Kartu Merah Sang Profesor

Saya tidak sedang membicarkan Christian Benteke yang mendapat kartu merah saat laga antara Newcastle United vs Tottenham Hotspur akhir pekan lalu, tapi saya ingin sharing tentang kartu atau bendera merah yang dibuat oleh sang Profesor. Guru strategi manajemen, konsultan, sekaligus penulis beberapa buku manajemen best seller dunia, Jim Collins tentang belajar menerima realitas brutal demi perbaikan. Saya kutip tulisan ini dari buku Good to Great karya Jim Collins dengan sub judul menghadapi fakta keras.

Saat mengajar dengan metode kasus di Stanford Business School, saya memberikan selembar kertas merah terang berukuran 8,5” x 11” kepada setiap mahasiswa MBA. Di kertas itu ada instruksi berikut: ini adalah bendera merah Anda untuk kwartal ini. Jika Anda mengangkat tangan Anda dengan bendera merah, kelas akan berhenti untuk Anda. Tidak ada pembatasan kapan dan bagaimana Anda menggunakan bendera merah itu. Keputusan sepenuhnya ada di tangan Anda. Anda bisa menyuarakan pengamatan Anda, berbagai pengalaman pribadi, memberikan analisis, tidak setuju dengan dosen, menantang CEO tamu, menanggapi sesama mahasiswa, mengajukan pertanyaan, membuat saran, atau apapun. Tidak akan ada penalti apapun bagi pengguna bendera merah. Bendera merah Anda hanya bisa digunakan satu kali selama kwartal ini. Bendera merah Anda tidak bisa dipindahtangankan. Anda tidak bisa memberikannya atau menjualnya ke mahasiswa lain.

Dengan bendera merah saya tidak tahu secara persis apa yang akan terjadi setiap hari di kelas. Dalam satu situasi, satu mahasiswa menggunakan bendera merahnya untuk menyatakan, “Profesor Collins, saya rasa Anda tidak efektif dalam menjalankan kelas hari ini. Anda terlalu banyak menggiring dengan pernyataan-pernyataan Anda dan menghambat pemikiran independen kami, biarkan kami berfikir sendiri.” Bendera merah menghadapkan saya pada fakta brutal bahwa gaya pernyataan saya sendiri menghalangi pembelajaran orang. Satu survey mahasiwa di akhir kwartal kelas akan memberi saya informasi yang sama. Akan tetapi, -bendera merah, waktu nyata di depan semua orang di ruang kelas- mengubah informasi tentang kelemahan di dalam kelas menjadi informasi yang jelas tidak bisa saya abaikan.

Apa yang bisa kita pelajari dari cerita di atas?

Bagi saya pribadi, ini adalah salah suatu bentuk evaluasi, koreksi atau feedback dari orang di sekitar kita. Mungkin kita sering melihat oknum pengajar “memberi kartu merah” kepada mahasiswa yang datang terlambat. Misalnya, Saya dan beberapa teman pernah mengalami hal itu. Dosen meminta kami untuk menutup pintu dari luar, dengan kata lain kami tidak diizinkan mengikuti perkuliahan tanpa ditanya alasan kami terlambat. Tapi apakah kita pernah mendengar atau bahkan melihat pengajar yang mendapat “kartu merah” dari mahasiswa, seperti yang diterima Prof Collins saat di kritik oleh mahasiswa?

Saya merenung dan tiba-tiba terpikir bagaimana jika ada Profesor atau dosen di kampus yang berani melakukan hal yang sama seperti Jim Collins lakukan. Mungkin cara belajar kita akan terus terbarui. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi dengan sistem pengajaran satu arah, dimana dosen masih mendominasi kelas sementara mahasiswa tidak diberi ruang, atau diberi ruang sedikit untuk berpendapat dan akhirnya mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Atau kampus tidak akan memberi ruang bagi pengajar, bahkan sang Profesor sekalipun jika di kelas magister manajemen (yang notabene hampir 80 persen mahasiwanya adalah karyawan) masih ada  yang mengajar sambil duduk mulai dari pertama hingga kelas selesai, atau yang lebih lucu lagi kita tidak akan menemukan mahasiwa di kelas yang duduk dengan tubuh mengahadap layar monitor tapi mata terpejam.

Harusnya ada aturan fair seperti mahasiswa boleh dikasih kartu merah apabila mengganggu proses belajar mengajar dan pengajar juga siap lahir batin jika harus menerima kritik atas proses belajar mengajar yang membosankan.

Singkat kata, kita “mahasiswa dan pengajar” perlu terus belajar. Menciptakan interaksi yang lebih banyak, bukan satu arah.

Jika ditanya, sistem belajar seperti apa yang diinginkan?

Saya secara pribadi ingin belajar seperti yang ada di video ini. Semua aktif terlibat di dalam diskusi. Kelas hidup bahkan tetap hidup sampai waktu kuliah selesai.

Kantor BNI Securities Palembang

November 4, 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s