Ketika Anak Dalam Membahas Utang Negara

Diskusi bersama Suku Anak Dalam di Kecamatan Pasir Putih Kabupaten Muara Bungo, Jambi

SAD7

Saya terkejut dan benar-benar kagum persoalan seperti utang negara, pendidikan, dan kualitas hidup di masa depan menjadi bahan diskusi kami bersama mereka. Padahal, tempat ini berada di pedalaman kota Jambi, tepatnya di Kabupaten Muara Bungo kecamatan Rantau Kloyang desa Pasir Putih. Tak jarang, untuk bertahan hidup sebagian dari mereka masih harus berburu di hutan.

Saya ingin tahu lebih dalam, darimana mereka mendapat informasi tentang utang negara? Keyakinan bahwa pendidikan bisa meningkatkan kwalitas hidup mereka?

Jawabannyapun beragam. Ada yang menjawab dari televisi, ada yang diberi tahu anaknya setelah mendapat pelajaran di sekolah, dan ada juga yang mendapat informasi  dari koran bekas pembungkus bumbu yang mereka beli di warung.  Tapi sayangnya setiap kali mereka mengemukakan pendapatnya tentang utang negara, raut mukanya berubah. Seolah-olah pemerintah hanya bisa menambah utang dan ujung-ujungnya rakyat juga yang harus menanggung derita.

Ternyata mereka hanya tahu sepotong-sepotong tentang utang negara yaitu jumlahnya yang terus meningkat setiap tahunnya.

Saya minta seseorang untuk mengeluarkan uang ribuan, puluhan ribu, dan ratusan ribu. Kebetulan bapak yang menjadi sukarelawan itu adalah kepala suku, jadi tidak terlalu bermasalah dengan yang saya butuhkan. Saya bertanya, baik mana bapak mempunyai utang Rp.1.000 tapi kekayaan bapak Rp.10.000 atau bapak punya utang Rp.2.000 tapi kekayaan bapak Rp.100.000.

Ternyata si bapak belum bisa menjawab pertanyaan saya. Begitu juga teman-teman diskusi lain masih ragu menjawab.

Saya ganti pertanyaannya. Baik mana, bapak utang Rp.1.000 untuk membeli 1 pisau dan mendapat hasil buruan 1 ekor atau bapak pinjam uang Rp.2.000 untuk membeli 2 pisau dan bisa menghasilkan hasil buruan sebanyak 4 ekor. Serentak hampir semua menjawab berutang untuk membeli dua pisau.

Seperti itulah yang dilakukan pemerintah kita. Benar utang itu meningkat, tetapi kekayaan juga meningkat.  Bahkan jika kita bandingkan antara peningkatan utang dan peningkatan kekayaan. Kekayaan kita meningkat lebih tinggi daripada peningkatan utang. Berita inilah yang mungkin belum sampai ke masyarakat. Seringkali mereka hanya menyampaikan informasi jumlah utangnya saja tapi lupa memberikan informasi kekayaan negara.

Dari diskusi siang itu saya melihat informasi yang mereka dapatkan masih belum lengkap, mungkin terbatasnya tingkat pendidikan dan perhatian pemerintah lokal yang masih kurang menjadi penyebab utama.

Seharunya mereka juga berhak mendapat informasi lengkap tentang negaranya, mendapat pendidikan layak sebagai bentuk pelunasan janji kemerdekaan dari pemerintah, karena kita dan mereka sejatinya sama. sama-sama anak Indonesia.

Berikut beberapa dokumentasi bersama Suku Anak Dalam, Jambi yang sempat saya sharing di twitter @budirich.

SAD2 Mereka juga mikirin negara, dan Tuhan tahu itu. Apakah negara sudah memikirkan mereka? #Sukuanakdalam.

SAD8 Untuk bertahan hidup mereka masih berburu tapi untuk kehidupan mereka butuh GURU #Sukuanakdalam.

Suku Anak Dalam Sungai Kopi Mereka pintar, mereka mampu, dan mereka terbuka dengan peradaban baru. Mereka menyambut baik dan kami terharu #Sukuanakdalam.

Suku Anak Dalam - Jambi Mereka setia menjaga hutan kita agar tidak sakit. Saat diantara mereka ada yang sakit, dimana KITA? #Sukuanakdalam.

SAD6 Aku anak Jawa dan Kamu anak Dalam. Kita semua sama. Sama-sama anak Indonesia. #Sukuanakdalam.

Ditulis dengan Rasa Bangga Berbangsa.

Jambi, March 2013.

2 thoughts on “Ketika Anak Dalam Membahas Utang Negara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s