Surabaya: A Journey of Improvement

Do Extra Miles & Can Do Mindset

journey of improvement

6 Februari 2013 pukul 12.35 WIB menjadi pengalaman baru dalam hidup, untuk pertama kalinya sejak lahir pada bulan April 1987 (25 tahun 10 bulan) atau sama dengan 9.425 hari. Saya menginjakkan kaki di kota Surabaya. Kesan pertama yang tercipta untuk kota ini setelah melalui perjalanan hampir satu jam dari bandara menuju hotel adalah kota yang asri. Banyak taman-taman hijau di sepanjang jalan kota. Sebuah lay out kota yang menurut saya layak di contoh oleh kota-kota lainnya, khusunya ibu kota.

Hari pertama di kota pahlawan ini saya lewati dengan mencicipi makan Rawon Setan. Namanya cukup menakutkan tetapi rasanya lumayan enak. Apalagi bagi teman-teman yang suka makanan dengan bahan dasar daging.

Kami yang tiba di Surabaya tanggal 6 februari mendapat bonus satu hari karena meeting baru dimulai keesokan harinya.

Tanggal 7 Februari 2013. Meeting hari pertama dilewati dengan mendengarkan pesan dari CEO, sales director, dan business unit manager mengenai pencapaian di tahun 2012 dan menjelaskan objectives yang akan dicapai di tahun 2013.

Secara pribadi, saya menilai pencapaian perusahaan dengan pertumbuhan sebesar 11,8 persen tahun 2012 cukup bagus. Penilaian ini saya sampaikan dengan menimbang kondisi ekonomi global yang masih belum stabil dan volatilitas harga komoditi di bebarapa daerah juga masih up and down yang menyebabkan daya beli masyarakat sulit diprediksi. Apalagi pertumbuhan double digit ini juga masih berada di atas pertumbuhan industry fast moving consumer goods Indonesia per kwartal 1 2012 year on year 2011 sebesar 8,4 persen (Riset Nielsen).

Tapi tetap saja, pertumbuhan 11,8 persen tersebut masih jauh di bawah target yang telah kami sepakati bersama pada meeting nasional sales convention di Jakarta awal tahun 2012 lalu yaitu komitmen tumbuh 20%. Sebenarnya pertumbuhan 20 persen juga bukanlah mimpi yang terlalu tinggi dan sulit digapai jika kita melihat potensi perkembangan ekonomi Indonesia. Lembaga peneliti internasional The McKinsey Global Institute memproyeksikan kelas menengah Indonesia akan terus tumbuh, bahkan akan mencapai 138 juta pada tahun 2030. Tentunya dengan meningkatkan kelas menangah ini, daya beli masyarakat juga akan terus meningkat. Dengan beberapa argumentasi di atas, saya memprediksi bahwa tahun 2013 ini insya Allah kami bisa tumbuh sebesar 20 persen. Guna mencapai pertumbuhan yang kami harapkan, kami perlu melakukan improvement di beberapa aspek. Oleh karena itu perjalanan ke Surabaya kali ini saya catat sebagai journey of improvement untuk mencapai pertumbuhan 20 persen tahun 2013. Aamiin.

*

8 Februari 2013. Meeting hari kedua ini ditunggu-tunggu oleh semua peserta meeting. Hari ini masing-masing business unit manager akan menjelaskan strategi marketing secara lebih detail dan dukungan apa yang akan diberikan kepada team sales guna mencapai target yang sudah disepakati. Selain itu, hari kedua ini juga akan diumumkan pemenang lomba display contest branding toko dari semua team sales se-Indonesia. Dan kami adalah salah satu kontestan yang menanti dengan perasaan harap-harap menang🙂

Setelah masing-masing business unit mempresentasikan objectives dan support yang akan diberikan pada team sales, tibalah waktunya pengumuman pemenang untuk display contest. Ada tiga kategori branding toko yang dikonteskan yaitu alternative channel, small store dan mini market. Pengumuman pemenang disampaikan oleh Patrik Stilhart selaku business unit manajer category coffee.

Pemenang display contest tahun ini adalah team dari Lampung untuk channel small store, team dari Java untuk channel mini market, dan team dari Jambi untuk channel alternative channel.

Alhamdulillah, setelah berjuang membranding warung kopi Mbak Era selama dua hari. Berkat do extra miles dan can do mind set yang kami lakukan, akhirnya kami bisa membawa pulang handphone Samsung galaxy note II. Thank You Allah SWT, thank you Nestle, and thank you my team🙂

Samsung galaxy note II

9 Februari 2013. Hari ke 4 di kota pahlawan kami diberi kesempatan berkunjung ke pabrik. Melihat proses produksi pembuatan susu di Gempol dan berkunjung ke pabrik pengolahan barang kadaluarsa. Di dua tempat berbeda ini, saya belajar tentang dua hal.

Pertama, saat berkunjung ke pabrik Gempol dan melihat proses produksi pembuatan susu yang sebagian besar dikerjakan oleh mesin. Melihat kondisi ini saya bangga sekaligus khawatir. Bangga karena teknologi sudah semakin maju lebih cepat dan khawatir dengan kemajuan teknologi akan mengurangi kebutuhan perusahaan  terhadap tenaga manusia. Kemajuan teknologi secara logika mempunyai hubungan negatif dengan penyerapan tenaga kerja. Jika kemajuan teknologi tidak diimbangi dengan kemajuan manusia, maka akan terjadi kesenjangan dalam beberapa tahun mendatang.

Kedua, kunjungan saya ke pabrik pengolahan barang kadaluarsa. Disini saya belajar tentang pentingnya value added untuk merangkak di rantai nilai. Melihat perbedaan harga antara fresh goods dan expired goods yang cukup signifikan. Harga fresh goods ukuran 20 kg dihargai Rp.1.400.000,- sedangkan expired goods dengan ukuran yang sama hanya seharga Rp.70.000,-. Barang fresh goods mempunyai nilai jual 20 kali lebih mahal daripada barang expired goods.

Jika kita labelkan manusia yang mempunyai pengetahuan dan update terhadap perubahan jaman sebagai manusia fresh dan manusia yang berhenti untuk belajar adalah manusia expired, maka sudah sewajarnya jika manusia fresh layak dihargai 20 kali lebih mahal daripada manusia expired. Jadi mau pilih mana, manusia fresh atau manusia expired? It’s just the matter of choice for living.

Marriott – Surabaya: February 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s