Kelas Inspirasi Palembang (Budi Setiawan)

Bismillahirrahmanirrahim

Tuhan, memang tidak ada jalan mudah untuk menggapai cita-cita. Butuh kerja keras ribuan hari agar bisa menghubungkan titik-titik itu menjadi kesuksesan. Kehadiran kami –relawan kelas inspirasi- hanya tinggal menjadi cerita. Biarlah kenangan itu kami simpan sembari kami titipkan cita-cita anak ini pada-Mu. Bantulah mereka agar bisa menggapai cita-citanya. Demi mengangkat harkat martabat keluarga mereka, mengharumkan nama sekolah dan guru-guru mereka, dan memberi sumbangsih terbesar bagi bangsa Indonesia dan dunia. Tuhan, tanpa-Mu kami bukan apa-apa.

*

Pagi itu, mata saya tertuju pada selembar kain berwarna merah putih yang berkibar di atas tiang. Matahari pagi menghangatkan ratusan siswa, guru, dan kami waktu itu. Lagu Indonesia raya yang dilantunkan oleh para murid, guru,dan relawan kelas inspirasi menusuk ke hati. Mengingatkan saya pada fenomena menakutkan tentang masa depan anak Indonesia. Anies Baswedan dalam artikelnya Bonus Demografi bisa jadi Bom Waktu menjelaskan setiap tahun ada 5,6 juta anak Indonesia masuk kelas 1 SD. Ini termasuk tinggi karena mencapai 94-95 persen. Sejajar dengan negara-negara maju seperti Korea, Jepang, dan lainnya. Akan tetapi, hanya 2,3 juta yang melanjutkan SMA, yang 3,3 juta “hilang”.

Bonus Demografi dan Kompetisi Global

Indonesia diperkirakan mencapai puncak bonus demografi pada tahun 2017 sampai 2019. Artinya komposisi jumlah penduduk dengan usia produktif 15-64 tahun mencapai titik maksimal, dibandingkan usia nonproduktif 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas. Pada puncak bonus demografi itu proporsi penduduk usia produktif mencapai 55,5 persen (Sumber: Menkokesra.go.id). Di saat yang sama, pada tahun 2019 nanti. Jika kita tidak turun tangan mengatasi masalah “hilang”nya anak-anak Indonesia. Negara yang kita cintai ini akan berada di puncak bonus demografi dengan potensi anak-anak yang “hilang” sebanyak 16,5 juta (3,3 juta x 5 tahun), ini masalah!.

Jumlah penduduk dengan usia produktif yang besar saja tidaklah cukup untuk membawa kemajuan bagi Indonesia. Negara ini butuh anak muda yang terdidik dalam jumlah besar agar bisa menjadi global player di masa depan. Ingat, pada masa lalu bentuk penjajah itu adalah kolonialisasi tapi sekarang dan masa depan bentuknya adalah pasar konsumsi.

Apa yang harus kita lakukan sebagai orang yang sudah menikmati buah pendidikan?

Kita sudah tahu masalahnya. Apa kita akan membiarkan saja dan berharap akan ada orang lain yang menyelesaikan semua masalah itu atau kita pilih turun tangan, menjadi bagian dari solusi untuk menyelesaikan masalah.

Kami Pilih Turun Tangan!

Relawan Kelas Inspirasi Palembang kelompok II

Relawan Kelas Inspirasi Palembang kelompok II

Banyak cara untuk terlibat, berkontribusi demi kemajuan bangsa, salah satunya ikut berpartisipasi mengajar sehari di Sekolah Dasar (SD) melalui kelas inspirasi. Kelas inspirasi bermula dari teman-teman Indonesia Mengajar dan beberapa professional yang ingin berkontribusi terhadap pendidikan Indonesia. Kelas Inspirasi menyediakan platform kepada para professional yang sudah bekerja minimal dua tahun untuk menjadi guru, mengajar anak-anak SD satu hari. Ya, hanya satu hari saja.

Secara bilangan, satu hari merupakan waktu yang sangat singkat tapi pada kenyataanya satu hari yang digunakan untuk mengajar anak-anak SD sangat menguras tenaga dan pikiran tapi sangat menyenangkan. Bahkan satu hari sebelum hari H, kami yang melakukan koordinasi via social media menceritakan ketegangan untuk mengajar keesokan harinya. Ada beberapa teman yang susah tidur, terus berfikir tentang apa yang akan dilakukan di depan kelas esok hari. Di saat bersamaan saya terfikir perjuangan guru yang terus mengabdi mencerdaskan anak-anak setiap saat. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Tidak mudah menjelaskan apa yang kami kerjakan kepada anak-anak. Tapi hal itu tidak membuat kami putus asa. Sebelum mengajar kami sudah melakukan pertemuan untuk membahas persiapan-persiapan agar pesan yang ingin disampaikan pada saat mengajar bisa dimengerti oleh para siswa Madrasah Ibtidaiyah Qur’aniah IV Palembang.

Siswa-siswa yang kami temui berbeda dengan anak-anak yang belajar di sekolah perkotaan pada umumnya. Mereka bukan anak-anak yang sudah familiar dengan laptop, tablet, atau teknologi lainnya. Tak heran jika para relawan sangat antusias dengan berbagai persiapan. Ibu Dian yang berprofesi atlit sepatu roda datang lengkap dengan peralatan perang, memakai training dan sepatu roda, seperti mau bertanding hari itu. Ibu Sri membawa celengan dan beberapa lembar uang untuk memperkenalkan profesinya sebagai seorang banker. Ibu Indah juga tak mau kalah dengan membawa helm, miniatur jembatan, dan rompi insinyur. Ibu Una lengkap dengan baju dokter, peralatan P3K, dan beberapa contoh obat khas seorang apoteker. Pak Hendi membawa helm, laptop, dan baju safety mencerminkan seorang senior operator. Tak kalah sibuk Om Dika yang memfasilitasi relawan, memastikan acara kelas inspirasi berjalan lancar, serta Bang Surya sebagai seorang photographer yang siap mengambil momen menarik selama acara berlangsung.

Saya sendiri bertugas untuk menjelaskan profesi sebagai seorang marketer. Dari rumah saya sudah mempersiapkan 5 lembar foto bergambar outlet/ toko. Mulai dari toko Hypermarket sampai gambar toko yang ada di pinggir jalan dengan harapan anak-anak akan lebih mudah memahami tugas seorang marketer.

Ternyata di lapangan kondisinya sangat berbeda. Pengalaman lebih dari tiga tahun manjadi marketer tidak lantas memudahkan saya untuk menjelaskan pada anak-anak. Saya pikir jauh lebih mudah melakukan deal bisnis kepada supplier, buyer, atau business owner dibandingkan menjelaskan tentang apa itu marketing kepada siswa. Sekali lagi, Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Di akhir sesi mengajar, kami meminta anak-anak untuk menuliskan cita-citanya. Saat mereka serius menulis. Saya merinding, teringat dengan mimpi-mimpi yang pernah saya tulis beberapa tahun lalu. Saya percaya bahwa kondisi saya hari ini –selain karena Allah- sebagian besar hasil dari apa yang sudah saya impikan sebelumnya.

Ya Allah, bantulah anak-anak ini untuk menggapai cita-citanya dan berkahi kami sebagai seorang pembelajar yang menjadikan kematian sebagai wisuda yang sesungguhnya.

Prabumulih: April 26, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s