakinkan teman, saya memintanya untuk mengingat hirarki kebutuhan Abraham Maslow. Teman saya yang lulusan Universitas Padjajaran Bandung ini langsung paham dan mengerti maksud saya. Untuk lebih meyakinkan, dia bercerita tentang pamannya di Bandung yang rela mejual 2 dari 3 pabrik konveksinya untuk mencalonkan diri sebagai pejabat daerah. Sebelum sempat meneruskan ceritnya saya potong dengan pertanyaan. Apa motivasi paman kamu mencalonkan diri sebagai pejabat daerah?

Dia menilai, uang bukan prioritas utama pamannya karena dari segi materi beliau sudah lebih dari cukup. Mungkin beliau tergerak untuk membangun daerahnya. Jika memang itu motivasinya, Very good. Berarti pamanmu sudah naik level pada teori kebutuhan Maslow.

Pertanyaan untuk kami siang itu adalah kapan bisa naik ke level berikutnya? Sehingga bisa menjadi seperti paman kamu yang bergerak bukan karena uang, tapi tergerak untuk tujuan yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Pertanyaan yang monohok dan belum belum sempat dijawab karena awak pesawat sudah memanggil para penumpang untuk masuk ke dalam kabin.  Pertanyaan kapan bisa naik level di hirarki kebutuhan Maslow ini memenuhi pikiran saya sepanjang perjalanan. Saya hanya bisa terus berjalan sembari berusaha dan berdo’a untuk mencapai the real purpose of life. The sooner the better. Aamiin.

Soekarno Hatta – February 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s