Keep Dream Alive

I have a dream, Indonesia becoming a big player in a global world as a producer of valuable products. Not just a market. Anak muda-lah engine dari pembaruan Indonesia. Mereka yang berani berbeda, tidak ikut-ikutan, dan bertindak dengan rasionalitas yang baik (Handry Satriago dalam buku #Sharing)

Jika saja saya tidak menulis apa yang ingin dilakukan dalam hidup, mungkin saya tidak akan berani mengambil keputusan ini. Saya masih ingat raut wajah kedua orang tua, rekan kerja, bahkan atasan yang tampak bingung, heran. Seperti sulit diterima secara logika mendengar keputusan saya untuk melanjutkan kuliah. Kenyamanan bekerja di perusahaan multinasional company dengan segala fasilitas yang diberikan, membayangkan barisan orang-orang yang antri untuk bisa bergabung di dalamnya tidak menyurutkan niat saya untuk menjaga agar mimpi itu tetap hidup.

Darwin Silalahi dalam bukunya Life Story not Job Title mengatakan, kisah orang-orang dengan kesuksesan “abadi” adalah sesuatu yang pada awalnya terlihat mustahil untuk bisa dicapai. Apa yang membuat orang sukses dan tetap sukses adalah kekeraskepalaan mereka untuk tetap berada pada jalur yang sesuai dengan purpose/ dream mereka. Ketetapan hati pada purpose itulah yang paling penting. Ketika kita dihadapkan pada kondisi yang sulit, kita akan berusaha mencari makna hidup atas kejadian tersebut. Tidak ada keputusan yang lebih pribadi daripada menemukan apa yang bermakna bagi kita atau selaras dengan purpose kita.

Sulit memang untuk menjelaskan kepada setiap orang yang bertanya tentang alasan saya mengambil keputusan ini, tapi mudah-mudahan tulisan ini bisa memberi gambaran yang lebih lengkap behind the reason dari keputusan itu.

Pertama: Saya ingin mimpi yang sudah ditulis harus diperjuangkan sedini mungkin. Keluar dari zona nyaman dan mengejar mimpi yang tertunda. Salah satunya adalah melanjutkan kuliah. Menurut saya harus ada trade-off dan game changing agar mimpi itu bisa diwujudkan.

Paul Arden dalam bukunya Whatever You Think, Think the Opposite mengatakan lebih baik menyesali apa yang telah anda lakukan daripada menyesali apa yang tidak anda lakukan. Banyak orang mencapai usia 40, hanya untuk menyadari bahwa mereka telah melewati banyak hal dalam hidup. Dalam banyak kasus, mereka mengalami segala hal, kecuali ketika tantangan dihadapkan pada mereka, mereka kehilangan keberanian untuk menyambutnya.

Saya tidak ingin menjadi orang-orang yang disebut oleh Paul sebagai manusia yang menyesali hidup karena tidak berani mengambil keputusan lantaran takut masuk ke dalam zona ketidakpastian. Lagian, kalau kita hanya melakukan apa yang orang normal lakukan, apa yang membedakan kita dengan kebanyakan orang.

Sederhananya saya berusaha untuk jujur pada diri sendiri tentang apa yang ingin saya capai dalam hidup. Sekaligus berjuang untuk mengikuti saran Pak Anies Baswedan tentang karir yaitu Intellectually Growing, Financially Good, Socially Influencial.”

Kedua : Current and future income

M. Sjamsul Arifin dalam prensentasinya di Markplus Confrence 2012 yang saya baca di majalah Marketers edisi February 2012 mengkorelasikan struktur penduduk Indonesia dengan annual income. Data menyebutkan sekitar 35% penduduk Indonesia masih hidup dengan penghasilan pertahun di bawah US$ 1500. Data selengkapnya dapat di lihat pada gambar di bawah:

 

Struktur Penduduk Indonesia based on Annual Income

Struktur Penduduk Indonesia based on Annual Income

Bekerja selama lebih dari 3 tahun di perusahaan ini, Alhamdulillah mengantarkan saya masuk ke dalam tier 2. Cukup lumayan. But I challenge my self to jump onto number 1. Insya Allah bisa. Aamiin.

Saya coba mengkalkulasi income yang akan saya terima di tahun 2030 dengan menggunakan pendekatan Net Present Value (NPV) dengan asumsi kenaikan gaji 10% per tahun. Misalnya income saya $7.200 per tahun, maka di tahun 2030 saya kira-kira menerima income per tahun $33.084. Secara nilai memang terlihat cukup besar, tapi tidak demikian jika kita kaitkan dengan inflasi, kenaikan harga barang, dan juga proyeksi bombastis tentang masa depan Indonesia.

