Wanna be Rich or just Look Rich

financial planning

(Sumber gambar: http://personalfinance.kontan.co.id)

Tiga hari lalu sebelum pulang berlibur ke Palembang, saya bertemu teman di Jambi, namanya Rian, usia 33 tahun, saya dan Rian bekerja di satu perusahaan yang sama. Karena masa kerja Rian yang selisih 5 tahun lebih lama dari saya, maka Rian mempunyai penghasilan lebih besar. Kalau di total tidak kurang Rp. 80 juta per tahun belum di tambah incentive per 3 bulan. Rian sudah berkeluarga dengan 2 orang anak. Menyewa rumah di kawasan elit di Jambi dan memiliki 1 mobil.  

Pada kesempatan lain di Palembang, saya bertemu dengan teman main semasa kecil. Namanya Putra, usia sekitar 30 tahun, seorang pengusaha ayam di pasar traditional dan pada saat yang sama ingin mengembangkan usaha sebagai supplier ikan. Saya tidak tahu persis berapa income dari bisnis ayam tapi saya tahu dia lagi kesulitan modal untuk usaha ikan yang baru dia geluti.  Modalnya Rp.2 juta belum tertagih sehingga dia harus mencari modal tambahan sekitar Rp.10 juta agar dia bisa menjalankan bisnisnya dengan lancar. Oya Putra masih single, belum punya mobil dan masih tinggal bersama orang tua.

Cerita lain, Saya bertemu dengan teman lama, namanya Sugi, usia 40 tahun. Bapak 2 anak ini bekerja sebagai supervisor di perusahaan swasta dengan gaji Rp.5 juta per bulan atau tak kurang dari Rp.60 juta per tahun. Dalam suatu kesempatan, kami sharing banyak hal salah satunya adalah tentang mengelola uang. Dari penghasilan yang relatif besar, Sugi belum ada persiapan dana cadangan untuk pendidikan anaknya, tapi Sugi mampu mengeluarkan dana Rp.400 ribu per bulan untuk biaya rokok. Bagi saya ini adalah sesuatu yang sulit untuk diterima.

Dari ketiga case di atas, saya mencoba belajar tentang financial life style. Cerita pertama, Rian merasa incomenya Rp. 80 juta per tahun masih kurang karena saat ini selain bekerja dia juga mempunyai usaha yang sepertinya belum berjalan sesuai dengan perencanaan, disisi lain dia harus memenuhi kebutuhan keluarga dan menggaji karyawan yang mengelola bisnisnya. Pada case 2, Putra juga sedang mengalami defisit karena dia lagi membutuhkan tambahan modal Rp.10 juta untuk mengembangkan bisnis ikan. Case ketiga,  Sugi yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun tapi belum ada dana untuk biaya pendidikan anaknya.

Menurut Ibu Prita Hapsari Ghozie dalam bukunya Make It Happen, Buku Pintar Rencana Keuangan untuk Mewujudkan Mimpi, Ibu yang berprofesi sebagai financial planner ini membagi tahapan kehidupan yang sangat berpengaruh terhadap bentuk dan manifestasi keinginan masing-masing individu, diantarnya:

Fresh start: mereka yang masih kuliah atau baru mulai bekerja. Di usia ini biasanya tanggung jawab belum besar, sehingga hasil kerja yang didapat kebanyakan dihabiskan langsung.

Young and growing: di tahap ini sebagian sudah berkeluarga, namun sebagian lagi mungkin belum. Usia bersikar 30an. Banyak hal yang sepertinya harus diwujudkan sehingga bingung menentukan prioritas.

Mature and settled: di tahap ini kebanyakan sudah memiliki pekerjaan yang mapan, anak sudah mulai dewasa, dan usia produktif sudah mulai menipis.

Golden age: harusnya ini saat menikmati semua hasil kerja keras dan investasi yang telah kita siapkan sebelumnya.

Jika dilihat sebagian besar dari mereka adalah golongan kelas menengah (middle class) dengan penghasilan di atas $3.500 per tahun tapi pada kenyataannya mereka masih cenderung kesulitan dengan kehidupan financialnya.

Berkaca dari masing-masing cerita tersebut, kesehatan financial seseorang seringkali dipengaruhi oleh life style daripada penghasilan yang didapatkan.

Saya sendiri sebenarnya pernah terjebak dengan life style “miskin”. Waktu itu yang terpikir hanya keinginan saya harus dipenuhi sebagai hadiah atau penawar stress dari kerja keras yang  sudah saya lakukan. Selain untuk biaya hidup sehari-hari, uang banyak saya alokasikan untuk traveling. Sampai suatu hari, saya resign dari perusahaan dengan masa kerja hampir 1 tahun 8 bulan dan income rata-rata per tahun Rp.50 juta tapi pada kenyataannya saya tidak mempunyai uang simpanan sedikit pun setelah berhenti bekerja, yang ada hanya foto-foto saya di beberapa tempat yang sudah saya kunjungi.

Belajar dari kesalahan masa lalu dan membaca beberapa buku perencanaan keuangan. Alhamdulillah sekarang sudah mulai sadar untuk melakukan alokasi penghasilan. Dahulu saya hanya tahu konsumsi dan traveling tapi sekarang sudah bisa menambah satu variabel lagi yaitu investasi. Jadi komposisi alokasi penghasilan adalah konsumsi, traveling, dan investasi.

Awalnya memang sulit untuk merubah life style “miskin” yang sudah terbentuk selama hampir 2 tahun. Sampai saat inipun godaan untuk menghabiskan seluruh salary yang diterima masih sering datang. Bahkan pada suatu waktu, saya pernah menghitung barang-barang yang sudah saya beli tapi belum sempat dipakai. Hal itu saya lakukan untuk “menertawakan diri sendiri” atas keputusan bodoh yang saya lakukan.

Tapi alhamdulillah cara itu lumayan ampuh untuk mengerem pengeluaran yang tidak mendesak. Ditambah lagi dengan rencana keuangan tertulis tentang tujuan-tujuan jangka pendek, menengah dan panjang yang ingin saya capai.

Jadi tidak ada kata terlambat untuk merubah financial life style kita. Berikutnya, kita harus mengerti kebutuhan kita sebenarnya yaitu not to look rich but to be rich. And be brave to make it happen!

Sebagai kelas menengah harusnya kita mulai bijak dalam mengatur pendapatan, tidak ada kata terlambat untuk memulai, yang ada lebih cepat lebih baik. Salam kelas menengah yang lebih baik.

Palembang June 8, 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s