Dulu, Kini, dan Nanti

Dulu

Kata ‘Dulu’ dalam tulisan ini merupakan refleksi kondisi kehidupan yang Bapak alami 20 tahun lalu. Ketika saya masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar, kurang lebih berumur 7 tahun. Bapak adalah seorang pegawai negeri sipil lulusan SMA. Dulu Bapak hanya ditemani mesin ketik di kantornya. Mesin itulah yang membantu beliau menyelesaikan setiap pekerjaanya. Hari ini mesin itu sudah sulit ditemui, apalagi jika kita mencarinya di kantor-kantor swasta. Sekarang hampir setiap perusahaan sudah menggunakan komputer. Transformasi dari mesin ketik ke komputer telah banyak memberikan perubahan. Meningkatkan efektifitas dalam bekerja, dan juga memberi pelajaran bahwa alam akan meniggalkan mereka yang tidak bisa mengikuti perubahan. Kita bisa melihat berapa banyak orang yang harus kehilangan pekerjaan karena mereka tidak bisa mengikuti kemajuan zaman.

Selain itu “Dulu” kita merasa jarak antara satu negara dengan negara lain begitu jauh. Rasanya jarang kita temui orang Indonesia yang melancong ke luar negeri. Selain sarana transportasi yang terbatas, faktor lain seperti biaya, budaya, bahasa, dan cuaca juga menjadi kendala. Cerita tentang “Dulu” saya akhiri sampai disini.

Kini

Saya mengetik tulisan ini menggunakan laptop made in China, merk berasal dari Amerika, dan dipasarkan di Indonesia serta beberapa negara lain di dunia. Meskipun saya membeli Laptop ini di Roxy Mangga Dua, Jakarta. Laptop ini setidaknya melibatkan lebih dari 3 negara dalam value chain pembuatanya. Bahkan ketika saya mengoneksikan laptop ini ke jaringan internet, saya bisa meluncur kemana saja. Saya bisa melihat indahnya Bali, kokohnya tembok China, dan juga eksotisme kota Roma, Italia kurang dari satu menit. Ketika saya mencoba masuk ke Kampus Harvard Amerika untuk membaca jurnal yang ada di sana, tiba-tiba saya membayangkan keterbatasan kemampuan mencari pengetahuan yang dihadapi Bapak dulu. Saat mimpinya sirna karena beliau harus membagi sebagian gajinya untuk menghidupi keluarga besarnya.

Saya heran dan juga kagum. Di tengah keterbatasan mendapatkan pengetahuan yang dihadapinya, ditambah lagi kondisi ekonomi yang terbatas. Beliau mampu menciptakan mimpi untuk mengantarkan semua anaknya hingga ke bangku kuliah. Padahal saya ingat sekali momen itu, dengan suara pelan, Bapak menceritakan mimpinya gagal untuk bisa melanjutkan kuliah.

Hari ini Bapak bisa tersenyum karena 4 dari 5 anaknya sudah di wisuda dan 3 dari 4 anaknya yang sudah di wisuda telah bekerja. Kakak saya menjadi PNS di Gorontalo, Sulawesi. Saya bekerja di perusahaan swasta di Jambi, dan adik saya bekerja di Palembang. Meskipun kami dipisahkan oleh jarak ribuan kilometer tapi kami bisa berbicara kapanpun kami mau karena “Kini” sudah ada hand phone. Bahkan kalau kami ingin berkmunikasi sambil melihat kondisi satu sama lain, kami bisa ngobrol menggunakan skype. Kalau rasa kangen itu sudah tidak tertahan, kamipun bisa bertemu kapan saja karena “Kini” sudah ada pesawat yang bisa membawa kami kemana saja dengan biaya murah.

Kini, dunia sudah berkembang sedemikian pesatnya. Kishore Mahbubani menjelaskan dalam artikelnya yang berjudul, The New Global Ethic bahwa manusia tidak lagi hidup di 193 (negara) kapal-kapal yang berbeda yang berlayar di samudra. Melainkan kita hidup dalam 1 kapal dengan 193 kabin yang berlayar di samudra. Dunia sudah menjadi satu (Convergence). Setiap kabin di dalam kapal bisa mempengaruhi kabin lainnya. Sebagai contoh ketika terjadi krisis 1998 di Asia Tenggara dan kirisis 2008 di Amerika memberi dampak bagi negara lain di dunia.

Saya hanya ingin menegaskan bahwa “Kini” dunia sudah menjadi satu. Bumi seluas lebih dari 500 juta km persegi hampir menjadi borderless. Internet seperti mampu menciptakan mesin waktu. Detik ini, jika mau kita bisa mencari informasi apapun di dunia dalam hitungan detik.

Nanti

Jika “Dulu” manusia dihadapkan pada banyak keterbatasan dan “Kini” menurut Kishore Mahbubani manusia hidup dalam 1 kapal dengan 193 kabin yang berlayar di samudra. “Nanti” tidak lama lagi, sekitar 3 tahun lagi manusia khusunya yang ada di Asia Tenggara akan berada dalam 1 kabin yang sama dalam naungan AFTA (Asean Free Trade Area). Mungkin nanti lambat laun kita akan terbiasa menyebut diri kita bukan hanya anak Indonesia tapi kita adalah anak Asia Tenggara, anak Asia, atau bahkan menjadi anak Dunia. Disini tantangannya. Kita akan bersaing tidak hanya sesama anak Indonesia tapi kita akan bersaing dengan anak-anak dari seluruh dunia.

Jika dulu, penjajahan itu dilakukan lewat peperangan tapi kini dan nanti penjajahan itu akan ditentukan dari apakah Indonesia menjadi negara produsen atau konsumen. Manjadi pemain besar di pasar global yang mempunyai nilai tambah dan daya saing atau hanya menjadi market bagi negara lain.

So let’s speed up, there is no much time. Prepare our self and we should becoming a big player in a global worlds. Kita harus menjadi nahkoda kapal dengan 193 kabin (negara) untuk mengarungi samudra ini.

Muara Bungo: October 23, 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s