Managing People

Obatnya hanya ada dua, Pil Pahit atau Amputasi

Tiga hari setelah perayaan hari raya idul fitri saya harus kembali ke perantauan untuk menjalankan tugas seperti biasa. Sebenarnya saya berharap setelah lebaran kali ini bisa memulai segala sesuatunya dari nol, mulai dari kertas putih kembali.

Secara individu kertas putih itu ditandai dengan acara sulaturahmi dan saling memaafkan tapi harapan saya untuk melihat perusahaan partner menjadi lebih baik sulit untuk diwujudkan. Buktinya minggu pertama masuk kerja, banyak karyawan yang belum datang, bahkan seorang manajer yang seharusnya memberi teladan baik bagi bawahannya juga melakukan hal yang sama.

Sebelumnya kita sudah pernah diskusi tentang penyakit ini bulan lalu. Kita menyimpulkan bahwa penyakit itu bersumber dari  rasa saling menghormati yang mulai hilang, dan diperparah oleh bagian gudang  yang belum bisa mandiri. Alhasil penyakit itu mulai menjalar kemana-mana. Salesman yang harusnya bisa taking order, tidak mau taking order lantaran barang yang sudah di order minggu lalu belum sempat terkirim. Padahal secara aturan barang yang dipesan sudah harus dikirim dalam waktu 1 x 24 jam. Dampaknya banyak barang kosong di toko dan divisi merchandiser yang bertugas merapikan pajangan jadi tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik. Lengkaplah sudah penderitaan perusahaan ini, makanya sebelum lebaran saya beranikan diri menyampaikan ke manajer operasional bahwa perusahaan ini sedang sakit dan harus diobati. Dengan harapan mereka mengerti dan segera mengambil sikap untuk perbaikan.

Tak ubahnya seperti manusia, perusahaan yang sakit juga harus segera diobati. Ada berbagai alternative obat yang bisa diberikan, mulai dari memberikan saran tentang cara kerja yang baik, memberikan pil pahit dalam bentuk surat peringatan, atau pilihan terakhir yaitu mengamputasi bagian-bagian yang menjadi sumber penyakit.

Sepertinya pilihan pertama belum mampu menjadi obat, dan secara professional kita akan memberikan pil pahit dalam waktu dekat. Jika sampai akhir bulan ini belum sembuh juga, maka kita akan mengambil pilihan terakhir yaitu melakukan amputasi.

Sejujurnya ini bukan hal yang mudah tapi demi suatu kepentingan perusahaan yang lebih besar dan menyelamatkan karyawan lain, maka kita harus melakukannya. Amputasi memang menyakitkan, tapi insya Allah ini akan menyembuhkan atau setidaknya penyakit itu tidak menular kemana-mana.

 

Muara Bungo: Ausust 15, 2013

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s