Test

Fenomena dimana takut mengambil keputusan menjadi bencana yang paling nyata.

Hari ini saya dan beberapa teman yang akan melanjutkan kuliah diharuskan untuk mengikuti ujian tahap dua –test potensi academic (TPA)- di lantai 3 gedung Megister Management Universitas Sriwijaya Palembang. Kami harus menyelesaikan 250 soal yang terbagi ke dalam 3 bagian dalam waktu 3 jam. Kalau melihat waktu yang diberikan -3 jam- bukanlah waktu yang pendek, bahkan tidur 3 jam rasanya cukup untuk mengobati rasa lelah setelah seharian bekerja. Tapi jika kita diharuskan untuk menjawab 250 soal yang “rumit”, maka 3 jam bukanlah waktu yang lama.

Setelah mengikitu test tadi pagi, saya menilai bahwa test ini tidak semata-mata untuk melihat potensi akademik dari peserta tapi juga untuk melihat proses problem solver dan daya tahan tubuh🙂 Menurut saya, keterbatasan waktu menjadikan soal yang benar-benar bisa dibaca tidak lebih dari setengah dari total 250 soal. Artinya 125 soal saya jawab dengan menebak. Menggunakan insting dan beberara pendekatan yang kebenarannya tidak saya yakini –A atau B, sampai E-.

Lokasi duduk antara satu peserta dan peserta test lainnya tidak berjauhan, berjarak sekitar 1 meter. Jadi secara samar-samar kami bisa melihat bentuk abstrak dari lingkaran kecil yang kami buat sebanyak 250 titik. Saya sulit menyimpulkan bentuk titik-titik dari seorang peserta test yang duduk di samping kiri depan saya, terlihat seperti transpesium yang berkaki panjang. Kaki panjang itu mungkin saja terbentuk karena peserta itu memutuskan pilihan jawaban pada satu huruf –katakanlah B-. Mungkin dia terpaksa melingkari semua jawaban dengan huruf B karena waktu yang diberikan tidak cukup untuk membaca semua soal. Waktu itu, Menebak jawaban adalah pilihan terbaik daripada tidak menjawab karena tidak ada pengurangan point dari jawaban yang salah. Disini saya menemui fenomena dimana takut mengambil keputusan menjadi bencana yang paling nyata.

Saya sendiri melakukan tebakan jawaban dengan mencoba meyakini bahwa pilihan jawaban yang paling panjang kalimatnya adalah yang paling benar. Setidaknya 125 dari 250 soal saya pilih dengan pendekatan seperti itu. Saya berasumsi bahwa semua manusia adalah pemalas, termasuk yang membuat soal test TPA ini. Karena kemalasannya, pembuat soal tidak akan memberikan alternatif jawaban dengan kalimat yang panjang, kecuali itu adalah jawaban yang benar.

Jadi ada dua bentuk pendekatan dalam menjawab soal yang pertanyaanya tidak sempat dibaca. Pertama -pendekatan probabilita- dengan memilih satu huruf sebagai jawaban dengan tingkat probabilitas 1/5 = 20 persen. Jika kita menjawab 125 soal dengan pendekatan probabilita ini, maka kemungkinan jawaban yang benar adalah 20% x 125 soal yaitu 25 soal. Kedua –pendekatan pribadi– dengan menganggap pada dasarnya semua manusia itu adalah pemalas, maka kemungkinan jawaban yang benar dengan menggunakan pendekatan ini adalah ketidakpastian.

Waktu 5 menit terakhir dari 3 jam yang diberikan saya gunakan untuk berfikir tentang apakah pendekatan yang saya gunakan itu benar atau salah. Tidak mau pusing berlarut-larut, saya tutup lembar soal setebal 25 halaman dan menyelipkan lembar jawaban di dalamnya. Mata saya berputar mengililingi ruangan dan berhenti sekian detik untuk fokus pada seorang peserta test lain yang usianya sekitar 40 tahun, sembari meyakinkan diri bahwa tidak ada pendekatan yang paling benar selain Al-qur’an dan Hadist- yang ada hanya sudut pandang dari masing-masing individu yang kita yakini kebenarannya.

Pendekatan yang benar baru bisa dibuktikan setelah hasil TPA di kirim ke alamat yang kami tulis di amplop, seminggu dari hari ini.

MM Unsri Palembang.

April 12, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s