Get Permission to Fail

Dalam kehidupan ini, kita seringkali melihat atau dihadapkan pada perubahan. Dari awal kita lahir, menjadi anak-anak lantas tumbuh dewasa adalah suatu bentuk perubahan. Perubahan tidak hanya terjadi pada level individu tapi perubahan juga terjadi pada sebagian besar dimensi kehidupan. Meskipun penting, perubahan tidak selalu bisa diterima oleh semua orang karena perubahan cenderung mengajak ataupun memaksa kita untuk keluar dari kebiasaan dan zona nyaman. Tentunya hal ini akan menciptakan risiko-risiko yang harus bisa kita antisipasi dan mitigasi. Ya, perubahan seringkali melahirkan opsi ketidakpastian.

Mungkin kita pernah melihat ada rekan kerja yang diberhentikan. Pemutusan hubungan kerja tidak selalu dilandasi karena karyawan tersebut melakukan kesalahan atau kecurangan dalam bekerja tapi bisa saja mereka diberhentikan karena kapabilitas yang dimiliki tidak lagi menjadi kapasitas kunci yang diperlukan oleh perusahaan. Dengan kata lain, keahlian yang dimiliki sudah tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh perusahaan.

Dewasa ini sepertinya kita harus bisa mengantisapasi kemungkinan terburuk atas setiap tindakan yang kita pilih atau paling tidak we must get permission to fail.  Bapak Darwin Silalahi dalam bukunya Life Story not Job Title menyebutkan kita takut atau tidak bisa menerima kemungkinan mengalami kegagalan. Berbagai alasan yang baik kenapa kegagalan bukan pilihan sudah sering kita dengar, seperti saya punya anak yang harus diberi makan atau saya tidak ingin orang tua saya kecewa. Dengan mendapat izin untuk gagal paling tidak kita bisa berdamai dengan diri sendiri jika kegagalan datang menghampiri atau dengan cara itu kita juga bisa meningkatkan toleransi pada skanario terburuk.

Selain itu kita juga harus mulai belajar untuk membangun personal resilience yang mulai jarang terlihat belakangan ini. Menurut Diane Coutu di jurnal Harvard Business Review berjudul How Resilience Works yang saya kutip dari Buku Pak Darwin Silalahi menyebutkan bahwa orang-orang yang memiliki personal resilience dapat bangkit kembali dan menjaga persepsi kesejahteraan meski mengalami kesulitas, kehilangan, atau kekacauan.

Setelah meneliti berbagai teori, Diane Coutu menyimpulkan bahwa individu yang berdaya tahan memiliki tiga sikap unik, yaitu bisa menerima realitas secara tegar, rasa hidup penuh makna, dan kemampuan luar biasa untuk berimprovisasi bangkit.

Hidup di dunia yang dinamis dan penuh ketidakpastian ini kita harus mempunyai persiapan-persiapan yang perlu kita bangun sejak dini. Persiapan mental, finansial, dan juga persiapan apapun yang dirasa perlu agar kita bisa bangkit ketika kesulitan, kegagalan, dan cobaan datang menghampiri kita kapanpun. Semoga kita bisa menjadi pemuda yang memiliki personal resilience dan pandai memilih sikap untuk selalu mencari makna dalam setiap peristiwa serta mampu berimprovisasi bangkit dalam kondisi terburuk sekalipun. Aamiin.

Muara Bungo: July 12, 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s