Ketiga : Insting dan proyeksi masa depan Indonesia

McKinsey Global Institute pada September 2012 merilis laporan berjudul The archipelago economy: Unleashing Indonesia’s Potential membuat proyeksi tentang Indonesia hingga tahun 2030. Tidak lama lagi, hanya 16 tahun dari hari ini. Perusahaan konsultan bisnis asal Amerika itu memprediksi Indonesia akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi nomor 7 di dunia (sekarang no 15, based on Purchasing Power Parity) -bersama Chine, US, India, Japan, Brazil, dan Rusia. Mengalahkan dua negara yang pernah menjajah Indonesia, Portugis dan Belanda- dengan member of consuming class 135 juta .

Keempat: Supply and demand – Talent Shortage

The Boston Consulting Group meliris laporan tentang Southeast Asean Challengers “The Companies Piloting a Soaring Region” yang menyebutkan bahwa talent is a top concern of chief executives everywhere, but this is especially so in Southeast Asia. Many of the regions’s top students study abroad and never return home. Talent shortages are especially acute in Vietnam and Indonesia. Rene Suhardono, seorang career coach sekaligus penulis buku Your Job not Your Career dalam satu wawancaranya di TV menjelasakan bahwa saat ini telah terjadi gap sekitar 20 persen antara supply and demand di level middle management dalam suatu organisasi. Kebutuhan (demand) perusahaan untuk talent yang mampu menduduki posisi middle lebih besar daripada supply yang ada. Jika kondisi ini tidak disikapi, maka tahun 2020 gap ini akan melebar menjadi 60 persen. Mimpi untuk menjadi bagian dari 20 persen orang itulah yang menguatkan niat saya untuk melanjutkan kuliah lagi.

Saya belum bisa membuktikannya tapi insya Allah keyakinan itu bertambah setelah menonton video Forum Debate Davos 2014 tentang Rethinking Technology and Employment saya percaya bahwa beberapa tahun mendatang perkembangan tehnologi akan menjadi alat penyeleksi manusia yang paling ampuh. Hal ini diperkuat dengan beberapa teman yang dengan mudahnya pindah ke perusahaan lain hanya dengan menekan tombol apply dari gadget yang mereka bawa setiap hari. Tidak membutuhkan waktu lebih dari 5 menit untuk mencari dan melamar pekerjaan sekarang ini. Perihal diterima atau tidak, itu related dengan skill, pengalaman, pendidikan si pelamar dan juga kebutuhan perusahaan.

Kelima: Asean Economic Community

Akhir 2015, dua tahun dari hari ini. Indonesia dan beberapa negara di asia tenggara lainnya akan membentuk suatu wadah yaitu Masyarakat Ekonomi Asean. Ini akan menjadi ajang kompetisi yang menarik. Kita yang tidak mampu bersaing dengan sumber daya manusia dari negara lain akan menjadi penonton di negeri sendiri. Saya membayangkan di tahun 2015 nanti, siapapun bisa melamar pekerjaan di perusahaan luar negeri hanya dengan menekan “apply” dari layar monitor handphone. Lalu tidak selang berapa lama, kita melakukan teleconfrence untuk melakukan wawancara kerja, setelah kedua belah pihak sepakat, maka tiket sudah dikirim via email dan kita siap bekerja di negara tujuan. Berapa lama proses dari mulai melamar, wawancara, hingga terbang ke negara tempat kita bekerja. Saya rasa tidak lebih dari satu hari.

Proses dari melamar, wawancara, dan bekerja memang tidak lama tapi proses untuk mempersiapkan diri agar bisa bersaing dengan competitor dari luar negeri, itu yang membutuhkan waktu. Kata kuncinya satu, belajar atau tertinggal.

Saya ingin mengakhiri artikel ini dengan mengutip tulisan Paul Arden dalam bukunya Whatever You Think, Think the Opposite tentang Rumah Impian. Kenapa Anda tidak mampu membeli rumah impian. Itulah kenapa disebut sebagai rumah impian Anda. Jadi temukanlah cara untuk mendapatkannya (anda akan mendapatkannya), atau puaskan diri anda dengan ketidakpuasan.

Palembang: April 8, 2014.

2 thoughts on “Keep Dream Alive

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s