Langkah Kecil untuk Mereka

Semenjak alih profesi dari seorang sales April lalu, rutinitas saya lebih sering diwarnai dengan berita-berita ekonomi, baik nasional, regional, maupun global. Dewasa ini, kita melihat dunia semakin menggelobal. Kishore Mahbubani menerangkannya dengan sangat cantik, Professor dari National University of Singapore ini dalam artikelnya berjudul The New Global Ethic menggambarkan bahwa manusia tidak lagi hidup di 193 kapal-kapal (negara) yang berbeda. Melainkan kita hidup dalam 1 kapal dengan 193 kabin (negara) yang berlayar di samudra. Dunia sudah menjadi satu (Convergence). Setiap kabin di dalam kapal bisa mempengaruhi kabin lainnya. Contohnya, coba kita lihat handphone yang kita miliki, merk-nya boleh Samsung dari Korea, Nokia dari Finlandia, atau Iphone dari Amerika tapi value chain proses pembuatan produk tersebut mereka melibatkan banyak Negara. Contoh lain dari globalisasi bisa kita lihat dari krisis 1998 di Asia Tenggara, kirisis 2008 di Amerika, dan juga krisis hutang Eropa tahun 2010 yang memberi dampak langsung bagi negara lain di dunia.

Minggu ini, kita dipenuhi berita pelemahan nilai tukar rupiah yang pada penutupan kemarin berada di level 12.830 per dolar. Terjadi depresiasi mata uang yang cukup signifikan semenjak krisis 1999 lalu. Sebenarnya hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, depresiasi nilai tukar juga dialami oleh banyak Negara di dunia, bahkan jauh lebih parah dibandingkan Indonesia. Ringgit Malaysia turun 7% year to date/ytd, Won turun 5% ytd, Yen 16% ytd dan Rupiah sendiri terdepresiasi 3% ytd. Berita yang saya baca dari Bloomberg kemarin menyebutkan bahwa Rusia langsung merespon pelemahan Ruble dengan meningkatkan interest rate menjadi 17% dari 10.5%.

*

Di lokasi lain, khususnya di tempat kami mengajar di MI AL-Hiayiyah Musi 2 Palembang, jangankan update informasi tentang globalisasi dan pelemahan nilai tukar, untuk kehidupan sehari-hari saja mereka masih harus berjuang. Informasi yang saya terima dari ketua yayasan, sebagian besar guru di sekolah ini mengajar yang penghasilannya menuggu dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dibayar 3 bulan sekali oleh pemerintah. Pihak sekolah memang tidak memungut iuran per bulan karena memang sebagian besar orang tua siswa berprofesi sebagai pekerja harian lepas seperti tukang ojek, buruh pasir, dan sopir angkot.

Guru dan Murid MI Al-Hilyiyah Palembang

Guru dan Murid MI Al-Hilyiyah Palembang

Merefleksi dari dua prisitiwa itu, rasanya ada yang mengganggu jika saya terlalu sering menghabiskan waktu dengan teori-teori ekonomi sementara saudara kita masih banyak yang kesulitan di luar sana. Sepertinya teori-teori ekonomi yang hebat itu menjadi sesuatu yang hampa tanpa kontribusi bagi masyarakat.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Dalam upaya menemukan apa yang dapat kami perbuat untuk membantu mereka, saya teringat dengan tugas bisnis plan di kampus. Entah mengapa saya yakin, insha Allah usaha tersebut bisa menjembatani saudara kita untuk keluar dari kondisi hari ini. Dalam beberapa kesempatan saya sharing ke teman-teman, termasuk dengan kelompok yang teggabung di Kelas Inspirasi Palembang 2. Alhamdulillah rencana ini direspon positif dan insha Allah akan kita tindaklanjuti dengan mengadakan pertemuan dengan saudara kita di MI Al-Hilayiyah hari Sabtu, 20 Desember 2014.

Bagi teman-teman yang ingin terlibat dalam hal ini, boleh bergabung bersama kami. Silahkan konfirmasi via sms ke 0813-7792 1692.

Ini rencana bisnis yang insha Allah akan kita bahas.NoiA Catering

Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s