Partai Politik – Ketika Supply Gagal Menciptakan Demand

Kemarin siang, sekitar pukul 2.10 pm saya mendapat short message service (SMS) dari nomor yang tidak dikenal yang intinya mengajak untuk mencoblos salah satu pasangan calon gubernur wilayah sumatera selatan yang akan diselenggarakan pada tanggal 6 Juni 2013. Mendapat SMS seperti ini, saya teringat strategi marketing yang diterapkan oleh perusahaan tempat saya bekerja pertama kali yaitu SMS blast. SMS blast biasanya digunakan oleh perusahaan untuk mengirim pesan ke banyak nomor hanya dengan satu kali pengiriman. Saya melihat pendekatan yang dilakukan oleh partai politik sekarang ini sudah hampir menyamai media promosi yang dilakukan oleh perusahaan. Bedanya, kalau perusahaan mempromosikan barang dan jasa, partai politik mempromosikan kader-kadernya.

Bukan hanya SMS blast yang dijadikan media promosi, bahkan media elektronik, media cetak, banner, spanduk dll juga dijadikan sarana untuk memperkenalkan para kader parpol di masyarakat. Konsekuensi dari semua itu adalah ongkos politik menjadi cukup mahal.

Kita tahu di dalam laporan keuangan perusahaan, promosi dimasukkan sebagai biaya yang diharapkan bisa memberikan return setelah produk atau jasa yang dipromosikan itu terjual. Lalu, bagaimana jika yang dipromosikan itu adalah kader partai? Apakah mereka akan menerapkan sistem yang sama seperti perusahaan. Berharap mendapat return setelah kadernya terpilih di pemilihan umum?

Menurut saya, tugas partai adalah mampu mencalonkan kader terbaiknya karena rakyat tidak bisa memilih calon terbaik bagi mereka tapi rakyat hanya bisa memilih calon yang ditawarkan oleh partai politik. Jika parpol belum bisa mengirim kader terbaiknya, maka proses pemilihan umum kita belum berjalan secara optimal dan akhirnya rakyat memutuskan lebih baik tidak memilih daripada memilih calon yang tidak qualify.

Jika boleh dikaitkan fenomena pencalonan kader partai ini dengan ilmu ekonomi. Saya melihat adanya kegagalan partai politik dalam menciptakan demand untuk kader-kader yang mereka calonkan. Begitu juga dengan kader tersebut, masih ada beberapa yang belum mampu menciptakan demand untuk dirinya sendiri. Partai gagal menciptakan demand dari konstituennya, ditengah banyaknya keinginan kader yang maju sebagai calon pemimpin.

Logika ekonominya, jika supply lebih besar dari demand maka akan terjadi koreksi. Jika kelebihan supply itu dalam bentuk barang, maka harga barang itu akan menurun. Jika kelebihan supply itu dalam bentuk kader parpol, sementara mereka belum bisa menciptakan demand dari masyarakat. Maka konsekuensiny adalah makin banyaknya golput pada saat pemilihan umum.

Oleh karena itu, menurut saya parpol harus lebih selektif dalam mencari kader dan wajib memberikan kesempatan kepada kader terbaiknya untuk mencalonkan diri maju sebagai pemimpin negeri. Apapun levelnya, mulai dari bupati, walikota, gubernur, anggota dewan, hingga presiden.

Jika tidak, semakin banyaknya kader parpol yang hanya bermodal mau tapi belum mampu maju dalam pemilihan, hanya akan menciptakan kelebihan supply yang jika tidak diimbangi dengan peningkatan kwalitas kader tersebut maka akan menurunkan permintaan dari calon pemilih. Di sisi lain, jika kondisi ini terus berlanjut maka demokrasi yang kita harapkan bisa diikuti oleh seluruh rakyat Indonesia hanya menjadi mimpi karena disebabkan gagalnya parpol menciptakan demand dari masyarakat untuk kader-kader mereka.

Muara Bungo – May 16, 2013.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s