Anomali di Pasar Modal

Tulisan ini akan menjadi sejarah. Paling tidak menjadi kenangan sekaligus pembelajaran yang akan selalu diingat dalam beberapa tahun mendatang, dan insya Allah akan saya sharing ke anak cucu nanti. Ini cerita tentang koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga saham secara tidak wajar.

Saya memang belum sempat mengalami atau merasakan secara langsung peristiwa wordwide economic  depression yang melanda dunia di tahun 1930 – 1940an. Tapi paling tidak saya sempat melihat krisis yang terjadi di Indonesia tahun 1998 dan 2008.

Melihat pergerakan IHSG beberapa hari terakhir memang sangat mengkhawatirkan, sebagian saham yang termasuk ke dalam LQ 45 juga berguguran. IHSG yang sempat mencapai level teringgi pada 20 May 2013 di level 5.214 atau tumbuh 21 persen dibandingkan penutupan perdagangan pada akhir tahun 2012 lalu, kini harus mengalami pertumbuhan negarif. Pada penutupan perdagangan hari ini, 21 Agustus 2013 meskipun ditutup menguat 1,04 persen ke level 4.218 tetap saja IHSG masih -2 persen dibandingkan pada penutupan tahun 2012 lalu.

Abnormal

Sebagai newbie di pasar modal saya hanya tahu dua pendekatan dalam melakukan analisa harga saham yaitu fundamental dan tehnikal. Dalam banyak kesempatan saya lebih suka menggunakan analisa fundamental sebelum membeli karena ini mencerminkan kinerja emiten yang sebenarnya. Tapi sepertinya keyakinan itu mulai luntur beberapa minggu terakhir. Saya masih ingat akhir May 2013 lalu ketika membeli saham VIVA di harga Rp.500 per lembar dengan beberapa pertimbangan, antara lain: secara fundamental VIVA membukukan pertumbuhan lebih dari 50 persen pada semester 1, 2013. Waktu itu saya juga mendapat informasi dari teman yang bekerja di Trans TV bahwa taipan TV nasional sekaligus ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN), Chairul Tanjung akan membeli saham VIVA di harga Rp. 1.000,-. Alih-alih mendapat profit dari saham ini yang ada malah rugi. Pada penutupan perdagangan hari ini, saham VIVA kembali tersungkur di level Rp.134 per lembar atau turun 73 persen dibandingkan saat pembelian 3 bulan lalu.

Rasanya sangat sulit jika harus dianalisa secara rasional tentang fenomena ini, saham VIVA yang meraup pertumbuhan di atas 50 persen pada semester 2013 lalu bisa terkoreksi begitu dalam, padahal banyak emiten yang pertumbuhannya jauh di bawah itu hanya mengalami koreksi wajar. Ini yang saya sebut sebagai abnormal. Pergerakan harga sepertinya sudah tidak berhubungan dengan kinerja imiten.

Dari kejadian ini saya menyimpulkan bahwa pada periode tertentu harga saham tidak mempunyai korelasi yang kuat dengan kondisi fundamentalnya.

Muara Bungo: August 21, 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s